<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Gelak Sedih</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/gelak-sedih/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Beli Buku Kami di Gramedia Online</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 10:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Larutan Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/kios-kecil-di-tokopedia-2156.php</guid>
		<description><![CDATA[Buat teman-teman yang kesulitan memperoleh buku saya (dan Ratih Kumala), sekarang bisa langsung membeli dari GramediaShop di sini untuk buku-buku saya, dan di sini untuk buku-buku Ratih Kumala.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat teman-teman yang kesulitan memperoleh buku saya (dan <a href="http://ratihkumala.com" title="Ratih Kumala's Little Blog">Ratih Kumala</a>), sekarang bisa langsung membeli dari <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Eka_Kurniawan">GramediaShop</a> <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Eka_Kurniawan">di sini untuk buku-buku saya</a>, dan <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Ratih_Kumala">di sini untuk buku-buku Ratih Kumala</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencuri dari Penulis Lain</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 11:23:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1486</guid>
		<description><![CDATA[Tapi tentu saja penulis yang keren adalah penulis yang berhasil mencuri sesuatu dari karya lain, tanpa seorang pun mengetahuinya bahwa itu curian! Dalam hal ini tampaknya saya belum mencapai hal seperti itu: pencurian saya terlalu gamblang, dan bahkan sangat gamblang saya perlihatkan. Ya, seperti Zorro, kadang-kadang ada penulis seperti saya yang ingin meninggalkan jejak "Z", seolah ingin mengatakan keras-keras: saya mencuri, lho!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Mediocre Writers Borrow; Great Writers Steal&#8221; &#8211; T.S. Eliot</p></blockquote>
<p>Mengacu pada kutipan T.S. Eliot di atas, saya pikir, saya masih jauh dari &#8220;great writer&#8221;, dan mungkin lebih tepat sebagai &#8220;mediocre writer&#8221;. Meskipun begitu, saya suka mencoba mencuri sesuatu dari penulis lain, untuk tulisan saya sendiri. Saya tidak tahu apakah usaha pencurian saya berhasil atau tidak, atau hanya sekadar &#8220;meminjam&#8221; sebagaimana penulis-penulis medioker: saya ingin berbagi bagaimana saya mencuri.</p>
<p>Pertama-tama, saya percaya sebagian besar penulis belajar dari penulis lain. Mereka membaca, dan mereka memuntahkannya kembali dalam bentuk tulisan lain. Apa dan bagaimana mereka mencurinya dari bacaan, mungkin itulah yang berbeda dari satu penulis dengan penulis lain.</p>
<p><span id="more-1486"></span></p>
<p>Saya ingin memulainya dari cerpen saya yang berjudul &#8220;Pengakuan Seorang Pemadat Indis.&#8221; Siapa pun pasti bisa melacak asal-usul cerpen tersebut berasal dari buku <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Confessions_of_an_English_Opium-Eater"><em>Confessions of an English Opium-Eater&#8221;</a></em> (1821) karya Thomas de Quincey. Baiklah, sebelum membaca buku tersebut, saya pernah membaca satu tulisan di majalah Granta (edisi 74, 2001) berjudul &#8220;Confessions of a Middle-Aged Ecstasy Eater&#8221;.</p>
<p>Artikel di Granta, ditulis dengan gaya memoar seorang pemadat ekstasi. Gayanya modern, tapi tentu terpengaruh gaya Quincey satu abad sebelumnya. Gara-gara baca artikel itu, saya akhirnya membaca buku Quincey tersebut, yang menceritakan tentang seorang pemadat Inggris abad 19. Sampai sejauh itu, saya belum terpikir untuk menulis cerpen, sampai saya membaca buku &#8220;Opium to Java&#8221;, sebuah buku sejarah mengenai perdagangan dan penggunaan opium di Jawa abad 19 karya James R. Rush.</p>
<p>Begitulah, tiba-tiba saya terpikir untuk menulis tentang pemadat Indis, abad 19, dengan gaya memoar serupa yang dilakukan Quincey. Tapi di sinilah kemudian saya mencoba membuat eksplorasi: meskipun sama-sama bersetting abad 19, Jawa tentu berbeda dengan Inggris. Saya mencoba membayangkan gaya bahasa seperti apa yang akan dilakukan pemadat Indis, juga ejaannya. Tentu saja untuk hal itu saya harus &#8220;mencuri&#8221;nya dari roman-roman yang terbit juga di abad 19.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah memoar pemadat Indis saya berhasil atau tidak. Gaya bahasa dan ejaannya, benar-benar pekerjaan nekat. Begitu juga mungkin referensi seejarahnya. Tapi sebagai penulis, kadang-kadang saya merasa memang perlu untuk nekat. Begitulah latar &#8220;Pengakuan Seorang Pemadat Indis&#8221; (bisa dibaca di buku <em>Cinta Tak Ada Mati</em>, Gramedia, 2005).</p>
<p>Baiklah, cerpen kedua yang akan saya bocorkan adalah &#8220;Cinta Tak Ada Mati&#8221;. Jika ada yang pernah membaca novel &#8220;Love in the Time of Cholera&#8221;, pasti akan melihat kesamaan tema cerpen saya dengan novel tersebut. Saya tak akan menyangkalnya: memang saya ambil dari novel itu. Jika novel Marquez tersebut menekankan mengenai &#8220;cinta yang abadi menunggu&#8221;, saya mencoba memodifikasinya sedikit: &#8220;cinta yang abadi menunggu, dan penolakan yang tak ada henti&#8221;.</p>
<p>Di novel &#8220;Love in the Time of Cholera&#8221;, Florentino Ariza harus menunggu sampai tua untuk memperoleh cinta Fermina Daza. Di akhir cerita, mereka akhirnya dipersatukan oleh cinta. Di cerpen saya, Mardio menunggu cinta Melatie, dan terus ditolak. Bahkan tetap ditolak sampai Melatie meninggal. &#8220;Kekuatan cinta&#8221; di novel Marquez diperlihatkan melalui penantian Florentino Ariza. Saya mencoba mengubahnya, dengan memperlihatkan &#8220;kekuatan cinta&#8221; itu justru terlihat ketika Mardio masih mencintai Melatie, meskipun Melatie sudah meninggal.</p>
<p>Tentu saja, cerita yang terentang dari masa mereka kecil hingga masa tua ini membutuhkan kerja keras. Saya harus memberikan setting yang berubah-ubah, dari masa pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, hingga masa 50 tahun kemudian, lengkap dengan film apa yang mereka tonton dan sebagainya. Dari sini saya memperoleh pelajaran ringan: menjadi pencuri pun tetap harus kerja keras, karena setting dan motif cerita pasti berbeda. Dan dengan cara itulah, kita menghasilkan karya yang berbeda dari karya yang awalnya kita coba mencurinya.</p>
<p>Bisa disimpulkan bahwa saya mencuri bagian tertentu dari karya-karya penulis lain, mencampurnya dengan hasil curian dari karya lain, memodifikasinya, serta menambah ornamen, elemen di bagian lainnya.</p>
<p>Saya ingin membuat perbandingan dengan karya yang (mudah-mudahan) dikenal banyak orang: Romeo dan Juliet. Jika saya hendak mencuri dari karya tersebut, saya akan memodifikasi bagian intinya, karena itu yang paling dikenal orang, sehingga kalau tidak dimodifikasi, maka akan menjadi tiruan yang tak mengasyikan. Apa inti dari kisah Romeo dan Juliet? Saya menyebutnya: &#8220;cinta yang terlarang&#8221;? Kenapa cinta mereka terlarang? Karena mereka berasal dari dua keluarga yang bermusuhan.</p>
