Gabriel Garcia Marquez: Kalimat Pertama Merupakan Laboratorium
Banyak orang tentu bertanya-tanya, seperti apa proses kreatif di balik penulisan novel-novel besar semacam “One Hundred Years of Solitude” dan “Love in the Time of Cholera”? Sepanjang yang saya tahu, Gabriel Garcia Marquez sang penulis belum pernah menerbitkan sejenis buku “proses kreatif penulisan”-nya. Pikiran-pikirannya tentang itu lebih banyak berserak di berbagai buku (misal, di memoarnya “Living to Tell the Tale”) atau wawancara-wawancaranya di media. Salah satu yang menarik, adalah wawancara dengan yuniornya, Plinio Apuleyo Mendoza, yang kemudian dibukukan dengan judul “The Fragrance of Guava”.
Melankoli Marquez
Sepuluh tahun lalu, dalam cerita pendek berjudul “Sleeping Beauty and the Airplane”, Gabriel Garcia Marquez membayangkan naratornya sebagai seorang feodal Jepang yang keranjingan melihat perempuan cantik sedang tidur. Seketika saya menyadari rujukan yang dimaksudnya adalah tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel Yasunari Kawabata. Dan melihat gaya lirisisme di cerita pendek itu, serta cara pandang atas tubuh perempuan, saya juga mulai merasa ia terobsesi kepada gaya neosensualisme penulis besar Jepang tersebut. Puncak obsesinya, saya pikir bisa dilihat di novel terbarunya, Memories of My Melancholy Whores.
Hidup untuk Berkisah
Kelak para pembacanya tahu novel-novel dan cerita-cerita pendek tersebut, perlahan namun pasti, tengah menggiringnya ke novel paling akbar. Karya yang disebut-sebut Pablo Neruda sebagai “Don Quixote-nya Amerika Latin”. Itu adalah One Hundred Years of Solitude, yang ditulis berbulan-bulan nyaris menelantarkan isteri dan uang belanja mereka. Di novel itulah segalanya tumpah, dan kita serasa melihat suatu campur-aduk yang mencengangkan, seolah deretan tradisi sastra diramu di sana, dan kemudian menjadi miliknya.
