Shine A Light

Shine A Light, © 2008 Paramount Pictures.

Enggak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan menonton film Shine A Light di bioskop. Bukan kebiasaan bioskop Indonesia memutar film dokumenter. Eh, kemarin saya melihat iklannya di Kompas: film itu diputar di Studio XXI Plaza Senayan. Sementara istri keliling-keliling mal, saya memanjakan diri menonton film itu.

Hanya ada sekitar lima belas orang saja yang nonton. Kebanyakan bapak-bapak tua. Hehe, dalam hal ini saya jadi merasa terlihat aneh. Sejujurnya, memang saya bisa dianggap telat menyukai The Rolling Stones. Meskipun pernah mendengar beberapa lagunya, saya baru benar-benar meminati musik mereka di masa kuliah.
Baca selengkapnya …

Identitas Film Asia
((Sebuah Kasus: Akira Kurosawa))

Majalah Time Asia, salah satunya memilih Akira Kurosawa sebagai bagian dari daftar “60 Years of Asian Hero”. Pertama-tama, tentu saja yang dimaksud adalah tokoh-tokoh Asia, berdarah Asia. Dalam daftar ini, juga terdapat animator ulung Jepang Hayao Miyajaki (sutradara Spirit Away), serta aktor Cina, Gong Li. Artikel mengenai Kurosawa di majalah itu dibuka dengan kalimat pembuka bahwa selama ini dunia tak mengenal kebudayaan Jepang selain beberapa patah kata serupa “harakiri” atau “sayonara”, hingga sebuah film Jepang memenangkan hadiah tertinggi di Festival Film Vanice: Rashomon karya Akira Kurosawa.

Dari ungkapan itu seperti jelas bahwa Rashomon dan Akira Kurosawa merupakan representasi kulutural Jepang, bahkan mungkin Asia.
Baca selengkapnya …

“Sam Kok” a-la John Woo dan Bikin Film Silat, Yuk?

vicki-zhao-red-cliffs

© China Film Group

Hmm, saya bukan penggemar berat John Woo, tapi saya gandrung dengan “Sam Kok”. Sebelumnya saya sudah nonton versi lain, Three Kingdom karya sutradara Daniel Lee. Sekarang John Woo datang dengan judul Red Cliff. Saya baru saja pulang menonton yang terakhir itu di Plaza Semanggi.

Baiklah, saya tidak bermaksud memperbincangkan (apalagi membuat kritik mendalam) mengenai film itu. Kalau sudah menyangkut film wuxia (cerita silat), saya cenderung enggak obyektif. Pokoknya suka, hehe. Apalagi Red Cliff belum selesai. Yang saya tonton hanyalah bagian pertama. Bagian keduanya mungkin baru nongol Januari tahun depan. Ya, film ini berdurasi 4 jam, karena itu dipecah dua. Tapi versi dua film ini konon hanya diputar di Asia. Di luar Asia, mereka hanya dapat versi satu film berdurasi 2,5 jam. Lantas apa yang mau saya omongin? Entahlah, tiba-tiba setelah lihat film itu, kepikir kenapa kita enggak bikin film silat yang asyik, ya?
Baca selengkapnya …

Nonton “The Happening”

Kemarin nonton film The Happening. Tapi kuciwa, gak seasyik film M. Night Shyamalan lainnya. Padahal minggu lalu nonton Speed Racer: keren!

Video & To Each His Cinema

Saya menambah kategori baru di blog ini bernama Video. Kategori ini ada di bagian bawah halaman blog, berisi video-video (pendek) pilihan saya. Minggu-minggu ini saya sedang senang memasukkan video-video dari proyek bernama To Each His Cinema (2007). Ini proyek dalam rangka perayaan Festival Cannes yang keenam puluh, diproduseri oleh Gilles Jacob. Seluruhnya terdiri dari 33 film pendek dari 35 sutradara papan atas, semua berbicara mengenai sinema. Selamat menonton!

