<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Film</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/film/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Inception: Ide itu Virus</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/inception-ide-itu-virus-2140.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/inception-ide-itu-virus-2140.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 10:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/2140/inception-ide-itu-virus</guid>
		<description><![CDATA[Seperti virus, ide bisa berkembang pesat di pikiran seseorang. Soal apakah itu menghancurkan atau membangun, itu perkara lain. Itulah yang ada di benak Cobb, sekaligus inti cerita dari film karya Christopher Nolan, Inception. Tapi sebagaimana virus, tentu saja ada prasyarat tertentu suatu ide bisa berkembang cepat. Menurut Cobb, salah satu yang paling utama: ide harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>Seperti virus, ide bisa berkembang pesat di pikiran seseorang. Soal apakah itu menghancurkan atau membangun, itu perkara lain. Itulah yang ada di benak Cobb, sekaligus inti cerita dari film karya Christopher Nolan, Inception.
<p /> Tapi sebagaimana virus, tentu saja ada prasyarat tertentu suatu ide bisa berkembang cepat. Menurut Cobb, salah satu yang paling utama: ide harus sesederhana mungkin, sehingga mudah dipahami. Selain itu, ini juga yang paling penting: pikiran harus menerimanya sebagai sesuatu yang logis. Jika prasyarat itu terpenuhi, sekali ide sederhana tersebut ditanam, ia bisa berkembang menjadi apa saja.
<p /> Tentu saja kita semua tahu premis tersebut. Virus ide itu kita saksikan tiap hari: kita ciptakan, kita konsumsi, dan bahkan menjangkiti kita. Karya-karya filsafat diciptakan, apa lagi jika bukan untuk menyebarkan ide. Ide-ide ini bisa sederhana, bisa pula kompleks. Yang kompleks masih mungkin untuk berkembang: asal pikiran yang menerimanya bisa memahami logika di dalam ide tersebut. <br /><span id="more-2140"></span>
<p /> Tak hanya karya-karya filsafat: novel, seni rupa, pertunjukan, film itu sendiri, bahkan iklan, fashion, arsitektur, pada dasarnya upaya manusia untuk menyebarkan virus ide. Soal ide yang disebarkan penting atau tidak, itu juga perkara lain.
<p /> Tesis Cobb (diperankan oleh Leonardo DiCaprio), tentu saja harus dibuktikan. Dan untuk itu, ia harus mencobanya. Dalam percobaan ini, Cobb hanya ingin menanamkan ide sederhana: &#8220;Bahwa dunia ini tidak nyata&#8221;. Kemana ide harus ditanamkan? Tentu saja ke pikiran manusia. Ke pikiran paling dalam: alam bawah sadar. Cobb mencoba memasukkan ide ini ke pikiran istrinya, Mal (Marion Cotillard).
<p /> Ide itu pada dasarnya juga bukan ide kemarin sore. Kaum agamawan sudah sering mengatakannya, &#8220;bahwa dunia ini tidak nyata&#8221; (yah, surga dan neraka bagi mereka lebih nyata). Ide sederhana ini bisa diterima hanya jika pikiran bisa menerima logikanya. Bagaimana Cobb meyakinkan Mal, bahwa &#8220;dunia ini tidak nyata&#8221; adalah ide yang logis?
<p /> Film ini memang rada Freudian. Ingat tesis Freud bahwa mimpi adalah &#8220;royal road to unconscious&#8221;. Melalui mimpilah, Cobb mencoba menanamkan gagasan sederhananya ke alam bawah sadar Mal. Di sinilah teknologi yang dimiliki Cobb menjadi berguna. Dikisahkan ia memiliki teknologi yang bisa menghubungkan mimpi seseorang dengan mimpi yang lainnya.
<p /> Cobb berhasil membawa istrinya ke dalam mimpi. Tak hanya itu, ia membawa Mal ke dalam mimpi di dalam mimpi, dan terus masuk ke bawah hingga mencapai level empat bawah sadarnya. (Jadi bayangkan, kamu memakai obat-obatan untuk tertidur dan bermimpi, di dalam mimpi itu kamu juga memakai obat-obatan tersebut agar kamu tertidur lagi dan bermimpi lagi). Hingga di alam bawah sadar mimpi mereka, Cobb dan Mal membangun kehidupan baru, di dunia yang senyap, hanya mereka berdua. Sampai kakek-nenek.
<p /> Di sanalah Cobb membisikan idenya: &#8220;dunia ini tidak nyata&#8221;. Ketika mereka kembali ke kehidupan yang sebenarnya, sesuatu berubah. Mal benar-benar meyakini bahwa &#8220;dunia ini tidak nyata&#8221;. Tentu saja Mal bisa memahami logika di balik ide sederhana tersebut. Ia pernah masuk ke dalam mimpi hingga jauh ke dalam mimpi di dalam mimpi di dalam mimpi di dalam mimpi. Ia tahu semua mimpi tersebut tidak nyata: mereka bisa mengakhirinya kapan saja &#8220;dengan satu tendangan&#8221;.