<p>Saya membayangkan jika saya mencuri struktur Romeo dan Juliet, hal utama yang akan saya modifikasi adalah: &#8220;cinta terlarang&#8221;. Dengan apa? Bagaimana dengan &#8220;bisnis terlarang&#8221;? &#8220;perjalanan terlarang&#8221;? &#8220;mimpi terlarang&#8221;? Begitulah, menjadi pencuri pun, dalam kesusastraan, diperlukan untuk tetap bersikap kreatif. Menjadi pencuri, pada dasarnya melakukan pekerjaan kritik terhadap karya yang kita curi.</p>
<p>Sebagian besar cerpen saya di dua kumpulan (<em>Gelak Sedih</em> dan <em>Cinta Tak Ada Mati</em>) merupakan proyek pencurian saya atas karya-karya lain. Saya tak akan menceritakan semua proses cerita tersebut satu per satu (sila baca, dan sila coba cari jejak-jejaknya ke karya-karya lain), tapi saya akan menutup tulisan pendek ini dengan satu kasus lain: &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221;.</p>
<p>Cerpen itu berkisah mengenai seorang perempuan yang mengulur-ulur waktu percintaan pertama dengan suaminya di malam pertama, dengan cara mendongeng. Ya, Anda dengan mudah bisa menebak dari mana asal-usul cerita tersebut: Syahrazad dan Hikayat Seribu Satu Malam. Bagaimana saya mencoba menjadikannya sebagai karya yang berbeda? Ah, itu juga gampang untuk menemukannya, bukan?</p>
<p>Tapi tentu saja penulis yang keren adalah penulis yang berhasil mencuri sesuatu dari karya lain, tanpa seorang pun mengetahuinya bahwa itu curian! Dalam hal ini tampaknya saya belum mencapai hal seperti itu: pencurian saya terlalu gamblang, dan bahkan sangat gamblang saya perlihatkan. Ya, seperti Zorro, kadang-kadang ada penulis seperti saya yang ingin meninggalkan jejak &#8220;Z&#8221;, seolah ingin mengatakan keras-keras: saya mencuri, lho!</p>
<p>Dan seperti Zorro, semoga hasil mencuri kita tidak sia-sia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/introduction-to-graffiti-in-the-toilet-575.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/introduction-to-graffiti-in-the-toilet-575.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 06:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Benedict Anderson]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>by</em> <strong>Benedict R. O'G. Anderson, Journal "Indonesia", Volume 86</strong></div>

Some of Eka’s readers find many of his writings distinctly morbid, even perverse, in their fascination with murder, violent sex, monsters, the supernatural, and Indonesia’s heart-breaking modern history. They are not mistaken in so feeling. But the judgment misses three things: the sheer, queer elegance of his Indonesian prose, which at its best is superior even to Pramoedya’s; his black sense of humor, quite close to Pram’s as well as Twain’s; and his gift for parody and ear for how his fellow- Indonesians (of different groups and generations) speak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>by</em> <strong>Benedict R. O&#8217;G. Anderson, &#8220;Indonesia&#8221; Vol. 86</strong></div>
<p>At the age of only thirty-two, the Sundanese Eka Kurniawan is without any doubt the most original, imaginative, profound, and elegant writer of fiction in Indonesia today. If anyone has a chance of filling the aerie in Indonesian literature left empty with the death of Pramoedya Ananta Toer, it is he. It is no accident that his first book, published in 1999, <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em>, is by far the best work, admiring and critical at the same time, on the master written by an Indonesian. Traces of Pram are visible everywhere in his fiction, yet Eka, born into another culture and in another, gloomier epoch, writes in an inimitable manner, which is immediately recognizable in any paragraph. Over the last six years, he has published two outstanding novels, the enormous if unwieldy <em>Cantik itu &#8230; Luka</em> (Beauty is &#8230; a Wound) in 2002, and the fiercely dense <em>Lelaki Harimau</em> (Man-Tiger) in 2004. In 2005 he published his first collection of short stories, <em>Cinta Tak Ada Mati</em> (No Death for Love), and, in the same year, a second collection, <em>Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</em> (Sad Laughter and Other Tales), from which the story translated below has been drawn.<br />
<span id="more-575"></span><br />
He was born on November 28, 1975, in a remote village of southeastern West Java, two hours’ drive south of Tasikmalaya, and close to the Indian or Indonesian Ocean. This village, where he spent his earliest years with his four grandparents, is blazingly recreated as the scene of <em>Cantik itu &#8230; Luka</em>. Later, he joined his parents at a rubber plantation near to Tjilatjap. He received his primary education in a public school in the small town of Pangandaran. There, stimulated by the books he borrowed from itinerant bicycle-riding “librarians,” he started to discover his gifts. He wrote comical short stories for his classmates and published his first poems in the children’s magazine <em>Sahabat</em>. When the time came to enter junior high school, he moved to Tasikmalaya and lived with an aunt. He continued to write, now with a typewriter given by his father when he scored the top marks for his class in five subjects. Although he expanded his reading in the school’s library, he eventually got bored and set off on weeks of solitary wandering, first to Jakarta, then back through Tjirebon, Tegal, and Purwokerto. On his return, he found that he had been expelled.</p>
<p>The only school prepared to admit him without forcing him to repeat classes was the special teacher-training senior high school back in Pangandaran. (These high schools were abolished not long after he graduated.) For his final two years, he was always the top student, but also indulged his <em>wanderlust</em> in the Segara Anakan marshes near Nusa Kambangan, the port of Tjilatjap, and the south-coast caves used to store ammunition during the Japanese Occupation; these locations became the settings of some of his subsequent stories.</p>
<p>On graduation, he enrolled as a student in Gadjah Mada University’s Literature Faculty, where he also worked for the student publications <em>Pijar</em> and <em>Balairung</em>. This was the period when Suharto’s New Order was starting to fall apart, and regime violence against students steeply accelerated. When bored with classes, he turned to graphic design, writing comic books and playing in bands. He has said that he decided to become a writer when he found himself stunned by <em>Hunger</em>, Knut Hamsun’s celebrated novel about Norwegian peasant misery.</p>
