<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Cerita Pendek</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/cerita-pendek/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tak Ada Yang Gila di Kota Ini</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tak-ada-yang-gila-di-kota-ini-2923.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tak-ada-yang-gila-di-kota-ini-2923.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 07:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esquire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/tak-ada-yang-gila-di-kota-ini-2923.php</guid>
		<description><![CDATA[<p>Liburan hampir tiba. Tiga orang petugas naik ke atas <em>pick-up</em> dan berkeliling kota, mencari orang-orang gila.</p>  <p>Sekitar lima tahun lalu terjadi insiden yang agak memalukan kota itu. Berawal dari segerombolan anak sekolah yang melancong dan tinggal di losmen murah, tak jauh dari muara. Itu musim liburan yang hiruk-pikuk. Mereka beruntung memperoleh losmen tersebut, meskipun keadaannya agak berantakan dan jorok, dengan beberapa kakus yang mampet dan air keruh. Gerombolan anak sekolah itu, semuanya delapan bocah lelaki, berharap menemukan kencan-musim-liburan, jauh dari orang tua. Sial bagi mereka, gadis-gadis yang bercelana pendek dengan senyum riang di bibir pantai, jika tak dijaga sedemikian rupa oleh ibu dan ayah mereka, sebagian besar digiring oleh pacar-pacar mereka.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-06-08/xymJfhDgEsrnEuBfhtApfvBAcoxbIyICCapnuoByfaBqmvaAgjhnjcCnbqto/tak-ada-yg-gila.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Tak-ada-yg-gila" height="334" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-06-08/xymJfhDgEsrnEuBfhtApfvBAcoxbIyICCapnuoByfaBqmvaAgjhnjcCnbqto/tak-ada-yg-gila.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p> &nbsp;</p>
<p><img src="http://www.scribd.com/images/badges_v2/profile/btn_logo_small.png" style="vertical-align:text-bottom" />  <span style="font-size:11px;color:#666;line-height:14px;">  <a href="http://www.scribd.com/doc/57347676/Tak-Ada-yang-Gila-di-Kota-Ini">Baca dan download versi PDF cerpen ini di Scribd!</a></span></p>
<p>Liburan hampir tiba. Tiga orang petugas naik ke atas <em>pick-up</em> dan berkeliling kota, mencari orang-orang gila.</p>
<p>Sekitar lima tahun lalu terjadi insiden yang agak memalukan kota itu. Berawal dari segerombolan anak sekolah yang melancong dan tinggal di losmen murah, tak jauh dari muara. Itu musim liburan yang hiruk-pikuk. Mereka beruntung memperoleh losmen tersebut, meskipun keadaannya agak berantakan dan jorok, dengan beberapa kakus yang mampet dan air keruh. Gerombolan anak sekolah itu, semuanya delapan bocah lelaki, berharap menemukan kencan-musim-liburan, jauh dari orang tua. Sial bagi mereka, gadis-gadis yang bercelana pendek dengan senyum riang di bibir pantai, jika tak dijaga sedemikian rupa oleh ibu dan ayah mereka, sebagian besar digiring oleh pacar-pacar mereka.</p>
<p>Hingga salah satu dari mereka keluar dengan gagasan mencari tempat pelacuran. Mereka belum pernah melakukan itu, dan membayangkan akan memiliki cerita hebat untuk teman-teman mereka di sekolah, tak satu pun menolak gagasan ini. Menyewa empat sepeda, dan bekeliling kota, mereka bertanya kepada anak-anak setempat yang nongkrong di perempatan jalan, dimana tempat pelacuran. Anak-anak sekolah ini tak tahu, pelacur terakhir di kota itu telah diarak dan babak-belur satu bulan sebelumnya oleh gerombolan orang-orang saleh.</p>
<p>&ldquo;Kalau masih ada satu yang tersisa,&rdquo; kata anak-anak setempat yang bergerombol tersebut, &ldquo;Itu untuk kami. Maaf.&rdquo;</p>
<p><span id="more-2923"></span></p>
<p>Dalam keadaan putus asa, dengan berahi yang meledak-ledak, delapan anak sekolah itu menemukan seorang perempuan gila di satu tepi jembatan. Perempuan itu berumur sekitar tiga puluhan. Tak terlalu buruk untuk mereka. Didorong insting alami, mereka memandikan si orang gila dan membawanya ke losmen. Demikianlah hal itu bermula.</p>
<p>Tapi tak ada yang tahu bagaimana hal itu menjalar ke beberapa pelancong lain. Selama beberapa waktu, polisi memperoleh laporan tentang pelancong-pelancong yang menangkap perempuan-perempuan gila dan membawanya ke losmen. Awalnya mereka tak terlalu menggubris hal ini, sebab para pemuda setempat kadang-kadang melakukan kesintingan serupa itu.</p>
<p>Hal ini baru menjadi skandal ketika seorang pengkhotbah, di hari Lebaran, mengeluhkan hal tersebut. Bahwa para pelancong dari mana-mana, datang ke kota itu, untuk meniduri orang-orang gila. Pengkhotbah secara berapi-api akan membawa umatnya untuk membakar losmen-losmen, kecuali polisi segera membersihkan kota dari orang-orang gila. Tentu saja mereka tak mungkin melarang pelancong datang, sebab bahkan penghidupan pengkhotbah sendiri tersangkut-paut dengan hal ini: ia membuat dendeng ikan yang sebagian besar dibeli oleh pelancong untuk oleh-oleh.</p>
<p>Pembersihan orang-orang gila pun dilakukan. Tak hanya perempuan-perempuan gila, tapi juga lelaki-lelaki gila. Semakin banyak orang gila yang ditangkap, semakin tampak serius mereka bekerja. Pertama-tama, polisi yang melakukan ini. Belakangan, petugas-petugas inilah yang melakukannya.</p>
<p>Kota itu kecil saja, di tepi pantai selatan Jawa. Mereka tak memiliki rumah sakit jiwa, bahkan rumah perawatan sederhana sekalipun tak ada. Hanya ada pusat kesehatan masyarakat dan sebuah panti asuhan. Jadi beginilah yang akan dilakukan oleh ketiga petugas di atas <em>pick-up</em> itu. Mereka akan berkeliling kota. Jika mereka menemukan ada orang gila di pinggir jalan, mereka menangkapnya, dan melemparkannya ke atas <em>pick-up</em>.</p>
<p>Menjelang sore, barangkali mereka telah menangkap dua atau tiga orang gila, <em>pick-up</em> berjalan keluar kota. Ke arah utara, mereka melintasi hutan jati milik pemerintah, yang memisahkan kota mereka dengan kota terdekat. Di tengah hutan itulah, mereka berhenti. Dan di sana, orang-orang gila itu dilepas.</p>
<p>Pengemudi <em>pick-up</em> itu Marwan, dan ia yang akan selalu mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang gila tersebut: &ldquo;Sampai jumpa di akhir musim liburan!&rdquo;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ketika musim liburan berakhir, Marwan dan kedua temannya naik <em>pick-up</em> kembali dan pergi ke pinggiran hutan jati tersebut. Mereka tak menemukan orang-orang gila itu di sana, tentu saja. Terakhir ada tiga orang perempuan dan dua orang lelaki gila. Setelah memeriksa jalanan yang membelah hutan, mereka turun dari <em>pick-up</em> dan meninggalkan kendaraan itu di pinggir jalan.</p>
<p>Marwan menenteng tali pramuka. Mereka tak pernah harus mengikat orang-orang gila tersebut, tapi tindakan berjaga-jaga selalu dilakukan. Kedua temannya, Darto dan Kartomo mengikuti. Darto menenteng tas punggung. Seperti di waktu-waktu sebelumnya, jika mereka tak menemukan orang-orang gila itu di tepi jalan, mereka mulai masuk ke dalam hutan. Sejauh yang mereka tahu, orang-orang gila ini tak pernah pergi jauh.</p>
