30 June 2008 » Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di Google Books. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang Google dan Gramedia, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: Lelaki Harimau, Gelak Sedih. Judul yang lain semoga nyusul. Update (19 Juli): Buku saya yang lain di Google Book: Cinta Tak Ada Mati. (Baca Komentar: 4)
25  December  2007

Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh

Oleh: Roslan Jomel, roslanjomel.blogspot.com

Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen Caronang, Kasih Tak Sampai, Kutukan Dapur mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.

07  October  2006

Proses Kreatif: Penulis sebagai si Juru Masak

Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?

17  May  2005

Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih

Oleh: Sjaiful Masri, sriti.com, 17-5-2005

Foto oleh: gari.baldi, Some rights reserved.
Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel Cantik itu Luka. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, [...]

26  March  2005

Dimples

Just a moment ago, the sweet girl with dimples had been shivering, overcome by the night. Now, she was smiling so that her dimples became more pronounced while she packed her clothes.

A moment ago, she had been a newlywed, trembling, pale and dying. Now, she was a happy young divorcee.