<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Corat-coret di Toilet</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/corat-coret-di-toilet/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>10 Tahun “Corat-coret di Toilet”</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/10-tahun-corat-coret-di-toilet-2149.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/10-tahun-corat-coret-di-toilet-2149.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 10:19:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/10-tahun-corat-coret-di-toilet-2149.php</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Saya pernah menulis cerita pendek sebelumnya, tapi jika ada yang bertanya cerita pendek saya yang pertama, saya akan menunjuk cerpen berjudul &#8220;Hikayat Si Orang Gila&#8221;. Kenapa? Sebab itulah cerpen pertama yang saya tulis ketika saya benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Pada satu hari, saya pikir tahun 1997, saya membaca novel Knut Hamsun berjudul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/tijBq9Owpqxq4mHnIJFbLRsMFaxZRblraKQFO7YErLshwiD9qCND1tzV2wKO/ccdt-5.jpg" width="500" height="150"/> </p>
<p>&nbsp;</p>
<div>Saya pernah menulis cerita pendek sebelumnya, tapi jika ada yang bertanya cerita pendek saya yang pertama, saya akan menunjuk cerpen berjudul &#8220;Hikayat Si Orang Gila&#8221;. Kenapa? Sebab itulah cerpen pertama yang saya tulis ketika saya benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang penulis.</div>
<p />
<div>Pada satu hari, saya pikir tahun 1997, saya membaca novel Knut Hamsun berjudul <em>Lapar</em>. Itu novel tentang perjuangan seorang penulis muda. Novel itu entah bagaimana membuat saya merasa ingin menjadi penulis, padahal tokoh di novel itu sendiri ujungnya malah pergi berlayar dan melupakan sejenak cita-citanya jadi penulis.</div>
<p />
<div>Meskipun saya sudah memutuskan akan menjadi penulis, saat itu saya masih belum mengetahui apa yang akan saya tulis. Saya pernah menulis cerpen-cerpen remaja, bahkan pernah mencoba menulis novel (dalam beberapa genre: silat, horor, remaja), tapi saya merasa apa yang sudah saya tulis tidak lagi memenuhi bayangan saya mengenai karya yang seharusnya saya tulis.</div>
<p />
<div><span id="more-2149"></span></div>
<p />
<div>Untuk sementara saya mencoba mencari tahu kemana arah tulisan saya dengan cara membaca sebanyak-banyaknya novel. Itu masa-masa saya sering mampir ke perpustakaan pusat UGM, membaca banyak novel (dunia!): Knut Hamsun, William Faulkner, Gabriel Garcia Marquez, John Steinbeck, Yasunari Kawabata, Toni Morrison. Saya juga mencoba membaca novel-novel klasik, kadang sampai berminggu-minggu karena tebal: <em>Don Quixote</em> Cervantes, <em>The Idiot</em>&nbsp;Dostoevsky. Saya membaca hampir semua buku yang datang ke tangan saya.</div>
<p />
<div>Hingga saya berkenalan dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Saya memutuskan untuk menulis skripsi berdasarkan novel-novelnya, yang kemudian terbit tak lama setelah saya lulus kuliah, 1999: <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em>.</div>
<p />
<div>Dua tahun berlalu dengan hari nyaris tanpa tidak membaca novel, serta satu buku telaah filsafat tentang Pramoedya Ananta Toer, memberi saya keyakinan bahwa inilah saatnya saya menulis. Lagipula saat itu saya sudah lulus kuliah. Saya harus melakukan sesuatu!</div>
<p />
<div>Alih-alih menulis lamaran kerja dan mengirimkannya ke perusahaan atau lembaga-lembaga, dari Juli tahun 1999 itu saya malah menghabiskan waktu menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke koran. Saya bertaruh dengan diri sendiri: menulis cerpen dan dimuat di koran, atau saya sama sekali tak punya karir apa pun untuk dibanggakan.</div>
<p />
<div>Dan cerpen pertama yang saya tulis saat itu adalah &#8220;Hikayat Si Orang Gila&#8221;. Jujur saja, teknik dan stylenya rada-rada terpengaruh oleh cerpen-cerpen Maxim Gorki. Dan karena saya belum punya kepercayaan diri yang cukup, saya mengirimkannya ke <em>Bernas</em>, koran lokal di Yogya. Dimuat! Honornya Rp. 50.000.</div>
<p />
<div>Dengan penuh rasa percaya diri, saya menulis lebih banyak cerpen lagi, percaya jika saya tidak menulis, saya akan miskin dan mati kelaparan (mungkin agak berlebihan, sebab ayah saya masih sering menelepon untuk bertanya apakah saya punya uang, tapi pikiran semacam itu cukup membantu memberi tambahan motivasi). Saya menulis beberapa cerpen yang kemudian saya fotokopi dan perlihatkan kepada beberapa teman dekat. Terima kasih untuk mereka, mereka merekomendasikan untuk mengirim satu atau dua cerpen itu kembali ke koran.</div>
<p />
<div>Bolehlah saya sedikit pongah: saya ingin cerpen saya dimuat di koran Jakarta. Tapi untuk itu saya rupanya masih harus mengumpulkan keberanian dulu. Seperti saya bilang, sebelum ini sebenarnya saya sudah pernah nulis cerpen remaja di majalah remaja. Kemudian saya membayangkan, bagaimana jika saya menulis cerpen di majalah remaja (pikiran saya ketika itu adalah <em>HAI</em>), tapi dengan tema yang lebih serius. Itu akan menjadi cara saya mengukur diri sebelum punya keberanian mengirim ke koran nasional.</div>
<p />
<div>Saat itulah saya menulis cerpen berjudul &#8220;Teman Kencan&#8221;. Sebenarnya itu cerita cinta remaja juga: tapi saya balut dengan setting kejatuhan Presiden Soeharto, serta komentar-komentar politik alakadarnya. Saya deg-degan menunggu, apakah cerpen macam begitu bisa dimuat di majalah <em>HAI</em>? Ternyata dimuat juga. Saya semakin yakin, bahwa saya telah menempuh jalan yang benar.</div>
<p />
<div>Akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan cerpen ke koran nasional. Yang pertama saya kirimi adalah <em>Media Indonesia</em> (saya masih keder kirim ke <em>Kompas</em> saat itu). Cerpen ketiga yang saya tulis dan kemudian dimuat pertama kali di Media Indonesia, berjudul &#8220;Corat-coret di Toilet&#8221;.</div>
<p />
<div>Saya merasa sudah menjadi seorang penulis saat itu juga. Kisah selanjutnya mungkin dialami juga oleh kebanyakan penulis: saya semakin banyak menulis, beberapa cerpen ditolak, tapi kemudian saya lempar ke media lain dan dimuat, atau saya perbaiki kembali dan dikirim kembali.</div>
<p />
<div>Hingga akhirnya pertengahan tahun 2000, teman saya pemilik Aksara Indonesia yang menerbitkan skripsi saya jadi buku, menawari saya untuk menerbitkan kumpulan cerpen saya. Karir penulisan saya baru setahun. Saya pikir itu terlalu cepat, tapi kesempatan mungkin tak akan datang dua kali. Saya nekat dan maju untuk menerbitkan buku kumpulan cerpen tersebut.</div>
<p />
<div>Namun menimbang-nimbang kemampuan diri sendiri, saya membayangkan kalau saya pemusik, mungkin yang akan saya terbitkan bukanlah sebuah &#8220;album&#8221;, tapi &#8220;mini album&#8221;. Saya hanya menginginkan sebuah buku tipis, dengan harga yang murah. Katakanlah sebagai sebuah perkenalan. Lagipula saya tak punya cerpen banyak. Maka kemudian, saya pilih sepuluh cerpen saja. Bukunya tidak sampai 100 halaman bahkan.</div>
<p />
<div>Begitulah buku cerpen pertama saya lahir, judulnya <em>Corat-coret di Toilet</em> (2000). Seperti saya bayangkan, buku ini tak menimbulkan kehebohan apa pun. Barangkali lebih banyak yang mengejeknya daripada memujinya. Tak ada review satu pun, <a href="http://resensi.ekakurniawan.com/2000/08/merayakan-kembali-kekuatan-dongeng_4877.html" title="Review Corat-coret di Toilet">kecuali yang ditulis oleh Kurniawan di situs Detik</a> (<em>well</em>, mungkin ada hubungannya: penulisnya adalah kakak kelas saya di kampus).</div>
<p />
<div>Tapi bagi saya penerbitan <em>Corat-coret di Toilet</em>&nbsp;sangatlah penting: saat itulah saya menyadari bahwa saya harus berhenti dulu menulis cerpen. Penerbitan <em>Corat-coret di Toilet</em>&nbsp;bagaikan sebuah pos singgah sebelum saya mencoba mendaki kembali. Begitulah, dengan modal belasan cerpen, satu buku non fiksi dan satu &#8220;mini album&#8221; kumpulan cerpen, saya mulai proyek ambisius saya: menulis novel.</div>
<p />
<div>Novel tersebut terbit dua tahun kemudian: <em>Cantik itu Luka</em>. Dua tahun lagi setelah itu, saya menulis novel lain: <em>Lelaki Harimau</em>.</div>
<p />
<div>Di tengah-tengah itu, saya mencoba mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan lain dalam menulis cerpen. Ya, saya masih menulis cerpen. Bahkan semakin banyak, dengan tema yang lebih beragam. Serta eksperimen-eksperimen bentuk yang semakin (saya pikir) menantang.</div>
<p />
<div>Akhirnya, tahun 2005, saya menerbitkan kembali <em>Corat-coret di Toilet</em>, tapi tidak lagi dalam format &#8220;mini album&#8221;. Kali ini format &#8220;album&#8221; lengkap berisi 18 cerpen. Saya ambil 9 cerpen dari <em>Corat-coret di Toilet</em>&nbsp;edisi 2000 (dengan beberapa perbaikan), dan ditambahi 9 cerpen baru. Kumpulan ini saya terbitkan dengan judul <em>Gelak Sedih</em>. Pada saat yang bersamaan, saya menerbitkan pula 13 cerita pendek dengan judul <em>Cinta Tak Ada Mati</em>.</div>
