<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Cinta Tak Ada Mati</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/cinta-tak-ada-mati/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Cinta (Tak) Ada Mati</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-2535.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-2535.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 04:37:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Handewi Soegiharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-2535.php</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>Oleh</em> <strong>Handewi Soegiharto, <a href="http://tulisansederhana.blogspot.com/2007/04/cinta-tak-ada-mati.html">Tulisan Sederhana</a></strong></div>

Kembali saya mengulas soal judul di atas. Semata-mata karena saya sangat mengagumi pilihan kata dari teman saya, Eka Kurniawan yang suka menyulap kata-kata Indonesia sehari-hari menjadi bahasa yang maha dahsyat. Judul bukunya adalah Cinta Tak Ada Mati, berkisah tentang seorang lelaki yang sedemikian mencintai seorang perempuan, namun tak sampai akibat pernikahan sang perempuan dengan lelaki lain. Bahkan sampai akhir hayat si perempuan, si lelaki rela mencium bibir suami perempuan tersebut hanya untuk mencari sisa-sisa bibir perempuan yang ia cintai di bibir si suami.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>Oleh</em> <strong>Handewi Soegiharto, <a href="http://tulisansederhana.blogspot.com/2007/04/cinta-tak-ada-mati.html">Tulisan Sederhana</a></strong></div>
<div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ctam40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya">Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/cinta-tak-ada-mati">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792212574/Cinta-Tak-Ada-Mati-dan-Cerita-cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div>
<p>Kembali saya mengulas soal judul di atas. Semata-mata karena saya sangat mengagumi pilihan kata dari teman saya, Eka Kurniawan yang suka menyulap kata-kata Indonesia sehari-hari menjadi bahasa yang maha dahsyat. Judul bukunya adalah Cinta Tak Ada Mati, berkisah tentang seorang lelaki yang sedemikian mencintai seorang perempuan, namun tak sampai akibat pernikahan sang perempuan dengan lelaki lain. Bahkan sampai akhir hayat si perempuan, si lelaki rela mencium bibir suami perempuan tersebut hanya untuk mencari sisa-sisa bibir perempuan yang ia cintai di bibir si suami.</p>
<p>Mski saya sempat memprotes logika yang dipakai oleh Eka saat bertemu di sebuah kedai buku di bilangan Pondok Indah kira-kira setahun yang lalu, dalam hati saya sangat mengagumi pilihan bahasanya yang sekali lagi, maha dahsyat. Menurut saya, tidak ada seorang pun yang dapat merasakan Cinta Tak Ada Mati. Menurut saya seharusnya dipakai symbol kurung untuk kata &ldquo;Tak&rdquo;, menjadi Cinta (Tak) Ada Mati. Jadi hanya sebentar saja orang bisa merasakan cinta yang tiada mati, namun seringkali cinta tersebut mati juga bahkan saat cinta itu masih berada di samping kita. Eka hanya tertawa mendengar komentar saya.&nbsp;<span id="more-2535"></span></p>
<p>Sudah lama saya tidak bertemu Eka. Apalagi setelah beredarnya film Koper-nya Richard Oh, di mana saya dan dia berkolaborasi selama hampir 3 bulan untuk membenahi kalimat-kalimat Richard Oh, sang Filmmaker Wannabe. Eka bak hilang ditelan bumi atau lebih tepatnya saya yang hilang ditelan bumi karena kesibukan pekerjaan dan perjalanan selama setahun terakhir. Namun, kedahsyatan judulnya masih tetap terngiang di telinga saya. Bukan karena pada akhirnya saya pernah merasakan Cinta Tak Ada Mati, tetapi lebih karena keinginan saya untuk tetap mengartikan dan memainkan judul tersebut.</p>
<p>Cinta Tak Ada Mati, bisa dibuat menjadi Cinta Tak Ada, (maka) Mati. Atau Cinta, (kalau) Tak Ada (maka) Mati yang berarti tidak ada cinta berarti mati. Kalau saya bicara dengan beberapa teman yang pesimis karena selalu gagal dalam percintaan, maka mereka akan balik bertanya, Cinta itu Apa Sih? Jadi saya merasa tidak perlu mendiskusikan hal itu dengan para apatists. Karena untuk mengolah dan memberi makna pada kalimat di atas akan tidak ada juntrungannya.</p>
<p>Lain lagi dengan pasangan yang sudah bertahun-tahun bersama dan cenderung terlihat biasa-biasa saja. Mereka selalu mengkonfirmasikan dan berusaha meyakinkan saya bahwa keadaan &ldquo;biasa-biasa&rdquo; tersebut adalah cinta. Seorang teman yang sudah menikah sepuluh tahun mengatakan bahwa dia dan suaminya sudah saling cinta sehingga tidak harus mengekpresikannya seperti pertama kali berpacaran. Cinta tidak harus diekspresikan lewat sentuhan atau panggilan-panggilan manis kepada satu sama lain Setahun setelah dia bercerita seperti itu, mereka bercerai karena dua-duanya selingkuh. Alasannya sama dengan arti cinta bagi mereka, &ldquo;biasa-biasa&rdquo; saja karena sudah cinta, tapi selingkuh karena hubungan mereka sudah &ldquo;biasa-biasa&rdquo; saja juga sehingga mencari yang luar biasa di luar rumah. Maunya apa, sih?</p>
<p>Ada lagi beberapa teman yang selalu merasa jatuh cinta padahal baru bertemu satu menit. Seorang teman perempuan yang berprofesi sebagai pengacara mengatakan bahwa pengacara adalah orang yang pintar membalik-balikkan kata, tetapi saat jatuh cinta, dia bisa membuktikannya hanya dalam satu detik. Beberapa minggu setelah itu, ia patah hati. Ternyata bukan cinta, katanya.</p>
<p>Buat saya sendiri justru cerita tentang Cinta itu sendiri yang tak ada mati. Entah mengapa orang masih tetap suka membaca, menonton ataupun mendengar cerita cinta. Semua gosip baik di kantor ataupun di rumah, arisan, perkumpulan apapun pasti akan lebih seru kalau ada isyu drama percintaan. Paling tidak, mereka pikir kisahnya adalah percintaan, seringkali hanya karena dunia perisengan.</p>
<p>Jadi, sebenarnya, cerita cinta itu sendiri yang tiada mati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-2535.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beli Buku Kami di Gramedia Online</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 10:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Larutan Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/kios-kecil-di-tokopedia-2156.php</guid>
		<description><![CDATA[Buat teman-teman yang kesulitan memperoleh buku saya (dan Ratih Kumala), sekarang bisa langsung membeli dari GramediaShop di sini untuk buku-buku saya, dan di sini untuk buku-buku Ratih Kumala.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat teman-teman yang kesulitan memperoleh buku saya (dan <a href="http://ratihkumala.com" title="Ratih Kumala's Little Blog">Ratih Kumala</a>), sekarang bisa langsung membeli dari <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Eka_Kurniawan">GramediaShop</a> <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Eka_Kurniawan">di sini untuk buku-buku saya</a>, dan <a href="http://www.gramediashop.com/book/author/Ratih_Kumala">di sini untuk buku-buku Ratih Kumala</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/beli-buku-kami-di-gramedia-online-2156.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencuri dari Penulis Lain</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 11:23:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1486</guid>