<p>After completing his MA thesis on Pramoedya, he set to work on his first novel, titled <em>O Andjing</em> (Oh Dog), 140,000 words long, which he completed in 2001 at the age of twenty-six. But he could find no publisher in Djakarta, only a tiny one in Central Java, which promised to print only two hundred copies. Luckily, at the end of that year, he was awarded a six-month fellowship by the Akademi Kebudayaan Yogyakarta, which gave him the time radically to revise <em>O Andjing</em> and turn it into the scarcely less enormous <em>Cantik itu Luka</em>, which, with the support of the AKY, was finally published at the very end of 2002. It stirred a huge controversy in literary circles, which helped the first printing to be sold out very quickly. In 2003, he moved to Djakarta with his wife, the writer Ratih Kumala. There he worked on <em>Lelaki Harimau</em> (mostly written in the food court of the Sarinah department store), which was published in May 2004 and quickly went through two printings. In 2006, Ribeka Ota’s translation of <em>Cantik itu Luka</em> into Japanese came out. In the midst of all this, Eka found the time and the energy to translate Maxim Gorki’s <em>Strike</em>, John Steinbeck’s <em>Cannery Row</em>, Gabriel Garcia Márquez’s <em>Of Love and Other Demons</em>, as well as Mark Twain’s <em>The Diaries of Adam and Eve</em>.</p>
<p>Some of Eka’s readers find many of his writings distinctly morbid, even perverse, in their fascination with murder, violent sex, monsters, the supernatural, and Indonesia’s heart-breaking modern history. They are not mistaken in so feeling. But the judgment misses three things: the sheer, queer elegance of his Indonesian prose, which at its best is superior even to Pramoedya’s; his black sense of humor, quite close to Pram’s as well as Twain’s; and his gift for parody and ear for how his fellow- Indonesians (of different groups and generations) speak.</p>
<p>I decided to translate <em>Coret-coret di Toilet</em> not only because it is one of Eka’s best-known short stories, but because it is very blackly funny. It catches perfectly the atmosphere of student life in Indonesia at the start of the new century, as the brief promise of <em>Reformasi</em> was being extinguished by gangsterism, cynicism, greed, corruption, stupidity, and mediocrity. It also mirrors beautifully the bizarre lingo shared by ex-radicals, sexual opportunists, young inheritors of the debased culture of the New-Order era, and <em>anarchists avant la lettre</em>. Finally, it shows Eka’s gift for startling imagery, sharp and unexpected changes of tone, and his “extra-dry” sympathy for the fellow-members of his late-Suharto generation. It could be said to be  Eka’s update of parts of Pram’s <em>Tjerita dari Djakarta</em>, written as the promise of the Revolution was being extinguished, which has the Eka-ish subtitle, <em>Karikatur2 Keadaan dan Manusianja</em>.</p>
<p><a href="http://ekakurniawan.com/blog/graffiti-in-the-toilet-574.php">The translation of &#8220;Corat-coret di Toilet&#8221; (Grafitti In The Toilet), read here</a>.</p>
<div class="footnote">Versi online tulisan ini bisa dilihat di laman <a href="http://72.14.235.132/search?q=cache:TA1iSuBGUtQJ:cip.cornell.edu/DPubS%3Fservice%3DRepository%26version%3D1.0%26verb%3DDisseminate%26handle%3Dseap.indo/1227644177%26view%3Dbody%26content-type%3Dpdf_1+%22eka+kurniawan%22&#038;hl=en&#038;ct=clnk&#038;cd=10">Jurnal Indonesia, Cornell University</a>.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/introduction-to-graffiti-in-the-toilet-575.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google Books</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 06:24:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di Google Books. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang Google dan Gramedia, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: Lelaki Harimau, Gelak Sedih. Judul yang lain semoga nyusul. Update (19 Juli): Buku saya yang lain di Google Book: Cinta Tak Ada Mati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di <a href="http://books.google.com">Google Books</a>. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang <a href="http://google.com">Google</a> dan <a href="http://gramedia.com">Gramedia</a>, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: <a href="http://books.google.com/books?id=SyVYnFwHoGsC&amp;printsec=frontcover#PPP1,M1">Lelaki Harimau</a>, <a href="http://books.google.com/books?id=x-bqTY4ZZ6MC&amp;printsec=frontcover">Gelak Sedih</a>. Judul yang lain semoga nyusul. <strong>Update (19 Juli)</strong>: Buku saya yang lain di Google Book: <a href="http://books.google.com/books?id=gvbwAcsWF3IC&#038;printsec=frontcover&#038;dq=eka+kurniawan">Cinta Tak Ada Mati</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 06:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Roslan Jomel, <a href="http://roslanjomel.blogspot.com/2007/12/kembali-kepada-realisme-yang-lebih.html">roslanjomel.blogspot.com</a></strong></div>

Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen <strong>Caronang</strong>, <strong>Kasih Tak Sampai</strong>, <strong>Kutukan Dapur</strong> mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Roslan Jomel, <a href="http://roslanjomel.blogspot.com/2007/12/kembali-kepada-realisme-yang-lebih.html">roslanjomel.blogspot.com</a></strong></div>
<p>Salam Hormat.<br />
Kebetulan sahaja, saya mula jatuh cinta kepada gaya penulisan Eka Kurniawan. Makanya, saya ingin sahaja tahu perkembangan terkininya dengan menembusi jaringan maya. Bagaimana saya boleh terserempak dengan laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a>, pun juga suatu kebetulan. Tetapi, alam ini sebegitu cantik dan berseni, bukan diciptakan secara kebetulan. Tuhan telah mengatur dengan secanggih-canggihnya kehidupan di atas muka bumi buat manusia (yang berfikir). Tidak seperti yang disangka oleh saintis barat. Dunia ini bukan bola kimia yang terapung. Maka itu, mimpi pun terasa indah.<br />
<span id="more-14"></span><br />
Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen <strong>Caronang</strong>, <strong>Kasih Tak Sampai</strong>, <strong>Kutukan Dapur</strong> mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti. Seno Gumira, penulis terkemuka Indonesia telah mengandaikan bahawa masa depan sastera Indonesia terletak atas nama Eka Kurniawan. Menurut Maman S Mahayana dalam buku <em>Bermain Dengan Cerpen</em>, (diubah mengikut bahasa saya sendiri) penulisan Eka Kurniawan membawa bersama-sama gaya istimewa yang khas dan sentiasa sahaja karya-karyanya memukau. Oleh kerana belum tertemui buku-buku yang memuatkan karya Eka Kurniawan di Malaysia (Novel -<em>Lelaki Harimau</em>, <em>Cantik Itu Luka</em>. Antologi Cerpen &#8211; <em>Corat-coret Di Toilet</em>, <em>Cinta Tak Ada Mati</em>, <em>Gelak Sedih</em>) maka saya akan mengklik laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a> pada setiap hari minggu. Penantian saya bukan semata-mata kepada cerpen Eka Kurniawan, malah, saya jatuh cinta kepada cerpen-cerpen Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat, Hamsad Rangkuti juga Pak Budi Darma.</p>
