<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Catatan Perjalanan</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/catatan-perjalanan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tidore: Melipir ke Desa Topo</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 03:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Ternate]]></category>
		<category><![CDATA[Tidore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php</guid>
		<description><![CDATA[Menyeberang dari Ternate ke Tidore, saya tersesat ke sebuah desa bernama Topo.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile1.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/sWpa6t3MtVO0ZFDe7Vu6D6KQPHHL6yM4JVczFGREcL1yWkpvlBJyRco9HAaU/topo.jpg.scaled.1000.jpg"><img alt="Topo" height="375" src="http://getfile8.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/xNqTS9x5nOhYvEhrqgUPoVwbaT4MT4yvyTn5KOe4xdDUhR3gK03lVAE3yhI4/topo.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Di tempat yang baru, biasanya saya mengandalkan peta untuk orientasi ruang. Sayang sekali hingga hari kedua, saya tak juga menemukan peta kota Ternate. Lobi hotel bersih-bersih saja dari benda semacam itu. Maka andalan kedua bisa diambil, ngelayap tanpa tahu tujuan, hanya mengandalkan rasa iseng menangkap pesan-pesan di sekeliling.
<p /> Berdua dengan Hilmar Farid, kami memutuskan untuk menyelinap ke Tidore. Seperti kita tahu, Tidore merupakan pulau tetangga Ternate. Hubungan kedua pulau itu dari dulu pasang-surut. Bersaing dan bersahabat. Jika kita perhatikan gambar uang kertas seribu rupiah, gunung besar di latar belakang adalah Tidore, yang kecil di latar depan adalah Mestara, dan kemungkinan besar gambar tersebut diambil dari Ternate. <br /><span id="more-2985"></span>
<p /> Setelah tersesat naik angkutan kota (sekali lagi, kota ini kecil saja, angkutan kota tak memiliki trayek tertulis di bagian depannya, jadi harus rajin bertanya ke sopir), kami berhasil kembali ke hotel dari tempat seminar. Dari hotel kami naik ojek (bayar 5000 rupiah) ke Bastiong. Itu pelabuhan penyeberangan ke Ternate. Karena sudah tanya-tanya dulu, ada dua pilihan harga untung menyeberang. Pertama, kapal fery kecil reguler kapasitas 16 penumpang dengan tarif 8000 rupiah (nunggu penumpang penuh, tapi biasanya tak lama); atau memakai speed boat dengan sewa 40 ribuan rupiah (di lokasi kami ditawari tarif 50 ribu rupiah). Tentu saja kami memilih yang murah saja.
<p /> Ada hal yang menarik tentang orang-orang Ternate. Saya menganggap mereka tipe yang tak malu-malu mengungkapkan pendapat atau protes jika ada sesuatu yang salah. Dua kejadian memperlihatkan itu. Pertama di angkutan kota. Seorang ibu marah-marah karena minta berhenti tapi mobil jalan terus. Sopir berdalih ia tidak mendengar. Si ibu mendebat, &#8220;Itu karena kamu putar musik kencang sekali.&#8221; Dalam hal ini si ibu benar, dan si sopir menyadari kesalahan ada padanya, tertawa kecut. Kejadian kedua terjadi di ferry yang menyeberangkan kami ke Tidore. Ada indikasi si pengemudi kapal akan melebihi muatan. Seorang bapak marah kepada pengemudi, bahwa itu tidak benar. Tapi alasannya lucu juga. Ia tidak bicara soal keselamatan pelayaran, tapi, &#8220;Lihat kita sedang ada tamu (maksudnya aku dan Hilmar), jangan mempermalukan diri sendiri!&#8221;
<p /> Sejujurnya kami belum tahu mau kemana atau berbuat apa di Tidore. Kami tak punya peta dan niatnya memang cuma melipir-melipir sekadar orientasi ruang. Maka ketika tukang ojek merekomendasikan untuk naik ke Desa Topo (awalnya saya salah dengar sehingga harus bertanya-tanya lagi), ya desa itulah kemudian jadi sekadar tujuan kami. Maka ketika kami sampai di Brum (mudah-mudahan saya tidak salah tulis), pelabuhan di bagian Tidore, kami langsung bertanya bagaimana caranya ke Desa Topo.