		<description><![CDATA[Tapi tentu saja penulis yang keren adalah penulis yang berhasil mencuri sesuatu dari karya lain, tanpa seorang pun mengetahuinya bahwa itu curian! Dalam hal ini tampaknya saya belum mencapai hal seperti itu: pencurian saya terlalu gamblang, dan bahkan sangat gamblang saya perlihatkan. Ya, seperti Zorro, kadang-kadang ada penulis seperti saya yang ingin meninggalkan jejak "Z", seolah ingin mengatakan keras-keras: saya mencuri, lho!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Mediocre Writers Borrow; Great Writers Steal&#8221; &#8211; T.S. Eliot</p></blockquote>
<p>Mengacu pada kutipan T.S. Eliot di atas, saya pikir, saya masih jauh dari &#8220;great writer&#8221;, dan mungkin lebih tepat sebagai &#8220;mediocre writer&#8221;. Meskipun begitu, saya suka mencoba mencuri sesuatu dari penulis lain, untuk tulisan saya sendiri. Saya tidak tahu apakah usaha pencurian saya berhasil atau tidak, atau hanya sekadar &#8220;meminjam&#8221; sebagaimana penulis-penulis medioker: saya ingin berbagi bagaimana saya mencuri.</p>
<p>Pertama-tama, saya percaya sebagian besar penulis belajar dari penulis lain. Mereka membaca, dan mereka memuntahkannya kembali dalam bentuk tulisan lain. Apa dan bagaimana mereka mencurinya dari bacaan, mungkin itulah yang berbeda dari satu penulis dengan penulis lain.</p>
<p><span id="more-1486"></span></p>
<p>Saya ingin memulainya dari cerpen saya yang berjudul &#8220;Pengakuan Seorang Pemadat Indis.&#8221; Siapa pun pasti bisa melacak asal-usul cerpen tersebut berasal dari buku <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Confessions_of_an_English_Opium-Eater"><em>Confessions of an English Opium-Eater&#8221;</a></em> (1821) karya Thomas de Quincey. Baiklah, sebelum membaca buku tersebut, saya pernah membaca satu tulisan di majalah Granta (edisi 74, 2001) berjudul &#8220;Confessions of a Middle-Aged Ecstasy Eater&#8221;.</p>
<p>Artikel di Granta, ditulis dengan gaya memoar seorang pemadat ekstasi. Gayanya modern, tapi tentu terpengaruh gaya Quincey satu abad sebelumnya. Gara-gara baca artikel itu, saya akhirnya membaca buku Quincey tersebut, yang menceritakan tentang seorang pemadat Inggris abad 19. Sampai sejauh itu, saya belum terpikir untuk menulis cerpen, sampai saya membaca buku &#8220;Opium to Java&#8221;, sebuah buku sejarah mengenai perdagangan dan penggunaan opium di Jawa abad 19 karya James R. Rush.</p>
<p>Begitulah, tiba-tiba saya terpikir untuk menulis tentang pemadat Indis, abad 19, dengan gaya memoar serupa yang dilakukan Quincey. Tapi di sinilah kemudian saya mencoba membuat eksplorasi: meskipun sama-sama bersetting abad 19, Jawa tentu berbeda dengan Inggris. Saya mencoba membayangkan gaya bahasa seperti apa yang akan dilakukan pemadat Indis, juga ejaannya. Tentu saja untuk hal itu saya harus &#8220;mencuri&#8221;nya dari roman-roman yang terbit juga di abad 19.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah memoar pemadat Indis saya berhasil atau tidak. Gaya bahasa dan ejaannya, benar-benar pekerjaan nekat. Begitu juga mungkin referensi seejarahnya. Tapi sebagai penulis, kadang-kadang saya merasa memang perlu untuk nekat. Begitulah latar &#8220;Pengakuan Seorang Pemadat Indis&#8221; (bisa dibaca di buku <em>Cinta Tak Ada Mati</em>, Gramedia, 2005).</p>
<p>Baiklah, cerpen kedua yang akan saya bocorkan adalah &#8220;Cinta Tak Ada Mati&#8221;. Jika ada yang pernah membaca novel &#8220;Love in the Time of Cholera&#8221;, pasti akan melihat kesamaan tema cerpen saya dengan novel tersebut. Saya tak akan menyangkalnya: memang saya ambil dari novel itu. Jika novel Marquez tersebut menekankan mengenai &#8220;cinta yang abadi menunggu&#8221;, saya mencoba memodifikasinya sedikit: &#8220;cinta yang abadi menunggu, dan penolakan yang tak ada henti&#8221;.</p>
<p>Di novel &#8220;Love in the Time of Cholera&#8221;, Florentino Ariza harus menunggu sampai tua untuk memperoleh cinta Fermina Daza. Di akhir cerita, mereka akhirnya dipersatukan oleh cinta. Di cerpen saya, Mardio menunggu cinta Melatie, dan terus ditolak. Bahkan tetap ditolak sampai Melatie meninggal. &#8220;Kekuatan cinta&#8221; di novel Marquez diperlihatkan melalui penantian Florentino Ariza. Saya mencoba mengubahnya, dengan memperlihatkan &#8220;kekuatan cinta&#8221; itu justru terlihat ketika Mardio masih mencintai Melatie, meskipun Melatie sudah meninggal.</p>
<p>Tentu saja, cerita yang terentang dari masa mereka kecil hingga masa tua ini membutuhkan kerja keras. Saya harus memberikan setting yang berubah-ubah, dari masa pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, hingga masa 50 tahun kemudian, lengkap dengan film apa yang mereka tonton dan sebagainya. Dari sini saya memperoleh pelajaran ringan: menjadi pencuri pun tetap harus kerja keras, karena setting dan motif cerita pasti berbeda. Dan dengan cara itulah, kita menghasilkan karya yang berbeda dari karya yang awalnya kita coba mencurinya.</p>
<p>Bisa disimpulkan bahwa saya mencuri bagian tertentu dari karya-karya penulis lain, mencampurnya dengan hasil curian dari karya lain, memodifikasinya, serta menambah ornamen, elemen di bagian lainnya.</p>
<p>Saya ingin membuat perbandingan dengan karya yang (mudah-mudahan) dikenal banyak orang: Romeo dan Juliet. Jika saya hendak mencuri dari karya tersebut, saya akan memodifikasi bagian intinya, karena itu yang paling dikenal orang, sehingga kalau tidak dimodifikasi, maka akan menjadi tiruan yang tak mengasyikan. Apa inti dari kisah Romeo dan Juliet? Saya menyebutnya: &#8220;cinta yang terlarang&#8221;? Kenapa cinta mereka terlarang? Karena mereka berasal dari dua keluarga yang bermusuhan.</p>
<p>Saya membayangkan jika saya mencuri struktur Romeo dan Juliet, hal utama yang akan saya modifikasi adalah: &#8220;cinta terlarang&#8221;. Dengan apa? Bagaimana dengan &#8220;bisnis terlarang&#8221;? &#8220;perjalanan terlarang&#8221;? &#8220;mimpi terlarang&#8221;? Begitulah, menjadi pencuri pun, dalam kesusastraan, diperlukan untuk tetap bersikap kreatif. Menjadi pencuri, pada dasarnya melakukan pekerjaan kritik terhadap karya yang kita curi.</p>
<p>Sebagian besar cerpen saya di dua kumpulan (<em>Gelak Sedih</em> dan <em>Cinta Tak Ada Mati</em>) merupakan proyek pencurian saya atas karya-karya lain. Saya tak akan menceritakan semua proses cerita tersebut satu per satu (sila baca, dan sila coba cari jejak-jejaknya ke karya-karya lain), tapi saya akan menutup tulisan pendek ini dengan satu kasus lain: &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221;.</p>