<p />
<div>Pada tahun 2008, cerpen &#8220;Corat-coret di Toilet&#8221; diterjemahkan oleh Benedict R.O&#8217;G Anderson menjadi &#8220;<a href="http://blog.ekakurniawan.com/574/graffiti-in-the-toilet" title="Graffiti in the Toilet">Graffiti in the Toilet</a>&#8220;, dan diterbitkan di Jurnal <em>Indonesia</em>, terbitan Cornell University.</div>
<p />
<div>Sepuluh tahun kini sudah berlalu sejak buku &#8220;mini album&#8221; <em>Corat-coret di Toilet</em>&nbsp;terbit pertama kali. Saya masih menulis cerita pendek, tapi mungkin apa yang saya pikir tentang cerita pendek sudah jauh berubah (dan pasti akan terus berkembang). Masih banyak yang ingin saya tulis dan terbitkan. Tapi satu hal saya pikir masih: dalam menulis, saya masih terus mencari, masih mencoba menaklukkan sesuatu yang saya sendiri tak bisa mengatakannya apa.</div>
<p />
<div>Tapi begitulah menulis: jika kita sudah merasa berhasil, kita mungkin akan berhenti menulis. Saya? Saya tak ingin berhenti, sampai benar-benar ada yang berhasil menghentikan saya.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/10-tahun-corat-coret-di-toilet-2149.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;The Otter Amulet&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/the-otter-amulet-1467.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/the-otter-amulet-1467.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 09:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Benedict Anderson]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Budak Setan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1467</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen saya, “Jimat Sero” (dari buku Kumpulan Budak Setan, Gramedia, 2010) diterjemahkan oleh Benedict R. O’G. Anderson menjadi “The Otter Amulet”. Terjemahan tersebut bisa dibaca di <a href="http://cip.cornell.edu/DPubS?service=UI&#038;version=1.0&#038;verb=Display&#038;handle=seap.indo/1273069461">Journal Indonesia, Cornell University, edisi April 2010, Volume 89</a>. Ini terjemahan kedua cerpen saya di jurnal tersebut, setelah “Corat-coret di Toilet” (“<a href="http://ekakurniawan.com/blog/graffiti-in-the-toilet-574.php">Graffiti in the Toilet</a>”, <a href="http://cip.cornell.edu/DPubS?service=UI&#038;version=1.0&#038;verb=Display&#038;page=record&#038;handle=seap.indo/1227644177">Indonesia edisi Oktober 2008, Volume 86</a>), juga diterjemahkan oleh Benedict R. O’G. Anderson.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen saya, “Jimat Sero” (dari buku Kumpulan Budak Setan, Gramedia, 2010) diterjemahkan oleh Benedict R. O’G. Anderson menjadi “The Otter Amulet”. Terjemahan tersebut bisa dibaca di <a href="http://cip.cornell.edu/DPubS?service=UI&#038;version=1.0&#038;verb=Display&#038;handle=seap.indo/1273069461">Journal Indonesia, Cornell University, edisi April 2010, Volume 89</a>. Ini terjemahan kedua cerpen saya di jurnal tersebut, setelah “Corat-coret di Toilet” (“<a href="http://ekakurniawan.com/blog/graffiti-in-the-toilet-574.php">Graffiti in the Toilet</a>”, <a href="http://cip.cornell.edu/DPubS?service=UI&#038;version=1.0&#038;verb=Display&#038;page=record&#038;handle=seap.indo/1227644177">Indonesia edisi Oktober 2008, Volume 86</a>), juga diterjemahkan oleh Benedict R. O’G. Anderson.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/the-otter-amulet-1467.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/introduction-to-graffiti-in-the-toilet-575.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/introduction-to-graffiti-in-the-toilet-575.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 06:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Benedict Anderson]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>by</em> <strong>Benedict R. O'G. Anderson, Journal "Indonesia", Volume 86</strong></div>

Some of Eka’s readers find many of his writings distinctly morbid, even perverse, in their fascination with murder, violent sex, monsters, the supernatural, and Indonesia’s heart-breaking modern history. They are not mistaken in so feeling. But the judgment misses three things: the sheer, queer elegance of his Indonesian prose, which at its best is superior even to Pramoedya’s; his black sense of humor, quite close to Pram’s as well as Twain’s; and his gift for parody and ear for how his fellow- Indonesians (of different groups and generations) speak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>by</em> <strong>Benedict R. O&#8217;G. Anderson, &#8220;Indonesia&#8221; Vol. 86</strong></div>
<p>At the age of only thirty-two, the Sundanese Eka Kurniawan is without any doubt the most original, imaginative, profound, and elegant writer of fiction in Indonesia today. If anyone has a chance of filling the aerie in Indonesian literature left empty with the death of Pramoedya Ananta Toer, it is he. It is no accident that his first book, published in 1999, <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em>, is by far the best work, admiring and critical at the same time, on the master written by an Indonesian. Traces of Pram are visible everywhere in his fiction, yet Eka, born into another culture and in another, gloomier epoch, writes in an inimitable manner, which is immediately recognizable in any paragraph. Over the last six years, he has published two outstanding novels, the enormous if unwieldy <em>Cantik itu &#8230; Luka</em> (Beauty is &#8230; a Wound) in 2002, and the fiercely dense <em>Lelaki Harimau</em> (Man-Tiger) in 2004. In 2005 he published his first collection of short stories, <em>Cinta Tak Ada Mati</em> (No Death for Love), and, in the same year, a second collection, <em>Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</em> (Sad Laughter and Other Tales), from which the story translated below has been drawn.<br />
<span id="more-575"></span><br />
He was born on November 28, 1975, in a remote village of southeastern West Java, two hours’ drive south of Tasikmalaya, and close to the Indian or Indonesian Ocean. This village, where he spent his earliest years with his four grandparents, is blazingly recreated as the scene of <em>Cantik itu &#8230; Luka</em>. Later, he joined his parents at a rubber plantation near to Tjilatjap. He received his primary education in a public school in the small town of Pangandaran. There, stimulated by the books he borrowed from itinerant bicycle-riding “librarians,” he started to discover his gifts. He wrote comical short stories for his classmates and published his first poems in the children’s magazine <em>Sahabat</em>. When the time came to enter junior high school, he moved to Tasikmalaya and lived with an aunt. He continued to write, now with a typewriter given by his father when he scored the top marks for his class in five subjects. Although he expanded his reading in the school’s library, he eventually got bored and set off on weeks of solitary wandering, first to Jakarta, then back through Tjirebon, Tegal, and Purwokerto. On his return, he found that he had been expelled.</p>
<p>The only school prepared to admit him without forcing him to repeat classes was the special teacher-training senior high school back in Pangandaran. (These high schools were abolished not long after he graduated.) For his final two years, he was always the top student, but also indulged his <em>wanderlust</em> in the Segara Anakan marshes near Nusa Kambangan, the port of Tjilatjap, and the south-coast caves used to store ammunition during the Japanese Occupation; these locations became the settings of some of his subsequent stories.</p>
<p>On graduation, he enrolled as a student in Gadjah Mada University’s Literature Faculty, where he also worked for the student publications <em>Pijar</em> and <em>Balairung</em>. This was the period when Suharto’s New Order was starting to fall apart, and regime violence against students steeply accelerated. When bored with classes, he turned to graphic design, writing comic books and playing in bands. He has said that he decided to become a writer when he found himself stunned by <em>Hunger</em>, Knut Hamsun’s celebrated novel about Norwegian peasant misery.</p>
<p>After completing his MA thesis on Pramoedya, he set to work on his first novel, titled <em>O Andjing</em> (Oh Dog), 140,000 words long, which he completed in 2001 at the age of twenty-six. But he could find no publisher in Djakarta, only a tiny one in Central Java, which promised to print only two hundred copies. Luckily, at the end of that year, he was awarded a six-month fellowship by the Akademi Kebudayaan Yogyakarta, which gave him the time radically to revise <em>O Andjing</em> and turn it into the scarcely less enormous <em>Cantik itu Luka</em>, which, with the support of the AKY, was finally published at the very end of 2002. It stirred a huge controversy in literary circles, which helped the first printing to be sold out very quickly. In 2003, he moved to Djakarta with his wife, the writer Ratih Kumala. There he worked on <em>Lelaki Harimau</em> (mostly written in the food court of the Sarinah department store), which was published in May 2004 and quickly went through two printings. In 2006, Ribeka Ota’s translation of <em>Cantik itu Luka</em> into Japanese came out. In the midst of all this, Eka found the time and the energy to translate Maxim Gorki’s <em>Strike</em>, John Steinbeck’s <em>Cannery Row</em>, Gabriel Garcia Márquez’s <em>Of Love and Other Demons</em>, as well as Mark Twain’s <em>The Diaries of Adam and Eve</em>.</p>