<p /> Jadi sangat mudah untuk Mal meyakini bahwa &#8220;dunia ini tidak nyata&#8221;. Tapi ia perlu membuktikannya, bukan? &#8220;Dengan satu tendangan&#8221;: ia harus membunuh dirinya, agar terbangun di &#8220;dunia nyata&#8221;. Ide sederhana itu telah menjadi virus. Ia cukup sederhana untuk dimengerti. Ia memiliki logika yang menguatkannya. Prasyaratnya cukup untuk berkembang-biak kemana-mana. Dan ide yang sederhana bisa mematikan, lebih hebat daripada virus apa pun, di habitat yang tepat.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/inception-ide-itu-virus-2140.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eclipse: Ternyata Vampir Suka Baris-berbaris</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/eclipse-ternyata-vampir-suka-baris-berbaris-2107.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/eclipse-ternyata-vampir-suka-baris-berbaris-2107.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 17:34:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Vampir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=2107</guid>
		<description><![CDATA[Ya, itulah yang saya peroleh setelah nonton tiga film Twilght Saga, terakhir nonton "Eclipse". Seringkali itu vampir-vampir berdiri berjajar. Kadang berpasang-pasangan. Berpose. Seolah-olah setiap mereka nongol, ada fotografer yang hendak memotret.

Soal berpose, si manusia serigala Jacob juga suka berpose. Bedanya kalo vampir suka bergerombol berjajar, manusia serigala sukanya memamerkan dada yang berlekuk-lekuk. "Apakah kamu selalu tak sempat pakai baju?"]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, itulah yang saya peroleh setelah nonton tiga film Twilight Saga, terakhir nonton &#8220;Eclipse&#8221;. Seringkali itu vampir-vampir berdiri berjajar. Kadang berpasang-pasangan. Berpose. Seolah-olah setiap mereka nongol, ada fotografer yang hendak memotret.</p>
<p>Soal berpose, si manusia serigala Jacob juga suka berpose. Bedanya kalo vampir suka bergerombol berjajar, manusia serigala sukanya memamerkan dada yang berlekuk-lekuk. &#8220;Apakah kamu selalu tak sempat pakai baju?&#8221;</p>
<p>Kembali soal berpose, para vampir juga gemar dandan. Mereka berpakaian modis. Saya enggak tahu darimana atau sejak kapan vampir punya selera yang bagus mengenai fashion. Liat saja, mereka selalu memakai jas rapi. Bahkan meskipun mereka habis bertarung (dimana gerakan merka bahkan tak bisa ditangkap mata), pakaian mereka enggak pernah kusut. Juga tak pernah berlepot darah.<br />
<span id="more-2107"></span><br />
Mungkin asal mulanya dari Count Drakula? Yeah, karena dia seorang <em>count</em>, bangsawan, tentu saja sadar mode. Bajunya bagus dan tentu saja dandan. Pakai wig dan, hmm, memang pakai bedak. Gara-gara dia, semua vampir ikut-ikutan modis. Enggak peduli seperti apa mereka ketika masih bernapas: mau gembel, mau urakan, begitu jadi vampir, harus modis!</p>
<p>Oh ya, selain minum darah, vampir juga ternyata suka ngobrol. Siap-siap deh kalau ketemu Edward Cullen, diajak ngobrol lama (dan pelan). Mungkin karena pengalaman hidup mereka banyak, mereka punya banyak hal untuk diceritakan. Juga telah mengumpulkan banyak kosa kata (dan tak ada yang terlupakan!). Tapi yang jelas, mereka punya banyak waktu: jadi untuk apa berkata cepat-cepat?</p>
<p>Nonton film ini saya kok jadi rada-rada punya pertanyaan filosofis: apa itu jiwa? Ceritanya kan, vampir-vampir ini hidup abadi, tapi tak lagi punya jiwa. Tapi yang mengherankan, vampir-vampir ini tetap bisa berpikir, tetap punya standar moral (yeah, ada tanggungjawab, tak mau makan darah manusia, menghormati perjanjian, menegakkan kebenaran, penyesalan), bahkan bisa juga jatuh cinta. Kalau tidak datang dari jiwa, darimana hal-hal semacam itu datang, ya? Atau sebaliknya: kalo udah bisa menentukan standar moral sendiri, apakah jiwa masih penting ada atau tidak?</p>
<p>Nah kan, sok jadi filosofis. Udah ah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/eclipse-ternyata-vampir-suka-baris-berbaris-2107.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shine A Light</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/shine-a-light-911.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/shine-a-light-911.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 14:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[The Rolling Stones]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Ada masa-masa ketika saya malas sekali mendengar musik. Saya merasa musik-musik yang datang dari pemusik-pemusik kemudian, tak sehebat pemusik yang saya kenal sebelumnya. Itu masa-masa sulit buat saya untuk mendengarkan rekaman apa pun, atau mendengarkan radio, dengan penuh selera. Karena tidak bisa masuk ke musik yang lebih baru, saya mencoba mendengar musik dari generasi yang lebih tua dari saya. Saat itulah saya berkenalan dengan musik The Rolling Stones.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Enggak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan menonton film <em>Shine A Light</em> di bioskop. Bukan kebiasaan bioskop Indonesia memutar film dokumenter. Eh, kemarin saya melihat iklannya di Kompas: film itu diputar di Studio XXI Plaza Senayan. Sementara istri keliling-keliling mal, saya memanjakan diri menonton film itu.</p>