<p /> Seorang polisi dan dua orang ibu membantu kami. Kami naik angkutan umum ke Swasio. Perjalanan darat ini semacam menelusuri satu sisi pulau, dengan Pulai Mestara jadi pemandangan di laut dan Ternate di bagian belakangnya. Seorang pemuda yang duduk di samping saya, dengan semangat membanggakan Pulau Mestara, sebagai pulai yang dicetak di uang seribu. Betapa menyenangkannya ngobrol-ngobrol dengan orang setempat yang ramah ini. Kami belum sampai ke Swasio ketika si ibu yang duduk di depan memberitahu untuk ke Desa Topo, lebih baik turun di situ dan ganti angkutan.
<p /> Desa Topo memang bisa dibilang berada di puncak bukit. Perjalanan ke sana melalui jalan terjal yang kemiringannya nyaris 45 derajat. Saya sih tampaknya tak memiliki keberanian sekiranya harus menyetir di tanjakan seperti itu. Tapi sopir angkutan kami santai sekali, itu makanan sehari-harinya. Setelah sekitar seperempat jam, kamis ampai di ujung desa. Kalau mau lanjut, harus jalan kaki.
<p /> Desanya unik. Rumah-rumah bertumpuk hampir vertikal. Saya bayangkan, anak-anak di sini pasti sehat, karena untuk main ke tetangga saja mereka harus jalan kaki naik dan turun. Desanya juga sepi, tipikal desa umumnya. Hanya ada beberapa orang sedang mengerjakan satu bangunan, dan warung kecil yang tampaknya hanya menjual jajanan anak-anak. Yang bisa kamu lakukan cuma hal yang memang hendak kami lakukan ketika naik ke desa itu: melihat laut dari ketinggian.
<p /> Dari Desa Topo ini kita memang bisa melihat laut, juga pulau-pulau kecil, dan tentu saja melihat Pulau Halmahera. Saya sempat mengambil foto. Tapi selebihnya tak ada yang bisa dilakukan. Akhirnya dengan angkutan yang sama (sopirnya mau menunggui kami), kami memutuskan jalan ke Swasio saja. Siapa tahu ada yang bisa dilihat. Paling tidak mencari segelas kopi.
<p /> Swasio kota kecil yang tenang, jauh lebih tenang dari Ternate. Angkutan kota berseliweran dengan musik yang keluar dari sound system mereka. Bising, tapi karena tidak banyak, tak terlalu mengganggu. Malah relatif unik. Angkutan dalam kota lainnya yang beroperasi adalah becak yang didorong oleh sepeda motor. Seperti kota-kota lainnya di Jawa, saya sempat melihat ada distro, sejenis toko pakaian yang menjual t-shirt semacam Quiksilver, Monster, Billabong dan sejenisnya. Saya tak tahu apakah produk asli atau bajakan, tapi siapa yang peduli?
<p /> Setelah mencari-cari, akhirnya kami menemukan warung soto. Tapi kami tak bisa memesan soto karena kata si penjual: &#8220;Belum belanja daging ke Ternate.&#8221; Jadi banyak kebutuhan sehari-hari kota ini, diimpor dari Ternate (dan Ternate sendiri mendatangkannya dari tempat lain, biasanya Makassar atau bahkan dari Jawa). Akhirnya kami makan ayam goreng dan minum kopi. Pemilik warung bukan orang setempat, tapi pendatang dari Jawa Timur (suami) dan Jawa Barat (istri). Hebat juga mereka datang ke &#8220;ujung dunia&#8221; begini untuk mencari penghasilan.