<p>Some of Eka’s readers find many of his writings distinctly morbid, even perverse, in their fascination with murder, violent sex, monsters, the supernatural, and Indonesia’s heart-breaking modern history. They are not mistaken in so feeling. But the judgment misses three things: the sheer, queer elegance of his Indonesian prose, which at its best is superior even to Pramoedya’s; his black sense of humor, quite close to Pram’s as well as Twain’s; and his gift for parody and ear for how his fellow- Indonesians (of different groups and generations) speak.</p>
<p>I decided to translate <em>Coret-coret di Toilet</em> not only because it is one of Eka’s best-known short stories, but because it is very blackly funny. It catches perfectly the atmosphere of student life in Indonesia at the start of the new century, as the brief promise of <em>Reformasi</em> was being extinguished by gangsterism, cynicism, greed, corruption, stupidity, and mediocrity. It also mirrors beautifully the bizarre lingo shared by ex-radicals, sexual opportunists, young inheritors of the debased culture of the New-Order era, and <em>anarchists avant la lettre</em>. Finally, it shows Eka’s gift for startling imagery, sharp and unexpected changes of tone, and his “extra-dry” sympathy for the fellow-members of his late-Suharto generation. It could be said to be  Eka’s update of parts of Pram’s <em>Tjerita dari Djakarta</em>, written as the promise of the Revolution was being extinguished, which has the Eka-ish subtitle, <em>Karikatur2 Keadaan dan Manusianja</em>.</p>
<p><a href="http://ekakurniawan.com/blog/graffiti-in-the-toilet-574.php">The translation of &#8220;Corat-coret di Toilet&#8221; (Grafitti In The Toilet), read here</a>.</p>
<div class="footnote">Versi online tulisan ini bisa dilihat di laman <a href="http://72.14.235.132/search?q=cache:TA1iSuBGUtQJ:cip.cornell.edu/DPubS%3Fservice%3DRepository%26version%3D1.0%26verb%3DDisseminate%26handle%3Dseap.indo/1227644177%26view%3Dbody%26content-type%3Dpdf_1+%22eka+kurniawan%22&#038;hl=en&#038;ct=clnk&#038;cd=10">Jurnal Indonesia, Cornell University</a>.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/introduction-to-graffiti-in-the-toilet-575.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eka Kurniawan: An Unconventional Writer</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/eka-kurniawan-an-unconventional-writer-218.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/eka-kurniawan-an-unconventional-writer-218.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 12:31:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[The Jakarta Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but</em> <strong>Eka Kurniawan</strong> <em>is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with</em> <strong>Maggie Tiojakin</strong> <em>about the roads yet traveled.</em>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but</em> <strong>Eka Kurniawan</strong> <em>is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with</em> <strong>Maggie Tiojakin</strong> <em>about the roads yet traveled.</em></p></blockquote>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SGjVSeXPfcI/AAAAAAAAAIs/7Z4Flq5i_Gw/s400/coverpaper-july-252x300.jpg"><img alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SGjVSeXPfcI/AAAAAAAAAIs/7Z4Flq5i_Gw/s400/coverpaper-july-252x300.jpg" title="Jakarta Post" class="alignright" width="252" height="300" /></a><br />
Like many aspiring writers who need to pay the bills, Eka Kurniawan started out as a journalist. The 33-year-old native of Tasikmalaya, West Java, then submitted a few short stories to <em>Kompas</em> daily’s respected literary page, and they were accepted.</p>
<p>“People always asked me how it happened that I had my stories published in <em>Kompas</em>,” says the Gadjah Mada University graduate. “But there’s really no magic to it. I sent [the stories] out to the editorial department, even though I didn’t know anybody there.”</p>
<p>Gradually, his journalistic days of meeting deadlines came to an end.<br />
<span id="more-218"></span><br />
His first book, which established him as a serious writer, was published in 1999, titled <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> (Aksara Indonesia) A second book came out a year later, a compilation of short stories called <em>Corat-Coret di Toilet</em> (Toilet Graffiti, Aksara Indonesia.) By 2002, the year he published his debut novel, <em>Cantik Itu Luka</em> (Beauty is Scarred, Penerbit Jendela), he was well on his way to becoming one of the few influential writers in the country.</p>
<p>Benedict Anderson, the renowned Indonesian scholar and historian, in his article, “Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant”, in the <em>New Left Review</em>, writes: “It is nice, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor … the sheer beauty and elegance of [Eka’s] language, and the exuberance of [his] imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up toward a wintry sky.”</p>
<p>For some writers, such a compliment would be enough to put their head in the clouds. For Eka, however, it gives him more reason to keep his feet on the ground and remain himself.</p>
<p>“I respect Pramoedya very much,” confides Eka. “I’m very honored to be referred to as Pramoedya’s successor. But, at the same time, I don’t really know what to do with it. I can’t quite envision myself as a literary figure, because I have a hard time defining that label. What is a literary figure? I prefer to call myself a writer, because it suggests a profession.”</p>
<p>It is a profession, however, that gets little appreciation in this country.</p>
<p>Avoiding mainstream topics in his writing, Eka prefers to look beyond the normal stories of people living their day-to-day lives without alienating the essence of life itself. His most celebrated novel, <em>Cantik Itu Luka</em>, talks about a woman forced into the world of prostitution during colonial times. The woman gives birth to an ugly daughter whom she later calls Cantik (Beautiful).</p>
<p>“I try to see things not as they are, but as they should, would or could be,” explains Eka. “Generally, I’m inspired by a lot of things — newspaper stories, TV shows, books, etc. I think writers do have the obligation to expose themselves to what’s going on around them, analyze the reality as they see fit and repackage it in a way that will reach their audience.”</p>
<p>Amid the glut of chick-lit, song-lit and movie-to-book adaptations piling up in local bookstores, Eka finds it unfortunate that most emerging writers feel the need to conform to a generic style and the exploration of conventional themes.</p>
<p>“I’m not saying they’re bad books,” says Eka. “But my biggest concern is the fact that writers today have a tendency to adopt homogenous styles. It’s like they can’t break away from the trend, conveniently stuck in one place.”</p>
<p>Homogenous is not a term used to describe Eka; his short story titles include the provocative “Bercinta dengan Barbie” (Making Love to Barbie), “Lelaki Sakit” (A Sick Man), “Assurancetourix” and “Hikayat Si Orang Gila” (The Tale of a Mad Man).</p>
<p>Agus Noor, a writer with an equally unique storytelling voice, has described Eka as a “storyteller who gladly embraces the inheritance and history of literature from around the world.”</p>
<p>A devoted reader of Chairil Anwar’s prose and poetry, as well as Salman Rushdie’s sometimes controversial books, Eka believes that writers are made by the books they read. When people ask him what it takes to become a writer, Eka always tells them to read more.</p>
<p>“They don’t believe me, of course,” says Eka, chuckling. “They give me this look, as if I’m lying. But that’s the honest truth. The more I read, the better I write.”</p>
<p>Eka now lives in Jakarta with his wife, Ratih Kumala, an accomplished writer in her own right. A multitalented writer with a strong interest in graphic design and comic-book writing, Eka has set his eyes on new projects this year.</p>
<p>“There’s no limit,” he says. “I’m always trying to figure out new possibilities, new themes and new ways of communicating to the readers.”</p>
