Obama’s Quote
To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society’s ills on the West — know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.
“Malam Seribu Bulan” di Tokyo University of Foreign Studies
(Catatan dari Tokyo (2))

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.
Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari.
Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah sekaligus moderator. Terus ada Shiho Sawai, peneliti Jepang yang memberikan konteks mengenai kesusastraan Indonesia. Terus ada kritikus sastra Jepang yang mengulas novel Bi wa Kizu (Cantik itu Luka). Dua lainnya adalah saya dan penerjemah untuk saya.
Baca selengkapnya …
Catatan Lebaran
Lebaran ini sepertinya saya tidak pulang, dan sebagai gantinya berkali-kali harus menelepon ibu saya, menanyakan kabar mereka di rumah. Pertama, tentu karena saya malas menghadapi kemacetan di jalan. Meskipun jalur mudik ke selatan tidak semacet jalur ke timur, tetap saja pulang menjelang Lebaran bukan satu perjalanan yang mengasyikan. Lebaran-lebaran tahun sebelumnya, saya lebih suka pulang dua atau tiga hari selepas Lebaran, ketika orang-orang justru kembali ke Jakarta.
Kedua, jika tidak ada halangan, saya akan ke Jepang akhir November untuk bicara tentang novel saya yang bakal terbit, “Malam Seribu Bulan”, atas undangan Tokyo University of Foreign Studies. Masih dua bulan, tapi saya harus mengurus visa di tengah kantor-kantor (termasuk kedutaan) yang terkena dampak tanggal-tanggal merah. Juga kesibukan mengurus tahap akhir novel saya, sebab novel itulah yang akan saya bicarakan di Jepang. Saya memutuskan untuk mendesain dan menata-letak sendiri buku ini, seperti yang saya lakukan di buku-buku pertama saya. Kalaupun saya mudik, tampaknya itu setelah urusan-urusan ini selesai saja.
Baca selengkapnya …
YouTube Diblokir Gara-gara “Fitna”
Gara-gara film “Fitna” karya Geert Wilders yang menghubung-hubungkan ayat Al-Quran dan serangan teroris, Pemerintah Indonesia berencana memblokir YouTube. Saya sendiri tak peduli dengan film “Fitna” yang saya anggap sebagai ketololan Wilders (tolol karena di satu sisi ngomong “free speech“, di sisi lain mau banned Al-Quran). Tapi kenapa ujung-ujungnya YouTube? Mau membuang kulkas gara-gara sepiring nasi basi? Harap tahu, video “Fitna” tak hanya ada di YouTube, tapi juga di: Google Video, Clipser, Yahoo Video, MySpace, LiveLeak, dan barangkali situs-situs lain. Gimana Pak Menteri, apa enggak sekalian blokir internet saja, lah? Biar bodoh sekalian kita semua, oke?
Pokoknya saya enggak akan milih SBY maupun Jusuf Kalla sebagai presiden! Tidak untuk siapa pun yang enggak pro-internet!
Update (5/4/08):
Update (9/4/08):
Provider internet saya sudah resmi memblokir YouTube. Tapi saya masih bisa mengakses situs tersebut melalui website vtunnel.com. Hehehe: selalu ada cara melawan tirani dan kebodohan!
Rushdie dan Dunia yang Tak Lagi Senyap

Foto oleh: Idea-man, Some rights reserved.
“Jangan tinggalkan aku sekarang, atau aku tak akan memaafkanmu, dan aku akan membalas dendam, aku akan membunuhmu dan jika kau punya anak dari lelaki lain aku akan membunuh anak-anak itu juga,” demikian kata Shalimar sang pencinta Muslim di pertengahan Shalimar the Clown.
Boonyi, sang kekasih Hindu, menjawab ancaman itu dengan enteng: “Betapa romantisnya kamu, mengatakan hal termanis!”
Baca selengkapnya …
Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi
Baru-baru ini, novelis Turki peraih Nobel Kesusastraan 2006 Orhan Pamuk memberi dukungan penggunaan jilbab di universitas. Ia menegaskan bahwa jilbab sama sekali tak berhubungan dengan fundamentalisme Islam.
“Di Turki, perempuan mempergunakan jilbab secara tradisional, sebagaimana perempuan Italia melakukannya di masa lalu,” begitu pernyataannya kepada beberapa media. Ia menambahkan, “Sebagian besar perempuan Turki mempergunakan jilbab, tapi bukan anggota atau pengikut partai berhaluan Islam seperti Partai Keadilan Pembangunan (AKP).”
Baca selengkapnya …