<p>Cerpen itu berkisah mengenai seorang perempuan yang mengulur-ulur waktu percintaan pertama dengan suaminya di malam pertama, dengan cara mendongeng. Ya, Anda dengan mudah bisa menebak dari mana asal-usul cerita tersebut: Syahrazad dan Hikayat Seribu Satu Malam. Bagaimana saya mencoba menjadikannya sebagai karya yang berbeda? Ah, itu juga gampang untuk menemukannya, bukan?</p>
<p>Tapi tentu saja penulis yang keren adalah penulis yang berhasil mencuri sesuatu dari karya lain, tanpa seorang pun mengetahuinya bahwa itu curian! Dalam hal ini tampaknya saya belum mencapai hal seperti itu: pencurian saya terlalu gamblang, dan bahkan sangat gamblang saya perlihatkan. Ya, seperti Zorro, kadang-kadang ada penulis seperti saya yang ingin meninggalkan jejak &#8220;Z&#8221;, seolah ingin mengatakan keras-keras: saya mencuri, lho!</p>
<p>Dan seperti Zorro, semoga hasil mencuri kita tidak sia-sia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gratis 2 Buku &#8220;Cinta Tak Ada Mati&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/gratis-2-buku-cinta-tak-ada-mati-1438.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/gratis-2-buku-cinta-tak-ada-mati-1438.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 17:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Giveaway]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/gratis-2-buku-cinta-tak-ada-mati-1438.php</guid>
		<description><![CDATA[Maaf nih, karena sibuk nulis, jadi jarang ngeblog. Sebagai gantinya saya mau kasih oleh-oleh berupa buku kumpulan cerpen "<a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya"  alt="">Cinta Tak Ada Mati</a>" untuk dua orang pengunjung blog ini yang menjawab pertanyaan berikut: <strong>"Kenapa kamu suka membaca?"</strong> Pemenang tidak akan diundi, tapi akan saya pilih sendiri yang asyik buat saya. Sila jawab di bagian komentar. Komentar akan ditutup 21 Maret 2010. NB. <em>Berlaku hanya untuk yang memiliki alamat pengiriman pos di Indonesia</em> :-)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf nih, karena sibuk nulis, jadi jarang ngeblog. Sebagai gantinya saya mau kasih oleh-oleh berupa buku kumpulan cerpen &#8220;<a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya"  alt="">Cinta Tak Ada Mati</a>&#8221; untuk dua orang pengunjung blog ini yang menjawab pertanyaan berikut: <strong>&#8220;Kenapa kamu suka membaca?&#8221;</strong> Pemenang tidak akan diundi, tapi akan saya pilih sendiri yang asyik buat saya. Sila jawab di bagian komentar. Komentar akan ditutup 21 Maret 2010. NB. <em>Berlaku hanya untuk yang memiliki alamat pengiriman pos di Indonesia</em> :-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/gratis-2-buku-cinta-tak-ada-mati-1438.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Surau&#8221; Disadur Menjadi &#8220;Meunasah&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/surau-disadur-menjadi-meunasah-882.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/surau-disadur-menjadi-meunasah-882.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 11:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=882</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen saya, &#8220;Surau&#8221; (dari buku Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya) disadur ke dalam pementasan Teater Nol oleh sutradara Jefry TS dan dipentaskan di Universitas Syiah Kuala, Aceh. Saduran ini diberi judul &#8220;Meunasah&#8221;, yang berarti &#8220;surau&#8221; dalam Bahasa Aceh. Baca ulasannya di aamovi.wordpress.com.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen saya, &#8220;Surau&#8221; (dari buku <em><a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya">Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya</a></em>) disadur ke dalam pementasan Teater Nol oleh sutradara Jefry TS dan dipentaskan di Universitas Syiah Kuala, Aceh. Saduran ini diberi judul &#8220;Meunasah&#8221;, yang berarti &#8220;surau&#8221; dalam Bahasa Aceh. Baca ulasannya di <a href="http://aamovi.wordpress.com/2009/02/15/yang-ditinggalkan/">aamovi.wordpress.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/surau-disadur-menjadi-meunasah-882.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google Books</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 06:24:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di Google Books. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang Google dan Gramedia, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: Lelaki Harimau, Gelak Sedih. Judul yang lain semoga nyusul. Update (19 Juli): Buku saya yang lain di Google Book: Cinta Tak Ada Mati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di <a href="http://books.google.com">Google Books</a>. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang <a href="http://google.com">Google</a> dan <a href="http://gramedia.com">Gramedia</a>, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: <a href="http://books.google.com/books?id=SyVYnFwHoGsC&amp;printsec=frontcover#PPP1,M1">Lelaki Harimau</a>, <a href="http://books.google.com/books?id=x-bqTY4ZZ6MC&amp;printsec=frontcover">Gelak Sedih</a>. Judul yang lain semoga nyusul. <strong>Update (19 Juli)</strong>: Buku saya yang lain di Google Book: <a href="http://books.google.com/books?id=gvbwAcsWF3IC&#038;printsec=frontcover&#038;dq=eka+kurniawan">Cinta Tak Ada Mati</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/google-books-220.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 06:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Roslan Jomel, <a href="http://roslanjomel.blogspot.com/2007/12/kembali-kepada-realisme-yang-lebih.html">roslanjomel.blogspot.com</a></strong></div>

Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen <strong>Caronang</strong>, <strong>Kasih Tak Sampai</strong>, <strong>Kutukan Dapur</strong> mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Roslan Jomel, <a href="http://roslanjomel.blogspot.com/2007/12/kembali-kepada-realisme-yang-lebih.html">roslanjomel.blogspot.com</a></strong></div>
<p>Salam Hormat.<br />
Kebetulan sahaja, saya mula jatuh cinta kepada gaya penulisan Eka Kurniawan. Makanya, saya ingin sahaja tahu perkembangan terkininya dengan menembusi jaringan maya. Bagaimana saya boleh terserempak dengan laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a>, pun juga suatu kebetulan. Tetapi, alam ini sebegitu cantik dan berseni, bukan diciptakan secara kebetulan. Tuhan telah mengatur dengan secanggih-canggihnya kehidupan di atas muka bumi buat manusia (yang berfikir). Tidak seperti yang disangka oleh saintis barat. Dunia ini bukan bola kimia yang terapung. Maka itu, mimpi pun terasa indah.<br />
<span id="more-14"></span><br />
Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen <strong>Caronang</strong>, <strong>Kasih Tak Sampai</strong>, <strong>Kutukan Dapur</strong> mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti. Seno Gumira, penulis terkemuka Indonesia telah mengandaikan bahawa masa depan sastera Indonesia terletak atas nama Eka Kurniawan. Menurut Maman S Mahayana dalam buku <em>Bermain Dengan Cerpen</em>, (diubah mengikut bahasa saya sendiri) penulisan Eka Kurniawan membawa bersama-sama gaya istimewa yang khas dan sentiasa sahaja karya-karyanya memukau. Oleh kerana belum tertemui buku-buku yang memuatkan karya Eka Kurniawan di Malaysia (Novel -<em>Lelaki Harimau</em>, <em>Cantik Itu Luka</em>. Antologi Cerpen &#8211; <em>Corat-coret Di Toilet</em>, <em>Cinta Tak Ada Mati</em>, <em>Gelak Sedih</em>) maka saya akan mengklik laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a> pada setiap hari minggu. Penantian saya bukan semata-mata kepada cerpen Eka Kurniawan, malah, saya jatuh cinta kepada cerpen-cerpen Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat, Hamsad Rangkuti juga Pak Budi Darma.</p>
<p>Bahawa gaya realisme magis yang menjadi <em>trade mark</em> (dengan izin) kepada setiap prosa Eka Kurniawan akan berkekalan, sebelum itu juga, saya sudah sedia maklum akan pengaruh Gabriel Garcia Marquez terhadap dirinya. Tetapi silap. Dunia telah berputar terlalu cepat, fenomena bencana alam yang ganjil dan manusia-manusianya sudah terlalu lama menderita oleh siri peperangan. Gaya yang absurd dileburkan oleh kehidupan semasa. Penulis-penulis besar antarabangsa kini kembali menjadi realis (lihat sahaja pada antologi cerpen <em>Orang-Orang Bloomington</em> tulisan Pak Budi Darma), atau mungkin, Mario Vhargas Llhosa yang menjadi maestronya ketika ini. Sosiobudaya yang penuh dengan permasalahannya kini, ya, kepura-puraan politik, agamawan yang tersesat, kebejatan yang lain-lainya, mungkin sahaja, mendorong dunia kontemporari ini sudah tidak peduli lagi dengan gaya satira atau mengampu-ampu pihak tertentu? Alam ini meminta karyawan seninya kembali kepada diri sendiri, mengasah mata penanya setajam dan sejujurnya demi tuntutan realiti teks sastera. Tidak terkecuali karya terbaharu Eka Kurniawan yang kebetulan saya temui di laman sriti.com. Terima kasih banyak-banyak pengelola laman <a href="http://sriti.com">sriti.com</a>! Saya di Malaysia, berasa terhutang budi kepada pihak saudara di seberang sana. </p>
<p>Cerpen-cerpen <strong>Gincu ini Merah, Sayang</strong>, <strong>Sakit</strong>, <strong>Penafsir Kebahagiaan</strong>, <strong>Gerimis Yang Sederhana</strong> (terbaharu, terbit di <em><a href="http://kompas.com">Kompas</a></em><a href="http://kompas.com"></a>) telah menarik pergelangan tangan saya kepada gerak-geri kehidupan manusia-manusia modennya. Rupa-rupanya ada kawan-kawan di sebelah kita dengan secebis kisah hariannya, menuntut bakat dakwat pena penulis untuk dirakam sejujurnya akan pengalaman mereka, untuk dijadikan cerpen atau pun puisi. Tak kira siapa pun mereka. Pengawal Keselamatan, kerani di kilang plastik, jurujual di pasaraya bahagian pakaian perempuan, penganggur mahu pun tukang bersih di pejabat kerajaan. Bukankah mereka ini memiliki kisah-kisah yang menarik, dan terlupa diperdalami kehidupan harian mereka? Bukankah mereka ini yang kerap ditemui setiap hari pada pandangan mata penulis? Untuk itu, saya teringat kembali puisi-puisi Allahyarham T Alias Taib. </p>
<p>Timbul persoalan di sini, mengapa kita terlalu beria-ia menulis sesuatu tema yang besar-besar sahaja kepada pembacanya? Lihat sahaja filem-filem dari Iran yang memaparkan kisah yang sebegitu mudah tetapi amat menyentuh jiwa penonton-penontonnya, berbanding filem-filem fantasi futuristik ciptaan Hollywood tetapi kosong jiwanya. Pada setiap kali penulis memindah pergolakan dunia antarabangsa yang tidak terjangkau oleh manusia biasa, penulis terlupa untuk merenung persekitaran tempatan dengan manusia-manusia kecilnya di celahan kotaraya. Kadang-kadang karya itu dipenuhi fakta-fakta dan maklumat-maklumat, hinggakan apabila membacanya, pembaca bertanya &#8211; &#8220;apa ini bukan karya sastera atau karya sastera ini terkorban kesan artistiknya?&#8221;. Itu khayalan saya sahaja. Apakah yang dimahukan oleh teks-teks sedemikian jikalau bukan menayangkan bayang-bayang akademiknya, supaya pembaca terasa akan kecanggihan teks karyanya? Pun itu khayalan saya sahaja. Maka maafkan saya jika bertanya sebodoh itu.</p>
<p>Cerpen-cerpen terbaharu oleh Eka Kurniawan, barangkali sahaja dikutip dari pemerhatian pekanya terhadap keadaan manusia-manusia sekeliling, makanya, cerpen-cerpen itu kedengarannya mudah, remeh-temeh dan lurus kerana kenaifan watak-wataknya. Mengenangkan itu, katakan sahaja teks-teks cerpen itu bernada lucu. Ya, memang terasa kelucuannya. Apatah lagi setelah saya selesai membaca <strong>Penafsir Kebahagiaan</strong> (yang berlatarkan bumi Amerika Syarikat)yang berakhir dengan penyesalan yang memedihkan hati dua orang anak beranak itu. Cuba kesani kekalutan emosi di bawah ini, yang saya petik pada penghujung cerpen itu,</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku tidak tahu apakah harus memanggilnya anak atau cucu,&#8221; gumam Markum, masih agak kesal.</p>
<p>&#8220;Aku tak keberatan menganggapnya adik,&#8221; kata Jimi.</p></blockquote>
<p>Setelah baris demi baris dibaca, kisah yang membawa dua beranak itu datang ke bumi Amerika Syarikat, bayi yang dikandung oleh perempuan bernama Lucy atau pun Siti itu, siapakah bapanya, siapa yang akan bertanggungjawab, tetapi, begitulah detik itu dibiarkan terapung oleh Eka Kurniawan. Tiada kesudahan yang menggembirakan. Sebagai pembaca, saya amat merasa tertekan, kerana, peristiwa sebegitu, mungkinkah benar-benar berlaku? Itulah magisnya cerpen dan penulisnya sudah tentu merencanakan penyelesaiannya setragis sedemikian. Dan jikalau cerpen <strong>Gincu ini Merah, Sayang</strong> atau <strong>Gerimis Yang Sederhana</strong> dibaca, mahu tidak mahu, pembaca akan mengigit bibir bawahnya, tanda tersentuh? Kehidupan ini mudah benar kelihatan seperti teka-teki, dan seniman yang prihatin akan menggantungkan kanvas kehidupan, hitam putih atau kelabunya, sejujur mungkin. Pesanan moral? Jangan ditanya saya.</p>
<p>Salam hormat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kembali-ke-realisme-yang-lebih-menyentuh-14.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proses Kreatif: Penulis sebagai si Juru Masak</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/penulis-sebagai-si-juru-masak-109.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/penulis-sebagai-si-juru-masak-109.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Oct 2006 12:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?</p>
