20 June 2008
Foto oleh: icultist, Some rights reserved.
Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar [...]
11 June 2008
Foto oleh: Tom@HK, Some rights reserved.
Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat [...]
26 March 2008
Yang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau copy editor di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah “hidup” hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja — dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?
14 February 2008
Mumpung Valentine (latah …), saya mencoba mendaftar 10 novel cinta paling menyebalkan. Alih-alih mempergunakan kata “terbaik”, saya mempergunakan kata “menyebalkan” justru untuk menghormati karya-karya berikut ini. Bukankah karya yang baik selalu merupakan gangguan … dan menyebalkan?
1. Dracula (Bram Stoker)
Saya selalu percaya, lebih dari sekadar novel gothic, Dracula sesungguhnya novel cinta. Cinta macam apa? Hmm … [...]
07 February 2008
Akhirnya saya menonton film ini di Blitz. Pertama-tama tentu karena film ini berdasarkan novel Love in the Time of Cholera Gabriel Garcia Marquez. Itu salah satu novel yang saya suka, meskipun jika harus menyebut mana karya Marquez terbaik menurut saya, barangkali saya malah akan menyebut dua novel pendeknya: Chronicle of a Death Foretold dan Love [...]
27 January 2008
Kita tahu itu baru terjadi setahun kemudian: 1998. Selepas itu, kita semua tahu apa yang terjadi. Bagi saya: serasa tak ada yang terjadi … Sampai saat ketika di warung melihat kematiannya, saya merasa presiden Indonesia masih yang itu: Soeharto. Sepuluh tahun berlalu, tak banyak yang berubah …
25 December 2007
Oleh: Roslan Jomel, roslanjomel.blogspot.com
Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen Caronang, Kasih Tak Sampai, Kutukan Dapur mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.
23 November 2006
Foto oleh venkane, Some rights reserved.
Sepuluh tahun lalu, dalam cerita pendek berjudul “Sleeping Beauty and the Airplane”, Gabriel Garcia Marquez membayangkan naratornya sebagai seorang feodal Jepang yang keranjingan melihat perempuan cantik sedang tidur. Seketika saya menyadari rujukan yang dimaksudnya adalah tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel Yasunari Kawabata. Dan melihat gaya lirisisme di cerita pendek itu, serta [...]
30 October 2005
Lelaki tua itu sudah genap delapan puluh empat hari tak memperoleh ikan. Kita tahu itu merupakan pembukaan kisah Lelaki Tua dan Laut Ernest Hemingway. Kita juga tahu lelaki tua itu kemudian membuktikan dirinya masih nelayan yang boleh diperhitungkan. Setelah berhari-hari melaut, ia akhirnya berhasil mengalahkan seekor ikan marlin besar.
19 March 2005
Adalah seorang putri bernama Syahrazad yang menyerahkan dirinya untuk dinikahi sang raja lalim bernama Syahrial. Sang putri melakukan itu untuk menghindari kurban lebih banyak, sebab sang raja selalu membunuh pengantinnya selepas melewati malam pertama. Tapi dengan cara apa Syahrazad sendiri menyelamatkan nyawanya? Jawabannya: dengan bercerita. Setiap malam, Syahrazad menceritakan sederet kisah yang akan digantung ketika fajar menjelang. Sang raja akhirnya tak pernah memenggal kepada sang putri, sebab ia selalu ingin mendengar lanjutan kisah yang diceritakan Syahrazad, begitu pula besok paginya, dan besoknya, dan besoknya. Sekarang kita menyebut dongeng tersebut sebagai Kisah Seribu Satu Malam.
Komentar Terbaru