<div class="footnote">This profile published by <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/06/28/eka-kurniawan-an-unconventional-writer.html">The Jakarta Post Weekender</a>, 28 June 2008.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/eka-kurniawan-an-unconventional-writer-218.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Sampul Buku Binhad Hingga Blog Djenar</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 16:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Larutan Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Sampul Buku]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php</guid>
		<description><![CDATA[Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar <em>browsing</em> sampai membongkar kode <a href="http://www.php.net/">PHP</a>). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran -- tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2047/2403781332_043ee10bbe_o.jpg" alt="" /><br />
<span class="caption">Sampul Buku <em>Demonstran Sexy</em></span> </p>
<p>Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar <em>browsing</em> sampai membongkar kode <a href="http://www.php.net/">PHP</a>). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran &#8212; tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.</p>
<p>Buku-buku awal saya, (<em>Cantik itu Luka</em> versi penerbit Jendela, <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> semua versi tiga penerbit, <em>Corat-coret di Toilet</em>) saya bikin sendiri sampulnya. Buku orang lain yang pernah saya bikin, sejauh yang saya ingat: <em>Air Kaldera</em> (Joni Ariadinata), <em>Beatniks dan Puisi-puisi Lainnya</em> (Nuruddin Asyhadie), <em>Orang-orang Proyek</em> (Ahmad Tohari &#8212; versi Penerbit Jendela), <em>Sebuah Kitab yang Tak Suci</em> (Puthut EA) dan belum lama ini buku puisi baru Binhad Nurrohmat, <em>Demonstran Sexy</em>. Saya juga membuat ilustrasi untuk sampul dan isi buku kumpulan cerpen Ratih Kumala, <em>Larutan Senja</em>.<br />
<span id="more-140"></span><br />
Di luar itu, masih ada beberapa proyek desain lain yang pernah saya kerjakan, sebagian besar saya sudah lupa. Selain menggarap sampul buku, yang paling saya suka dari pekerjaan sebagai desainer adalah membuat grafis untuk t-shirt (kaus oblong). Waktu saya masih kuliah, saya sering membuat kaus oblong dengan grafis yang saya bikin sendiri. Meskipun hanya saya jual di antara teman-teman dengan cara selalu membawa kausnya di dalam tas punggung, saya memberinya label sebagaimana kaus yang dijual di toko. Labelnya bernama &#8220;Teteruga&#8221;, yang berarti kura-kura (seorang teman asal Irian memberi saya nama itu). Hasilnya lumayan untuk jajan dan membeli buku. Hehehe.</p>
<p>Bisnis &#8220;Teteruga&#8221; saya berhenti ketika krisis ekonomi tahun 1997, selain karena saya mulai sibuk untuk menyelesaikan kuliah dan menulis buku <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em>. Meskipun begitu saya tak pernah berhenti membuat desain kaus oblong. Di komputer saya barangkali sudah lebih dari seratusan desain untuk oblong yang belum pernah dicetak. Jujur saja, suatu hari kalau saya cukup punya uang, saya ingin punya toko yang hanya menjual kaus oblong yang saya desain tersebut. Mudah-mudahan kesampaian (amin!).</p>
<p>Nah, mengenai internet, saya mulai memaksakan diri mengerti cara bikin halaman web ketika bersama teman-teman membuat situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a> (sudah tutup). Itu tahun 2000 dan waktu itu kalau tidak salah belum ada <a href="http://wordpress.org">WordPress</a> maupun <a href="http://blogger.com">Blogspot</a>! Meskipun sampai hari ini saya enggak ngerti logika bahasanya, saya mencoba untuk tahu cara mengedit PHP dan <a href="http://mysql.com">MySql</a> dan sejauh ini cukup berhasil untuk tidak membuat desain <strong>bumimanusia.or.id</strong> berantakan, (<em>bravo</em>!).</p>
<p>Beruntung ketika saya memulai blog ini, WordPress sudah ada. Bagi saya, WordPress benar-benar memudahkan orang untuk ngeblog, terutama untuk orang yang ingin memakai domain dan hosting sendiri seperti saya. Tinggal instal WordPress ke server, cari <em>theme</em> yang menarik, tinggal ngetik blog! Meskipun begitu, masih juga saya ingin mencoba mendesain sendiri blog di atas template WordPress ini. Dengan kemampuan PHP yang pas-pasan, saya mencoba membuat <em>theme</em> sendiri. Hasilnya adalah desain blog ini, yang dengan norak saya beri nama <strong>Faulkner for WordPress</strong>, (ceritanya biar nyaingin <em>theme</em> WordPress yang sangat terkenal bernama <a href="http://warpspire.com/hemingway">Hemingway</a> itu lho!).</p>
<p>Sekali lagi, WordPress membuat ngeblog jadi gampang. Dan untuk itu saya mulai membujuki teman-teman saya untuk mulai ngeblog. Kalau perlu saya akan bantuin untuk urusan membeli domain, sewa server, menginstal WordPress dan memilihkan <em>theme</em> yang cocok (selain <strong>Faulkner for WordPress</strong>, saya enggak janji punya waktu untuk membuat <em>theme</em> sendiri; paling banter mengedit sedikit dari <em>free theme</em> yang sudah ada). Yang pertama dibujuk, tentu saja istri saya. Ia ngeblog di <a href="http://ratihkumala.com">ratihkumala.com</a>. Teman saya di <strong>bumimanusia.or.id</strong>, Nuruddin Asyhadie, juga mulai ngeblog di <a href="http://nuruddinasyhadie.com">nuruddinasyhadie.com</a>. Nuredan (panggilan saya untuk Nuruddin), cukup <em>expert</em> untuk mengotak-atik sendiri WordPressnya hingga berantakan (haha).</p>
<p>Selanjutnya inilah tiga orang yang sudah berhasil saya bujuk membuat blog: Richard Oh di <a href="http://richardoh.net">richardoh.net</a>. Richard selain menulis tiga novel, juga dikenal sebagai sutradara film. Adi Wicaksono di <a href="http://adiwicaksono.com">adiwicaksono.com</a>. Adi dikenal sebagai penyair, juga sesekali menulis esai film dan seni rupa. Terakhir, Djenar Maesa Ayu juga mulai ngeblog di <a href="http://djenar.com">djenar.com</a>. Djenar selain menulis tiga kumpulan cerpen, satu novel, kini bertambah predikatnya sebagai sutradara film. Mereka membeli domain dan menyewa servernya sendiri, saya bantuin yang lebih teknis (gini-gini bolehlah jadi konsultan, caila!). <del datetime="2008-04-15T16:37:48+00:00">Khusus blog Djenar, karena masih bayi, masih dalam pengerjaan. Jadi mohon maaf jika kontennya masih berupa sampel, hehehe</del> (ayo, Bu, mulai nulis, ya!).</p>
<p>Bagaimanapun, <em>happy blogging</em>, Teman-teman. Siapa yang mau menyusul ngeblog?</p>
<h3>Update (Malam yang Sama, Beda Tanggal)</h3>
<p>Proyek desain terbaru, tentu saja merencanakan sampul buku novel ketiga saya, <em>Malam Seribu Bulan</em> yang sudah dijadwalkan terbit pertengahan tahun ini. Punya ide?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 06:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Roslan Jomel, <a href="http://roslanjomel.blogspot.com/2007/12/kembali-kepada-realisme-yang-lebih.html">roslanjomel.blogspot.com</a></strong></div>

Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen <strong>Caronang</strong>, <strong>Kasih Tak Sampai</strong>, <strong>Kutukan Dapur</strong> mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Roslan Jomel, <a href="http://roslanjomel.blogspot.com/2007/12/kembali-kepada-realisme-yang-lebih.html">roslanjomel.blogspot.com</a></strong></div>
<p>Salam Hormat.<br />
Kebetulan sahaja, saya mula jatuh cinta kepada gaya penulisan Eka Kurniawan. Makanya, saya ingin sahaja tahu perkembangan terkininya dengan menembusi jaringan maya. Bagaimana saya boleh terserempak dengan laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a>, pun juga suatu kebetulan. Tetapi, alam ini sebegitu cantik dan berseni, bukan diciptakan secara kebetulan. Tuhan telah mengatur dengan secanggih-canggihnya kehidupan di atas muka bumi buat manusia (yang berfikir). Tidak seperti yang disangka oleh saintis barat. Dunia ini bukan bola kimia yang terapung. Maka itu, mimpi pun terasa indah.<br />
<span id="more-14"></span><br />
Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen <strong>Caronang</strong>, <strong>Kasih Tak Sampai</strong>, <strong>Kutukan Dapur</strong> mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti. Seno Gumira, penulis terkemuka Indonesia telah mengandaikan bahawa masa depan sastera Indonesia terletak atas nama Eka Kurniawan. Menurut Maman S Mahayana dalam buku <em>Bermain Dengan Cerpen</em>, (diubah mengikut bahasa saya sendiri) penulisan Eka Kurniawan membawa bersama-sama gaya istimewa yang khas dan sentiasa sahaja karya-karyanya memukau. Oleh kerana belum tertemui buku-buku yang memuatkan karya Eka Kurniawan di Malaysia (Novel -<em>Lelaki Harimau</em>, <em>Cantik Itu Luka</em>. Antologi Cerpen &#8211; <em>Corat-coret Di Toilet</em>, <em>Cinta Tak Ada Mati</em>, <em>Gelak Sedih</em>) maka saya akan mengklik laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a> pada setiap hari minggu. Penantian saya bukan semata-mata kepada cerpen Eka Kurniawan, malah, saya jatuh cinta kepada cerpen-cerpen Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat, Hamsad Rangkuti juga Pak Budi Darma.</p>