<p>Bahawa gaya realisme magis yang menjadi <em>trade mark</em> (dengan izin) kepada setiap prosa Eka Kurniawan akan berkekalan, sebelum itu juga, saya sudah sedia maklum akan pengaruh Gabriel Garcia Marquez terhadap dirinya. Tetapi silap. Dunia telah berputar terlalu cepat, fenomena bencana alam yang ganjil dan manusia-manusianya sudah terlalu lama menderita oleh siri peperangan. Gaya yang absurd dileburkan oleh kehidupan semasa. Penulis-penulis besar antarabangsa kini kembali menjadi realis (lihat sahaja pada antologi cerpen <em>Orang-Orang Bloomington</em> tulisan Pak Budi Darma), atau mungkin, Mario Vhargas Llhosa yang menjadi maestronya ketika ini. Sosiobudaya yang penuh dengan permasalahannya kini, ya, kepura-puraan politik, agamawan yang tersesat, kebejatan yang lain-lainya, mungkin sahaja, mendorong dunia kontemporari ini sudah tidak peduli lagi dengan gaya satira atau mengampu-ampu pihak tertentu? Alam ini meminta karyawan seninya kembali kepada diri sendiri, mengasah mata penanya setajam dan sejujurnya demi tuntutan realiti teks sastera. Tidak terkecuali karya terbaharu Eka Kurniawan yang kebetulan saya temui di laman sriti.com. Terima kasih banyak-banyak pengelola laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a>! Saya di Malaysia, berasa terhutang budi kepada pihak saudara di seberang sana. </p>
<p>Cerpen-cerpen <strong>Gincu ini Merah, Sayang</strong>, <strong>Sakit</strong>, <strong>Penafsir Kebahagiaan</strong>, <strong>Gerimis Yang Sederhana</strong> (terbaharu, terbit di <em><a href="http://kompas.com">Kompas</a></em><a href="http://kompas.com"></a>) telah menarik pergelangan tangan saya kepada gerak-geri kehidupan manusia-manusia modennya. Rupa-rupanya ada kawan-kawan di sebelah kita dengan secebis kisah hariannya, menuntut bakat dakwat pena penulis untuk dirakam sejujurnya akan pengalaman mereka, untuk dijadikan cerpen atau pun puisi. Tak kira siapa pun mereka. Pengawal Keselamatan, kerani di kilang plastik, jurujual di pasaraya bahagian pakaian perempuan, penganggur mahu pun tukang bersih di pejabat kerajaan. Bukankah mereka ini memiliki kisah-kisah yang menarik, dan terlupa diperdalami kehidupan harian mereka? Bukankah mereka ini yang kerap ditemui setiap hari pada pandangan mata penulis? Untuk itu, saya teringat kembali puisi-puisi Allahyarham T Alias Taib. </p>
<p>Timbul persoalan di sini, mengapa kita terlalu beria-ia menulis sesuatu tema yang besar-besar sahaja kepada pembacanya? Lihat sahaja filem-filem dari Iran yang memaparkan kisah yang sebegitu mudah tetapi amat menyentuh jiwa penonton-penontonnya, berbanding filem-filem fantasi futuristik ciptaan Hollywood tetapi kosong jiwanya. Pada setiap kali penulis memindah pergolakan dunia antarabangsa yang tidak terjangkau oleh manusia biasa, penulis terlupa untuk merenung persekitaran tempatan dengan manusia-manusia kecilnya di celahan kotaraya. Kadang-kadang karya itu dipenuhi fakta-fakta dan maklumat-maklumat, hinggakan apabila membacanya, pembaca bertanya &#8211; &#8220;apa ini bukan karya sastera atau karya sastera ini terkorban kesan artistiknya?&#8221;. Itu khayalan saya sahaja. Apakah yang dimahukan oleh teks-teks sedemikian jikalau bukan menayangkan bayang-bayang akademiknya, supaya pembaca terasa akan kecanggihan teks karyanya? Pun itu khayalan saya sahaja. Maka maafkan saya jika bertanya sebodoh itu.</p>
<p>Cerpen-cerpen terbaharu oleh Eka Kurniawan, barangkali sahaja dikutip dari pemerhatian pekanya terhadap keadaan manusia-manusia sekeliling, makanya, cerpen-cerpen itu kedengarannya mudah, remeh-temeh dan lurus kerana kenaifan watak-wataknya. Mengenangkan itu, katakan sahaja teks-teks cerpen itu bernada lucu. Ya, memang terasa kelucuannya. Apatah lagi setelah saya selesai membaca <strong>Penafsir Kebahagiaan</strong> (yang berlatarkan bumi Amerika Syarikat)yang berakhir dengan penyesalan yang memedihkan hati dua orang anak beranak itu. Cuba kesani kekalutan emosi di bawah ini, yang saya petik pada penghujung cerpen itu,</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku tidak tahu apakah harus memanggilnya anak atau cucu,&#8221; gumam Markum, masih agak kesal.</p>
<p>&#8220;Aku tak keberatan menganggapnya adik,&#8221; kata Jimi.</p></blockquote>
<p>Setelah baris demi baris dibaca, kisah yang membawa dua beranak itu datang ke bumi Amerika Syarikat, bayi yang dikandung oleh perempuan bernama Lucy atau pun Siti itu, siapakah bapanya, siapa yang akan bertanggungjawab, tetapi, begitulah detik itu dibiarkan terapung oleh Eka Kurniawan. Tiada kesudahan yang menggembirakan. Sebagai pembaca, saya amat merasa tertekan, kerana, peristiwa sebegitu, mungkinkah benar-benar berlaku? Itulah magisnya cerpen dan penulisnya sudah tentu merencanakan penyelesaiannya setragis sedemikian. Dan jikalau cerpen <strong>Gincu ini Merah, Sayang</strong> atau <strong>Gerimis Yang Sederhana</strong> dibaca, mahu tidak mahu, pembaca akan mengigit bibir bawahnya, tanda tersentuh? Kehidupan ini mudah benar kelihatan seperti teka-teki, dan seniman yang prihatin akan menggantungkan kanvas kehidupan, hitam putih atau kelabunya, sejujur mungkin. Pesanan moral? Jangan ditanya saya.</p>
<p>Salam hormat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Bercinta dengan Barbie” dalam Kacamata Feminis</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bercinta-dengan-barbie-dalam-kacamata-feminis-34.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bercinta-dengan-barbie-dalam-kacamata-feminis-34.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2005 16:37:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Bercinta dengan Barbie]]></category>
		<category><![CDATA[Feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Melissa, kritikfeminis2005.blogdrive.com</strong></div>

Judulnya yang begitu menarik, yaitu “Bercinta dengan Barbie”, begitu menggugah rasa ingin tahu ceritanya. Dari ceritanya yang sama menariknya dengan judulnya, kita bisa menemukan beberapa faktor yang mencolok mengenai hubungan antara suami dengan istri, laki-laki dan perempuan, pria dan wanita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Melissa, kritikfeminis2005.blogdrive.com</strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/gs40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya">Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/gelak-sedih">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792213481/Gelak-Sedih-dan-Cerita-Cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p><span class="dropcaps">C</span>erpen “Bercinta dengan Barbie” adalah sebuah karya dari penulis bernama Eka Kurniawan yang terdapat dalam buku berjudul <em>Gelak Sedih</em> yang merupakan kumpulan hasil karyanya.</p>
<p>Judulnya yang begitu menarik, yaitu “Bercinta dengan Barbie”, begitu menggugah rasa ingin tahu ceritanya. Dari ceritanya yang sama menariknya dengan judulnya, kita bisa menemukan beberapa faktor yang mencolok mengenai hubungan antara suami dengan istri, laki-laki dan perempuan, pria dan wanita. Meskipun ide utama cerita ini kemungkinan tidak khusus mengarah pada masalah gender, tapi kita masih bisa mendapatkan gambaran tentang keresahan seorang istri, perempuan, wanita, dalam menghadapi suami, atau laki-laki dan pria, dalam melakukan hubungan sosial dengan mereka. Melalui beberapa unsur yang terdapat dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini, saya akan mencoba menganalisanya melalui sudut pandang para feminis.<br />
<span id="more-34"></span><br />