<p>Mereka memeriksa sungai kecil di bawah bukit. Entah kenapa, mereka selalu menemukan orang gila pertama di sana. Seperti binatang, orang gila rupanya tak ingin jauh dari air. Benarlah, mereka menemukan salah satu orang gila di sana. Seorang lelaki. Meringkuk di sebuah batu besar, dengan kaki terjuntai ke arus air.</p>
<p>Marwan menghampirinya, berdiri di tepi batu, dan menendang si orang gila. Ia menoleh ke arah teman-temannya dan berkata:</p>
<p>&ldquo;Mati.&rdquo;</p>
<p>Mereka kehilangan seorang gila. Kartomo merogoh saku, mengeluarkan telepon genggam. Ia bersiap memotret mayat itu. Marwan dan Darto berjongkok di samping mayat, sedikit bergaya. Dengan senyum mengembang. Kartomo memijit tombol telepon genggam, terdengar bunyi tanda ia selesai memotret.</p>
<p>Mayat itu belum bau, tapi tetap saja mereka meludah. Setelah Kartomo memotretnya beberapa kali lagi, mereka meneruskan perjalanan, mengikuti arus air. Meninggalkan mayat tersebut tanpa menyentuhnya lagi. Itu urusan polisi, kata mereka.</p>
<p>Orang gila kedua terdengar suaranya, dari arah puncak bukit. Tak jelas apa yang dilakukannya: menyanyi atau menggeram. Seorang perempuan. Darto yang pertama kali mendengar. Ia mendongak dan berbisik, &ldquo;Dengar!&rdquo; Setelah ketiganya sama mendengar, mereka bergegas menaiki lereng. Berpegangan pada pokok-pokok jati muda. Di atas bukit, ada gubuk tempat polisi hutan biasanya mengaso. Di sanalah perempuan gila itu berada. Menggeram-geram.</p>
<p>Tainya bertumpukan dimana-mana, di sekitar gubuk. Bau busuknya dengan segera menyergap hidung Marwan, Darto dan Kartomo.</p>
<p>&ldquo;Anjing,&rdquo; maki Darto. &ldquo;Hai, Sinting, cepat pergi dari situ.&rdquo;</p>
<p>Dengan susah-payah, mereka harus membawanya menuruni bukit dan membenamkannya ke sungai. Darto mengeluarkan gaun bersih dari tas pungguhnya, dan mengganti pakaian perempuan itu. Setelah memberinya lontong dan selembar roti tawar, perempuan gila itu akhirnya berjalan mengikuti mereka. Dan dalam perjalanan kembali naik ke bukit itulah, di setapak yang berbeda dengan sebelumnya, mereka menemukan orang gila ketiga.</p>
<p>Seorang lelaki, dengan badan berotot, dan tanpa pakaian. Yang mengagumkan adalah kemaluannya, terombang-ambing seirama langkah kakinya. Gelap, besar, di balik rimbun bulu kemaluan yang lengket di sana-sini. Ketiga petugas bahkan takjub dengan pemandangan tersebut. Bahkan meskipun mereka sudah mengetahui hal ini sebelumnya, sebab mereka sudah bertemu beberapa kali, rasa cemburu akan ukuran kemaluan itu tetap saja menjalar di kepala mereka.</p>
<p>Lelaki gila itu cengar-cengir begitu melihat ketiga petugas. Ia sudah mengenali mereka. Dengan lontong pula, ia tak perlu dibujuk untuk berjalan mengikuti ketiganya.</p>
<p>Mereka membawanya ke <em>pick-up</em>, menaikkannya. Kartomo akan bertugas menjaga kedua orang gila itu, sementara Darto dan Marwan akan mencari dua orang gila lainnya. Jika mereka beruntung, keduanya akan ditemukan sebelum senja datang. Marwan dan Darto cukup mengenal kedua perempuan sinting yang belum mereka tangkap. Keduanya sering berdua kemana-mana, dan memiliki kebiasaan berjalan lebih jauh dari orang-orang gila lainnya.</p>
<p>&ldquo;Aku benci melihat ada orang gila mati,&rdquo; gumam Darto sambil berjalan.</p>
<p>&ldquo;Hmm,&rdquo; kata Marwan mengikuti. &ldquo;Cepat atau lambat akan ada orang gila baru di kota. Percayalah. Tuhan maha adil.&rdquo;</p>
<p>Darto tertawa kecil. Ia tak mengatakan apa pun lagi, berjalan dengan roman lebih riang. Tiba-tiba ia mengalunkan sebaris lagu. Mereka bahkan tak ingat siapa yang menyanyikannya, dan apa judulnya, tapi Marwan buru-buru ikut bernyanyi. Mereka tampak senang, sebab pekerjaan mestinya membuat orang menjadi riang.&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Musim liburan baru akan datang dua bulan lagi. Marwan berdiri di muka pintu bar, dengan papan besar bertuliskan &ldquo;Anak di bawah 17 tahun dan berseragam dilarang masuk&rdquo;. Sepasang pelancong Jepang berdiri di trotoar, di bawah lampu penerang jalan, tampaknya memeriksa satu halaman <em>Lonely Planet</em>. Dua orang gadis Finlandia duduk di kursi teras bar, dengan bir di meja, dan salah satunya asyik membaca Michael Crichton, sementara temannya mendengarkan musik dari iPod. Satu keluarga pelancong lokal, dari logatnya mereka datang dari Makassar, bersepeda lewat di depannya. Musim liburan masih lama, tapi satu-dua pelancong tetap bermunculan. Itu membuat Marwan boleh tersenyum senang. Demikian pula orang-orang di kota itu, tentu saja.</p>
<p>Dari arah pantai, berjalan seorang lelaki perlente. Ia tampak menengok ke kiri ke kanan, lalu membaca papan nama bar. Ia menoleh ke arah Marwan. Ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia menghampirinya.</p>
<p>&ldquo;Bung Marwan?&rdquo;</p>
<p>&ldquo;Hm.&rdquo;</p>
<p>Marwan menunjuk motor Honda 700 merah yang terparkir tak jauh darinya. Si lelaki perlente mengangguk dan mengikuti Marwan ke motor. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Marwan naik dan si lelaki duduk di belakangnya. Pergi meninggalkan bar.</p>
<p>Mereka berkeliling melalui lorong-lorong kecil. Melintasi toko buku loak Big Mushroom, melalui belakang dapur Hotel Rosebud, melintasi jalan menurun dan berbelok di depan sebuah butik kecil, entah bagaimana mereka melewati kembali Big Mushroom di sisi yang lain, deretan rumah penduduk, londri kiloan, sepetak kebun kelapa kecil, lalu masuk ke sebuah gang sempit yang di kiri-kanan berdiri orang-orang. Para penjaga. Orang-orang ini menghentikan Marwan. Memeriksa si lelaki perlente, dan membiarkan mereka lewat.</p>
<p>Di sanalah mereka kemudian berada: di sebuah gedung tua dengan tulisan: <em>No Camera, No Cellphone, No Kids</em>. Mereka masuk melalui pintu dengan dua penjaga, yang kembali memeriksa si perlente. Di dalam gedung, mereka menemukan diri berada di tengah lapangan bulutangkis yang telah lama dirombak menjadi lapangan futsal. Bangku-bangku penonton penuh orang, suara mereka menciptakan dengung monoton. Marwan menuntun si lelaki perlente melewati orang-orang, dan menemukan satu kursi. Si perlente duduk dan mengucapkan terima kasih.</p>
<p>&ldquo;Nanti temui aku di pintu,&rdquo; kata Marwan sebelum pergi.</p>
<p>Marwan berdiri dan bersandar di pintu, menunggu pertunjukan. Di tengah arena, keadaan gelap gulita. Ada seseorang bicara penuh semangat di pengeras suara. Kemudian diselingi dengan sebuah lagu. Tak berapa lama si pembawa acara bicara kembali.</p>
<p>Sunyi melanda para penonton. Lampu remang kemerahan menyala di tengah arena. Di sana tampak tiga tempat tidur, dengan tiga orang perempuan telanjang duduk gelisah di masing-masing tempat tidur. Yang menghebohkan penonton, tak lain orang keempat: seorang lelaki penuh otot, dengan kulit gelap, juga telanjang. Kemaluannya membuat mereka terpukau. Lelaki itu tersenyum riang melihat tiga perempuan telanjang. Kemaluannya perlahan-lahan terangkat, dan para penonton semakin bertanya-tanya berapa ukurannya.</p>