<p>Hanya ada sekitar lima belas orang saja yang nonton. Kebanyakan bapak-bapak tua. Hehe, dalam hal ini saya jadi merasa terlihat aneh. Sejujurnya, memang saya bisa dianggap telat menyukai The Rolling Stones. Meskipun pernah mendengar beberapa lagunya, saya baru benar-benar meminati musik mereka di masa kuliah.<br />
<span id="more-911"></span><br />
Barangkali sebagaimana orang seumuran saya, musik glam-rock dari masa akhir 80an hingga heavy metal dan <em>grunge</em> di akhir 90an lebih saya minati di masa itu. Saya kehilangan selera atas musik-musik tersebut di awal masa kuliah saya. Benar, di masa itu glam-rock dan heavy metal mulai redup dengan kedatangan <em>grunge</em>, dan <em>grunge</em> mulai redup dengan marajalelanya hip-hop.</p>
<p>Ada masa-masa ketika saya malas sekali mendengar musik. Saya merasa musik-musik yang datang dari pemusik-pemusik kemudian, tak sehebat pemusik yang saya kenal sebelumnya. Itu masa-masa sulit buat saya untuk mendengarkan rekaman apa pun, atau mendengarkan radio, dengan penuh selera. Karena tidak bisa masuk ke musik yang lebih baru, saya mencoba mendengar musik dari generasi yang lebih tua dari saya. Saat itulah saya berkenalan dengan musik The Rolling Stones.</p>
<p>Maka ketika mendengar Martin Scorsese (sutradara Hollywood yang antara lain membuat film <em>Goodfellas</em> dan meraih Oscar untuk <em>The Departed</em>) akan membuat film dokumenter mengenai The Rolling Stones, saya langsung memasukkannya ke dalam list yang akan saya tonton. Saya membayangkan akan membeli (paling tidak bajakannya, hehe) DVD itu untuk ditonton di komputer. Eh, tak disangka saya bisa menontonnya di bioskop.</p>
<p>Film dibuka dengan perdebatan antara The Rolling Stones dan Martin Scorsese mengenai tata-letak panggung. Pada dasarnya ini film konser. Mereka bermain di Beacon Theatre, New York pada 29 Oktober dan 1 November 2006, diselilingi beberapa rekaman wawancara The Rolling Stones di masa muda (salah satu wawancara itu menanyakan, &#8220;Apa yang akan kamu lakukan di umur 60?&#8221; Saat itu Mick Jagger menjawab, &#8220;Saya sudah bisa membayangkannya&#8221; &#8230; dan kenyataannya, di umur segitu, mereka masih bermusik dengan riang!).</p>
<p>Ya, salah satu yang saya kagumi adalah stamina mereka. Sepanjang pertunjukan, Jagger yang sudah keriput itu masih demikian enerjik. Kakinya tak pernah berhenti berjingkrak, dan tubuhnya sangat lentur untuk dibawa menari. Luar biasa. Demikian pula vokalnya. Bahkan ketika ia duet dengan Christina Aguilera, terlihat bahwa Aguilera yang masih belia itu malah agak keteteran. Demikian pula Keith Richard, di usia senja, ia masih memegang gitar dengan seluruh gayanya: cengkeramannya demikian erat, kadang-kadang ia melepaskan kedua tangannya dari gitar bagaikan membiarkan gitar hidup sendiri dan ia memperhatikan.</p>
<p>Lalu tiba-tiba Jagger berkata, mereka akan membawakan sebuah lagu, yang sebebarnya mereka gubah di awal karir mereka. Awalnya mereka tak pernah menyanyikan lagu tersebut, karena merasa komposisinya tidak istimewa dan terlalu rendah diri untuk membawakannya. Malahan mereka membiarkannya dinyanyikan orang lain. Lalu Keith dan Ronnie Wood mulai masuk ke intro lagu itu: &#8220;As Tears Go Bye&#8221;.</p>
<p>Tak tertahankan, saya ikut bernyanyi. Hehehe &#8230; Benar-benar enggak bisa tahan kalau mendengar lagu itu. Saya hapal lirik lagu itu di luar kepala. Sejujurnya, saya mengenal lagu ini pertama kali bukan karena dinyanyikan The Rolling Stones, tapi saat dinyanyikan oleh penyanyi Prancis (benar enggak ya?), Vanessa Paradis.</p>
<p>Ada adegan mengharukan ketika Mick dan Keith berduet, mereka bernyanyi dengan mix yang sama hingga di satu saat, kepala mereka saling menempel dan saling menyandarkan pipi. Wow, sudah berapa lama mereka bersama, dengan segala keakraban, pertengkaran dan berbagai masalah? Penonton di teater itu pun tampak bersorak melihat keakraban tersebut. Meskipun saya bukan datang dari generasi mereka, dan mengenal band ini ketika mereka sudah uzur, tak bisa tidak saya merasa kagum dengan daya tahan mereka untuk tetap bersama, bahkan memainkan musik yang tetap sama: rock and roll dan blues!</p>