<p>Bahawa gaya realisme magis yang menjadi <em>trade mark</em> (dengan izin) kepada setiap prosa Eka Kurniawan akan berkekalan, sebelum itu juga, saya sudah sedia maklum akan pengaruh Gabriel Garcia Marquez terhadap dirinya. Tetapi silap. Dunia telah berputar terlalu cepat, fenomena bencana alam yang ganjil dan manusia-manusianya sudah terlalu lama menderita oleh siri peperangan. Gaya yang absurd dileburkan oleh kehidupan semasa. Penulis-penulis besar antarabangsa kini kembali menjadi realis (lihat sahaja pada antologi cerpen <em>Orang-Orang Bloomington</em> tulisan Pak Budi Darma), atau mungkin, Mario Vhargas Llhosa yang menjadi maestronya ketika ini. Sosiobudaya yang penuh dengan permasalahannya kini, ya, kepura-puraan politik, agamawan yang tersesat, kebejatan yang lain-lainya, mungkin sahaja, mendorong dunia kontemporari ini sudah tidak peduli lagi dengan gaya satira atau mengampu-ampu pihak tertentu? Alam ini meminta karyawan seninya kembali kepada diri sendiri, mengasah mata penanya setajam dan sejujurnya demi tuntutan realiti teks sastera. Tidak terkecuali karya terbaharu Eka Kurniawan yang kebetulan saya temui di laman sriti.com. Terima kasih banyak-banyak pengelola laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a>! Saya di Malaysia, berasa terhutang budi kepada pihak saudara di seberang sana. </p>
<p>Cerpen-cerpen <strong>Gincu ini Merah, Sayang</strong>, <strong>Sakit</strong>, <strong>Penafsir Kebahagiaan</strong>, <strong>Gerimis Yang Sederhana</strong> (terbaharu, terbit di <em><a href="http://kompas.com">Kompas</a></em><a href="http://kompas.com"></a>) telah menarik pergelangan tangan saya kepada gerak-geri kehidupan manusia-manusia modennya. Rupa-rupanya ada kawan-kawan di sebelah kita dengan secebis kisah hariannya, menuntut bakat dakwat pena penulis untuk dirakam sejujurnya akan pengalaman mereka, untuk dijadikan cerpen atau pun puisi. Tak kira siapa pun mereka. Pengawal Keselamatan, kerani di kilang plastik, jurujual di pasaraya bahagian pakaian perempuan, penganggur mahu pun tukang bersih di pejabat kerajaan. Bukankah mereka ini memiliki kisah-kisah yang menarik, dan terlupa diperdalami kehidupan harian mereka? Bukankah mereka ini yang kerap ditemui setiap hari pada pandangan mata penulis? Untuk itu, saya teringat kembali puisi-puisi Allahyarham T Alias Taib. </p>
<p>Timbul persoalan di sini, mengapa kita terlalu beria-ia menulis sesuatu tema yang besar-besar sahaja kepada pembacanya? Lihat sahaja filem-filem dari Iran yang memaparkan kisah yang sebegitu mudah tetapi amat menyentuh jiwa penonton-penontonnya, berbanding filem-filem fantasi futuristik ciptaan Hollywood tetapi kosong jiwanya. Pada setiap kali penulis memindah pergolakan dunia antarabangsa yang tidak terjangkau oleh manusia biasa, penulis terlupa untuk merenung persekitaran tempatan dengan manusia-manusia kecilnya di celahan kotaraya. Kadang-kadang karya itu dipenuhi fakta-fakta dan maklumat-maklumat, hinggakan apabila membacanya, pembaca bertanya &#8211; &#8220;apa ini bukan karya sastera atau karya sastera ini terkorban kesan artistiknya?&#8221;. Itu khayalan saya sahaja. Apakah yang dimahukan oleh teks-teks sedemikian jikalau bukan menayangkan bayang-bayang akademiknya, supaya pembaca terasa akan kecanggihan teks karyanya? Pun itu khayalan saya sahaja. Maka maafkan saya jika bertanya sebodoh itu.</p>
<p>Cerpen-cerpen terbaharu oleh Eka Kurniawan, barangkali sahaja dikutip dari pemerhatian pekanya terhadap keadaan manusia-manusia sekeliling, makanya, cerpen-cerpen itu kedengarannya mudah, remeh-temeh dan lurus kerana kenaifan watak-wataknya. Mengenangkan itu, katakan sahaja teks-teks cerpen itu bernada lucu. Ya, memang terasa kelucuannya. Apatah lagi setelah saya selesai membaca <strong>Penafsir Kebahagiaan</strong> (yang berlatarkan bumi Amerika Syarikat)yang berakhir dengan penyesalan yang memedihkan hati dua orang anak beranak itu. Cuba kesani kekalutan emosi di bawah ini, yang saya petik pada penghujung cerpen itu,</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku tidak tahu apakah harus memanggilnya anak atau cucu,&#8221; gumam Markum, masih agak kesal.</p>
<p>&#8220;Aku tak keberatan menganggapnya adik,&#8221; kata Jimi.</p></blockquote>
<p>Setelah baris demi baris dibaca, kisah yang membawa dua beranak itu datang ke bumi Amerika Syarikat, bayi yang dikandung oleh perempuan bernama Lucy atau pun Siti itu, siapakah bapanya, siapa yang akan bertanggungjawab, tetapi, begitulah detik itu dibiarkan terapung oleh Eka Kurniawan. Tiada kesudahan yang menggembirakan. Sebagai pembaca, saya amat merasa tertekan, kerana, peristiwa sebegitu, mungkinkah benar-benar berlaku? Itulah magisnya cerpen dan penulisnya sudah tentu merencanakan penyelesaiannya setragis sedemikian. Dan jikalau cerpen <strong>Gincu ini Merah, Sayang</strong> atau <strong>Gerimis Yang Sederhana</strong> dibaca, mahu tidak mahu, pembaca akan mengigit bibir bawahnya, tanda tersentuh? Kehidupan ini mudah benar kelihatan seperti teka-teki, dan seniman yang prihatin akan menggantungkan kanvas kehidupan, hitam putih atau kelabunya, sejujur mungkin. Pesanan moral? Jangan ditanya saya.</p>
<p>Salam hormat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siasat Membangun Cerita di Atas Cerita</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/siasat-membangun-cerita-di-atas-cerita-40.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/siasat-membangun-cerita-di-atas-cerita-40.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2005 04:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Damhuri Muhamad]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Damhuri Muhammad, Lampung Post</strong></div>

Keberhadiran cerpen-cerpen Eka, seolah hendak "menjungkirbalikkan" stigma yang melekat pada cerpen koran (dangkal, topikal, dan bias berita). Cerpenis muda ini memperlihatkan "jati diri" cerpen yang bukan hanya mandiri sebagai kisah, tapi juga mandiri sebagai genre sastra, makin "dewasa" dan tegak berdiri di atas kaki sendiri (tidak bergantung intervensi "kepentingan" koran).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Damhuri Muhammad, Lampung Post</strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/gs40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya">Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/gelak-sedih">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792213481/Gelak-Sedih-dan-Cerita-Cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p>Disadari atau tidak, setiap &#8220;tukang&#8221; cerita meneladani kecerdasan Syahrazad. Permaisuri pendongeng dalam kisah <em>Seribu Satu Malam</em> yang mesti &#8220;berjuang&#8221; menyelesaikan sepenggal kisah demi tertundanya ancaman maut satu malam lagi. Bilamana sang permaisuri itu masih ingin bertahan hidup, ia harus merangkai sepenggal kisah lagi untuk mengulur waktu kematiannya satu malam lagi.</p>
<p>Begitu seterusnya, hingga tak terasa ia sudah menghabiskan 1001 malam untuk merajut kisah-kisahnya. Begitu juga kesan saya setelah membaca cerpen &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221; dalam antologi <em>Gelak Sedih</em> (Gramedia, Jakarta, 2005) karya Eka Kurniawan. Alamanda, perempuan yang tak berdaya menolak pernikahannya dengan lelaki sepupu sendiri, mencoba bersiasat agar suaminya tak beroleh kesempatan menjamah tubuhnya, &#8220;bercinta&#8221;layaknya hubungan suami-istri.<br />
<span id="more-40"></span><br />
Siasat Alamanda tidak lain adalah siasat Syharazad. Perempuan itu tidak bersedia berhubungan badan kecuali suaminya berkenan mendengarkan dongeng-dongengnya. &#8220;Percintaan&#8221; hanya akan terjadi jika dongeng Alamanda sudah &#8220;khatam&#8221;. Padahal,dongeng Alamanda tak akan pernah tamat. Maka, mengalirlah dongeng &#8220;Petualangan Alice di Negeri Ajaib&#8221; dari mulut Alamanda.</p>
<p>Semula saya menduga kepiawaian berdalih yang digambarkan pengarang adalah siasat Alamanda membatalkan pernikahan dan sekaligus percintaan &#8220;terlarang&#8221; itu. Sama halnya dengan siasat dongeng-dongeng Syharazad mengulur kematiannya. Tetapi,setelah menyelami lekuk-lekuk kisahnya, ternyata &#8220;kelicikan&#8221; Alamanda sekadar menutupi rasa malu pada sang suami. Sebab, ia sudah tidak perawan lagi.</p>
<p>Tujuan yang remeh jika dibandingkan nasib Syharazad yang sedangdi ujung tanduk. Saya merasa &#8220;tertipu&#8221; style pengisahan Eka yang semula sudah terasa &#8220;matang&#8221;, tapi pada bagian akhir Eka membuatnya &#8220;mentah&#8221; kembali. Ibarat memeras kandungan gula dari sebatang tebu, (setelah saya jilat) bagian pangkal tebu itu luar biasa manis, tapi makin keujung terasa makin hambar.</p>
<p>Saya tidak kecewa. Sebab, justru di titik inilah letak keunikan proses kreatif Eka. Ia seperti pemburu yang menggebu-gebu hendak mencabik-cabik buruan, tapi setelah berhasil melumpuhkan mangsa, sang pemburu tak hendak memakan dagingnya. Agaknya, pemburu tidak sedang lapar. Maka, hasil buruan pun dibuang percuma di tengah hutan. Sayang sekali! Sebagai pemburu, Eka sudah menguras energi, tapi kenapa hasil buruannya disia-siakan begitu saja?</p>
