“Sam Kok” a-la John Woo dan Bikin Film Silat, Yuk?

vicki-zhao-red-cliffs

© China Film Group

Hmm, saya bukan penggemar berat John Woo, tapi saya gandrung dengan “Sam Kok”. Sebelumnya saya sudah nonton versi lain, Three Kingdom karya sutradara Daniel Lee. Sekarang John Woo datang dengan judul Red Cliff. Saya baru saja pulang menonton yang terakhir itu di Plaza Semanggi.

Baiklah, saya tidak bermaksud memperbincangkan (apalagi membuat kritik mendalam) mengenai film itu. Kalau sudah menyangkut film wuxia (cerita silat), saya cenderung enggak obyektif. Pokoknya suka, hehe. Apalagi Red Cliff belum selesai. Yang saya tonton hanyalah bagian pertama. Bagian keduanya mungkin baru nongol Januari tahun depan. Ya, film ini berdurasi 4 jam, karena itu dipecah dua. Tapi versi dua film ini konon hanya diputar di Asia. Di luar Asia, mereka hanya dapat versi satu film berdurasi 2,5 jam. Lantas apa yang mau saya omongin? Entahlah, tiba-tiba setelah lihat film itu, kepikir kenapa kita enggak bikin film silat yang asyik, ya?
Baca selengkapnya …

Three Kongdoms

Baru pulang nonton film Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon (2008) di Semanggi 21. Tadinya saya pikir ini film Sam Kok (Kisah Tiga Kerajaan) yang terkenal itu, ternyata hanya sejenis sempalan yang tak mengasyikan. Ya, memang sih, Sam Kok bakalan kelewat panjang kalau mau dibikin utuh. Untunglah ada si cantik Maggie Q. Selebihnya, saya masih mau nunggu Sam Kok versi lain yang dibikin oleh John Woo berjudul Red Cliff. Oh ya, saya juga nunggu duet maut Jet Lee dan Jackie Chan dalam The Forbidden Kingdom. Seru, nih, banyak film wuxia. Hehehe …

Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo


Foto oleh Montana Raven, Some rights reserved.

“Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata. Ratu Dewata memunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi …” Begitulah gaya khas Asmaraman S Kho Ping Hoo memberi latar sejarah dalam kisah fiksinya, Satria Gunung Kidul.

Sudah menjadi kecenderungan novel silat untuk mendasari kisahnya pada kurun peristiwa sejarah tertentu. Nagasasra Sabuk Inten SH Mintaraja dan Senopati Pamungkas Arswendo Atmowiloto mengambil latar Mataram. Tutur Tinular S Tidjah berbayang puncak kejayaan Singasari.
Baca selengkapnya …