Unsur pertama yang paling mencolok dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini sudah jelas adalah tokoh “Barbie” itu sendiri. Barbie, seperti yang kita ketahui, adalah sosok boneka perempuan yang berwujud—baik di mata kaum Adam ataupun Hawa—sangat sempurna. Mulai dari rambut sampai ke ujung kaki Barbie merupakan sosok dambaan semua lelaki dan terkadang membuat iri kaum perempuan. </p>
<p>Dalam cerita pendek ini Barbie tersebut disihir oleh seorang pria agar menjadi seorang manusia biasa, dengan alasan si pria sudah sangat putus asa dengan sosok istrinya yang—untuk ukuran kebanyakan laki-laki—sangat tidak memuaskan. Kejadian ini banyak ditemukan dalam kehidupan nyata, dimana seorang perempuan diharuskan untuk memiliki tubuh sesensual boneka Barbie dan wajah seayu wajah boneka tersebut, baru mereka bisa memenuhi syarat untuk bisa memuaskan setiap laki-laki. Apabila mereka tidak memenuhi persyaratan itu, maka mereka kemungkinan besar akan ditinggalkan oleh para laki-laki yang—menurut cerita dalam cerpen ini—akan mencari perempuan lain dengan penampilan serba sempurna seperti Barbie. </p>
<p>Akan tetapi, jika kita melihatnya dari sisi kaum perempuan sendiri, yang ada hanyalah penderitaan untuk memenuhi persyaratan “hidup” seperti itu, bagaimana kaum perempuan haruslah selalu menjadi sosok “dewi yang sempurna” untuk suami atau laki-laki yang mereka cintai. Seperti yang kita tahu, untuk memiliki kesempurnaan Barbie adalah sesuatu yang mustahil, karena si Barbie sendiri tidak akan pernah bertambah tua dan tak akan pernah berubah perawakannya menjadi keriput atau bergelambir. Jika melihat dari sudut pandang kaum feminis, hal ini akan menyebabkan kaum perempuan merasa terasing dari tubuh mereka sendiri, dimana seseorang seharusnya merasa bebas dengan keadaan dirinya, dengan usaha dari dirinya untuk dirinya sendiri, bukan orang lain.</p>
<p>Hubungan antara si pria yang menjadi tokoh utama dalam cerita dan boneka Barbie-nya merupakan unsur penting berikut dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie”. Si pria yang merubah Barbie menjadi seorang manusia pada akhirnya tidak hanya “menggunakan” si boneka untuk kepuasan dirinya sendiri. Pria itu mulai mencari keuntungan dengan membuka rumah pelacuran yang diberi nama “Bercinta dengan Barbie”, darimana judul cerpen itu diambil. </p>
<p>Keelokan si Barbie yang “dijual” oleh pria itu menunjukkan pula bagaimana proses Kapitalisme sejalan dengan sistem Patriarki. Sekalipun para perempuan dalam cerpen ini, terutama istri si pria, membenci si Barbie, tetapi Barbie-Barbie yang “dijual” oleh si pria tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena bukan kesalahan mereka kalau mereka begitu elok. Justru dari cerpen ini kita bisa melihat bagaimana Barbie-Barbie itu hanya menjadi pion si pria dalam usahanya mencari keuntungan, selain keuntungan itu juga dapat dia nikmati sendiri. </p>
<p>Sitem Patriarki, yang selalu dapat dihubungkan dengan kaum laki-laki, disimbolkan oleh sosok si pria “penyihir” dalam cerpen ini. Sementara itu, seperti yang sudah diketahui, Barbie dalam kehidupan nyata sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak sistem Kapitalisme yang ada. Sosok Barbie yang begitu sempurna sebagai boneka dijual ke khalayak banyak, dan mereka yang yang menjualnya mendapatkan begitu banyak keuntungan dari orang-orang yang merasa terbius oleh keindahan boneka tersebut. Yang paling tidak mengenakkan dari boneka Barbie itu sendiri, bagi kaum perempuan, sudah tentu bentuknya yang begitu menawan. Setiap perempuan yang membandingkan dirinya dengan si boneka Barbie yang menjadi impian setiap laki-laki akan terus merasa tersisih. </p>
<p>Cerpen ini menunjukkan bagaimana boneka-bobeka Barbie yang disihir menjadi manusia untuk “dijual” itu menjadi sumber kekacauan rumah tangga dan hubungan-hubungan antara manusia. Istri-istri yang ditinggal suaminya untuk bercinta dengan Barbie, dalam cerita ini, dikatakan menjadi kalap dan membunuhi Barbie-Barbie itu, karena suami-suami mereka sama sekali tidak mau menyentuh mereka lagi. Ini menunjukkan bagaimana standar diri untuk perempuan untuk para lelaki sangatlah tinggi, sementara saat mereka mati-matian berusaha di rumah untuk menarik perhatian para lelaki itu lagi, dengan enaknya suami-suami itu tetap mengunjungi rumah pelacuran Barbie. </p>
<p>Sungguh terlihat ketidakadilan hubungan laki-laki dan perempuan dan cerita ini. Meskipun dalam cerpen tokoh si pria digambarkan bukan sebagai orang yang “rakus” dan bersedia menerima istrinya asalkan tubuhnya seindah dulu, tetap saja menunjukkan bahwa laki-laki menentukan segalanya, tidak peduli sesusah apapun para wanita mereka berusaha memenuhi standar mereka. Namun pada akhirnya, usaha mereka tetap saja tidak mendapat perhatian para suami itu kembali, karena mereka lebih tertarik pada sosok-sosok perempuan “Barbie”. </p>
<p>Si pria sebagai simbol Patriarki dan si Barbie sebagai simbol Kapitalisme. Si pria tidak peduli seberapa banyak keluarga dan hubungan yang hancur karena pelacuran Barbie-nya selama dia mendapat untung, sekaligus sebagai penentu bagaimana seorang wanita seharusnya. Hal-hal seperti ini termasuk ke dalam persoalan yang ditentang oleh para feminis. Sosok indah perempuan dijual oleh mereka yang selalu mencari keuntungan, sementara mereka yang tidak termasuk kedalam kategori perempuan bersosok indah tersebut harus berusaha mati-matian untuk menetukan standar agar diakui oleh kaum pria.</p>
<p>Yang menjadi sorotan terakhir dalam penganalisaan cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini adalah tokoh sang istri dari si pria, atau juga yang mewakili semua perempuan dalam cerita. Diceritakan bahwa sang istri dan istri-istri yang suaminya berselingkuh dengan Barbie di tempat pelacuran itu membunuhi Barbie-Barbie yang menjelma menjadi manusia karena terbakar oleh rasa cemburu dan putus asa dengan usaha mereka untuk menjadi langsing atau cantik seperti sediakala. Namun begitu si pria mengalah dengan memberikan para wanita itu boneka Ken yang dirubah menjadi manusia, mereka menjadi puas. </p>
<p>Memang para wanita itu dikatakan puas dengan memiliki Ken sebagai pengganti suami mereka yang berselingkuh dan juga tidak menarik bagi mereka, tapi ini tidak melepaskan mereka dari sistem Kapitalis yang diterapkan pada mereka. Dengan membayar Ken-Ken ciptaan si pria untuk dibawa ke ranjang, mereka tetap harus membayar untuk kepuasan semacam itu. Bisa jadi ini semacam pemberontakan terhadap kaum lelaki yang tetap tidak mempedulikan mereka, namun dalam cerpen diceritakan apabila para boneka Ken tersebut mulai berselingkuh dengn para boneka Barbie milik suami mereka. Pada akhirnya jadilah para wanita itu tetap mengeluh dan merasa kalau saja mereka bisa menjadi secantik Barbie, maka para Ken “bayaran” itu tidak akan berselingkuh dengan para Barbie. </p>