<p>Agaknya, logika pencapaian estetika Eka bukan pada mentah-matang, ketat-longgar atau kuat-lemahnya substansi cerita,melainkan pada seberapa bersenyawanya unsur-unsur &#8220;estetik&#8221;di dalam kisahnya. Sebab itu, Alamanda tak perlu menjelma Syharazad. Cukup menjadi perempuan yang masih punya malu setelah kelaminnya tak lagi terlindungi selaput dara.</p>
<div style="text-align:center">***</div>
<p>Ada yang bilang, cerpen koran semata-mata bersandar pada cerita dan memperlakukan bahasa hanya sebagai &#8220;kendaraan&#8221; bercerita (Nirwan Dewanto). Lalu, muncul pula penilaian kebanyakan cerpen koran hanya bergerak di permukaan, dangkal karena isi dancara pengungkapan dikondisikan media massa (Budi Darma). Tersebab &#8220;kepentingan&#8221; koran meresap &#8220;tubuh&#8221; cerpen, sulit memilah mana cerita, mana berita.</p>
<p>Demikian sekelumit perihal gugatan pada geliat &#8220;cerpen koran&#8221; yang mewabah sejak sepuluh tahun terakhir. Cerpen dianggap terjerumus &#8220;realitas koran&#8221;, sehingga menjadi sangat &#8220;topikal&#8221; dan gagal menjadi sebuah kisah yang berdiri sendiri (Goenawan Mohamad). Apakah hipotesis di atas terbukti setelah membaca cerpen-cerpen Eka?</p>
<p>Dari segi ketergantungan pada cerita, barangkali jawabannya, ya. Di samping sebagai pencerita yang &#8220;genius&#8221;, Eka adalah (lagi-lagi) sosok &#8220;pemburu&#8221; sekaligus kolektor cerita yang tekun. Cerita-cerita yang menggugah selera estetiknya sering menjadi embrio cerita-cerita yang dia tulis. Ia membangun cerita di atas konstruksi cerita-cerita yang pernah dibacanya (seperti terlihat pada &#8220;Bercinta dengan Barbie&#8221;, &#8220;Lelaki Sakit&#8221;, &#8220;Assurancetourix&#8221;, &#8220;Peter Pan&#8221;, &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221;, &#8220;Si Cantik yang tak Boleh Keluar Malam&#8221;, &#8220;Siapa Kirim Aku Bunga?&#8221;, dan&#8221;Kisah&#8221;), bahkan sesekali &#8220;terjerembap&#8221; mendaur ulang cerita-cerita lama (demi) melahirkan kisah-kisah baru.</p>
<p>Delapan belas cerpen yang terhimpun dalam antologi <em>Gelak Sedih</em>, sebagian besar dirangkai berdasarkan &#8220;pengalaman baca&#8221; pengarang. Pada cerpen &#8220;Bercinta dengan Barbie&#8221;,dengan jujur Eka mengaku terinsprasi karakter-karakter boneka produksi Mattel Corporation (hlm. 183). Pada bagian awal, Eka mencantumkan kutipan &#8220;Betapa menggelikan aku ketika masihmenjadi boneka!&#8221; (Carlo Collodi, <em>Pinocchio</em>).</p>
<p>Apa tujuan penulisan kutipan itu? Mungkin hendak bersikap jujur atau sekedar memberitahu pembaca perihal pentingnya cerita pinocchio dalam konteks lahirnya cerpen &#8220;Bercinta dengan Barbie&#8221;. Padahal, tidak akan ada keculasan jika kutipan yang mengganggu dan tak perlu itu ditiadakan. Toh, cerpen Eka tetap utuh sebagai kisah (tanpa kurang satu apa pun jua).</p>
<p>Justru, bilamana setiap cerpen Eka selalu &#8220;di-mukadimah-i&#8221;pelbagai referensi yang tak perlu, pembaca bisa saja meragukan Eka sebagai pencerita yang &#8220;mandiri&#8221;. Cerpen bukan makalah ilmiah, Bung! Jadi, tak perlu kejujuran akademik!</p>
<p>Lalu, apakah ekspresi literer Eka masih berkutat di tataran permukaan? Tentu saja tidak. Sebagai pengisah, refleksi dan perenungan Eka sudah &#8220;sampai&#8221;. Ia bukan hanya telaten, tetapi juga lihai mengasah, mengolah, mengelola dan meng-&#8221;eksekusi&#8221; hingga kisah-kisahnya berdiri kokoh di maqam yang patut. Eka mampu menangkap gerak dalam objek.</p>
<p>Seperti pernah diungkapkan Jacques Maritain, dalam proses kreatif ada hubungan misterius antara jiwa dalam diri seniman dan jiwa dalam objek yang digarapnya. Eka tidak lagi menangkap objek atau peristiwa dalam wadah kasarnya, tapi langsung menukik keceruk jiwa dan esensi objek. Dengan begitu, ia berkompetensi menulis apa saja dengan gemilang.</p>
<p>Sepasang suami-istri yang meskipun sudah berniat membuang bayi mereka di pinggir jalan (cerpen &#8220;Gelak Sedih&#8221;), masih memendam harap agar bayi itu ada yang memungut, beritanya munculdi koran, lalu ada orang kaya yang berkenan mengambilnya. Ini adalah jiwa dalam objek garapan pengarang. Bahwa kemudian harapannya pupus ketika berita yang terpampang di koran, &#8220;Mayatorok ditemukan di pinggir jalan, diduga dimakan anjing&#8221; itu adalah ekspresi imajiner yang harus dilakukan pengarang agar kisahnya sampai pada kulminasi konflik.</p>
<p>Puncaknya adalah sedih. Dan, sedih yang melampaui ambang batas bakal memuncak menjadi gelak. Begitupun sebaliknya. Inilah latar filosofis pilihan judul &#8220;Gelak Sedih&#8221;. Sejatinya, gelak mustahil dikombinasikan dengan sedih. Tapi bagi Eka, gelak dan sedih tak hanya &#8220;tak bertentangan&#8221; tetapi malah bersenyawa, membaur, dan berkelit kelindan.</p>
<p>Keberhadiran cerpen-cerpen Eka, seolah hendak &#8220;menjungkirbalikkan&#8221; stigma yang melekat pada cerpen koran (dangkal, topikal, dan bias berita). Cerpenis muda ini memperlihatkan &#8220;jati diri&#8221; cerpen yang bukan hanya mandiri sebagai kisah, tapi juga mandiri sebagai genre sastra, makin &#8220;dewasa&#8221; dan tegak berdiri di atas kaki sendiri (tidak bergantung intervensi &#8220;kepentingan&#8221; koran).</p>
<p>Akan lebih &#8220;dewasa&#8221; lagi bilamana Eka sanggup me-merdeka-kan imajinasi dari kebergantungan koleksi cerita-ceritanya. Ya, membangun cerita di atas layar &#8220;tabularasa&#8221; estetik yang masih putih bersih, belum tercorat-coret barang senoktah pun. Nah!</p>
<div class="footnote">Tulisan ini pernah dimuat di <a href="http://lampungpost.com"><em>Lampung Post</em></a>, 17-7-2005.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/siasat-membangun-cerita-di-atas-cerita-40.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2005 13:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Sjaiful Masri]]></category>
		<category><![CDATA[Sriti.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Sjaiful Masri, Sriti.com</strong></div>

Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Sjaiful Masri, Sriti.com</strong></div>
<p><div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ctam40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya">Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/cinta-tak-ada-mati">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792212574/Cinta-Tak-Ada-Mati-dan-Cerita-cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div> <div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/gs40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya">Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/gelak-sedih">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792213481/Gelak-Sedih-dan-Cerita-Cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div></p>
<p>Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel <em>Cantik itu Luka</em>. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, tangga nada yang harmonisnya bisa dirinci. Atau tepatnya tarot yang terkocok acak yang kemudian menyimpan risalah panjang yang asyik untuk dimainkan… Saya berbeda selera dengan Maman. Tebakan saya meleset. Air bah itu hanya berpusar pada ruang kepalanya, bukan Tsunami semesta.</p>
<p><span id="more-44"></span><br />
Masuk kepertaruhan kedua, saya bermain-main dengan Lelaki Harimau, yang menata gaya psikologis, setingkat lebih mapan dari sejumlah karya-karya Bagus Takwin. Jika Takwin bermain dalam efek emprik dunia psiko-dramatis, Eka menyempurnakannya dengan kesadaran empirik. Dunia psikologis menyublim dalam rationale. Siapa yang bilang ini realis-magis?</p>
<p>Pimpinan kami, Editor website ini menjerit-jerit, “Bahas ini. Spektakuler! Masa depan cerpenis kita!! Saatnya cerpenis tua pamit panggung…..!!” Bla bla bla bla…. Mengapa begitu banyak orang salah tangkap, tegang sendirian, <em>over-acting</em>, berharap meluap-luap dengan sebuah karya. Bukankah penulis itu punya dedikasinya sendiri?</p>
<p>Kali ini Seno Gumira Ajidarma menuntaskan ‘tebak-tebak buah manggis’ saya pada Eka. Dalam <em>Cinta tak ada Mati</em>, Seno membubuhi komentar “Cerita-cerita ini ditulis dengan suatu bakat dan semangat pencanggihan yang tinggi…Kita pantas meletakkan harapan atas masa depan sastra Indonesia kepada para penulis muda seperti Eka Kurniawan…” Saya tidak membaca nada kecemasan Seno dibalik pujian itu. Efek yang tersisa adalah, bila saja kenyataan yang menganga kemudian akan melahirkan masa depan yang sunyi… Jika dibandingkan cerpenis seangkatannya, dalam amatan kecil kami di <a href="http://sriti.com">Sriti.com</a>, dalam kurun enam bulan terakhir, Eka termasuk cerpenis yang ‘malas’. Saya tidak mau lagi main tebak-tebakan.<br />
<center>***</center><br />