<p>Dalam proses kreatif saya sebagai penulis, saya belajar banyak dari para juru masak (dan bukan kebetulan jika saya pernah menulis sebuah cerita pendek mengenai juru masak terkenal abad kesembilan belas, berjudul “Kutukan Dapur”, dalam <em>Cinta tak Ada Mati</em>). Seperti para juru masak, saya selalu berusaha memperoleh bahan-bahan terbaik (segar dan bergizi) untuk setiap tulisan.</p>
<p>Kecuali singkong yang dibakar di ladang, kita tahu sebagian besar makanan yang kita makan merupakan olahan dari berbagai bahan. Ada buah kol, kentang, wortel, dan ceker ayam dalam sup yang dibikin ibu saya setiap kali saya pulang (sebab itu makanan favorit saya). Demikian pula dalam sebuah tulisan, kita bisa menemukan pengalaman hidup penulis, peradaban suatu zaman, atau mungkin analisa mengenai arsitektur sebuah kota.<br />
<span id="more-109"></span><br />
Dalam novel pertama saya, <em>Cantik itu Luka</em>, saya mencambur beberapa bahan yang menjadi favorit saya: filsafat, mitologi, sejarah, dan folklore. Dalam novel kedua saya, <em>Lelaki Harimau</em>, dalam adonan saya terdapat sebuah peristiwa nyata dan sebuah dongeng turun-temurun. Aha, ya, tampaknya ada bahan-bahan yang kontradiktif: filsafat dan mitologi? Folklore dan sejarah? Peristiwa nyata dan dongeng?</p>
<p>Orang-orang di kampung saya tak terbiasa memakan roti dan daging. Tapi saya sudah lama terbiasa makan burger (makanan praktis buat orang yang tak suka makan berlama-lama seperti saya). Dan jangan lupa, di beberapa tempat, orang makan nasi dengan pisang, atau makan pisang dengan ikan (kalau ini sungguh saya tidak bisa). Saya pikir juru masak yang baik selalu memiliki cara untuk mencampur bahan apa pun, sebagaimana penulis yang baik mestinya tak bermasalah membaurkan fakta dan fiksi.</p>
<p>Mengenali bahan dengan baik, tentu merupakan syarat untuk bisa mengolah bahan-bahan ini menjadi baik pula. Seorang juru masak yang baik mestinya tahu apa yang terkandung di dalam makaroni, kalau perlu hingga nilai gizi per takarannya.</p>
<p>Dalam <em>Cantik itu Luka</em>, gagasan utama penulisan novel itu berawal dari pertanyaan mengenai sejarah. Pertama-tama tentu saya harus membongkar dulu asumsi-asumsi filosofisnya (kebetulan saya belajar di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, sehingga tak terlalu kesulitan untuk memetakan berbagai pandangan mengenai filsafat sejarah).</p>
<p>Kedua, tentu saya juga mesti masuk ke materi-materi sejarah di mana novel itu akan diletakkan (saya berpikir, cara terbaik membahas filsafat sejarah dalam sebuah novel tentu harus mengisahkan sebuah momen sejarah tertentu). Karena saya bukan ahli sejarah, saya mempergunakan materi-materi skunder yang ditulis oleh para sejarawan, terutama meliputi masa awal Perang Dunia II hingga masa pemerintahan Soeharto. Dari penelitian ini, misalnya, saya tahu Perusahaan Unilever telah memproduksi Blueband sejak masa kolonial (dan barangkali tak banyak yang tahu, perusahaan itu masih milik Belanda).</p>
<p>Karena pokok novel ini adalah filsafat sejarah (dengan kata lain, novel tentang sejarah dan bukan novel sejarah), saya harus membuka diri pada pandangan lain mengenai sejarah. Jika kita membuka ulang tradisi babad kita (misalnya <em>Pararaton</em>, <em>Negarakrtagama</em>, atau <em>Babad Tanah Jawi</em>), kita melihat pandangan sejarah yang khas Jawa: sejarah hidup berkelindan bersama kepercayaan, folklore, dan mitologi. Itulah mengapa folklore dan mitologi hadir pula dalam novel ini.</p>
<p>Dan jangan lupa, di dalam satu adonan, tak hanya bahan-bahan pokok yang hadir, namun juga ada bumbu-bumbu. Bumbu-bumbu ini seringkali justru yang membuat bahan-bahan pokok terasa lebih enak. Saya pikir, demikian pula di dalam sebuah novel, atau tulisan apa pun, kita membutuhkan bumbu untuk membuat tulisan menjadi lebih manis atau asin, atau pedas (dalam tulisan berarti lebih tragis, dramatis, memilukan, atau apalah).</p>
<p>Dalam tulisan, kita hadirkan hal-hal yang barangkali tak pokok, tapi berjasa membuat hal yang pokok menjadi menarik: di sana hadir lelucon, interupsi, lanturan, deskrisi. Selama tidak berlebihan, apalagi mengalahkan yang pokok, bumbu akan sangat berguna bagi hidangan akhir.<br />
Saya tak mungkin melupakan bahasa dalam pembahasan ini, sebagai satu hal yang membuat tulisan menjadi mungkin. Saya tak ingin mempersamakan bahasa dengan perkakas. Tidak, perkakas adalah perkakas: laptop, kertas, pensil, barangkali fungsinya akan sama dengan wajan dan pisau. Bahasa, dalam dunia si juru masak, barangkali lebih tepat dikatakan sebagai api. Ya, api untuk menggoreng, memanggang, atau membakar, itulah bahasa.</p>
<p>Sebagaimana juru masak harus mengenali api, demikian pula penulis mengenali bahasanya. Api yang terlalu panas akan membuat gosong (mentah di dalam). Bahasa yang terlalu berkobar-kobar, hanya menyengat di mata, ketika dibaca, barangkali tak ada isinya. Demikian pula bahasa yang tak terlampau bertenaga, hanya membuat tulisan mentah, tak peduli betapa penting bahan di dalamnya.</p>
<p>Dalam berbahasa, saya tak hanya peduli pada gramatika, tapi juga perdebatan mengenai gramatika (saya sarankan untuk membaca <em>Of Gramatology</em> Derrida). Seorang penulis juga semestinya (barangkali sepele bagi kebanyakan penulis, tapi di sinilah perbedaan penulis yang serius dan tidak), membekali diri dengan kamus. Paling tidak <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>, bukan?</p>
<p>Untuk hal ini, saya punya kebiasaan untuk menghapal nama-nama, terutama nama-nama benda-benda. Bagi penulis yang berbahasa ibu bukan bahasa Indonesia (sebagian besar penulis Indonesia dibesarkan dalam bahasa daerah), sering menjadi problem untuk memberi nama-nama benda dalam bahasa Indonesia. Kamus dan kebiasaan mencatat menjadi hal penting.</p>
<p>Dari sini, kembali belajar dari juru masak yang baik, saya percaya menjadi penulis yang baik bukanlah (sebagaimana banyak dianjurkan buku pelajaran menulis) “menulis apa yang kita paling tahu”, tapi justru sebaliknya, “menulis apa yang paling tidak tahu”. Saya percaya ini, karena pengetahuan saya barangkali tak jauh berbeda dengan yang pengetahuan orang lain, dan apa maknanya berbagi pengetahuan yang sama-sama kita tahu? Menulis apa yang tidak diketahui, pada akhirnya membawa kita pada tradisi yang baik: penelitian.</p>
<p>Oh ya, juru masak yang baik tak hanya bisa membuat masakan yang bergizi, tapi mestinya piawai juga membuat adonan beracun, bukan? Hati-hati jika membaca, sebaiknya cuci tangan dulu.</p>
<div class="footnote">Artikel ini saya tulis untuk majalah <em>Matabaca</em> edisi November 2006.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/penulis-sebagai-si-juru-masak-109.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2005 13:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Sjaiful Masri]]></category>
		<category><![CDATA[Sriti.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Sjaiful Masri, Sriti.com</strong></div>

Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Sjaiful Masri, Sriti.com</strong></div>