<p>Saya hanya bisa berharap mereka masih terus sehat dan panjang umur, serta mengeluarkan album studio orisinil baru. Album terakhir mereka, <em>A Bigger Bang</em>, merupakan salah satu album favorit saya. Dan untuk kali ini, saya benar-benar berterima kasih untuk Studio 21 yang bersedia memutar film itu di bioskop, walau yang menonton hanya lima belas orang. Ini benar-benar hari Minggu yang menyenangkan, meskipun sebelum nonton saya merasa agak mengantuk. Hehe &#8230;</p>
<p>Trims, Mick, Keith, Ronnie dan Charlie.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/shine-a-light-911.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Identitas Film Asia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/identitas-film-asia-385.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/identitas-film-asia-385.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 16:51:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[William Shakespeare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Majalah <em>Time</em> Asia, salah satunya memilih Akira Kurosawa sebagai bagian dari daftar “<a href="http://www.time.com/time/asia/2006/heroes/at_kurosawa.html">60 Years of Asian Hero</a>”. Pertama-tama, tentu saja yang dimaksud adalah tokoh-tokoh Asia, berdarah Asia. Dalam daftar ini, juga terdapat animator ulung Jepang Hayao Miyajaki (sutradara <em>Spirit Away</em>), serta aktor Cina, Gong Li. Artikel mengenai Kurosawa di majalah itu dibuka dengan kalimat pembuka bahwa selama ini dunia tak mengenal kebudayaan Jepang selain beberapa patah kata serupa “harakiri” atau “sayonara”, hingga sebuah film Jepang memenangkan hadiah tertinggi di Festival Film Vanice: <em>Rashomon</em> karya Akira Kurosawa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">M</span>ajalah <em>Time</em> Asia, salah satunya memilih Akira Kurosawa sebagai bagian dari daftar “<a href="http://www.time.com/time/asia/2006/heroes/at_kurosawa.html">60 Years of Asian Hero</a>”. Pertama-tama, tentu saja yang dimaksud adalah tokoh-tokoh Asia, berdarah Asia. Dalam daftar ini, juga terdapat animator ulung Jepang Hayao Miyajaki (sutradara <em>Spirit Away</em>), serta aktor Cina, Gong Li. Artikel mengenai Kurosawa di majalah itu dibuka dengan kalimat pembuka bahwa selama ini dunia tak mengenal kebudayaan Jepang selain beberapa patah kata serupa “harakiri” atau “sayonara”, hingga sebuah film Jepang memenangkan hadiah tertinggi di Festival Film Vanice: <em>Rashomon</em> karya Akira Kurosawa.</p>
<p>Dari ungkapan itu seperti jelas bahwa <em>Rashomon</em> dan Akira Kurosawa merupakan representasi kulutural Jepang, bahkan mungkin Asia.<br />
<span id="more-385"></span><br />
Dalam kasus Akira Kurosawa, hal ini pasti problematik. Sepanjang karir filmnya, Kurosawa pada dasarnya sangat terpengaruh oleh kultur Eropa (dan sebaliknya, ia memberi pengaruh yang cukup besar ke perfilman Barat lainnya, Hollywood, termasuk kepada sutradara semacam Steven Spielberg atau George Lukas). Kita bisa melihat beberapa filmnya bahkan merupakan adaptasi dari karya-karya agung Eropa. <em>Ran</em>, merupakan adaptasi atas drama Shakespeare, <em>King Lear</em>, demikian pula film <em>Throne of Blood</em> merupakan adaptasi dari <em>Machbet</em>, dan <em>The Bad Sleep Well</em> dari <em>Hamlet</em>.</p>
<p>Itu belum seberapa. Masih ada daftar lain. <em>The Idiot</em> diadaptasi dari novel Fyodor Dostoyevski dengan judul yang sama. <em>The Lower Depth</em> diangkat dari drama karya Maxim Gorki. <em>Ikiru</em> berdasarkan novelet Leo Tolstoy, <em>The Death of Ivan Illych</em>. Dari sini sendiri jelas bahwa ia sebenarnya “sangat barat”, meskipun harus diakui ia juga berbeda dengan sineas barat pada umumnya. Dalam film-filmnya, kita juga melihat adaptasi bentuk-bentuk yang identik dengan Jepang: teater Kabuki maupun Noh.</p>
<p>Problema ini akan sama kita hadapi ketika kita membayangkan mengenai identitas film Asia. Tentu saja seraca umum kita bisa mengasumsikannya sebagai film yang diproduksi di atau oleh orang Asia. Memang benar, ada kecenderungan dalam film-film Asia, yang membedakannya dari film di luar wilayah tersebut. Sebagaimana kita tahu, negara-negara Asia, berbagi pengaruh kultural dan sejarah satu sama lain, dan tentu saja akan berimbas ke film. Sebagai contoh, kultur Asia Tenggara memiliki hubungan erat dengan Asia Selatan (India), sementara Asia Timur banyak dipengaruhi kebudayaan Cina. Cina dan India sendiri berbagi pengaruh, misalnya dalam tradisi Hinduisme dan Budhaisme mereka.</p>