Dua buku karya Eka Kurniawan berbarengan muncul di pasaran. Seakan idiom lawas dunia dagang buku kalau ‘dua buku muncul berbarengan itu akan saling ‘membunuh’ dalam pasaran’. Setahun silam, ketika <em>Cantik itu Luka</em> edisi re-print dan <em>Lelaki Harimau</em> muncul berbarengan, dan kini terulang <em>Gelak Sedih</em> serta<em> Cinta tak ada Mati</em> bak bayi kembar brojol dalam rak toko buku; barangkali Eka bukan lagi masa depan sastra Indonesia, mungkin, ia juga telah menjadi pembukti dunia dagang buku mutakhir. Betapa kuatnya penetrasi pasar dunia dagang buku sastra kita saat ini….</p>
<p>Membaca <em>Gelak Sedih</em>, saya justru melihat kalau Eka adalah pengarang yang sangat realistis. Ia dengan sadar melihat dunia kepengarangannya harus ditopang mekanisme yang mumpuni. Ia memilih penerbit besar seperti Gramedia Pustaka Utama bukan tanpa alasan. <em>Gelak Sedih</em> membuktikan keampuhan itu. <em>Gelak Sedih</em> adalah edisi re-package dari kumpulan cerpen terdahulunya, <em>Corat-coret di Toilet</em> yang kemudian ditambahkan sembilan cerpen baru. Hemat saya, inilah proyek yang sesungguhnya, <em>Cinta tak ada Mati</em> segar karena 13 cerpen yang baru dirampaikan dalam bentuk buku.</p>
<p>Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia. (Saya kecolongan komentar ini, karena toh, Agus Noor sudah membubuhi duluan dalam sampul belakang Gelak Sedih. Bla bla bla bla…Saya tidak akan menambah jumlah gunung pujian yang ditulis Oka Rusmini, Agus Noor, Seno, dan juga Djenar Maesa Ayu… saya punya yang lain tentang dia…)</p>
<p>Dua buku ini sangat dianjurkan untuk dimiliki, bukan hanya karena sosok Eka Kurniawan yang masuk sebagai cikal masa depan sastra kita. Dua buku ini menyajikan kompilasi lengkap Eka Kurniawan sebagai cerpenis. Perjalanan awal yang didudu secara lengkap. Dan yang terunik adalah ‘gaya’ dia menyajikan cerpen koran ke dalam bentuk buku perlu digarisbawahi. </p>
<p>Ia bertindak sebagai kreator. </p>
<p>Dalam kedua buku ini tidak terdapat detail sumber sejarah penerbitan cerpen. Sebagai buku, referensi ini juga bisa menimbulkan efek jualan. Tapi, Eka memilih sikap praktis. Ia kelihatan ingin melahirkan cerpen-cerpen koran-nya sebagai karya ‘baru’. </p>
<p>Eka mengolah lagi proses editingnya, mengganti judul, ‘menambal’ sejumlah kebocoran yang sempat terjadi saat cerpen tersebut dimuat di media massa, menimbulkan mood baru dengan sejumlah garnish, dan keberanian untuk menunjukan sikap. Jika dalam versi cetak cerpen Pengakoean Seorang Pemadat Indis yang pernah dimuat di Media Indonesia (6 Februari 2005) itu tercetak dengan ejaan familiar (EYD?), maka ketika cerpen tadi tampil dalam kumpulan <em>Cinta tak ada Mati</em>, Eka menampilkan teks-nya dalam ejaan zaman <em>baheula</em>. Saya suka caranya menyiasati prosedural sastra koran kita. </p>
<p>Saya tidak sedang ‘main tebak-tebakan buah manggis’. Saya sedang mencoba mengingat-ingat seorang Eka Kurniawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Capaian Eksperimentasi Novel Lelaki Harimau</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/capaian-eksperimentasi-novel-lelaki-harimau-43.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/capaian-eksperimentasi-novel-lelaki-harimau-43.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2004 13:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Maman S. Mahayana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Maman S. Mahayana, Suara Pembaruan</strong></div>

Pemanfaatan -atau lebih tepat eksplorasi-setiap kata dan kalimat tampak begitu cermat dalam usahanya merangkai setiap peristiwa. Eka seperti hendak menunjukkan dirinya sebagai "eksperimentalis" yang sukses bukan lantaran faktor kebetulan. Ada kesungguhan yang luar biasa dalam menata setiap peristiwa dan kemudian mengelindankannya menjadi struktur cerita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Maman S. Mahayana, Suara Pembaruan</strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/lh40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/lelaki-harimau">Lelaki Harimau</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2004 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/lelaki-harimau">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792207996/Lelaki-Harimau">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p><span class="dropcaps">S</span>etelah sukses dengan <em>Cantik itu Luka</em> (Yogyakarta: AKY, 2002; Jakarta Gramedia, 2004) yang memancing berbagai tanggapan, kini Eka Kurniawan menghadirkan kembali karyanya, <em>Lelaki Harimau</em> (Gramedia, 2004; 192 halaman). Sebuah novel yang juga masih memendam semangat eksperimentasi. Berbeda dengan <em>Cantik itu Luka</em> yang mengandalkan kekuatan narasi yang seperti lepas kendali dan deras menerjang apa saja, <em>Lelaki Harimau</em> memperlihatkan penguasaan diri narator yang dingin terkendali, penuh pertimbangan dan kehati-hatian. </p>
<p><span id="more-43"></span><br />
Pemanfaatan -atau lebih tepat eksplorasi-setiap kata dan kalimat tampak begitu cermat dalam usahanya merangkai setiap peristiwa. Eka seperti hendak menunjukkan dirinya sebagai &#8220;eksperimentalis&#8221; yang sukses bukan lantaran faktor kebetulan. Ada kesungguhan yang luar biasa dalam menata setiap peristiwa dan kemudian mengelindankannya menjadi struktur cerita. Di balik itu, tampak pula adanya semacam kekhawatiran untuk tidak melakukan kelalaian yang tidak perlu. Di sinilah Lelaki Harimau menunjukkan jati dirinya sebagai sebuah novel yang tidak sekadar mengandalkan kemampuan bercerita, tetapi juga semangat eksploratif yang mungkin dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sarana komunikasi kesastraan. Ia lalu menyelusupkannya ke dalam segenap unsur intrinsik novel bersangkutan.</p>
<div style="text-align:center">***</div>
<p><span class="dropcaps">M</span>encermati perkembangan kepengarangan Eka Kurniawan, kekuatan narasi itu sesungguhnya sudah tampak dalam <em>Coret-Coret di Toilet</em> (Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia, 2000), sebuah antologi cerpen yang mengusung berbagai tema. Dalam antologi itu, Eka terkesan bercerita lepas-ringan, meski di dalamnya banyak kisah tentang konteks sosial zamannya. Di sana, ia tampak masih mencari bentuk. Belakangan, cerpennya &#8220;Bau Busuk&#8221; (Jurnal Cerpen, No. 1, 2002) cukup mengagetkan dengan eksperimentasinya. Dengan hanya mengandalkan sebuah alinea dan 21 kalimat, Eka bercerita tentang sebuah tragedi pembantaian yang terjadi di negeri entah-berantah (Halimunda). Di negeri itu, mayat tak beda dengan sampah. Pembantaian bisa jadi berita penting, bisa juga tak penting, sebab esok akan diganti berita lain atau hilang begitu saja, seperti yang terjadi di negeri ini.</p>
<p>Meski narasi yang meminimalisasi kalimat itu, sebelumnya pernah dilakukan Mangunwijaya dalam <em>Durga Umayi</em> (Jakarta: Grafiti, 1991) yang hanya menggunakan 280 kalimat untuk novel setebal 185 halaman, Eka dalam Lelaki Harimau seperti menemukan caranya sendiri yang lebih cair. Di sana, ada semacam kompromi antara semangat eksperimentasi dengan hasratnya untuk tidak terlalu memberi beban berat bagi pembaca. Maka, rangkaian kalimat panjang yang melelahkan itu, diolah dalam kemasan yang lain sebagai alat untuk membangun peristiwa. Wujudlah rangkai peristiwa dalam kalimat-kalimat yang tidak menjalar jauh berkepanjangan ke sana ke mari, tetapi cukup dengan penghadiran dua sampai empat peristiwa berikut berbagai macam latarnya.</p>
<p>Cara ini ternyata cukup efektif. <em>Lelaki Harimau</em>, di satu pihak berhasil membangun setiap peristiwa melalui rangkaian kalimat yang juga sudah berperistiwa, dan di lain pihak, ia tak kehilangan pesona narasinya yang mengalir dan berkelak-kelok. Dengan begitu, kalimat-kalimat itu sendiri sesungguhnya sudah dapat berdiri sebagai peristiwa. Cermati saja sebagian besar rangkai kalimat dalam novel itu. Di sana -sejak awal- kita akan menjumpai lebih dari dua-tiga peristiwa yang seperti sengaja dihadirkan untuk membangun suasanan peristiwa itu sendiri. </p>
<p>Tentu saja, cara ini bukan tanpa risiko. Rangkaian peristiwa yang membangun alur cerita, jadinya terasa agak lambat. Ia juga boleh jadi akan mendatangkan masalah bagi pembaca yang tak biasa menikmati kalimat panjang. Oleh karena itu, berhadapan dengan novel model ini, kita (: pembaca) mesti memulainya tanpa prasangka dan menghindar dari jejalan pikiran yang berpretensi pada sejumlah horison harapan. Bukankah banyak pula novel kanon yang peristiwa-peristiwa awalnya dibangun melalui narasi yang lambat? Jadi, apa yang dilakukan Eka sesungguhnya sudah sangat lazim dilakukan para novelis besar.</p>
<div style="text-align:center">***</div>