<p><div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ctam40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya">Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/cinta-tak-ada-mati">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792212574/Cinta-Tak-Ada-Mati-dan-Cerita-cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div> <div class="reviewbox" style="background: #ecebe7 url(http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/gs40pt.png) no-repeat top left;"><strong><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya">Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</a></strong>, Gramedia Pustaka Utama, 2005 <br /><a href="http://ekakurniawan.com/blog/resensitribute/gelak-sedih">Baca resensi lainnya</a> &middot; <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9792213481/Gelak-Sedih-dan-Cerita-Cerita-Lain">Beli Sekarang</a> &middot;</div></p>
<p>Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel <em>Cantik itu Luka</em>. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, tangga nada yang harmonisnya bisa dirinci. Atau tepatnya tarot yang terkocok acak yang kemudian menyimpan risalah panjang yang asyik untuk dimainkan… Saya berbeda selera dengan Maman. Tebakan saya meleset. Air bah itu hanya berpusar pada ruang kepalanya, bukan Tsunami semesta.</p>
<p><span id="more-44"></span><br />
Masuk kepertaruhan kedua, saya bermain-main dengan Lelaki Harimau, yang menata gaya psikologis, setingkat lebih mapan dari sejumlah karya-karya Bagus Takwin. Jika Takwin bermain dalam efek emprik dunia psiko-dramatis, Eka menyempurnakannya dengan kesadaran empirik. Dunia psikologis menyublim dalam rationale. Siapa yang bilang ini realis-magis?</p>
<p>Pimpinan kami, Editor website ini menjerit-jerit, “Bahas ini. Spektakuler! Masa depan cerpenis kita!! Saatnya cerpenis tua pamit panggung…..!!” Bla bla bla bla…. Mengapa begitu banyak orang salah tangkap, tegang sendirian, <em>over-acting</em>, berharap meluap-luap dengan sebuah karya. Bukankah penulis itu punya dedikasinya sendiri?</p>
<p>Kali ini Seno Gumira Ajidarma menuntaskan ‘tebak-tebak buah manggis’ saya pada Eka. Dalam <em>Cinta tak ada Mati</em>, Seno membubuhi komentar “Cerita-cerita ini ditulis dengan suatu bakat dan semangat pencanggihan yang tinggi…Kita pantas meletakkan harapan atas masa depan sastra Indonesia kepada para penulis muda seperti Eka Kurniawan…” Saya tidak membaca nada kecemasan Seno dibalik pujian itu. Efek yang tersisa adalah, bila saja kenyataan yang menganga kemudian akan melahirkan masa depan yang sunyi… Jika dibandingkan cerpenis seangkatannya, dalam amatan kecil kami di <a href="http://sriti.com">Sriti.com</a>, dalam kurun enam bulan terakhir, Eka termasuk cerpenis yang ‘malas’. Saya tidak mau lagi main tebak-tebakan.<br />
<center>***</center><br />
Dua buku karya Eka Kurniawan berbarengan muncul di pasaran. Seakan idiom lawas dunia dagang buku kalau ‘dua buku muncul berbarengan itu akan saling ‘membunuh’ dalam pasaran’. Setahun silam, ketika <em>Cantik itu Luka</em> edisi re-print dan <em>Lelaki Harimau</em> muncul berbarengan, dan kini terulang <em>Gelak Sedih</em> serta<em> Cinta tak ada Mati</em> bak bayi kembar brojol dalam rak toko buku; barangkali Eka bukan lagi masa depan sastra Indonesia, mungkin, ia juga telah menjadi pembukti dunia dagang buku mutakhir. Betapa kuatnya penetrasi pasar dunia dagang buku sastra kita saat ini….</p>
<p>Membaca <em>Gelak Sedih</em>, saya justru melihat kalau Eka adalah pengarang yang sangat realistis. Ia dengan sadar melihat dunia kepengarangannya harus ditopang mekanisme yang mumpuni. Ia memilih penerbit besar seperti Gramedia Pustaka Utama bukan tanpa alasan. <em>Gelak Sedih</em> membuktikan keampuhan itu. <em>Gelak Sedih</em> adalah edisi re-package dari kumpulan cerpen terdahulunya, <em>Corat-coret di Toilet</em> yang kemudian ditambahkan sembilan cerpen baru. Hemat saya, inilah proyek yang sesungguhnya, <em>Cinta tak ada Mati</em> segar karena 13 cerpen yang baru dirampaikan dalam bentuk buku.</p>
<p>Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia. (Saya kecolongan komentar ini, karena toh, Agus Noor sudah membubuhi duluan dalam sampul belakang Gelak Sedih. Bla bla bla bla…Saya tidak akan menambah jumlah gunung pujian yang ditulis Oka Rusmini, Agus Noor, Seno, dan juga Djenar Maesa Ayu… saya punya yang lain tentang dia…)</p>
<p>Dua buku ini sangat dianjurkan untuk dimiliki, bukan hanya karena sosok Eka Kurniawan yang masuk sebagai cikal masa depan sastra kita. Dua buku ini menyajikan kompilasi lengkap Eka Kurniawan sebagai cerpenis. Perjalanan awal yang didudu secara lengkap. Dan yang terunik adalah ‘gaya’ dia menyajikan cerpen koran ke dalam bentuk buku perlu digarisbawahi. </p>
<p>Ia bertindak sebagai kreator. </p>
<p>Dalam kedua buku ini tidak terdapat detail sumber sejarah penerbitan cerpen. Sebagai buku, referensi ini juga bisa menimbulkan efek jualan. Tapi, Eka memilih sikap praktis. Ia kelihatan ingin melahirkan cerpen-cerpen koran-nya sebagai karya ‘baru’. </p>
<p>Eka mengolah lagi proses editingnya, mengganti judul, ‘menambal’ sejumlah kebocoran yang sempat terjadi saat cerpen tersebut dimuat di media massa, menimbulkan mood baru dengan sejumlah garnish, dan keberanian untuk menunjukan sikap. Jika dalam versi cetak cerpen Pengakoean Seorang Pemadat Indis yang pernah dimuat di Media Indonesia (6 Februari 2005) itu tercetak dengan ejaan familiar (EYD?), maka ketika cerpen tadi tampil dalam kumpulan <em>Cinta tak ada Mati</em>, Eka menampilkan teks-nya dalam ejaan zaman <em>baheula</em>. Saya suka caranya menyiasati prosedural sastra koran kita. </p>
<p>Saya tidak sedang ‘main tebak-tebakan buah manggis’. Saya sedang mencoba mengingat-ingat seorang Eka Kurniawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cinta-tak-ada-mati-dan-gelak-sedih-44.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dimples</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dimples-17.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dimples-17.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2005 22:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[The Jakarta Post]]></category>
		<category><![CDATA[Translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Just a moment ago, the sweet girl with dimples had been shivering, overcome by the night. Now, she was smiling so that her dimples became more pronounced while she packed her clothes. 

A moment ago, she had been a newlywed, trembling, pale and dying. Now, she was a happy young divorcee. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Just a moment ago, the sweet girl with dimples had been shivering, overcome by the night. Now, she was smiling so that her dimples became more pronounced while she packed her clothes. </p>