<p>Dalam kacamata Eropa maupun Amerika, istilah Asia (dan karena itu juga Film Asia), lebih tidak sederhana lagi. Mereka bisanya memakai istilah Asia (dan Film Asia) untuk Asia Selatan dan Asia Timur. Asia Barat, dalam kacamata mereka, lebih familiar disebut sebagai Timur Tengah. Nah? Jadi seperti apakah film Asia? Tentu ini juga akan mewakili kompleksitas kultural di wilayah ini.</p>
<p>Saya pikir, identitas bukanlah suatu definisi yang stabil. Kata itu lebih mewakili suatu kata kerja, atau karya. Ia tidak bisa dipegang. Bahkan untuk film-film Akira Kurosawa sendiri, kita tak akan pernah bisa memperoleh satu pemaknaan tunggal mengenai identitasnya, bukan? Ketika sutradara kenamaan John Ford berkomentar bahwa Akira Kurosawa seperti hujan, ia (Kurosawa) menjawab, “Anda sungguh memperhatikan film saya.” Barangkali tak hanya hujan, ia bisa beridentitas apa pun.</p>
<div class="footnote">NB. Mungkin bertanya-tanya kenapa tiba-tiba saya menulis ini. Tulisan ini pernah dimuat di <a href="http://majalahfilm.com">Majalah Film</a>, tak lama setelah saya membaca artikel <em>Time</em> mengenai Akira Kurosawa, dan setelah saya menonton beberapa filmnya.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/identitas-film-asia-385.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Sam Kok&#8221; a-la John Woo dan Bikin Film Silat, Yuk?</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sam-kok-a-la-john-woo-233.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sam-kok-a-la-john-woo-233.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 17:06:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Sam Kok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Hmm, saya bukan penggemar berat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Woo">John Woo</a>, tapi saya gandrung dengan "Sam Kok". Sebelumnya <a href="http://ekakurniawan.com/blog/three-kongdoms-139.php">saya sudah nonton versi lain</a>, <a href="http://www.imdb.com/title/tt0882978/"><em>Three Kingdom</em></a> karya sutradara <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Daniel_Lee">Daniel Lee</a>. Sekarang John Woo datang dengan judul <a href="http://www.imdb.com/title/tt0425637/"><em>Red Cliff</em></a>. Saya baru saja pulang menonton yang terakhir itu di Plaza Semanggi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">H</span>mm, saya bukan penggemar berat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Woo">John Woo</a>, tapi saya gandrung dengan &#8220;Sam Kok&#8221;. Sebelumnya <a href="http://ekakurniawan.com/blog/three-kongdoms-139.php">saya sudah nonton versi lain</a>, <a href="http://www.imdb.com/title/tt0882978/"><em>Three Kingdom</em></a> karya sutradara <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Daniel_Lee">Daniel Lee</a>. Sekarang John Woo datang dengan judul <a href="http://www.imdb.com/title/tt0425637/"><em>Red Cliff</em></a>. Saya baru saja pulang menonton yang terakhir itu di Plaza Semanggi.</p>
<p>Baiklah, saya tidak bermaksud memperbincangkan (apalagi membuat kritik mendalam) mengenai film itu. Kalau sudah menyangkut film <em>wuxia</em> (cerita silat), saya cenderung enggak obyektif. Pokoknya suka, hehe. Apalagi <em>Red Cliff</em> belum selesai. Yang saya tonton hanyalah bagian pertama. Bagian keduanya mungkin baru nongol Januari tahun depan. Ya, film ini berdurasi 4 jam, karena itu dipecah dua. Tapi versi dua film ini konon hanya diputar di Asia. Di luar Asia, mereka hanya dapat versi satu film berdurasi 2,5 jam. Lantas apa yang mau saya omongin? Entahlah, tiba-tiba setelah lihat film itu, kepikir kenapa kita enggak bikin film silat yang asyik, ya?<br />
<span id="more-233"></span><br />
Saya ingat ketika SMP, film silat (Indonesia) terakhir yang saya lihat adalah <em><a href="http://www.imdb.com/title/tt0326631/">Saur Sepuh</a></em> (karya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Tantowi">Imam Tantowi</a>). Kalau tidak salah ingat, mungkin itu juga satu-satunya film silat dengan julukan &#8220;kolosal&#8221;, baik jumlah pemain maupun anggaran. Tentu kalau dibandingkan anggaran bikin film sekarang, apa yang disebut &#8220;kolosal&#8221; itu barangkali menggelikan. Tapi baiklah, di masa itu, <em>Saur Sepuh</em> bisa dibilang luar biasa. Saya menonton beberapa kali, bahkan satu diantaranya kami sekeluarga (ayah, ibu dan adik-adik saya) menonton bareng ke bioskop.</p>