<p /> Tiba-tiba waktu sudah pukul 6. Berbeda dengan Jakarta, di sini pada jam seperti itu langit masih terang. Kami memutuskan untuk kembali ke Ternate.
<p /> Sebelum tidur, kami sempat mampir ke sebuah desa bernama Tubo bersama rombongan sastrawan. Itu merupakan desa tempat Sultan Ternate beristirahat. Ada sebuah mata air alami di sana (karena tengah malam, saya tak sempat memeriksanya). Masyarakat sekitar secara swadaya membangun semacam pendopo sederhana untuk sultan beristirahat. Di sana, seperti umumnya acara yang melibatkan pejabat daerah, kami disuguhi tari-tarian daerah. Saya tak terlalu menikmati tarian itu. Perjalanan melipir ke Tidore membuat saya lelah dan &#8230; ngantuk. Sudah saatnya kembali ke Amara, hotel tempat kami menginap. </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternate: Ujung Dunia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 11:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Ternate]]></category>
		<category><![CDATA[Tidore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php</guid>
		<description><![CDATA[Ketika tahu saya hendak ke Ternate, sopir taksi bertanya: “Terbang ke ujung, ya?” Ujung dunia?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile3.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/f9vZYKN9pwPRQz52t3ITmqbwzIbi1kdzAl8u3m7Sar7l9D1MvOTlJxcNo6SQ/afototidore.jpg.scaled.1000.jpg"><img alt="Afototidore" height="375" src="http://getfile1.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Gzkz9ABvl9ntxmZXKRfKXOca2IuIqp9tSy9VKkq86TJAD704hkCcmv4I2Nms/afototidore.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Ini gara-gara percakapan saya dengan sopir taksi yang mengantar ke bandara. Ketika ia tahu jam penerbangan saya pukul setengah satu malam, komentarnya adalah: “Terbang ke ujung, ya?” Ternyata yang ia maksud sebagai “ujung” adalah kota-kota seperti Manado, Ternate, Sorong, Jayapura. Kota-kota itu terdapat di “ujung” timur dan utara Indonesia, bentangan jaraknya barangkali memang yang paling jauh dari Jakarta. Karena memang saya mau ke Ternate, saya mengiyakan.
<p /> Mungkin juga gara-gara beberapa minggu terakhir di meja saya tergeletak tiga novel yang bagian judulnya memiliki frasa “The End of the World” (karya Antonio Lobo Antunes, Haruki Murakami dan Mario Vargas Llosa), secara semena-mena saya langsung mengingat “ujung dunia”. Tapi jujur saja, meskipun pernah lama tinggal di pinggir pantai (Pangandaran), pada dasarnya saya “anak darat”. Anak yang lebih sering melakukan perjalanan darat. Maka ketika mendarat pertama kali di Ternate, yang hanya pulau kecil dengan satu gunung menjulang dan kota di kakinya, perasaan berada di “ujung dunia” itu benar-benar saya rasakan. Maksudnya, saya merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi. <br /><span id="more-2984"></span>
<p /> Saya pergi ke Ternate atas undangan Temu Sastra Indonesia keempat. Begitu tahu tempatnya di Ternate, saya langsung mengiyakan. Secara berseloroh saya bilang, “Portugis saja sudah datang ke pulau itu ratusan tahun lalu (mereka datang untuk mencari rempah-rempah), masa saya tak berkesempatan mengunjunginya.” Saya lumayan banyak membaca tentang Ternate dan Tidore, dan sekali ada kesempatan datang ke sini dengan akomodasi gratis, pantang untuk dilewatkan tentu saja.
