Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu
Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader’s Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.
Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal “Indonesia”. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.
Tempat Kerja
Mau ngintip tempat kerja saya? Ini dia! Ini ruangan atas. Rencana awalnya memang buat tempat bekerja, tapi sampai hari ini belum sempat beres-beres. Beberapa buku masih di kardus, kekurangan rak. Bahkan masih ada dua kardus buku di bagasi mobil. Tapi tidak masalah, saya tetap suka ruangan ini, asal ada buku-buku! Lagipula mengingatkan saya zaman ngekost waktu mahasiswa, hehehe. Lengkap dengan kasur lipat, tape rusak yang saya pakai untuk mendengarkan radio, dan laptop tergeletak. Saya punya poster Gunter Grass gede, mau saya tempel di dinding. Menggantikan poster Axl Rose yang zaman kuliah sering saya pajang, hahaha.
Fiksimini: Perjumpaan dengan Tuhan
#1
Selagi umroh dia bertemu Tuhan.
“Kamu koruptor, ngapain ke rumahKu?” tanya Tuhan.
Jawabnya: “Mau nganter bagianMu.”
9 Fiksi Mini
Cerita-cerita sangat pendek ini saya tulis di akun twitter @ekakurniawan dengan hashtag #fiksimini. Setelah menghilangkan semua singkatan, mungkin sekarang cerita-cerita ini lebih dari 140 karakter, sebagaimana umunya di Twitter. Selamat menikmati.
Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap
Tiga penulis itu berbagi kajian. Intan mengkaji aspek gender dalam cerita Abdullah. Adapun Ugo membahas sejarah hantu dan simbol-simbol mistis. “Aku lebih ke hubungan sosial antar-manusianya dan politik. Yang aku temukan dalam karya Abdullah Harahap ialah pranata sosial selalu tidak berfungsi. Cara penyelesaian di novel itu selalu di dunia lain,” kata Eka. Intan mengamini, masyarakat dalam kisah Abdullah mencari cara penyelesaian di luar institusi buatan negara. “Ada semacam ketidakpercayaan pada negara,” katanya.
Budak Setan Menafsir Horor
Selain itu, kata Intan, banyak dimensi sosial-politik yang muncul pada karya Abdullah. Penyelesaian konflik internal dalam karyanya tak melibatkan institusi, tapi mempercayakannya pada keterlibatan benda-benda gaib atau subyek yang tak lazim, seperti arwah.