<p>&ldquo;Sayang sekali, satu di antara mereka sudah mati. Polisi bahkan malas mengangkatnya dari sungai,&rdquo; kata Marwan, kepada seseorang yang berdiri di sampingnya. Ia mengambil rokok dari saku bajunya, menawarkan, dan menyulutnya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ketika musim liburan tiba, Marwan dan kedua temannya naik kembali ke atas <em>pick-up</em>. Orang-orang gila itu berkeliaran di jalan-jalan kota, dan mereka harus membuangnya ke tengah hutan jati. Kadang-kadang ada penduduk yang mengeluh, &ldquo;Kenapa mereka selalu kembali ke sini? Tak bisakah kita menembak mati saja mereka?&rdquo;</p>
<p>Selama musim liburan, orang-orang gila tak lagi mereka butuhkan. Mereka dibuang sebab bisnis berjalan dengan baik. Sebab itu membuat orang-orang saleh merasa senang.</p>
<p>&ldquo;Ada orang gila baru,&rdquo; seru Darto.</p>
<p>Dari belakang kemudi, Marwan mendongak, dan bergumam. &ldquo;Sayang sekali itu bukan bekas pacarku.&rdquo;</p>
<p>Dan mereka tertawa sambil menggebrak-gebrak <em>dashboard</em>.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>2011</strong></p>
<div class="footnote">Cerpen ini pernah diterbitkan di Majalah Esquire, Edisi Ulang Tahun, Maret 2011.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tak-ada-yang-gila-di-kota-ini-2923.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelas Online Menulis Cerpen</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-2888.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-2888.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 14:41:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[PlotPoint]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-2888.php</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama saya? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh <a href="http://tulissekarang.com">PlotPoint</a>. Untuk yang tertarik, sila daftar di <a href="http://tulissekarang.com">http://tulissekarang.com</a>. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di <a href="mailto:tulissekarang@yahoo.com">tulissekarang@yahoo.com</a>. Yang menggunakan Twitter bisa follow <a href="http://twitter.com/_PlotPoint">@_PlotPoint</a>, yang menggunakan Facebook, sila kunjungi <a href="http://facebook.com/pages/plot-point-workshop">http://facebook.com/pages/plot-point-workshop</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama saya? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh <a href="http://tulissekarang.com">PlotPoint</a>. Untuk yang tertarik, sila daftar di <a href="http://tulissekarang.com">http://tulissekarang.com</a>. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di <a href="mailto:tulissekarang@yahoo.com">tulissekarang@yahoo.com</a>. Yang menggunakan Twitter bisa follow <a href="http://twitter.com/_PlotPoint">@_PlotPoint</a>, yang menggunakan Facebook, sila kunjungi <a href="http://facebook.com/pages/plot-point-workshop">http://facebook.com/pages/plot-point-workshop</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-2888.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen &#8220;Tak Ada Yang Gila di Kota Ini&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-tak-ada-yang-gila-di-kota-ini-2851.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-tak-ada-yang-gila-di-kota-ini-2851.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 16:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esquire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-tak-ada-yang-gila-di-kota-ini-2851.php</guid>
		<description><![CDATA[Sila baca cerita pendek terbaru saya, &#8220;Tak Ada Yang Gila di Kota Ini&#8221; di Majalah Esquire Indonesia, edisi ulang tahun, Maret 2011.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>Sila baca cerita pendek terbaru saya, &#8220;Tak Ada Yang Gila di Kota Ini&#8221; di Majalah Esquire Indonesia, edisi ulang tahun, Maret 2011.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cerpen-tak-ada-yang-gila-di-kota-ini-2851.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apresiasi Cerpen &#8220;Pengantar Tidur Panjang&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/apresiasi-cerpen-pengantar-tidur-panjang-2521.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/apresiasi-cerpen-pengantar-tidur-panjang-2521.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 14:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi & Tribut]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/apresiasi-cerpen-pengantar-tidur-panjang-2521.php</guid>
		<description><![CDATA[<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Dyah Prabaningrum, <a href="http://merpatidanpelangi.blogspot.com/2010/10/apresiasi-cerpen-pengantar-tidur.html" title="Pelangi di Mata Merpati">Pelangi di Mata Merpati</a></strong></div>  <p>Di sini saya akan membagikan hasil apresiasi cerpen karya eka kurniawan yang berjudul Pengantar Tidur Panjang.</p>  <p>Eka Kurniawan melalui cerpennya "<a href="http://blog.ekakurniawan.com/1300/cerita-pendek-pengantar-tidur-panjang" title="Pengantar Tidur Panjang">Pengantar Tidur Panjang</a>" bercerita tentang aku, seorang anak sulung yang menengok Bapaknya yang sedang kritis. Ia secara tersirat mengagumi kedemokratisan, kebaikan, toleransi dan kebijaksanaan Bapaknya. Dan akhirnya Bapak &#8220;si aku &#8220; ini meninggal dunia di malam kedua keberadaannya di rumah.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class="author"><em>oleh</em> <strong>Dyah Prabaningrum, <a href="http://merpatidanpelangi.blogspot.com/2010/10/apresiasi-cerpen-pengantar-tidur.html" title="Pelangi di Mata Merpati">Pelangi di Mata Merpati</a></strong></div>
<p>Di sini saya akan membagikan hasil apresiasi cerpen karya eka kurniawan yang berjudul Pengantar Tidur Panjang.</p>
<p>Eka Kurniawan melalui cerpennya &#8220;<a href="http://blog.ekakurniawan.com/1300/cerita-pendek-pengantar-tidur-panjang" title="Pengantar Tidur Panjang">Pengantar Tidur Panjang</a>&#8221; bercerita tentang aku, seorang anak sulung yang menengok Bapaknya yang sedang kritis. Ia secara tersirat mengagumi kedemokratisan, kebaikan, toleransi dan kebijaksanaan Bapaknya. Dan akhirnya Bapak &ldquo;si aku &ldquo; ini meninggal dunia di malam kedua keberadaannya di rumah.</p>
<p>Akhirnya Bapak meninggal, di malam kedua keberadaanku di rumah.</p>
<p>Tetapi hal yang paling mengejutkannya adalah walaupun Bapaknya telah meninggal, Bapaknya seolah &ndash; olah masih mampu memberinya uang saku.<span id="more-2521"></span></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Judul cerita &ldquo;Pengantar Tidur Panjang&ldquo; membuat bayangan pertama pada pembaca akan disuguhkan dengan dongeng pengantar tidur. Mungkin pembaca akan enggan bila saja penulis cerpen tidak mengawalinya dengan awalan yang cukup mampu membuat seorang yang membaca penasaran</p>
<blockquote class="posterous_medium_quote"><p>Aku muncul di rumah menjelang subuh. Tak berapa lama kemudian adik perempuanku juga muncul. Ia membuka pintu sambil menangis,&rdquo; Bapak sudah meninggal?&rdquo; kataku &ldquo;belum&rdquo;. Namun dokter menyatakan Bapak sudah meninggal.</p>
</blockquote>
