Pembacaan Ulang Pengarang Stensilan

oleh Sidik Nugroho, Jawa Pos

Ketiganya berusaha menampilkan horor yang lebih membumi dan berpijak pada realitas, seperti yang pernah dinyatakan filsuf Thomas Hobbes: ”All generous minds have a horror of what are commonly called ‘Facts’. They are the brute beasts of the intellectual domain.

Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap

oleh Sica Harum, Media Indonesia

Tiga penulis itu berbagi kajian. Intan mengkaji aspek gender dalam cerita Abdullah. Adapun Ugo membahas sejarah hantu dan simbol-simbol mistis. “Aku lebih ke hubungan sosial antar-manusianya dan politik. Yang aku temukan dalam karya Abdullah Harahap ialah pranata sosial selalu tidak berfungsi. Cara penyelesaian di novel itu selalu di dunia lain,” kata Eka. Intan mengamini, masyarakat dalam kisah Abdullah mencari cara penyelesaian di luar institusi buatan negara. “Ada semacam ketidakpercayaan pada negara,” katanya.

Budak Setan Menafsir Horor

oleh Ismi Wahid, Tempo Interaktif

Selain itu, kata Intan, banyak dimensi sosial-politik yang muncul pada karya Abdullah. Penyelesaian konflik internal dalam karyanya tak melibatkan institusi, tapi mempercayakannya pada keterlibatan benda-benda gaib atau subyek yang tak lazim, seperti arwah.

Abdullah Harahap Memperkaya Diskusi Horor

Wawancara dengan Intan Paramaditha

oleh Ismi Wahid, Tempo Interaktif

Cerita-cerita pendek itu dihasilkan setelah mereka membaca dan menafsir ulang cerita-cerita horor popular karya Abdullah Harahap dari masa 1970-1980-an.

Melacak Jejak Horor Abdullah Harahap

oleh Akhmad Sekhu, Suara Merdeka

Meski penulisan buku ini berangkat dari membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, tapi serta-merta terjebak tema cerita-cerita horor yang diusungnya, karena ternyata ketiga penulis tersebut sepertinya mencoba menuntaskan dahaga penasarannya untuk kemudian menakar kebebasan bercerita yang tentu sesuai dengan daya kreatif mereka masing-masing.

“Kumpulan Budak Setan”

Kumpulan Budak Setan, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap — balas dendam, seks, pembunuhan — serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Februari 2010.

Cantik itu Luka