Pesan Buku di Sini
Buku-buku di bawah ini bisa dipesan langsung melalui blog saya. Beberapa masih bisa ditemukan di toko buku, beberapa hanya tinggal beberapa kopi di gudang penerbit. Semoga ini membantu teman-teman yang mencari buku saya (dan Ratih Kumala) tapi tak menemukannya di toko buku, atau malas ke toko buku, atau memang tak ada toko buku.
Buku-buku Eka Kurniawan
(Kumpulan Cerita Pendek)
ISBN: 979-22-1257-4
Gramedia Pustaka Utama, 2005
Rp. 35.000,-
(Kumpulan Cerita Pendek)
ISBN: 979-22-1348-1
Gramedia Pustaka Utama, 2005
Rp. 37.500,-
“Surau” Disadur Menjadi “Meunasah”
Cerpen saya, “Surau” (dari buku Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya) disadur ke dalam pementasan Teater Nol oleh sutradara Jefry TS dan dipentaskan di Universitas Syiah Kuala, Aceh. Saduran ini diberi judul “Meunasah”, yang berarti “surau” dalam Bahasa Aceh. Baca ulasannya di aamovi.wordpress.com.
Google Books
Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di Google Books. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang Google dan Gramedia, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: Lelaki Harimau, Gelak Sedih. Judul yang lain semoga nyusul. Update (19 Juli): Buku saya yang lain di Google Book: Cinta Tak Ada Mati.
Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh
Oleh: Roslan JomelSumber: roslanjomel.blogspot.com

Foto oleh Mayr, Some rights reserved.
Salam Hormat.
Kebetulan sahaja, saya mula jatuh cinta kepada gaya penulisan Eka Kurniawan. Makanya, saya ingin sahaja tahu perkembangan terkininya dengan menembusi jaringan maya. Bagaimana saya boleh terserempak dengan laman sriti.com, pun juga suatu kebetulan. Tetapi, alam ini sebegitu cantik dan berseni, bukan diciptakan secara kebetulan. Tuhan telah mengatur dengan secanggih-canggihnya kehidupan di atas muka bumi buat manusia (yang berfikir). Tidak seperti yang disangka oleh saintis barat. Dunia ini bukan bola kimia yang terapung. Maka itu, mimpi pun terasa indah.
Baca selengkapnya …
Proses Kreatif: Penulis sebagai si Juru Masak

Foto oleh: john_a_ward, Some rights reserved.
Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?
Dalam proses kreatif saya sebagai penulis, saya belajar banyak dari para juru masak (dan bukan kebetulan jika saya pernah menulis sebuah cerita pendek mengenai juru masak terkenal abad kesembilan belas, berjudul “Kutukan Dapur”, dalam Cinta tak Ada Mati). Seperti para juru masak, saya selalu berusaha memperoleh bahan-bahan terbaik (segar dan bergizi) untuk setiap tulisan.
Baca selengkapnya …
Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih
Oleh: Sjaiful MasriSumber: Sriti.com

Foto oleh: gari.baldi, Some rights reserved.
Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel Cantik itu Luka. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, tangga nada yang harmonisnya bisa dirinci. Atau tepatnya tarot yang terkocok acak yang kemudian menyimpan risalah panjang yang asyik untuk dimainkan… Saya berbeda selera dengan Maman. Tebakan saya meleset. Air bah itu hanya berpusar pada ruang kepalanya, bukan Tsunami semesta.
Baca selengkapnya …
Dimples

Photo by: Ctd 2005, Some rights reserved.
Just a moment ago, the sweet girl with dimples had been shivering, overcome by the night. Now, she was smiling so that her dimples became more pronounced while she packed her clothes.
A moment ago, she had been a newlywed, trembling, pale and dying. Now, she was a happy young divorcee.
The man had just divorced her. The third pronouncement of divorce was delivered in all seriousness. Their first night together was also their last. Sitting on a mattress covered with a yellow sheet patterned with floating jasmine, Dimples was gathering the few things she owned. Her long hair flowing freely down her back and falling across the pillow, the sweating and half-clothed woman had to leave immediately. She was no longer mistress of the house.
She heard the man’s feet shuffling behind the door, impatiently. She remembered how, just a short while ago, he had stripped her clothes off before he undressed himself. Dimples froze while the man burned with passion. He entered Dimples savagely and then calmed down momentarily. It was brief, but long enough for Dimples to ask herself, Why? Too easy, Master? The man’s response was a frenzied lovemaking that made the bed creak like a coconut tree shaken by a storm. Then it was time for them to roll over, bathed in sweat and out of breath. Baca selengkapnya …