<p>Dari ungkapan di atas akan muncul sebuah pertanyaan, apakah Bapak dalam cerita ini sudah meninggal ataukah belum? Kenapa dokter mengatakan sudah, sementara &ldquo;aku&rdquo; menyatakan tidak? Apakah aku hanya ingin menenangkan adiknya saja. Ternyata kepiawaian penulis untuk membuat pembaca semakin penasaran terlihat lagi dalam paragraph ke-2&nbsp;</p>
<blockquote class="posterous_short_quote"><p>Setelah melihat Bapak masih hidup, meski hanya berbaring tanpa bisa bergerak, tangisnya reda.</p>
</blockquote>
<p>Tulisannya yang mengalir dan tidak berbunga &ndash; bunga tetapi tetap membuat penasaran pembaca menambah nilai tersendiri. Terlepas dari tulisan &ndash; tulisan yang terus membuat penasaran pembaca, sebenarnya ada fenomena yang nampaknya layak untuk dikaji. Fenomena yang layak dikaji dalam cerpen ini tak lepas dari aspek kemasyarakatan seperti yang memang pernah disinggung oleh A. Teeuw dalam bukunya &ldquo;Pengantar Teori Sastra&rdquo;:</p>
<blockquote class="posterous_short_quote"><p>Sastra tidak dapat diteliti dan dipahami secara ilmiah tanpa mengikutsertakan aspek kemasyarakatan, yaitu tanpa memandanginya sebagai aspek komunikasi.</p>
</blockquote>
<p>Nampaknya penulis cerpen ingin menyampaikan suatu realitas sosial dimana Islam masih mempersoalkan masalah aliran, mari kita perhatikan apa yang diucapkan penulis :</p>
<blockquote class="posterous_medium_quote"><p>Karena masjid itu milik itu milik Muhammadiyah, banyak orang berfikir Bapak orang Muhammadiyah. Ia tak keberatan dengan anggapan itu, toh ia selalu puasa maupun lebaran mengikuti kalender Muhammadiyah. Termasuk shalat tarawih sebelas rakaat, meskipun jika terpaksa ia mau mengikuti tarawih bersama orang &ndash; orang NU (misalnya, bersama kakekku, yang selalu ngotot shalat tarawih dua puluh tiga rakaat).</p>
</blockquote>
<p>Bila dicermati dengan teliti akan adanya dua pandangan dengan kata &ndash; kata &ldquo;terpaksa&rdquo; terpaksa yang berarti Bapak menjaga jarak dengan aliran lain atau &ldquo; terpaksa&rdquo; karena keyakinan yang mendasari dalam diri Bapak itu, dirujuk dari Al-Qur&rsquo;an dan hadis :</p>
<blockquote class="posterous_medium_quote"><p>Allah berfirman dalam surat Ali &ndash; Imron ayat :31&nbsp;<br />Katakanlah (Muhammad):&rdquo; Jika kamu benar &ndash; benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa &ndash; dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
</blockquote>
<p>Dan bila diruntut segala tindakan nabi yang perlu kita contoh terekam dalam hadisnya :</p>
<blockquote class="posterous_medium_quote"><p>Diriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman ra, dia bertanya kepada Aisyah ra mengenai shalat sunah Nabi SAW pada bulan Ramadhan. Aisyah menjawab, Rasulullah SAW tidak pernah melaksanakan shalat malam hari lebih dari 11 raka&rsquo;at, baik di bulan Ramadhan maupun bulan lain. ( HR. BUKHARI)</p>
</blockquote>
<p>Dan seandainyapun si Bapak terpaksa shalat 23 raka&rsquo;at bersama jamaah NU maka bukan berarti bapak bertoleransi dengan akidah, karena dalam akidah tidak diperbolehkan toleransi. Tetapi merujuk pada tindakan sahabat nabi yaitu Ummar Bin Khatab yang telah mendapat jaminan masuk surga oleh Allah. Atas dasar itulah, sepertinya bapak bertoleransi dengan warga NU.
<p />Dalam cerpen tersebut terdapat kompleksitas, tidak hanya masalah agama yang diangkatan tapi masalah demokrasi dalam ranah yang kecil, yaitu keluarga. Keluarga adalah miniatur negara yang sangat sederhana. Di dalamnya terdapat seorang bapak sebagai simbol pemimpin yang menguasi miniatur sederhana tersebut. Seorang pemimpin dapat memilih kekuasaan tirani ataupun demokrasi. Dan dalam cerita ini sang Bapak menjatuhkan pilihannya pada demokrasi, ia tidak pernah menyuruh anaknya untuk menjadi kyai sepertinya dan dia memberi kebebasan berfikir bagi anaknya. Nampaknya ia sadar bahwa &ldquo;kesempurnaan&rdquo; berfikir akan tercipta bila adanya kekomplekan dan diferensiasi ( Herbert Spencer 1820 &ndash; 1903).
<p />Maka ia tak pernah marah, ketika anaknya memakai kaos bergambar Lenin ataupun anaknya mengamini teori Darwin bahwa nenek moyang manusia adalah monyet. Saat si istri berseru anaknya jadi komunis dalam pandangan istrinya karena memakai kaos bergambar Lenin, si Bapak hanya tertawa.</p>
<blockquote class="posterous_medium_quote"><p>&ldquo;Lihat anakmu jadi kuminis.&rdquo;kata ibuku. Bapak, seperti biasa, hanya tertawa. Bapak juga membiarkan adik lelakiku kuliah di jurusan peternakan, dan setelah penelitian dengan berbagai ayam ras, adikku mengamini Charles Darwin, percaya nenek moyang manusia dan monyet (juga ayam) memang sama. Tidak ada Adam dan Hawa. Bapak tak peduli dan memberinya modal untuk membuat peternakan ayam.
<p />&ldquo;Satu lagi anakmu jadi kuminis.&rdquo; Kembali Bapak hanya tertawa. (saat anaknya mencoblos Partai Rakyat Demokratik)</p>
</blockquote>
<p>Seolah di dalam keluarga itu terjadi keragaman dari sang Bapak, Ibu, dan kakek yang agamis dan didalamnya ada dua aliran NU dan Muhammadiyah, si aku dan adiknya yang condong ke haluan kiri. Dan ada sang adik lagi yang sekolah di IAIN Yogyakarta, dan semua itu adalah bukti kedemokratisan sang Bapak.</p>
<blockquote class="posterous_short_quote"><p>Meskipun begitu, salah satu adik perempuanku yang kini membaca Yassin bersama Ibu, akhirnya kuliah ke Institut Agama Islam Negri Yogyakarta.</p>
</blockquote>
<p>Agaknya tokoh si Bapak ini juga menganut prinsip demokrasi yang bertanggung jawab, dengan diterangkan karakter Bapaknya oleh si aku</p>
<blockquote class="posterous_short_quote"><p>&hellip; Aku tahu ia lebih risau jika anaknya mencuri ikan di kolam tetangga dari pada melihat anak yang memakai kaos Lenin atau mencoblos PRD.</p>
</blockquote>
<p>Dalam tulisan itu tersirat bahwa ia memberi kebebasan pada anaknya, sepanjang tidak mengganggu hak milik orang lain.&nbsp;
<p />Di dalamnya juga terjadi kritik terhadap keberanian seseorang yang hanya tampak di luarnya saja, lewat penokohan aku, Eka Kurniawan menceritakan bahwa seseorang yang terlihat berani belum tentu ia sebenarnya berani.</p>
<blockquote class="posterous_medium_quote"><p>&ldquo;Kamu memang pintar, tapi tak akan seberani itu. Kamu penakut, dan itulah mengapa kamu tak pergi ke Afganistan. Kamu selalu takut pada polisi dan tentara, meskipun kamu tampaknya tak pernah takut pada neraka.&rdquo;</p>
</blockquote>
<p>Dalam penokohan aku , ia juga mencerminkan kondisi masyarakat yang suka menghubung &ndash; hubungkan sesuatu. Si aku lewat penokohannya menghubungkan nasib Bapak dengan nasib negeri ini.</p>
<blockquote class="posterous_medium_quote"><p>Misalnya, pada tanggal 28 November 1975 aku dilahirkan. Pada saat yang sama Fretelin memerdekakan Timor &ndash; Timor dan Republik Indonesia mencaploknya. Mereka berdua (Bapak dan Republik Indonesia) sama &ndash; sama memiliki anggota keluarga yang baru. Sejak itu usaha Bapak macam &ndash; macam menuai keberhasilan. Bapak bangkrut di tahun 1998. Ha, bukankah seperti itu juga Republik Indonesia, (dst).</p>
</blockquote>