<p /> Jika pernah melihat uang kertas seribu rupiah bergambar dua gunung, itulah Ternate dan Tidore. Kenyataannya, seperti akan kamu lihat dari jendela pesawat, ada lebih dari dua gunung seperti itu, besar dan kecil, mencuat dari permukaan laut di sekitar Ternate dan Tidore. Pemandangannya (bagi saya yang “anak darat”), benar-benar membuat bengong. Hamparan permukaan laut dengan hiasan gunung-gunung itu serasa kolam hiasan depan rumah saja. Barangkali Tuhan sedang membuat taman bermain ketika kepulauan Ternate-Tidore diciptakan. Siapa tahu?
<p /> Dan begitu mendarat di bandara Sultan Baabullah (saya pikir di sini bukan tempatnya untuk mengulas sejarah kesultanan Ternate dan Tidore yang termasyhur tersebut, tapi baiklah sedikit memperkenalkan: ia salah satu sultan Ternate yang sangat terkenal), rasa bengong saya atas “ujung dunia” ini semakin bertambah-tambah. Pulau ini tak lebih dari puncak gunung besar. Gunung Gamalama. Bandara Baabullah persis berada di kakinya. Dan keluar dari bandara, kami langsung menemui kota Ternate yang tak lebih merupakan permukiman di setengah lingkaran kaki Gunung Gamalama.
<p /> Jadi pergi kemana pun di kota itu, di satu sisi kamu melihat gunung menjulang, di sisi lain kamu melihat laut terhampar dengan gunung-gunung lain menghiasinya. Percayalah, tak ada yang seperti ini di sekitar tempat saya lahir dan tinggal. Dan kota Ternate kecil saja, rasanya bisa dijelajahi hanya dalam satu-dua jam saja. Ada angkutan kota yang mengelilingi kota, dan menurut teman yang pernah mencoba, angkutan kota bisa disuruh mengantar ke tempat yang dituju layaknya taksi. Tapi jangan kuatir, saya kira segala kebutuhan sebuah kota ada di sini. Saya melihat ada konter California Fred Chicken. Meskipun belum lihat, saya diberitahu juga ada toko buku Gramedia (penting untuk penulis). Ada ATM. Ada mal (saya tak berminat mengunjunginya). Ada juga yang membuat saya takjub tak percaya: beberapa mobil bagus memiliki plat nomor B (Jakarta). Saya yakin itu bukan mobil pelancong (gila kan membawa mobil sejauh itu), tapi orang lokal yang sengaja membeli mobil di Jakarta dan mempertahankan plat nomornya entah dengan maksud apa.
<p /> Baiklah, lupakan dulu soal itu. Malam ini kami menghabiskan waktu di alun-alun kota, di sebuah taman bernama Taman Dodoku Kapita Lau Ali. Di sana kami mendengarkan pentas grup akustik dan pembacaan puisi. Seorang gadis mencoba tampil ke panggung, dan petugas polisi pamong praja menangkapnya. Sepanjang acara, terjadi kucing-kucingan antara si gadis dan polisi pamong praja. Saya membayangkan, di kota kecil ini barangkali pertentangan antara si gadis dan polisi pamong praja sudah menjadi legenda serupa Tom dan Jerry.
<p /> Acara kami hari itu selesai tengah malam, setelah tiga sesi seminar sepanjang siang dan sore (saya membawakan makalah “Komitmen Sosial dalam Kesusastraan Indonesia Hari Ini”). Bahkan kota ini terus hidup selewat jam 12. Ketika pulang dari alun-alun ke hotel, dari jendela bis antaran, saya masih melihat penjual sayur di pasar, pedagang martabak berderet di pinggir jalan, dan bahkan ada satu pertunjukan musik lain di pinggir jalan yang lain. Sempat terpikir oleh saya, jangan-jangan seluruh kota ini saling mengenal satu sama lain (barangkali saya perlu tanya Nukila Amal, penulis yang berasal dari Ternate, dan bertanya apakah ia mengenal seluruh penduduk kota?). Apa boleh buat, dengan kehidupan dikelilingi lautan membentang dan daratan dihabiskan oleh gunung gemuk menjulang (berapi dan masih aktif), bukankah pilihan terbaik adalah beirnteraksi satu sama lain dan menghidupkan kota kecil ini, siang dan malam? Setidaknya itulah yang saya pikirkan.
