10 Tahun “Corat-coret di Toilet”
Saya pernah menulis cerita pendek sebelumnya, tapi jika ada yang bertanya cerita pendek saya yang pertama, saya akan menunjuk cerpen berjudul “Hikayat Si Orang Gila”. Kenapa? Sebab itulah cerpen pertama yang saya tulis ketika saya benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Pada satu hari, saya pikir tahun 1997, saya membaca novel Knut Hamsun berjudul [...]
“The Otter Amulet”
Cerpen saya, “Jimat Sero” (dari buku Kumpulan Budak Setan, Gramedia, 2010) diterjemahkan oleh Benedict R. O’G. Anderson menjadi “The Otter Amulet”. Terjemahan tersebut bisa dibaca di Journal Indonesia, Cornell University, edisi April 2010, Volume 89. Ini terjemahan kedua cerpen saya di jurnal tersebut, setelah “Corat-coret di Toilet” (“Graffiti in the Toilet”, Indonesia edisi Oktober 2008, Volume 86), juga diterjemahkan oleh Benedict R. O’G. Anderson.
Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’
Some of Eka’s readers find many of his writings distinctly morbid, even perverse, in their fascination with murder, violent sex, monsters, the supernatural, and Indonesia’s heart-breaking modern history. They are not mistaken in so feeling. But the judgment misses three things: the sheer, queer elegance of his Indonesian prose, which at its best is superior even to Pramoedya’s; his black sense of humor, quite close to Pram’s as well as Twain’s; and his gift for parody and ear for how his fellow- Indonesians (of different groups and generations) speak.
Eka Kurniawan: An Unconventional Writer
He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.
Dari Sampul Buku Binhad Hingga Blog Djenar
Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar browsing sampai membongkar kode PHP). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran — tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.
Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh
Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen Caronang, Kasih Tak Sampai, Kutukan Dapur mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.