<p>Dalam kehidupan nyata memang tak jarang beberapa orang menghubung &ndash; hubungkan suatu kejadian dengan kejadian lain. Itulah yang di sebut oleh ahli folklor modern dengan sebutan folk belief.<br />Menurut ahli sosial Antropologi, Koentjaraningrat, Hal itu dapat terjadi berdasarkan hubungan sebab &ndash; akibat menurut hubungan asosiasi. Hubungan yang menyebabkan suatu asosiasi, misalnya : persamaan waktu, persamaan wujud, totalitas dan bagian, persamaan bunyi sebutan.&nbsp;
<p />Kejadian tersebut nampaknya karena persamaan waktu. Satu hal lagi, Eka Kurniawan nampaknya ingin mengomunikasikan suatu hal pada pembaca yaitu sebuah kebaikan akan terus dikenang sampai mati dan mungkin dapat bermanfaat untuk sesama di lain waktu. Dia mencoba menyampaikan pada pembaca lewat ceritanya, ia tidak perlu membayar bus karena ternyata kondektur bus itu pernah di tolong ayahnya.</p>
<blockquote class="posterous_medium_quote"><p>Lalu ia (kondektur) bus itu bercerita, beberapa tahun yang lalu ia sempat sakit gigi, tak sembuh oleh obat. Dokter tak berani mencabut giginya sebelum sakitnya hilang. Hingga seorang menyarankan menemui kyai. Sang kiai memberinya minum. [...] sakitnya mendadak hilang dan dokter kemudian mencabut giginya.<br />&ldquo;Kiai itu bapakmu,&rdquo; kata kondektur.</p>
</blockquote>
<p>Kecerdikan penulis dalam mencoba mengakhiri dan benar &ndash; benar mengakhiri ceritanya muncul lagi.</p>
<blockquote class="posterous_short_quote"><p>Bahkan, pikirku, setelah meninggal Bapak masih memberiku ongkos [...] Kupasang earphone dan kupejamkan mata,&rdquo;Goodbye, Papa, it&rsquo;s hard to die&hellip;.dan segera aku terlelap.</p>
</blockquote>
<p>Cipta sastra selain menyajikan nilai &ndash; nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu menyajikan kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin, baik berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. (Boulton)
<p /><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong><br />Aminudin. 2009.&nbsp;<em>Pengantar Apresiasi Karya Sastra</em>. Bandung: Sinar Baru Algensindo<br />Basrowi. 2005.&nbsp;<em>Pengantar Sosiologi</em>. Bogor: Ghalia Indonesia<br />Danandjaja, James. 2002.&nbsp;<em>Flolklor Indonesia</em>. Jakarta: Grafiti<br />Hariono, Anwar. 2009.&nbsp;&ldquo;Bukti Cinta Kepada Allah&rdquo; dalam <em>Handout Kajian Ahad Pagi</em>, Minggu, 27 Agustus 2009. Semarang&nbsp;<br />Kurniawan, Eka. 2009.&rdquo; Pengantar Tidur Panjang&rdquo; dalam <em>Kompas</em> edisi Minggu, 1 November 2009. Jakarta: Kompas<br />Teeuw, A. 1988.&nbsp;<em>Pengantar Teori Sastra</em>. Jakarta: Pustaka Jaya</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/apresiasi-cerpen-pengantar-tidur-panjang-2521.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Hachiko dan Luka yang Setia”</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/hachiko-dan-luka-yang-setia-2150.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/hachiko-dan-luka-yang-setia-2150.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Sep 2010 10:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Femina]]></category>
		<category><![CDATA[Hachiko]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/hachiko-dan-luka-yang-setia-2150.php</guid>
		<description><![CDATA[<p><em>Hachikō pertama kali datang ke Tokyo tahun 1924, diadopsi seorang profesor dari Universitas Tokyo, Hidesaburō Ueno. Ia seekor anjing putih peranakan Akita Inu, lahir setahun sebelumnya di Odate.</em></p>  <p>Anita datang ke Tokyo tepat saat musim gugur berakhir. Dengan mantel yang tampak berat untuk tubuh mungilnya, serta sepatu boot setinggi lutut, ia keluar dari kereta dan masuk ke aliran manusia yang tumpah melalui pintu Stasiun Shibuya. Udara dingin yang berembus dari utara terasa sangat dingin. Anita mencopot earphone di telinganya, mematikan musik dan berdiri di tepi persimpangan. Tanpa maksud menyeberang.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/13vd1d9tLBud2xmm832sv9l0beZry2uPRAK1IpUmlzz0rtb415P29xqfFL8z/IMG00577-20100924-0826.jpg.scaled.1000.jpg"><img alt="Img00577-20100924-0826" height="375" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/wvILLV6ka6te7OoQn1hJJbWw75asnjzkESma6j64UehvqisN6AdvuPF6bGuf/IMG00577-20100924-0826.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img src="http://www.scribd.com/images/badges_v2/profile/btn_logo_small.png" style="vertical-align:text-bottom" />  <span style="font-size:11px;color:#666;line-height:14px;">  <a href="http://www.scribd.com/doc/50020814/Hachiko-dan-Luka-yang-Setia">Baca dan download versi PDF cerpen ini di Scribd!</a></span></p>
<p><em>Hachikō pertama kali datang ke Tokyo tahun 1924, diadopsi seorang profesor dari Universitas Tokyo, Hidesaburō Ueno. Ia seekor anjing putih peranakan Akita Inu, lahir setahun sebelumnya di Odate.</em></p>
<p>Anita datang ke Tokyo tepat saat musim gugur berakhir. Dengan mantel yang tampak berat untuk tubuh mungilnya, serta sepatu boot setinggi lutut, ia keluar dari kereta dan masuk ke aliran manusia yang tumpah melalui pintu Stasiun Shibuya. Udara dingin yang berembus dari utara terasa sangat dingin. Anita mencopot <em>earphone</em> di telinganya, mematikan musik dan berdiri di tepi persimpangan. Tanpa maksud menyeberang.</p>
<p>Ia melirik ke jam tangannya, lalu mengedarkan tatapannya ke sekitar. Seperti apa wajahnya sekarang, pikirnya. Orang-orang lalu-lalang. Jika ia tak salah ingat, itu simpang jalan paling sibuk di dunia. Agak susah menemukan seseorang di tengah jubelan manusia. Tapi ia yakin, ia bisa mengenalinya. Sebagaimana terakhir kali ia meninggalkan lelaki itu. Terakhir kali menyakitinya.</p>
<p>&ldquo;Anita.&rdquo; Tiba-tiba telinganya mendengar seseorang berbisik.<span id="more-2150"></span></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Hachikō dan Hidesaburō Ueno setiap hari berjalan bersama ke Stasiun Shibuya. Hidesaburō Ueno melanjutkan perjalanan dengan kereta ke Universitas Tokyo, sementara Hachikō pulang.</em></p>
<p>Delapan tahun lalu, mereka masih suka berjalan bersama ke Shibuya walau sekadar minum kopi di Starbucks, tepat di seberang jalan stasiun Shibuya. Jika mereka memperoleh tempat duduk persis di dekat jendela, mereka akan menonton orang-orang yang lalu-lalang, serta gadis-gadis yang menawarkan selebaran. Tapi yang paling mereka suka, tentu saja melihat para pelancong yang berfoto di depan patung Hachikō.</p>
<p>Di sanalah terakhir kali mereka bertemu. Hakim jauh-jauh datang dari Nara dengan kereta untuk bertemu dengannya. Selama lebih dari dua jam, mereka hanya duduk memandangi pelataran stasiun, dengan kopi yang nyaris tak tersentuh, tak bicara satu sama lain. Anita ingat, saat itu bartender kafe memutar lagu &ldquo;Your Body is a Wonderland&rdquo; John Mayer. Hingga kemudian Hakim berkata:</p>
<p>&ldquo;Anita, kembalilah padaku.&rdquo;</p>
<p>Anita, hampir menumpahkan airmatanya, menggeleng perlahan. &ldquo;Enggak,&rdquo; bisiknya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Di sore hari, Hachikō akan menjemput tuannya di muka pintu Stasiun Shibuya. Ia akan menemukan Hidesaburō Ueno di antara jubelan penumpang kereta, sebelum bersama-sama kembali ke rumah mereka.</em></p>