<p>Di Pangandaran, saat itu masih ada satu bioskop dengan dua layar yang dioperasikan oleh jaringan <a href="http://www.21cineplex.com/">Twenty One</a> (hey, memangnya berapa banyak bioskop di Indonesia yang tidak dioperasikan mereka???). Saya menduga, hampir semua penduduk Pangandaran kayaknya menonton film itu. Ya, sebelum dirilis menjadi film, cerita <em>Saur Sepuh</em> memang sudah populer duluan sebagai sandiwara radio. Sepulang sekolah, sekitar jam 3 sore, sudah menjadi pemandangan umum di sekitar rumah saya melihat orang tua dan anak-anak duduk mengelilingi radio untuk mendengar kisah mengenai raja Brama Kumbara, perseteruan Mantili dan Lasmini, serta Raden Bentar dan Patih Gotawa.</p>
<p>Tapi bukan itu saja: Sebagian adegan film <em>Saur Sepuh</em>, pengambilan gambarnya dilakukan di cagar alam Pananjung, di Pangandaran. Bahkan sebelum film itu ditayangkan, penduduk Pangandaran sudah sering melihat proses pengambilan gambarnya. Ditambah promosi yang gila-gilaan (saya melihat iklan film ini di <a href="http://www.pikiran-rakyat.com">Pikiran Rakyat</a> sebesar setengah halaman, iklan film terbesar yang pernah saya lihat di koran), begitu muncul di Nanjung 1 dan Nanjung 2 (begitu nama bioskopnya), penduduk kota kecil itu langsung antri, memanjang seperti ular.</p>
<p>Ok: setelah itu saya belum pernah melihat film silat Indonesia dengan penuh antusias. Barangkali memang tak ada lagi produksi. Paling banter mengingat beberapa film lain yang pernah saya lihat sebelumnya. Tengok misalnya film-film <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Barry_Prima">Barry Prima</a> yang selalu bermusuhan dengan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Advent_Bangun">Advent Bangun</a> (ugh, saya baru tahu <a href="http://www.amazon.com/s?ie=UTF8&amp;search-alias=dvd&amp;field-keywords=Barry%20Prima">film-film mereka dijual dalam bentuk dvd di Amazon</a>, padahal di Indonesia aja susah mencarinya).</p>
<p>Kalau dipikir-pikir sekarang, film-film itu tampak tidak istimewa. Burung rajawali raksasa yang terbang ditunggangi Brama Kumbara pasti terlihat norak hari ini (haha, saya masih ingat bagaimana mata rajawali itu mengedip-ngedip dengan perlahan, kayak burung kurang tidur). Begitu juga kostum para pendekar yang selalu membuat saya berpikir <em>hey, kayaknya ada yang salah.</em> Karena kalau diperhatikan, mereka suka pakai rompi wool imitasi (biar terlihat seperti kulit binatang), atau pakai sandal yang diikat ke lutut (tapi mereka abai terhadap detail, sandal itu jadi terlihat agak modern).</p>
<p>Meskipun begitu, coba kita lihat kembali <em>Red Cliff</em>. Dalam beberapa tahun terakhir ini, saya sudah menonton banyak film <em>wuxia</em> Cina, dan sebagian besar memang film-film hebat. Diawali <a href="http://www.imdb.com/title/tt0190332/"><em>Crouching Tiger, Hidden Dragon</em></a> dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ang Lee">Ang Lee</a> dan <a href="http://www.imdb.com/title/tt0299977/"><em>Hero</em></a> karya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zhang_Yimou">Zhang Yimou</a>. Terus bandingkan dengan film-film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jet_Lee">Jet Lee</a> semasa seri <a href="http://www.imdb.com/title/tt0103285/"><em>Once Upon a Time in China</em></a> atau <a href="http://www.imdb.com/title/tt0080179/"><em>Drunken Mater</em></a>-nya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jackie_Chan">Jacky Chan</a>. Terus bandingkan pula dengan film-film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bruce_Lee">Bruce Lee</a>. Ya, film-film lama itu pun memang jadi terasa kuno.</p>
<p>Dengan berbagai penemuan zaman sekarang, memang sangat memungkinkan untuk menciptakan efek-efek menantang yang rasanya mustahil dilakukan dengan bagus di masa lalu. Terbang yang indah, efek perang dengan ratusan ribu figuran, semuanya lebih gampang dengan bantuan komputer. Tapi sementara sineas dari negeri Cina (juga belakangan Jepang maupun Korea) berhasil memadukan <em>wuxia</em> dengan teknologi, kapan ya kita melakukannya? Duh, adakah sineas Indonesia yang tertarik dengan cerita silat? Jangan-jangan referensi mereka memang cuma kehidupan masyarakat urban di Jakarta?</p>