<p><span class="dropcaps">S</span>ecara tematik, <em>Lelaki Harimau</em> tidaklah mengusung tema besar, pemikiran filsafat, atau fakta historis. Ia berkisah tentang kehidupan masyarakat di sebuah desa kecil. Dalam komunitas itu, hubungan antarsesama, interaksi antarwarga, bisa begitu akrab, bahkan sangat akrab, hingga terjadi perselingkuhan. Margio yang tahu ibunya berselingkuh dengan Anwar Sadat, meminta agar lelaki itu mengawini ibunya. &#8220;Kawinlah dengan ibuku, ia akan bahagia.&#8221; (hlm. 192). Anwar Sadat tentu saja menolak, karena ia sesungguhnya tidak mencintai perempuan selingkuhannya itu. Saat itulah, harimau di tubuh Margio keluar, &#8220;Putih serupa angsa&#8221; menggigit leher Anwar Sadat hingga putus. Peristiwa pembunuhan inilah yang menjadi titik berangkat dan sekaligus titik akhir novel ini.</p>
<p>Perhatikan kalimat pertama yang mengawali kisahan novel ini. &#8220;Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana.&#8221; (hlm.1). Peristiwa apa yang melatarbelakangi pembunuhan itu dan bagaimana duduk perkaranya? Jawabannya terungkap justru pada bagian akhir novel ini. Jadi, peristiwa di bagian awal, sebenarnya kelanjutan dari peristiwa yang terjadi di bagian akhir saat Margio meminta Anwar Sadat untuk mengawini ibunya (hlm. 192).</p>
<p>Itulah salah satu keunikan novel ini. Dan Eka melanjutkan kalimat pertama itu tidak pada peristiwa pembunuhan yang dilakukan Margio, tetapi pada diri tokoh Kyai Jahro. Mulailah ia berkisah tentang kyai itu. Lalu, dari sana muncul pula tokoh Mayor Sadrah. Ia pun bercerita tentang tokoh itu. Begitulah, pencerita seperti sengaja tidak membiarkan dirinya berdiri terpaku pada satu titik. Ia menyoroti satu tokoh dan kemudian secara perlahan beralih ke tokoh lain. Di antara rangkaian peristiwa yang dibangun dan dihidupkan oleh setiap tokohnya, menyelusup pula mitos tentang manusia harimau, potret bersahaja masyarakat pinggiran, dan keakraban kehidupan mereka. Sebuah pesona yang disampaikan lewat narasi yang rancak yang seperti menyihir pembaca untuk terus mengikuti kelak-kelok peristiwa yang dihadirkannya.</p>
<p>Dalam hal itu, kedudukan pencerita seperti sebuah kamera yang terus bergerak merayap dari satu tokoh ke tokoh lain, dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Akibatnya, peristiwa yang dihadirkan di awal: Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, … seperti timbul-tenggelam mengikuti pergerakan tokoh-tokohnya. Seperti seseorang yang masuk sebuah lorong berbentuk spiral. Ia terus menggelinding perlahan mengikuti ke mana pun arah lorong itu menuju. Dan ketika muncul di permukaan, ia sadar bahwa ternyata ia masih berada di tempat semula; di seputar ketika ia mulai masuk lorong itu. </p>
<div style="text-align:center">***</div>
<p><span class="dropcaps">D</span>alam konteks perjalanan novel Indonesia, pola alur seperti itu pernah digunakan Achdiat Karta Mihardja dalam <em>Atheis</em> (1949), meski dihadirkan untuk membingkai biografi tokoh Hasan. Putu Wijaya dalam <em>Stasiun</em> membangunnya untuk mengeksplorasi pikiran-pikiran si tokoh. Tetapi, dalam <em>Dag-Dig-Dug</em>, Putu Wijaya menggunakannya agak lain. Akhir cerita yang seperti mengulangi kembali peristiwa awal, dirangkaikan lewat dialog-dialog antartokoh mengingat karya itu berupa naskah drama. Iwan Simatupang dalam Kering dan Kooong, menutup peristiwa akhir dengan mengembalikan kesadaran si tokoh sebagai akibat yang terjadi pada peristiwa awal. Tampak di sini, bahwa pola spiral sesungguhnya bukanlah hal yang baru sama sekali.</p>
<p>Meski begitu, <em>Lelaki Harimau</em>, dilihat dari sudut itu, tetap saja menghadirkan kekhasannya sendiri. Selain pola alur yang demikian, Eka menggunakan kalimat-kalimat itu sebagai pintu masuk menghadirkan rangkaian peristiwa. Dengan demikian kalimat tidak hanya bertindak sebagai fondasi bagi pencerita untuk membangun peristiwa, juga sebagai pilar penyangga bagi peralihan peristiwa satu ke peristiwa lain melalui pergantian fokus cerita (<em>focus of narration</em>) dari tokoh yang satu ke tokoh yang lain. Dalam hal ini, Lelaki Harimau telah menunjukkan keunikannya sendiri.</p>
<p>Hal lain yang juga ditampilkan Eka dalam novel ini menyangkut cara bertuturnya yang agak janggal, tetapi benar secara semantis. Ia banyak menghadirkan metafora yang terasa agak aneh, tetapi tidak menyalahi makna semantisnya. Kadangkala muncul di sana-sini pola kalimat yang mengingatkan kita pada style penulis Melayu Tionghoa. Di bagian lain, berhamburan pula analogi atau idiom yang tak lazim, tetapi justru terasa segar sebagai sebuah usaha melakukan eksplorasi bahasa. Dalam hal ini, bahasa Indonesia dalam novel ini jadi terasa sangat kaya dengan ungkapan, idiom, metafora, dan analogy.</p>
<div style="text-align:center">***</div>
<p><span class="dropcaps">D</span>alam beberapa hal, <em>Lelaki Harimau</em> harus diakui, berhasil memperlihatkan sejumlah capaian. Ia menjelma tak sekadar mengandalkan imajinasi, tetapi juga bertumpu lewat proses berpikir dan tindak eksploratif kalimat dengan berbagai kemungkinannya. Maka, peristiwa perselingkuhan Nuraeni-Anwar Sadat pun, terasa sebagai kisah yang eksotis (hlm. 133-142); prosesi penguburan Komar bin Syueb, ayah Margio (hlm. 168-171), menjadi kisah yang di sana-sini menghadirkan kelucuan. Eka seperti sengaja memporakporandakan struktur kalimat yang klise, dan sekaligus menyodorkan pola yang terasa lebih segar, agak janggal dan terkadang lucu. Lelaki Harimau, tak pelak lagi, tampil sebagai novel dengan kategori: cerdas!</p>
<div class="footnote">Tulisan ini pernah dimuat di <em><a href="http://suarapembaruan.com">Suara Pembaruan</a></em>, 14/11/2004.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/capaian-eksperimentasi-novel-lelaki-harimau-43.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/merayakan-kembali-kekuatan-dongeng-46.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/merayakan-kembali-kekuatan-dongeng-46.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2000 23:09:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kurniawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Kurniawan</strong></div>

Kekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku <em>Corat-coret di Toilet</em> ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Kurniawan, detik.com</strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/gs40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya">Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/gelak-sedih">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792213481/Gelak-Sedih-dan-Cerita-Cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p><span class="dropcaps">K</span>ekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku <em>Corat-coret di Toilet</em> ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.</p>
<p>Misalnya, dalam &#8220;Kisah dari Seorang Kawan&#8221; yang berbentuk cerita berbingkai. Bingkainya adalah kisah percakapan beberapa aktivis mahasiswa tentang orangtua masing-masing. Inti cerpen ini adalah kisah seorang mahasiswa tentang ayahnya yang pedagang beras kecil tapi dipenjara karena membunuh seorang pedagang besar yang berhasil menguasai pasar beras dan merebut pelanggan-pelanggan para pedagang kecil itu.<br />
<span id="more-46"></span><br />
Sebenarnya, inti cerita ini cukup kuat dan bermakna. Tapi, bingkai utama cerita jadi kehilangan kekuatan dan terkesan hanya mendramatisir &#8220;kemiskinan&#8221; dan &#8220;orang-orang kalah&#8221; yang menjadi tema utamanya.</p>
<p>Pemborosan kalimat -kalau boleh diistilahkan begitu- muncul pula dalam &#8220;Corat-coret di Toilet&#8221;. Disini banyak peristiwa pencoretan dinding toilet oleh beragam orang jadi perulangan adegan yang semestinya bisa dipadatkan sehingga bisa menyeruakkan tema utamanya.</p>
<p>Secara umum, cerpen Eka ini merayakan kembali kekuatan dongeng. Bahkan, beberapa cerpennya &#8220;meminjam&#8221; dongeng-dongeng yang sudah familiar. Perhatikan kemiripan gagasan antara &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221; dengan Kisah 1001 Malam, juga &#8220;Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam&#8221; yang mirip Cinderella.</p>
<p>Meminjam istilah yang sering muncul dalam cerpen-cerpennya, Eka nampaknya tengah mencoba jadi &#8220;subversif&#8221;. Teks atau dongeng yang ada dilawan dengan teks baru yang merupakan versi lain dari tafsirnya. Bagaimana sosok Peter Pan disubversikan dalam cerpen Peter Pan menjadi sosok mahasiswa yang &#8220;tak mau tua&#8221;, seorang mahasiswa abadi dan aktivis yang tak putus asa meski akhirnya jadi korban penculikan. Namun, apa yang dilakukannya nampak belum cukup subversif sehingga bisa menggetar pembaca.</p>
<p>Cerpen-cerpen disini pernah dimuat di <em>Hai</em>, <em>Bernas</em>, <em>Media Indonesia</em>, <em>Terang</em>, dan <em>Terompet Rakyat</em>. Buku ini adalah buku kedua Eka, setelah bukunya yang laris di pasar, <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> (Aksara Indonesia, 1999).</p>
<div class="footnote">Tulisan ini pernah diterbitkan di <a href="http://detik.com">detik.com</a>, 25 Agustus 2000.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/merayakan-kembali-kekuatan-dongeng-46.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