<p>Sama-sama kesepian di tengah hiruk-pikuk Tokyo, mereka berjumpa tak sengaja di gerbang masuk Kuil Meiji. Saat itu Anita sedang membasuh tangannya dengan air dari gayung, seperti orang berwudhu, dan untuk pertama kali mengunjungi kuil tersebut. Matanya menatap seorang lelaki yang tengah menuliskan doa di papan permohonan dan menggantungkannya di tiang. Dengan sekali lirik, Anita tahu, lelaki itu dari Indonesia.</p>
<p>&ldquo;Kamu memohon apa dalam doamu?&rdquo; tanya Anita, basa-basi perkenalan.</p>
<p>&ldquo;Itu bukan urusanmu,&rdquo; kata si lelaki.</p>
<p>Itu kali pertama pula Anita merasa sakit hati oleh lelaki tersebut, yang kemudian ia kenal bernama Hakim. Dan kisah selanjutnya merupakan sejarah saling menyakiti di antara mereka, selama lima tahun.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Hachikō terus mengantar dan menjemput sang profesor, hingga bahkan para pelaju dan petugas di Stasiun Shibuya segera mengenali rutinitas tersebut. Namun itu berakhir di bulan Mei 1925.</em></p>
<p>Sekali waktu, karena tersinggung dengan kata-katanya, Anita menjambak rambut Hakim sementara mereka berjalan di trotoar yang mengarah ke Roponggi. Hakim mendorongnya hingga Anita terhuyung dan terjerembab ke gerumbul pohon pinggir jalan. Itu membuatnya makin kesal, ia menghampiri Hakim dan menampar pipinya. Hakim balas menamparnya. Anita kembali menjambat rambut Hakim, yang setengah gondrong. Hakim meraih rambut Anita yang tergerai sebahu.</p>
<p>Anita nyaris menggigit tangan kekasihnya, dan Hakim nyaris melemparkan gadis itu ke jalan, seandainya dua orang polisi tak lewat dan melerai mereka. Keduanya menginap semalam di kantor polisi. Tapi itu tak menghalangi mereka untuk saling melemparkan kopi panas di warung kopi dua minggu setelahnya, dan harus dilerai oleh bartender sebelum mereka saling melempar kursi.</p>
<p>&ldquo;Brengsek, kita bubar. Kamu dan aku,&rdquo; kata Hakim sambil meninggalkan Anita di meja kafe.</p>
<p>&ldquo;Baik kalau itu maumu!&rdquo; teriak Anita. Gaunnya koyak kena tarik tangan Hakim.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Profesor Hidesaburō Ueno memperoleh serangan stroke saat sedang menyampaikan kuliah. Ia tak pernah pulang dengan kereta, dan Hachikō pada hari itu tak menemukan tuannya.</em></p>
<p>Sore itu Anita tiba di Nara dan langsung pergi ke pondokan tempat Hakim tinggal. Sebenarnya ia sudah menelepon Hakim, mengabarkan kedatangannya, dan Hakim sudah menyuruhnya untuk tidak datang. Ia tetap muncul di pintu kamar Hakim dan mengetuknya, memanggil namanya. Pintu tak mau terbuka dan Hakim tak mau bicara dengannya.</p>
<p>&ldquo;Hakim, kembalilah,&rdquo; isaknya.</p>
<p>Pintu tak juga terbuka. Anita melorot ke lantai, rebah di sana. Ia berbaring semalaman, sambil memanggil-manggil Hakim. Ketika pagi datang, matanya sudah bengkak karena menangis. Dipandanginya pintu itu. Hatinya terasa kosong. Anita mengeluarkan gunting kuku dari tasnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuat garis-garis di pergelangan tangannya. Setitik darah mulai keluar dari sana. Pintu segera terbuka dan Hakim langsung merebut gunting kuku itu, menariknya berdiri. &ldquo;Apa yang kamu lakukan?&rdquo;</p>
<p>Anita kembali berurai air mata, &ldquo;Kembalilah &#8230;&rdquo;</p>
<p>Hakim menariknya, lalu memeluknya. Anita balas memeluk Hakim, dan ia meneruskan tangisnya di bahu lelaki itu. Hakim membelai-belai rambut si gadis, dan membawanya masuk ke kamar. Mereka berbaring di tempat tidur. Anita masih terus menangis dan Hakim terus membelai rambutnya.</p>
<p>Hingga mereka saling mencium, lalu menanggalkan pakaian. Anita akan selalu ingat, percintaan&nbsp;selepas pertengkaran selalu merupakan sesuatu yang hebat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Setelah kematian sang profesor, Hachikō dipelihara keluarga lain. Hachikō selalu berhasil melepaskan diri dan berlari ke rumah Hidesaburō Ueno, hingga ia sadar sang profesor tak ada lagi di rumah tersebut.</em></p>
<p>Hakim bertemu istrinya, Mia, saat mereka masih mahasiswa di Yogya. Di sela-sela kuliah, Mia membeli kain batik di Pasar Bringharjo dan Pasar Klewer, Solo, lalu dijualnya kembali di Jakarta. Suatu hari Mia memasang selebaran di papan pengumuman kampus, mencari sopir paruh waktu untuk mengantarnya ke sana-kemari. Hakim yang membutuhkan uang untuk biaya hidup sehari-hari, melamar dan diterima. Tak lama setelah itu mereka pacaran. Mia menyokong biaya hidup dan kuliahnya. Lalu mereka menikah. Hakim memperoleh beasiswa ke Jepang, dan untuk sementara meninggalkan Mia dan anak mereka.</p>
<p>Itulah yang sering menjadi pangkal pertengkaran Hakim dan Anita.</p>
<p>&ldquo;Enggak mungkin aku mengawinimu. Aku punya istri dan dua anak.&rdquo; Hakim tak perlu menambahkan bahwa <em>istrinya sangat baik, meskipun tak semenarik Anita</em>.</p>
<p>&ldquo;Dasar lelaki enggak tanggung jawab,&rdquo; maki Anita. &ldquo;Mau enaknya sendiri.&rdquo;</p>
<p>&ldquo;Hei, siapa yang datang ke kamarku dan membuka baju?&rdquo; Hakim balas membentak.</p>
<p>Itu bisa berakhir dengan saling melemparkan makanan, lalu kulit habis oleh cakaran dan gigitan. Mereka akan saling memaki dan Hakim memutuskan hubungan mereka. Tapi dua minggu kemudian, Anita akan ada di depan pintu kamar Hakim lagi, menangis semalaman meminta kembali. Begitulah, Anita menghitungnya, Hakim sudah 37 kali memutuskannya dan 37 kali pula Anita menangis memohon Hakim kembali.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><em>Hachikō mencari tuannya, atau barangkali lebih tepat sahabatnya, ke Stasiun Shibuya. Dan sebagaimana dahulu sering ia lakukan, Hachikō menunggu Hidesaburō Ueno di muka pintu stasiun.</em></p>
<p>Setelah lima tahun menjalani hubungan yang lebih sering berakhir babak-belur, suatu pagi, setelah pertengkaran yang lain, Anita menyadari tak ada masa depan dalam hubungan mereka. Sebelum diputuskan untuk yang ke 38 kali, Anita mengambil inisiatif membubarkan hubungan mereka, dan pergi meninggalkan Hakim. Ia bersiap pulang ke Jakarta.</p>
<p>Di hari terakhir ia di Tokyo, tiba-tiba Hakim datang ke Starbuck dan menemuinya. Saat itulah, untuk kali pertama, Hakim berkata, &ldquo;Kembalilah padaku.&rdquo;</p>
<p>Hampir menumpahkan air mata, Anita menggeleng dan berkata, &ldquo;Enggak.&rdquo;</p>
<p>&ldquo;Kamu enggak adil. Berkali-kali kamu meminta kembali dan aku mengabulkan.&rdquo;</p>
<p>&ldquo;37 kali,&rdquo; kata Anita.</p>
<p>&ldquo;Aku hanya meminta sekali ini. Setelah itu kita bisa ngomong soal pernikahan. Kamu tahu, aku tak mencintai istriku. Aku berutang budi kepadanya. Kita bisa mencari satu jalan.&rdquo;</p>
<p>Air mata mulai berlinang dan mengalir di pipi Anita. Tapi kembali ia menggeleng dan berkata, &ldquo;Enggak. Seseorang harus mengakhiri hubungan ini. Dan akulah itu.&rdquo;</p>
<p>Ia meninggalkan lelaki itu, terluka sendirian di Shibuya. Untuk pertama kali ia melihat lelaki itu menangis. Anita tak peduli, dan kembali ke Jakarta.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Para pelaju yang mengenali Hachikō segera merawatnya, memberinya makan. Hachikō selalu datang ke stasiun setiap sore, tepat saat kereta dari Universitas Tokyo tiba. Tapi tentu saja ia tak akan menemukan kembali Hidesaburō Ueno.</em></p>