<p>Begitulah, sepulang dari menonton film <em>Red Cliff</em>, saya berkata kepada istri saya: &#8220;Aku mau bikin skenario film silat&#8221;. Saya belum tahu apa yang akan saya tulis. Saya akan melakukan riset kecil dulu untuk sekadar menentukan apa yang ingin saya tulis. Paling tidak, itu satu-satunya cara menghibur diri karena tidak ada film silat lokal. Kurang lebih seperti nasihat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Toni_Morrison">Toni Morrison</a> kepada para penulis: &#8220;Kalau kamu tidak menemukan novel bagus, maka kamulah yang harus menulisnya!&#8221; Hmm, ada yang mau bagi-bagi ide? Atau bahkan ada yang tertarik menyutradarainya? Hehe &#8230; atau malah berani memproduksinya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sam-kok-a-la-john-woo-233.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nonton &#8220;The Happening&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/nonton-the-happening-195.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/nonton-the-happening-195.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 05:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin nonton film The Happening. Tapi kuciwa, gak seasyik film M. Night Shyamalan lainnya. Padahal minggu lalu nonton Speed Racer: keren!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin nonton film <a href="http://www.imdb.com/title/tt0949731/"><em>The Happening</em></a>. Tapi kuciwa, gak seasyik film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/M._Night_Shyamalan">M. Night Shyamalan</a> lainnya. Padahal minggu lalu nonton <a href="http://www.imdb.com/title/tt0811080/"><em>Speed Racer</em></a>: keren!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/nonton-the-happening-195.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video &amp; To Each His Cinema</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/video-to-each-his-cinema-124.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/video-to-each-his-cinema-124.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 13:32:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/video-to-each-his-cinema-124.php</guid>
		<description><![CDATA[Saya menambah kategori baru di blog ini bernama Video. Kategori ini ada di bagian bawah halaman blog, berisi video-video (pendek) pilihan saya. Minggu-minggu ini saya sedang senang memasukkan video-video dari proyek bernama To Each His Cinema (2007). Ini proyek dalam rangka perayaan Festival Cannes yang keenam puluh, diproduseri oleh Gilles Jacob. Seluruhnya terdiri dari 33 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menambah kategori baru di blog ini bernama <a href="#footer_block">Video</a>. Kategori ini ada di <a href="#footer_block">bagian bawah halaman blog</a>, berisi video-video (pendek) pilihan saya. Minggu-minggu ini saya sedang senang memasukkan video-video dari proyek bernama <a href="http://www.imdb.com/title/tt0973844/">To Each His Cinema</a> (2007). Ini proyek dalam rangka perayaan <a href="http://www.festival-cannes.fr">Festival Cannes</a> yang keenam puluh, diproduseri oleh Gilles Jacob. Seluruhnya terdiri dari 33 film pendek dari 35 sutradara papan atas, semua berbicara mengenai sinema. Selamat menonton!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/video-to-each-his-cinema-124.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“One Fine Day” karya Takeshi Kitano</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/one-fine-day-karya-takeshi-kitano-123.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/one-fine-day-karya-takeshi-kitano-123.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 13:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/to-each-his-cinema-3-one-fine-day-karya-takeshi-kitano-123.php</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi film dari proyek To Each His Cinema. Kali ini berjudul &#8220;One Fine Day&#8221; karya Takeshi Kitano. Sejujurnya saya baru sekali menonton film Kitano, yakni sebuah remake berjudul Zatoichi. Dan ini tentu saja ada hubungannya dengan kegemaran saya menonton film silat/samurai. Sebelum menonton Zatoichi versi Kitano (selain menyutradarai, Kitano juga berperan sebagai Zatoichi), saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><object width="355" height="296"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/RFx-PMY2iQk&#038;color1=0xe1600f&#038;color2=0xfebd01&#038;hl=en"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/RFx-PMY2iQk&#038;color1=0xe1600f&#038;color2=0xfebd01&#038;hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="355" height="296"></embed></object></center></p>
