Siasat Membangun Cerita di Atas Cerita
Keberhadiran cerpen-cerpen Eka, seolah hendak “menjungkirbalikkan” stigma yang melekat pada cerpen koran (dangkal, topikal, dan bias berita). Cerpenis muda ini memperlihatkan “jati diri” cerpen yang bukan hanya mandiri sebagai kisah, tapi juga mandiri sebagai genre sastra, makin “dewasa” dan tegak berdiri di atas kaki sendiri (tidak bergantung intervensi “kepentingan” koran).
Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih
Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia.
Capaian Eksperimentasi Novel Lelaki Harimau
Pemanfaatan -atau lebih tepat eksplorasi-setiap kata dan kalimat tampak begitu cermat dalam usahanya merangkai setiap peristiwa. Eka seperti hendak menunjukkan dirinya sebagai “eksperimentalis” yang sukses bukan lantaran faktor kebetulan. Ada kesungguhan yang luar biasa dalam menata setiap peristiwa dan kemudian mengelindankannya menjadi struktur cerita.
Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng
Kekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku Corat-coret di Toilet ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.
