12  November  2008

Perlu Mengakrabi Sastra Mancanegara

Foto oleh: A nosa disco necesítanos, Some rights reserved.

Sebagai penulis muda yang karyanya telah dikenal luas sampai ke Jepang, bagaimana pendapat Anda tentang kemungkinan sastrawan Indonesia meraih Nobel?
Kalau saya sih optimistis saja. Untuk mendapatkan Nobel itu kan juga disebabkan banyak faktor. Bagi saya pribadi Nobel tidak selalu identik dengan kualitas. Kalau saya bilang optimistis itu [...]

15  October  2008

L.A. Underlover

Akhirnya buku ini terbit: L.A. Underlover, akan dilaunching di Ubud Writers and Readers Festival, Bali, 17 Oktober 2008. Saya sendiri, karena satu kesibukan, tidak akan ada di Ubud. Tapi 3 dari lima penulis akan berada di sana: Budi Darma, Triyanto Triwikromo, dan Nugroho Suksmanto. Ini kumpulan cerpen dari lima penulis tentang orang-orang Indonesia di [...]

30  June  2008

Eka Kurniawan: An Unconventional Writer

He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.
Like many aspiring writers who need to pay [...]

28  June  2008

Bagaimana Menulis Novel? (2)

Foto oleh: Ella’s Dad, Some rights reserved.
Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.
Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari [...]

27 June 2008 » Cerpen saya "Gerimis yang Sederhana" termuat di buku Cerpen Kompas Pilihan 2008 yang diluncurkan tadi malam. Yang belum sempat membacanya, sila di sini. (Baca Komentar: 0)
Quote: From New Left Review 50 - 3 May 2008 »
It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.
(Benedict Anderson, Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant, New Left Review, March-April 2008) (Baca Komentar: 8)
6 March 2008 »
Satu cerpen saya, La Cage aux Folles diterbitkan dalam antologi 100 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dari Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen ini pertamakali diterbitkan di Koran Tempo, 15 Juli 2007 dan akan diterbitkan pula dalam buku antologi bersama 4 penulis lain, berjudul L.A. Underlover (mudah-mudahan segera terbit). Buat yang belum membacanya di Koran Tempo, sila membacanya di sini (versi pdf). "La Cage aux Folles" © 2007 oleh Eka Kurniawan. (Baca Komentar: 1)
08  January  2008

Kenangan Getir Korban Tragedi Mei 1998

Grafis oleh Derrick T, Some rights reserved.
Pembukaan
Sastra bersama ilmu filsafat merupakan mother of science. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana [...]

25  December  2007

Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh

Oleh: Roslan Jomel, roslanjomel.blogspot.com

Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen Caronang, Kasih Tak Sampai, Kutukan Dapur mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.

18  December  2007

Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan

Photo by ahisgett, Some rights reserved.
Japan’s role in globalizing Asia has been widely recognized. Ever since the 1990’s, Japan has been exporting waves of it’s cultural products such as anime or animated films, television dramas, music, manga or comics, novels, and so on. These spreads of cultural products across the borders of Asia have sprung [...]