<p>A moment ago, she had been a newlywed, trembling, pale and dying. Now, she was a happy young divorcee. </p>
<p>The man had just divorced her. The third pronouncement of divorce was delivered in all seriousness. Their first night together was also their last. Sitting on a mattress covered with a yellow sheet patterned with floating jasmine, Dimples was gathering the few things she owned. Her long hair flowing freely down her back and falling across the pillow, the sweating and half-clothed woman had to leave immediately. She was no longer mistress of the house.<br />
<span id="more-17"></span><br />
She heard the man’s feet shuffling behind the door, impatiently. She remembered how, just a short while ago, he had stripped her clothes off before he undressed himself. Dimples froze while the man burned with passion. He entered Dimples savagely and then calmed down momentarily. It was brief, but long enough for Dimples to ask herself, Why? Too easy, Master? The man’s response was a frenzied lovemaking that made the bed creak like a coconut tree shaken by a storm. Then it was time for them to roll over, bathed in sweat and out of breath.</p>
<p>The man still burned, not with desire but with fury. He threw the sheet over the Dimples’ body, got off the bed and put on his underwear. Without even the slightest glance at her, he cursed before severing the ties between them and left the wedding bed, slamming the door: “Whore!”<br />
<center>***</center><br />
A woman and two snot-nosed children observed them with a penetrating look as the village head united Dimples and the man in matrimony. Dimples did not have the strength to face their envious, hateful stare amid the merry noise of the wedding party, like she was dying over and over again.</p>
<p>She was dazed when guests lined up to congratulate them, placing white envelops with red and blue borders into a box. Every time she accepted an extended hand, a coldness made her light-headed, occasionally making her black out, and every kiss on her cheek from a woman guest made her tremble, thrown under their penetrating stare. </p>
<p>It was especially so when the woman with the two snotty children approached her. They shook hands, kissed and hugged her. Dimples was amazed at how they could be so dry-eyed when hers wouldn’t stop leaking. The woman wiped away the rivulets on her cheeks with her shawl, ruining her make-up. This only made Dimples weepier. Her nose started to run, and she wiped her face with the sleeve of her kebaya.</p>
<p>A photographer arrived, carrying his camera. They stood in a row. The man was holding her hand; Dimples felt like wetting herself. The woman smiled while the photographer gave directions, one-two-three, as did the two children. Flash! The smile would be eternal, but Dimples knew it was a lie. As false as their gaze of intimacy, which actually held cruelty. </p>
<p>She could still see their stares, laden with an unbearable, raging flame, when the man ushered her into their wedding room. If she turned around, the heat of their stares could still burn a hole in her chest. Before she disappeared behind the door, she promised the woman and the two snot-nosed children, “I will return him to you immediately.” But only in her heart.<br />
<center>***</center><br />
One wretched night, her father went to a spring as dawn approached. The spring bubbled at the foot of a hill, in a fortress of thickets and dense fog. A stream flowed from it along a small moat that encircled a settlement, splitting up into branches here and there, providing a source of life for the plots in the rice field. The water was swift, with rocking crests the color of moss, eroding colorful stones, carrying rhythm and traveling with fish fry, eels and tadpoles. Family heads visited the spring by turns each day toward daybreak, or mud would plug up the stream, and when that happened, the rice would not ripen when it should. But that night was really accursed, as a damn snake had bitten his big toe. </p>
<p>The man had yet to reach the spring. He was writhing in pain on a narrow trail with one hot and stinging leg. His big toe shone red, bathed in moonlight and lit up by the torch that had been thrown at the grassy field. The heat spread slowly, as though it was slicing off his foot inch by inch. He would not know how long it would take before his toe was gone, leaving behind a blue decay. After that his leg would disappear, followed by his body and, finally, his soul. </p>
<p>He called to mind his wife and only daughter. He did not intend to die yet. He burned the toe, then tore his sleeve into strips and tied a tourniquet on his calf. The torturous heat did not disappear, although it subsided for a moment. He pitted his luck against death. Clutching the torch, he stood up unsteadily. His body was soaked through. He thought he would die as he stood.</p>
<p>Crying and enduring the torture, the man bore through the field toward the house of the shaman. The torch in front of the shaman’s house seemed to be at the other end of the world, its flame flickering, teasing. Only the shaman had a stone that was a talisman against snakebite, and only the shaman could drive death from his toe. No matter that his stomach would turn at the shaman’s bad breath and wild eyes.</p>
<p>By the time he reached the porch of the shaman’s house, he was almost at death’s door. He collapsed on the steps and, groaning loudly, he pounded on the door. His knocking had grown weak and his hand hung limp when the shaman opened the door, still clouded with sleep. Then the woman stood behind the shaman. The two snot-nosed kids also rose and stood beside them. </p>
<p>“A snake is destroying my body,” the dying man said, pointing to his toe.</p>
<p>“That appears to be the case,” the shaman said. The woman and the two children vanished into the house, while the shaman got a torch and examined the man’s toe. It was blue and torn. The woman reappeared with a small bundle of unbleached cloth before being swallowed up by the darkness behind the shaman, who took out his magic stone. The dying man waited anxiously for the shaman to yank death from his toe, but instead, the shaman asked, “How will you pay me?” </p>
<p>Whimpering, the dying man answered, “Take my pregnant goat.”</p>
<p>The shaman shook his head. “I want to knock up Dimples, your daughter.”<br />
<center>***</center><br />
Dimples was 14, a real beauty. The shaman had long desired her, not caring that he had wives everywhere. Her father was powerless, knowing well that the shaman’s every desire would be fulfilled, as no gun could harm him and he was full of spells and sorcery. He could only buy some time and hope that the shaman might die or forget about Dimples, so tried to put him off. </p>
<p>“She is still underage.” </p>