<p>Satu lagi film dari proyek <a href="http://www.imdb.com/title/tt0973844/"><em>To Each His Cinema</em></a>. Kali ini berjudul <a href="http://www.youtube.com/watch?v=RFx-PMY2iQk">&#8220;One Fine Day&#8221;</a> karya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Takeshi_Kitano">Takeshi Kitano</a>. Sejujurnya saya baru sekali menonton film Kitano, yakni sebuah <em>remake</em> berjudul <em><a href="http://imdb.com/title/tt0363226/">Zatoichi</a></em>. Dan ini tentu saja ada hubungannya dengan kegemaran saya menonton film silat/samurai. Sebelum menonton <em>Zatoichi</em> versi Kitano (selain menyutradarai, Kitano juga berperan sebagai Zatoichi), saya juga pernah menonton <em>Zatoichi</em> versi yang lebih tua (ada beberapa seri). <em>Zatoichi</em> versi lama dibuat oleh sutradara yang berbeda-beda, tapi selalu diperankan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Shintaro_Katsu">Shintaro Katsu</a>. Baru pada tahun 1989 Shintaro Katsu menyutradarai (dan tetap berperan) sendiri <em>Zatoichi</em> versinya. Eh, kok ngomongin Zatoichi, sih? Hehehe &#8230; mending sila nonton langsung &#8220;One Fine Day&#8221; karya Kitano di atas. Salam!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/one-fine-day-karya-takeshi-kitano-123.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riding Giants: Laird Hamilton</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/riding-giants-laird-hamilton-114.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/riding-giants-laird-hamilton-114.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 10:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya membeli video Riding Giants, sebuah film surfing yang dirilis tahun 2004. Sayangnya sampai sekarang belum sempat nonton, sebab waktu dibuka, tanpa sengaja saya mematahkan keping dvd-nya, dan belum juga menemukan ganti. Padahal saya pengin nonton bagian Laird Hamilton meluncur di ombak Teahupo&#8217;o yang terkenal itu, dan gambarnya pernah muncul di majalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><object width="355" height="296"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/NcaZarxilJQ&#038;rel=0&#038;color1=0x5d1719&#038;color2=0xcd311b&#038;hl=en"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/NcaZarxilJQ&#038;rel=0&#038;color1=0x5d1719&#038;color2=0xcd311b&#038;hl=en" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="355" height="296"></embed></object></center></p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya membeli video <a href="http://www.imdb.com/title/tt0389326/">Riding Giants</a>, sebuah film surfing yang dirilis tahun 2004. Sayangnya sampai sekarang belum sempat nonton, sebab waktu dibuka, tanpa sengaja saya mematahkan keping dvd-nya, dan belum juga menemukan ganti. Padahal saya pengin nonton bagian <a href="http://lairdhamilton.com">Laird Hamilton</a> meluncur di ombak <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Teahupo%27o">Teahupo&#8217;o</a> yang terkenal itu, dan gambarnya pernah muncul di majalah <a href="http://surfermag.com/photos/potpourri/2000-2002/index18.html"><em>Surfer</em></a>. Untunglah, bagian itu bisa saya lihat di <a href="http://youtube.com/watch?v=NcaZarxilJQ">YouTube</a>, meskipun tetap berharap bisa membeli kembali video tersebut. Atau ada yang mau kasih saya hadiah video itu? :-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/riding-giants-laird-hamilton-114.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Lari dari Blora&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lari-dari-blora-90.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lari-dari-blora-90.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 02:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Lari dari Blora: Itu judul film yang baru saya liat tadi malam. Tag-nya: harmony withaout the law. Sebenarnya gagasan ceritanya menarik: bagaimana orang-orang luar (narapidana yang kabur, guru progresif dan peneliti Amerika) datang ke kampung Samin. Ini kampung yang sejak awal abad 19 terkenal karena pembangkangannya kepada kekuasaan pemerintah. Mereka suka damai, tak pernah curiga, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Lari dari Blora</em>: Itu judul film yang baru saya liat tadi malam. <em>Tag</em>-nya: <em>harmony withaout the law</em>. Sebenarnya gagasan ceritanya menarik: bagaimana orang-orang luar (narapidana yang kabur, guru progresif dan peneliti Amerika) datang ke kampung <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Saminisme">Samin</a>. Ini kampung yang sejak awal abad 19 terkenal karena pembangkangannya kepada kekuasaan pemerintah. Mereka suka damai, tak pernah curiga, tak ada maling. Bisa dibuat lucu atau dramatik. Tapi aduh &#8230; dialognya payah. Pengambilan gambar apa adanya. Kayak orang bikin fragmen televisi tahun 80an, deh! Ratih membuat posting lebih panjang di <a href="http://ratihkumala.com/blog/?p=83">ratihkumala.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lari-dari-blora-90.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