<p>Setelah delapan tahun berlalu, dan Anita telah memutuskan menikah dengan lelaki lain, ia datang kembali ke Tokyo.</p>
<p>Sejujurnya selama delapan tahun, Anita selalu terbangun di tengah malam dengan perasaan penuh sesal dan rasa bersalah. Hakim pernah memberi 37 kesempatan menerimanya kembali, tapi satu permintaan Hakim tak pernah dikabulkannya. Seringkali Anita terbangun dan memandang wajah tidur suaminya, dan berkaca-kaca memikirkan Hakim. Setelah berbulan-bulan menahan diri, ia akhirnya menghubungi Hakim. Bilang ingin bertemu. Ia ingin meminta maaf. Ingin berteman. Ingin berhenti saling menyakiti. Lama baru ia memperoleh balasan, dan terkejut membaca Hakim masih di Nara.</p>
<p>Begitulah kini ia berdiri di muka Stasiun Shibuya, tempat yang sering mereka pakai untuk bertemu. Setelah mencari-cari, seseorang berbisik memanggilnya dari belakang. &ldquo;Anita?&rdquo;</p>
<p>Anita menoleh.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Penantian Hachikō di muka pintu Stasiun Shibuya setiap sore berakhir sepuluh tahun kemudian. Sepuluh tahun penantian. Ia meninggal 8 Maret 1935, tubuhnya ditemukan di jalanan Shibuya.</em></p>
<p>Di depannya berdiri seorang perempuan, tersenyum ke arahnya. Anita mengangguk. Perempuan itu mengulurkan tangan. Anita menyambutnya, dengan tatapan bertanya. Perempuan itu berkata, &ldquo;Aku Mia.&nbsp;Istri Hakim.&rdquo;</p>
<p>Anita baru tahu perempuan itu sekitar sepuluh tahun lebih tua dari Hakim. Lima belas tahun lebih tua darinya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Tubuh Hachikō disimpan di Museum Ilmu Pengetahuan Jepang di Ueno, Tokyo. Tapi patung perunggunya, tetap menunggu Hidesaburō Ueno dan menemani para pelaju, tepat di muka pintu Stasiun Shibuya. Hingga hari ini.</em></p>
<p>Dari perempuan itu, Anita tahu sejak terakhir mereka berjumpa, Hakim tak pernah meninggalkan Shibuya. Hakim percaya Anita akan kembali dan menemuinya. Ia sering luntang-lantung di muka stasiun. Sekali waktu polisi pernah membawanya karena ketahuan tidur di samping patung Hachikō, sebelum ia kembali ke sana. Para pelaju di stasiun mulai mengenalinya, dan mereka bicara tentang lelaki aneh yang menunggu pacarnya. Jika ada yang bertanya siapa namanya, ia menjawab, &ldquo;Hachikō.&rdquo; Hingga di hari kedua puluh tiga, mereka menemukannya tergeletak di kolong si patung anjing. Ada yang bilang ia mati kelaparan. Ada yang bilang ia mati sesederhana karena patah hati.</p>
<p>&ldquo;Aku yang membalas emailmu,&rdquo; kata Mia. Ia tahu tentang cinta mereka dari buku harian yang ditemukan polisi di saku mantel suaminya. &ldquo;Aku memutuskan untuk bertemu denganmu di sini. Sekalian ingin melihat patung itu. Penunggu yang dungu. Hachikō.&rdquo;</p>
<p>Keduanya menoleh ke patung Hachikō.</p>
<p>Salju pertama mulai jatuh di Tokyo. Mereka menggigil kedinginan.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>2010</strong></p>
<div class="footnote">Cerpen ini dimuat di majalah Femina, edisi khusus ulang tahun, 23 September 2010.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/hachiko-dan-luka-yang-setia-2150.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiksimini: Perjumpaan dengan Tuhan</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/fiksimini-perjumpaan-dengan-tuhan-1733.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/fiksimini-perjumpaan-dengan-tuhan-1733.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 04:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksimini]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1733</guid>
		<description><![CDATA[#1
Selagi umroh dia bertemu Tuhan.
“Kamu koruptor, ngapain ke rumahKu?” tanya Tuhan. 
Jawabnya: “Mau nganter bagianMu.”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>#1<br />
Selagi umroh dia bertemu Tuhan.<br />
“Kamu koruptor, ngapain ke rumahKu?” tanya Tuhan.<br />
Jawabnya: “Mau nganter bagianMu.”</p>
<p>#2<br />
Awalnya kau setitik cahaya penunjuk jalanku.<br />
Makin dekat, kau api yang membakarku.</p></blockquote>
<p><span id="more-1733"></span></p>
<blockquote><p>#3<br />
“Bisakah dia dihidupkan kembali?”<br />
“Tidak. Dia manusia.”<br />
“Payah. Produk lama.”</p>
<p>#4<br />
Aku baru saja diupgrade jadi robot 2.0.<br />
Fitur baru: sekarang aku punya Tuhan dan buku manual yg disebut kitab suci.</p>
<p>#5<br />
Naik bis jurusan Grogol, aku bertemu Tuhan.<br />
“Kenapa Tuan ada di sini?” tanyaku.<br />
Tuhan menjawab: “Biasa aja kali, gue ada dimana-mana.”</p>
<p>#6<br />
Memang dia suka tidur di dalam bis. Enak adem, katanya.<br />
Terakhir kali ia lupa: ia yang menyetir. Ia tidur selama-lamanya.</p>
<p>#7<br />
Aku naik bis dari Benhil hendak ke surga.<br />
Oleh kondektur diturunkan di Bundaran HI.<br />
“Ongkos lo nggak cukup,” katanya.</p>
<p>#8<br />
Temanku bangkit lagi dari kubur. Padahal dia sudah membeli tiket ke surga.<br />
“Pesawatnya delay,” kata dia.</p>
<p>#9<br />
Duduk satu deret sama Tuhan di bis. &#8220;Kemana aja lo, lupain gue?&#8221; tanya Tuhan. Kujawab: &#8220;Maaf Tuhan, hamba sibuk khotbah.&#8221;</p></blockquote>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Fiksimini dari penulis-penulis lain bisa dilihat di <a href="http://fiksimini.com">fiksimini.com</a> atau di <a href="http://twitter.com/fiksimini">@fiksimini</a>. Akun twitter saya bisa diikuti di <a href="http://twitter.com/ekakurniawan">@ekakurniawan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/fiksimini-perjumpaan-dengan-tuhan-1733.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>9 Fiksi Mini</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/9-fiksi-mini-1449.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/9-fiksi-mini-1449.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 16:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksimini]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/9-fiksi-mini-1449.php</guid>
		<description><![CDATA[Cerita-cerita sangat pendek ini saya tulis di akun twitter <a href="http://twitter.com/ekakurniawan"  alt="">@ekakurniawan</a> dengan hashtag #fiksimini. Setelah menghilangkan semua singkatan, mungkin sekarang cerita-cerita ini lebih dari 140 karakter, sebagaimana umunya di Twitter. Selamat menikmati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>#1<br />
Dengan dendam membara, kubangun hidup penuh cinta.</p>
<p>#2<br />
Kutempuh hidup yang lurus, melalui jalan yang berliku-liku.</p></blockquote>
<p><span id="more-1449"></span></p>
<blockquote><p>#3<br />
Setiap malam aku menghidupkan mimpi.<br />
Setiap hari mimpi menidurkanku.</p>
<p>#4<br />
Setiap kujatuh cinta, kutulis nama mereka di hatiku.<br />
Sekarang baru sadar, tak ada alat utk menghapus nama-nama itu</p>
<p>#5<br />
Kutulis namamu di hatiku, tapi belum selesai.<br />
Tintanya keburu habis.</p>
<p>#6<br />
Kubuka pintu hatimu dan aku masuk ke dalamnya.<br />
Kaututup pintu itu dan aku terpenjara selamanya.</p>
<p>#7<br />
Kutuliskan surat cinta dan kukirimkan kemarin lewat pos.<br />
Hari ini aku menerima surat itu.</p>
<p>#8<br />