<p>But he had to give up this child with dimples on her ripe cheeks to the shaman or else the poison would tear his soul from his body. The man wept, torn between the pain of death and mourning his daughter’s fate. </p>
<p>“Take the girl,” he said, giving in.</p>
<p>The shaman smiled, emitting a putrid odor. But instead of treating the man, he stood up, turned and went back inside the house. The dying man groaned in a strangled breath, alternately calling out the shaman’s name and then repenting. The shaman reemerged shortly, carrying something. </p>
<p>“Say it again before this,” said the shaman, holding out a holy book.</p>
<p>The man knew the shaman had never read the book, that he had touched the book only a few times. But the dying man revered the book, had never carried it carelessly, had placed it upon his head and kissed the cover, had turned its pages slowly and read from it in a state of ablution. He looked at the shaman, gasping for breath.</p>
<p>“Upon this holy book,” he said hoarsely, “I give you Dimples, my daughter, as your wife.</p>
<p>Again, the terrible odor. The shaman raised the wounded half of the leg, causing the man to groan even more. He untied the tourniquet, which left a pallor of death, then retied it at a higher point. He rubbed the magic stone on the snakebite, the dying man’s howls the dogs in the village to go barking. The stone was again rubbed against the wound, following by the shaman’s reading of his magic charm. The dying man was writhing. When the dawn was still very dark, he screamed and screamed until his voice was no longer heard and he went into unconsciousness. </p>
<p>When he came to, the man found himself in his own bedroom. Sinfully, he called his daughter and said, daughter, you will be the wife of that bad-smelling shaman.”<br />
<center>***</center><br />
It was still fresh in her mind, how the man took her to his house and introduced her to the woman and the two snot-nosed kids. She was reluctant to do so, but the man had dragged her one wonderful afternoon, along the village road and under the gaze of shepherd boys and plowmen. She had never been to that house before, but she had known she would end up in that black magic den ever since the man suddenly embraced her at the water pump after a bath.</p>
<p>She was even convinced that the tragedy of the poisonous snake was no more than a simple trick the man had played. Perhaps it was a ghost snake that was in league with him to subjugate those who visited the spring, and the magic stone was just another spell. But, like her father, she honored oaths made upon the holy book, so she submitted to being shown her future home.</p>
<p>The woman and the two snotty kids were waiting on the veranda, standing upright like stakes. She was ill at ease under their stares full of accusation. </p>
<p>Trying to maintain her self-control, Dimples smiled sweetly, red spots blooming on her cheeks, her dimples becoming more alluring. They knew the smile was false, she thought.</p>
<p>The man gave her name, an introduction that was simply nonsense, as everyone in the area knew her. Even if the woman and the two snot-nosed didn’t know her, she didn’t think they would want to hear it, let alone remember it. </p>
<p>She kneeled before the woman, took the woman’s hand and kissed it, pressing it deeply against her lips. The hand was as cold as death. She approached the first-born child, stroked his hair and kissed him on both cheeks. He was silent, motionless. The little one shrunk from her when she touched him, held him and, with a little force, kissed him on both cheeks. </p>
<p>All of it felt like a cheap drama. Her fear changed and became a withering sadness. She was unable to look at those accusatory faces. </p>
<p>Their faces haunted her through panic-filled nights. </p>
<p>Those insomniac nights by the window, she wished she could steal the wings of an owl and fly away to the moon. Nights when her father did not allow Dimples out of the house, because she would soon be a bride.</p>
<p>One night from behind her window, she saw four young men in the security post at the end of the road. They sat around a small kerosene lantern, playing a dominoes card-game. White steam floated over their heads and was blown by the night toward Dimples’ face. </p>
<p>A thought crossed her mind. Now she knew how to free herself from that foul-smelling man of spells.<br />
<center>***</center><br />
Dimples snuck out and stood by the security post. The four young men stopped playing cards and drinking rice wine, staring at her curiously. It was early dawn still and bitingly cold; everyone was snuggled inside their blankets, except for them. </p>
<p>“Come here,” Dimples said as she went around to the back of the post.</p>
<p>The four young men looked at one another, mumbling uncertainly, until one of them came down and slipped away in the direction the girl had disappeared, followed by his three friends. There, they saw her in the glow from the lantern, already naked.</p>
<p>“All of you,” she said awkwardly, “let’s make love.”</p>
<p>The invitation was like an incomprehensible incantation. They trembled. </p>
<p>The boldest of them was the first to understand, his body heating up, his hand stretching out to the girl to grope her full breasts before recklessly taking off his clothes. Equally bare-skinned, he led her into the undergrowth of a palm, pushed her down and took her virginity. </p>
<p>The other three got their turns not long afterwards, so that Dimples walked home bow-legged.<br />
<center>***</center><br />
“It’s better to be a whore,” she said two nights later, not long after the man gave her the third and binding divorce. </p>
<p>She left the room with her bundle of clothing. She did not take leave of the man, who was pacing to keep his anger under control. Nor did she take leave of the triumphant woman and the two snot-nosed kids. She walked limply through the village, with pain between her thighs. She had no place to go, as all doors were closed to her and none would receive her again. Not even her own father.</p>
<p>Where she went, Heaven knows. This was better than stealing that putrid man from anyone, although it would not erase the sorrow that had taken hold of her.</p>
<p>But if you ever see a black shadow dancing atop a hill on certain nights, that is Dimples. One night sometime later, she married the crescent moon. </p>
<div class="footnote">Translated by <strong>Lie Hua</strong> from &#8220;Lesung Pipit&#8221; (<em>Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya</em>, 2005), published in <a href="http://thejakartapost.com">The Jakarta Post</a>. Short story &copy; 2005 by Eka Kurniawan, Translation &copy; 2006 by Lie Hua.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dimples-17.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