<p>Kejadian dalam cerita ini jelas memperlihatkan bahwa apapun usaha yang dilakukan oleh para wanita itu, baik membunuh para Barbie, berusaha keras mengembalikan bentuk tubuh mereka, yang ada hanyalah kekosongan yang kembali mereka rasakan setelah kehilangan Ken-Ken mereka. Pada akhir cerita ini dikatakan apabila si pria mengembalikan semua boneka itu ke wujud asalnya, meskipun dia masih menyimpan Barbie untuk dirinya sendiri. Namun saat anaknya menangis mencari Barbie-nya yang hilang, dengan kejam dia mengganti istrinya ke wujud boneka dan memberikannya pada anaknya, yang langsung membuang muka melihat keburukan boneka baru tersebut. Si pria akhirnya membuang boneka si istri ke tempat sampah dan pergi bersama Barbie-nya. </p>
<p>Cerita ini menunjukkan bagaimana dalam kehidupan nyata seorang istri yang sudah tidak bisa memuaskan suaminya bisa dibuang begitu saja dan diganti dengan perempuan yang baru. Sungguh tidak adil, karena si istri sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya dan hanya menerima saja ketika dirinya dibuang, persis seperti sesosok boneka yang tidak bisa berkata apa-apa ataupun memprotes saat dirinya dilempar ke tempat sampah, dibuang karena sudah tidak sempurna.</p>
<p>Dari semua unsur yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini samar-samar menunjukkan perjuangan kaum Hawa untuk mendapat penghargaan di mata para lelaki. Meski di pertengahan sebagian dari kaum perempuan sempat melawan ketika diperlakukan semena-mena, pada akhirnya mereka dibuang juga dalam bungkam seperti sebuah boneka usang. </p>
<p>Sebagian dari kaum perempuan itu, dalam kasus ini adalah Barbie yang diubah menjadi manusia, juga menemukan pemberontakkan diri mereka saat diperjual-belikan kepada para lelaki yang berpenampilan sama tidak memuaskannya seperti istri mereka, dan mereka berselingkuh dengan para Ken yang sempurna. Namun pada akhirnya mereka semua dikembalikan menjadi boneka yang tidak bisa memprotes, dan hanya satu yang masih bisa menjadi manusia, yaitu Barbie milik si pria. Dengan kata lain, kalau saja Barbie itu bukanlah “milik” si pria, maka kemungkinan dia tidak akan pernah menjadi “manusia”, dimana makin kuat pendapat mengenai si pria sebagai simbol Patriarki yang mengatur segalanya dalam kehidupan kaum perempuan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bercinta-dengan-barbie-dalam-kacamata-feminis-34.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siasat Membangun Cerita di Atas Cerita</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/siasat-membangun-cerita-di-atas-cerita-40.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/siasat-membangun-cerita-di-atas-cerita-40.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2005 04:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Damhuri Muhamad]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Damhuri Muhammad, Lampung Post</strong></div>

Keberhadiran cerpen-cerpen Eka, seolah hendak "menjungkirbalikkan" stigma yang melekat pada cerpen koran (dangkal, topikal, dan bias berita). Cerpenis muda ini memperlihatkan "jati diri" cerpen yang bukan hanya mandiri sebagai kisah, tapi juga mandiri sebagai genre sastra, makin "dewasa" dan tegak berdiri di atas kaki sendiri (tidak bergantung intervensi "kepentingan" koran).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Damhuri Muhammad, Lampung Post</strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/gs40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya">Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/gelak-sedih">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792213481/Gelak-Sedih-dan-Cerita-Cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p>Disadari atau tidak, setiap &#8220;tukang&#8221; cerita meneladani kecerdasan Syahrazad. Permaisuri pendongeng dalam kisah <em>Seribu Satu Malam</em> yang mesti &#8220;berjuang&#8221; menyelesaikan sepenggal kisah demi tertundanya ancaman maut satu malam lagi. Bilamana sang permaisuri itu masih ingin bertahan hidup, ia harus merangkai sepenggal kisah lagi untuk mengulur waktu kematiannya satu malam lagi.</p>
<p>Begitu seterusnya, hingga tak terasa ia sudah menghabiskan 1001 malam untuk merajut kisah-kisahnya. Begitu juga kesan saya setelah membaca cerpen &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221; dalam antologi <em>Gelak Sedih</em> (Gramedia, Jakarta, 2005) karya Eka Kurniawan. Alamanda, perempuan yang tak berdaya menolak pernikahannya dengan lelaki sepupu sendiri, mencoba bersiasat agar suaminya tak beroleh kesempatan menjamah tubuhnya, &#8220;bercinta&#8221;layaknya hubungan suami-istri.<br />
<span id="more-40"></span><br />
Siasat Alamanda tidak lain adalah siasat Syharazad. Perempuan itu tidak bersedia berhubungan badan kecuali suaminya berkenan mendengarkan dongeng-dongengnya. &#8220;Percintaan&#8221; hanya akan terjadi jika dongeng Alamanda sudah &#8220;khatam&#8221;. Padahal,dongeng Alamanda tak akan pernah tamat. Maka, mengalirlah dongeng &#8220;Petualangan Alice di Negeri Ajaib&#8221; dari mulut Alamanda.</p>
<p>Semula saya menduga kepiawaian berdalih yang digambarkan pengarang adalah siasat Alamanda membatalkan pernikahan dan sekaligus percintaan &#8220;terlarang&#8221; itu. Sama halnya dengan siasat dongeng-dongeng Syharazad mengulur kematiannya. Tetapi,setelah menyelami lekuk-lekuk kisahnya, ternyata &#8220;kelicikan&#8221; Alamanda sekadar menutupi rasa malu pada sang suami. Sebab, ia sudah tidak perawan lagi.</p>
<p>Tujuan yang remeh jika dibandingkan nasib Syharazad yang sedangdi ujung tanduk. Saya merasa &#8220;tertipu&#8221; style pengisahan Eka yang semula sudah terasa &#8220;matang&#8221;, tapi pada bagian akhir Eka membuatnya &#8220;mentah&#8221; kembali. Ibarat memeras kandungan gula dari sebatang tebu, (setelah saya jilat) bagian pangkal tebu itu luar biasa manis, tapi makin keujung terasa makin hambar.</p>
<p>Saya tidak kecewa. Sebab, justru di titik inilah letak keunikan proses kreatif Eka. Ia seperti pemburu yang menggebu-gebu hendak mencabik-cabik buruan, tapi setelah berhasil melumpuhkan mangsa, sang pemburu tak hendak memakan dagingnya. Agaknya, pemburu tidak sedang lapar. Maka, hasil buruan pun dibuang percuma di tengah hutan. Sayang sekali! Sebagai pemburu, Eka sudah menguras energi, tapi kenapa hasil buruannya disia-siakan begitu saja?</p>
<p>Agaknya, logika pencapaian estetika Eka bukan pada mentah-matang, ketat-longgar atau kuat-lemahnya substansi cerita,melainkan pada seberapa bersenyawanya unsur-unsur &#8220;estetik&#8221;di dalam kisahnya. Sebab itu, Alamanda tak perlu menjelma Syharazad. Cukup menjadi perempuan yang masih punya malu setelah kelaminnya tak lagi terlindungi selaput dara.</p>
<div style="text-align:center">***</div>
<p>Ada yang bilang, cerpen koran semata-mata bersandar pada cerita dan memperlakukan bahasa hanya sebagai &#8220;kendaraan&#8221; bercerita (Nirwan Dewanto). Lalu, muncul pula penilaian kebanyakan cerpen koran hanya bergerak di permukaan, dangkal karena isi dancara pengungkapan dikondisikan media massa (Budi Darma). Tersebab &#8220;kepentingan&#8221; koran meresap &#8220;tubuh&#8221; cerpen, sulit memilah mana cerita, mana berita.</p>