“One Fine Day” karya Takeshi Kitano
(To Each His Cinema (3))

Satu lagi film dari proyek To Each His Cinema. Kali ini berjudul “One Fine Day” karya Takeshi Kitano. Sejujurnya saya baru sekali menonton film Kitano, yakni sebuah remake berjudul Zatoichi. Dan ini tentu saja ada hubungannya dengan kegemaran saya menonton film silat/samurai. Sebelum menonton Zatoichi versi Kitano (selain menyutradarai, Kitano juga berperan sebagai Zatoichi), saya juga pernah menonton Zatoichi versi yang lebih tua (ada beberapa seri). Zatoichi versi lama dibuat oleh sutradara yang berbeda-beda, tapi selalu diperankan oleh Shintaro Katsu. Baru pada tahun 1989 Shintaro Katsu menyutradarai (dan tetap berperan) sendiri Zatoichi versinya. Eh, kok ngomongin Zatoichi, sih? Hehehe … mending sila nonton langsung “One Fine Day” karya Kitano di atas. Salam!

“Anna” karya Alejandro González Iñárritu
(To Each His Cinema (2))

Alejandro González Iñárritu harus saya akui masuk dalam salah satu sutradara favorit saya. Tapi harus saya beri catatan: semua karyanya yang saya sukai, terutama karena datang dari penulis skenario Guillermo Arriaga. Duet mereka, lah, yang telah menghasilkan beberapa film kelas atas: persentuhan pertama saya dengan mereka adalah Amores Perros (2000). Kemudian 21 Grams (2003). Terakhir mereka muncul dengan Babel (2006). Jika sempat menonton film yang disutradarai oleh Tommy Lee Jones, The Three Burials of Melquiades Estrada (2005), maka akan segera merasa ada kesamaan karakter dengan ketiga film Iñárritu di atas. Itu karena keempat skenario film tersebut ditulis oleh Arriaga. Video di atas menampilkan film pendek Anna karya Iñárritu tanpa didampingi Arriaga, diambil dari sebuah proyek bernama To Each His Cinema.

“Movie Night” karya Zhang Yimou
(To Each His Cinema (1))

Ada dua sutradara favorit saya: Zhang Yimou dan Quentin Tarantino. Keduanya dengan gaya yang sangat berbeda satu sama lain. Saya suka Zhang Yimou, pertama karena kemampuannya menangkap energi gambar. Di dalam film-filmnya, gambar benar-benar dipergunakan sebagaiamana kata di dalam novel (bayangkan pisau yang terbang di bagian akhir House of Flying Dagger tanpa kemampuan penyampaian visual sebagai elemen cerita!). Kedua karena kualitas literernya: ia seorang pencerita yang hebat. Bahkan di dalam beberapa film adaptasinya (Red Shorghum atau Raise the Red Lantern, misalnya), ia memperlihatkan selera literer yang mengagumkan. Video di atas merupakan film pendek karya Zhang Yimou berjudul Movie Night. Diambil dari sebuah proyek bernama To Each His Cinema.

Riding Giants: Laird Hamilton

Beberapa waktu lalu, saya membeli video Riding Giants, sebuah film surfing yang dirilis tahun 2004. Sayangnya sampai sekarang belum sempat nonton, sebab waktu dibuka, tanpa sengaja saya mematahkan keping dvd-nya, dan belum juga menemukan ganti. Padahal saya pengin nonton bagian Laird Hamilton meluncur di ombak Teahupo’o yang terkenal itu, dan gambarnya pernah muncul di majalah Surfer. Untunglah, bagian itu bisa saya lihat di YouTube, meskipun tetap berharap bisa membeli kembali video tersebut. Atau ada yang mau kasih saya hadiah video itu? :-)

“Lari dari Blora”

Lari dari Blora: Itu judul film yang baru saya liat tadi malam. Tag-nya: harmony withaout the law. Sebenarnya gagasan ceritanya menarik: bagaimana orang-orang luar (narapidana yang kabur, guru progresif dan peneliti Amerika) datang ke kampung Samin. Ini kampung yang sejak awal abad 19 terkenal karena pembangkangannya kepada kekuasaan pemerintah. Mereka suka damai, tak pernah curiga, tak ada maling. Bisa dibuat lucu atau dramatik. Tapi aduh … dialognya payah. Pengambilan gambar apa adanya. Kayak orang bikin fragmen televisi tahun 80an, deh! Ratih membuat posting lebih panjang di ratihkumala.com.