Aku mencari-cari alamat rumah kekasihku, dan kutemukan dia di rumahku.</p>
<p>#9<br />
Aku kesal karena terus diikuti bayangannku.<br />
Akhirnya kuputuskan untuk ganti mengikuti bayanganku.</p></blockquote>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Cerita-cerita sangat pendek ini saya tulis di akun twitter <a href="http://twitter.com/ekakurniawan"  alt="">@ekakurniawan</a> dengan hashtag #fiksimini. Setelah menghilangkan semua singkatan, mungkin sekarang cerita-cerita ini lebih dari 140 karakter, sebagaimana umunya di Twitter. Karya-karya #fiksimini penulis lain di Twitter bisa dilihat di <a href="http://twitter.com/fiksimini">@fiksimini</a> dan di <a href="http://fiksimini.com">fiksimini.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/9-fiksi-mini-1449.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jimat Sero&#8221; di Suara Merdeka</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jimat-sero-di-suara-merdeka-1380.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jimat-sero-di-suara-merdeka-1380.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 13:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu cerpen dalam buku &#8220;Kumpulan Budak Setan&#8221;, diterbitkan di Suara Merdeka, 24 Januari 2010, berjudul &#8220;Jimat Sero&#8221;.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu cerpen dalam buku &#8220;Kumpulan Budak Setan&#8221;, diterbitkan di <a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2010/01/30/1651/Jimat-Sero">Suara Merdeka</a>, 24 Januari 2010, berjudul <a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2010/01/30/1651/Jimat-Sero">&#8220;Jimat Sero&#8221;</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jimat-sero-di-suara-merdeka-1380.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kumpulan Budak Setan&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kumpulan-budak-setan-1374.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kumpulan-budak-setan-1374.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 11:58:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Intan Paramaditha]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Budak Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Ugoran Prasad]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/kumpulan-budak-setan-1374.php</guid>
		<description><![CDATA[<em>Kumpulan Budak Setan</em>, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap --- balas dendam, seks, pembunuhan -- serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Februari 2010.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kumpulan Budak Setan</em>, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap &#8212; balas dendam, seks, pembunuhan &#8212; serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Februari 2010.<br />
<span id="more-1374"></span><br />
<em>Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku.<br />
Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar:<br />
“Ina Mia?”</em><br />
(&#8220;Riwayat Kesendirian,” Eka Kurniawan)</p>
<p><em>Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan – lebih mirip terigu menggumpal tersapu air – dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.</em><br />
(“Goyang Penasaran,” Intan Paramaditha)</p>
<p><em>“Duluan mana ayam atau telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi.<br />
Darah di mana-mana.</em><br />
(“Hidung Iblis,” Ugoran Prasad)</p>
<p>Dalam Kumpulan Budak Setan, sembari mengolah konvensi genre horor, kami juga memandang horor sebagai moda yang dipertukarkan di berbagai ranah, dari panggung politik hingga kehidupan sehari-hari. Horor tak melulu soal hantu, tetapi ruang liyan yang menciptakan kemungkinan runtuhnya “realitas” yang seharusnya, tatanan yang kita percaya. Horor beroperasi tak hanya dalam cerita setan, tapi juga dalam retorika politik (misalnya saja penggunaan moda horor dalam film sejarah Pengkhianatan G30S/PKI, atau, di tataran global, narasi seputar peristiwa 9/11) maupun hubungan personal dan sosial yang sepintas lalu tak berbahaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kumpulan-budak-setan-1374.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>14 Cerita Pendek dalam 5 Tahun</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/14-cerita-pendek-dalam-5-tahun-1363.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/14-cerita-pendek-dalam-5-tahun-1363.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 05:06:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/14-cerita-pendek-dalam-5-tahun-1363.php</guid>
		<description><![CDATA[Awal tahun 2010, saya mencoba menoleh apa saja yang sudah saya lakukan. Karena terakhir kali saya menerbitkan buku tahun 2005, yakni kumpulan cerita pendek &#8220;Cinta Tak Ada Mati&#8221; dan re-issue &#8220;Corat-coret di Toilet&#8221; yang bersama cerita-cerita lain menjadi &#8220;Gelak Sedih&#8221;, saya nengoknya jauh hingga 2005. Ternyata dari 2005 sampai sekarang, meskipun tentu banyak yang saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun 2010, saya mencoba menoleh apa saja yang sudah saya lakukan. Karena terakhir kali saya menerbitkan buku tahun 2005, yakni kumpulan cerita pendek &#8220;Cinta Tak Ada Mati&#8221; dan re-issue &#8220;Corat-coret di Toilet&#8221; yang bersama cerita-cerita lain menjadi &#8220;Gelak Sedih&#8221;, saya nengoknya jauh hingga 2005. Ternyata dari 2005 sampai sekarang, meskipun tentu banyak yang saya tulis, ternyata hanya menerbitkan 14 cerita pendek! Inilah cerita-cerita pendek tersebut:<br />
<span id="more-1363"></span></p>
<p>1. &#8220;Tiga Kematian Marsilam&#8221;, Koran Tempo, 2006<br />
2. &#8220;Teka-Teki Silang&#8221;, Playboy, 2006<br />
3. &#8220;Semua Orang Pandai Mencuri&#8221;, Esquire, 2006<br />
4. &#8220;Gincu Ini Merah, Sayang&#8221;, Kompas, 2007<br />
5. &#8220;La Cage aux Folles&#8221;, Koran Tempo, 2007<br />
6. &#8220;Penafsir Kebahagiaan&#8221;, Kompas, 2007<br />
7. &#8220;Gerimis yang Sederhana&#8221;, Kompas, 2007<br />
8. &#8220;Pelajaran Memelihara Burung Beo&#8221;, Esquire, 2007<br />
9. &#8220;Pesan Moral&#8221;, Suara Merdeka, 2008<br />
10. &#8220;<a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/01/01422284/membakar.api">Membakar Api</a>&#8220;, Kompas, 2009<br />
11. &#8220;<a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/23/03111180/taman.patah.hati">Taman Patah Hati</a>&#8220;, Kompas, 2009<br />
12. &#8220;Pengantar Tidur Panjang&#8221;, Kompas, 2009<br />
13. &#8220;Riwayat Kesendirian&#8221;, Esquire, 2009<br />
14. &#8220;Jimat Sero&#8221;, terbit di buku &#8220;Kumpulan Budak Setan&#8221;, 2009.</p>
<p>*Angka tahun menunjukkan tahun penulisan.</p>
<p>Hmmm, 14 cerita pendek untuk sekitar 5 tahun &#8230; kayaknya enggak bisa disebut produktif. Bahkan untuk menerbitkan keempat belas cerpen tersebut dalam satu buku rasanya malas sekali.</p>
<p>Mudah-mudahan, selama lima tahun itu ada draft-draft yang lebih menjanjikan, dan bisa kelar tahun ini. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/14-cerita-pendek-dalam-5-tahun-1363.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