<p>Demikian sekelumit perihal gugatan pada geliat &#8220;cerpen koran&#8221; yang mewabah sejak sepuluh tahun terakhir. Cerpen dianggap terjerumus &#8220;realitas koran&#8221;, sehingga menjadi sangat &#8220;topikal&#8221; dan gagal menjadi sebuah kisah yang berdiri sendiri (Goenawan Mohamad). Apakah hipotesis di atas terbukti setelah membaca cerpen-cerpen Eka?</p>
<p>Dari segi ketergantungan pada cerita, barangkali jawabannya, ya. Di samping sebagai pencerita yang &#8220;genius&#8221;, Eka adalah (lagi-lagi) sosok &#8220;pemburu&#8221; sekaligus kolektor cerita yang tekun. Cerita-cerita yang menggugah selera estetiknya sering menjadi embrio cerita-cerita yang dia tulis. Ia membangun cerita di atas konstruksi cerita-cerita yang pernah dibacanya (seperti terlihat pada &#8220;Bercinta dengan Barbie&#8221;, &#8220;Lelaki Sakit&#8221;, &#8220;Assurancetourix&#8221;, &#8220;Peter Pan&#8221;, &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221;, &#8220;Si Cantik yang tak Boleh Keluar Malam&#8221;, &#8220;Siapa Kirim Aku Bunga?&#8221;, dan&#8221;Kisah&#8221;), bahkan sesekali &#8220;terjerembap&#8221; mendaur ulang cerita-cerita lama (demi) melahirkan kisah-kisah baru.</p>
<p>Delapan belas cerpen yang terhimpun dalam antologi <em>Gelak Sedih</em>, sebagian besar dirangkai berdasarkan &#8220;pengalaman baca&#8221; pengarang. Pada cerpen &#8220;Bercinta dengan Barbie&#8221;,dengan jujur Eka mengaku terinsprasi karakter-karakter boneka produksi Mattel Corporation (hlm. 183). Pada bagian awal, Eka mencantumkan kutipan &#8220;Betapa menggelikan aku ketika masihmenjadi boneka!&#8221; (Carlo Collodi, <em>Pinocchio</em>).</p>
<p>Apa tujuan penulisan kutipan itu? Mungkin hendak bersikap jujur atau sekedar memberitahu pembaca perihal pentingnya cerita pinocchio dalam konteks lahirnya cerpen &#8220;Bercinta dengan Barbie&#8221;. Padahal, tidak akan ada keculasan jika kutipan yang mengganggu dan tak perlu itu ditiadakan. Toh, cerpen Eka tetap utuh sebagai kisah (tanpa kurang satu apa pun jua).</p>
<p>Justru, bilamana setiap cerpen Eka selalu &#8220;di-mukadimah-i&#8221;pelbagai referensi yang tak perlu, pembaca bisa saja meragukan Eka sebagai pencerita yang &#8220;mandiri&#8221;. Cerpen bukan makalah ilmiah, Bung! Jadi, tak perlu kejujuran akademik!</p>
<p>Lalu, apakah ekspresi literer Eka masih berkutat di tataran permukaan? Tentu saja tidak. Sebagai pengisah, refleksi dan perenungan Eka sudah &#8220;sampai&#8221;. Ia bukan hanya telaten, tetapi juga lihai mengasah, mengolah, mengelola dan meng-&#8221;eksekusi&#8221; hingga kisah-kisahnya berdiri kokoh di maqam yang patut. Eka mampu menangkap gerak dalam objek.</p>
<p>Seperti pernah diungkapkan Jacques Maritain, dalam proses kreatif ada hubungan misterius antara jiwa dalam diri seniman dan jiwa dalam objek yang digarapnya. Eka tidak lagi menangkap objek atau peristiwa dalam wadah kasarnya, tapi langsung menukik keceruk jiwa dan esensi objek. Dengan begitu, ia berkompetensi menulis apa saja dengan gemilang.</p>
<p>Sepasang suami-istri yang meskipun sudah berniat membuang bayi mereka di pinggir jalan (cerpen &#8220;Gelak Sedih&#8221;), masih memendam harap agar bayi itu ada yang memungut, beritanya munculdi koran, lalu ada orang kaya yang berkenan mengambilnya. Ini adalah jiwa dalam objek garapan pengarang. Bahwa kemudian harapannya pupus ketika berita yang terpampang di koran, &#8220;Mayatorok ditemukan di pinggir jalan, diduga dimakan anjing&#8221; itu adalah ekspresi imajiner yang harus dilakukan pengarang agar kisahnya sampai pada kulminasi konflik.</p>
<p>Puncaknya adalah sedih. Dan, sedih yang melampaui ambang batas bakal memuncak menjadi gelak. Begitupun sebaliknya. Inilah latar filosofis pilihan judul &#8220;Gelak Sedih&#8221;. Sejatinya, gelak mustahil dikombinasikan dengan sedih. Tapi bagi Eka, gelak dan sedih tak hanya &#8220;tak bertentangan&#8221; tetapi malah bersenyawa, membaur, dan berkelit kelindan.</p>
<p>Keberhadiran cerpen-cerpen Eka, seolah hendak &#8220;menjungkirbalikkan&#8221; stigma yang melekat pada cerpen koran (dangkal, topikal, dan bias berita). Cerpenis muda ini memperlihatkan &#8220;jati diri&#8221; cerpen yang bukan hanya mandiri sebagai kisah, tapi juga mandiri sebagai genre sastra, makin &#8220;dewasa&#8221; dan tegak berdiri di atas kaki sendiri (tidak bergantung intervensi &#8220;kepentingan&#8221; koran).</p>
<p>Akan lebih &#8220;dewasa&#8221; lagi bilamana Eka sanggup me-merdeka-kan imajinasi dari kebergantungan koleksi cerita-ceritanya. Ya, membangun cerita di atas layar &#8220;tabularasa&#8221; estetik yang masih putih bersih, belum tercorat-coret barang senoktah pun. Nah!</p>
<div class="footnote">Tulisan ini pernah dimuat di <a href="http://lampungpost.com"><em>Lampung Post</em></a>, 17-7-2005.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/siasat-membangun-cerita-di-atas-cerita-40.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2005 13:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Sjaiful Masri]]></category>
		<category><![CDATA[Sriti.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Sjaiful Masri, Sriti.com</strong></div>

Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Sjaiful Masri, Sriti.com</strong></div>
<p><div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ctam40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya">Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/cinta-tak-ada-mati">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792212574/Cinta-Tak-Ada-Mati-dan-Cerita-cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div> <div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/gs40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya">Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/gelak-sedih">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792213481/Gelak-Sedih-dan-Cerita-Cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div></p>
<p>Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel <em>Cantik itu Luka</em>. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, tangga nada yang harmonisnya bisa dirinci. Atau tepatnya tarot yang terkocok acak yang kemudian menyimpan risalah panjang yang asyik untuk dimainkan… Saya berbeda selera dengan Maman. Tebakan saya meleset. Air bah itu hanya berpusar pada ruang kepalanya, bukan Tsunami semesta.</p>
<p><span id="more-44"></span><br />
Masuk kepertaruhan kedua, saya bermain-main dengan Lelaki Harimau, yang menata gaya psikologis, setingkat lebih mapan dari sejumlah karya-karya Bagus Takwin. Jika Takwin bermain dalam efek emprik dunia psiko-dramatis, Eka menyempurnakannya dengan kesadaran empirik. Dunia psikologis menyublim dalam rationale. Siapa yang bilang ini realis-magis?</p>
<p>Pimpinan kami, Editor website ini menjerit-jerit, “Bahas ini. Spektakuler! Masa depan cerpenis kita!! Saatnya cerpenis tua pamit panggung…..!!” Bla bla bla bla…. Mengapa begitu banyak orang salah tangkap, tegang sendirian, <em>over-acting</em>, berharap meluap-luap dengan sebuah karya. Bukankah penulis itu punya dedikasinya sendiri?</p>
<p>Kali ini Seno Gumira Ajidarma menuntaskan ‘tebak-tebak buah manggis’ saya pada Eka. Dalam <em>Cinta tak ada Mati</em>, Seno membubuhi komentar “Cerita-cerita ini ditulis dengan suatu bakat dan semangat pencanggihan yang tinggi…Kita pantas meletakkan harapan atas masa depan sastra Indonesia kepada para penulis muda seperti Eka Kurniawan…” Saya tidak membaca nada kecemasan Seno dibalik pujian itu. Efek yang tersisa adalah, bila saja kenyataan yang menganga kemudian akan melahirkan masa depan yang sunyi… Jika dibandingkan cerpenis seangkatannya, dalam amatan kecil kami di <a href="http://sriti.com">Sriti.com</a>, dalam kurun enam bulan terakhir, Eka termasuk cerpenis yang ‘malas’. Saya tidak mau lagi main tebak-tebakan.<br />
<center>***</center><br />
Dua buku karya Eka Kurniawan berbarengan muncul di pasaran. Seakan idiom lawas dunia dagang buku kalau ‘dua buku muncul berbarengan itu akan saling ‘membunuh’ dalam pasaran’. Setahun silam, ketika <em>Cantik itu Luka</em> edisi re-print dan <em>Lelaki Harimau</em> muncul berbarengan, dan kini terulang <em>Gelak Sedih</em> serta<em> Cinta tak ada Mati</em> bak bayi kembar brojol dalam rak toko buku; barangkali Eka bukan lagi masa depan sastra Indonesia, mungkin, ia juga telah menjadi pembukti dunia dagang buku mutakhir. Betapa kuatnya penetrasi pasar dunia dagang buku sastra kita saat ini….</p>
<p>Membaca <em>Gelak Sedih</em>, saya justru melihat kalau Eka adalah pengarang yang sangat realistis. Ia dengan sadar melihat dunia kepengarangannya harus ditopang mekanisme yang mumpuni. Ia memilih penerbit besar seperti Gramedia Pustaka Utama bukan tanpa alasan. <em>Gelak Sedih</em> membuktikan keampuhan itu. <em>Gelak Sedih</em> adalah edisi re-package dari kumpulan cerpen terdahulunya, <em>Corat-coret di Toilet</em> yang kemudian ditambahkan sembilan cerpen baru. Hemat saya, inilah proyek yang sesungguhnya, <em>Cinta tak ada Mati</em> segar karena 13 cerpen yang baru dirampaikan dalam bentuk buku.</p>
<p>Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia. (Saya kecolongan komentar ini, karena toh, Agus Noor sudah membubuhi duluan dalam sampul belakang Gelak Sedih. Bla bla bla bla…Saya tidak akan menambah jumlah gunung pujian yang ditulis Oka Rusmini, Agus Noor, Seno, dan juga Djenar Maesa Ayu… saya punya yang lain tentang dia…)</p>
<p>Dua buku ini sangat dianjurkan untuk dimiliki, bukan hanya karena sosok Eka Kurniawan yang masuk sebagai cikal masa depan sastra kita. Dua buku ini menyajikan kompilasi lengkap Eka Kurniawan sebagai cerpenis. Perjalanan awal yang didudu secara lengkap. Dan yang terunik adalah ‘gaya’ dia menyajikan cerpen koran ke dalam bentuk buku perlu digarisbawahi. </p>
<p>Ia bertindak sebagai kreator. </p>
<p>Dalam kedua buku ini tidak terdapat detail sumber sejarah penerbitan cerpen. Sebagai buku, referensi ini juga bisa menimbulkan efek jualan. Tapi, Eka memilih sikap praktis. Ia kelihatan ingin melahirkan cerpen-cerpen koran-nya sebagai karya ‘baru’. </p>
<p>Eka mengolah lagi proses editingnya, mengganti judul, ‘menambal’ sejumlah kebocoran yang sempat terjadi saat cerpen tersebut dimuat di media massa, menimbulkan mood baru dengan sejumlah garnish, dan keberanian untuk menunjukan sikap. Jika dalam versi cetak cerpen Pengakoean Seorang Pemadat Indis yang pernah dimuat di Media Indonesia (6 Februari 2005) itu tercetak dengan ejaan familiar (EYD?), maka ketika cerpen tadi tampil dalam kumpulan <em>Cinta tak ada Mati</em>, Eka menampilkan teks-nya dalam ejaan zaman <em>baheula</em>. Saya suka caranya menyiasati prosedural sastra koran kita. </p>
<p>Saya tidak sedang ‘main tebak-tebakan buah manggis’. Saya sedang mencoba mengingat-ingat seorang Eka Kurniawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/merayakan-kembali-kekuatan-dongeng-46.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/merayakan-kembali-kekuatan-dongeng-46.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2000 23:09:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kurniawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Kurniawan</strong></div>

Kekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku <em>Corat-coret di Toilet</em> ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Kurniawan, detik.com</strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/gs40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya">Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/gelak-sedih">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792213481/Gelak-Sedih-dan-Cerita-Cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p><span class="dropcaps">K</span>ekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku <em>Corat-coret di Toilet</em> ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.</p>
<p>Misalnya, dalam &#8220;Kisah dari Seorang Kawan&#8221; yang berbentuk cerita berbingkai. Bingkainya adalah kisah percakapan beberapa aktivis mahasiswa tentang orangtua masing-masing. Inti cerpen ini adalah kisah seorang mahasiswa tentang ayahnya yang pedagang beras kecil tapi dipenjara karena membunuh seorang pedagang besar yang berhasil menguasai pasar beras dan merebut pelanggan-pelanggan para pedagang kecil itu.<br />
<span id="more-46"></span><br />
Sebenarnya, inti cerita ini cukup kuat dan bermakna. Tapi, bingkai utama cerita jadi kehilangan kekuatan dan terkesan hanya mendramatisir &#8220;kemiskinan&#8221; dan &#8220;orang-orang kalah&#8221; yang menjadi tema utamanya.</p>
<p>Pemborosan kalimat -kalau boleh diistilahkan begitu- muncul pula dalam &#8220;Corat-coret di Toilet&#8221;. Disini banyak peristiwa pencoretan dinding toilet oleh beragam orang jadi perulangan adegan yang semestinya bisa dipadatkan sehingga bisa menyeruakkan tema utamanya.</p>
<p>Secara umum, cerpen Eka ini merayakan kembali kekuatan dongeng. Bahkan, beberapa cerpennya &#8220;meminjam&#8221; dongeng-dongeng yang sudah familiar. Perhatikan kemiripan gagasan antara &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221; dengan Kisah 1001 Malam, juga &#8220;Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam&#8221; yang mirip Cinderella.</p>
<p>Meminjam istilah yang sering muncul dalam cerpen-cerpennya, Eka nampaknya tengah mencoba jadi &#8220;subversif&#8221;. Teks atau dongeng yang ada dilawan dengan teks baru yang merupakan versi lain dari tafsirnya. Bagaimana sosok Peter Pan disubversikan dalam cerpen Peter Pan menjadi sosok mahasiswa yang &#8220;tak mau tua&#8221;, seorang mahasiswa abadi dan aktivis yang tak putus asa meski akhirnya jadi korban penculikan. Namun, apa yang dilakukannya nampak belum cukup subversif sehingga bisa menggetar pembaca.</p>
<p>Cerpen-cerpen disini pernah dimuat di <em>Hai</em>, <em>Bernas</em>, <em>Media Indonesia</em>, <em>Terang</em>, dan <em>Terompet Rakyat</em>. Buku ini adalah buku kedua Eka, setelah bukunya yang laris di pasar, <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> (Aksara Indonesia, 1999).</p>
<div class="footnote">Tulisan ini pernah diterbitkan di <a href="http://detik.com">detik.com</a>, 25 Agustus 2000.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/merayakan-kembali-kekuatan-dongeng-46.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