<p /> Saya baru satu hari di sini. Lelah dan belum tidur. Belum melihat banyak tempat ini (ada rencana menyeberang ke Tidore). Meskipun begitu, sudah terpikir oleh saya, kelak ingin kembali ke sini. Dan sungguh, saya menganjurkan siapa pun, jika berkesempatan, tengoklah “ujung dunia” ini. Rasakan denyut kota kecil di mana kamu merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi, kecuali berputar-putar di kaki Gunung Gamalama, dan coba pula merasakan hidup layaknya di sebuah kota dalam sebuah novel.
<p /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Perjalanan</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-perjalanan-619.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-perjalanan-619.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 18:49:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[di simpang lampu merah ini, ke arah menuju barat, masihkah belok kiri jalan terus? di belakang ada kemilau subuh, dengan warna emasnya yang selalu begitu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>di simpang lampu merah ini,<br />
ke arah menuju barat,<br />
masihkah belok kiri jalan terus?<br />
di belakang ada kemilau subuh,<br />
dengan warna emasnya yang selalu begitu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/catatan-perjalanan-619.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh Buku (Bekas)</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/oleh-oleh-buku-557.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/oleh-oleh-buku-557.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 10:26:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[Seperti pergi ke manapun, saya selalu menyempatkan diri pergi ke toko buku, terutama keluar-masuk toko buku bekas. Selama di Tokyo, setiap kali saya jalan dan menemukan toko buku bekas, pasti saya masuk. Tapi kali ini saya tak begitu banyak membeli buku. Pertama, karena sangat jarang buku berbahasa Inggris (berbahasa Jepang sih melimpah). Kedua, jika dibandingkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_689" class="wp-caption aligncenter" style="width: 365px"><a href="http://ekakurniawan.com/blog/oleh-oleh-buku-557.php/bukubekas1" rel="attachment wp-att-689"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6Uc9pB5SI/AAAAAAAAAMY/0xGM-ItJdnA/s400/bukubekas2.jpg" alt="Toko Buku Bekas di Universitas Tokyo. Foto oleh Ratih Kumala." title="bukubekas1" width="355" height="266" class="size-full wp-image-689" /></a><p class="wp-caption-text">Toko Buku Bekas di Universitas Tokyo. Foto oleh Ratih Kumala.</p></div>
<p>Seperti pergi ke manapun, saya selalu menyempatkan diri pergi ke toko buku, terutama keluar-masuk toko buku bekas. Selama di Tokyo, setiap kali saya jalan dan menemukan toko buku bekas, pasti saya masuk. Tapi kali ini saya tak begitu banyak membeli buku. Pertama, karena sangat jarang buku berbahasa Inggris (berbahasa Jepang sih melimpah). Kedua, jika dibandingkan di tempat lain, harga buku di Jepang hampir satu setengah hingga dua kali lipat di tempat lain.</p>
<p>Meskipun begitu, saya sempat gembira ketika mengunjungi Tokyo University, saya menemukan sebuah toko buku bekas. Toko itu mengingatkan saya pada toko Jose Rizal di Taman Ismail Marzuki, tapi dengan penataan yang lebih rapi dan cahaya lebih terang. Pemiliknya juga seorang lelaki tua yang ditemani istrinya. Sebagian besar buku berbahasa Jepang (tapi saya bisa mengira-ngira, sebagian besar buku sastra dan kajian), tapi saya menemukan dua buku berbahasa Inggris yang langsung saya beli.<br />
<span id="more-557"></span><br />
Pertama, adalah buku karya Clifford Geerz berjudul <em>Negara</em>. Ya, itu buku kajian mengenai Bali. Sungguh tak mengira saya menemukan edisi asli buku itu jauh-jauh di Tokyo. Buku itu pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul <em>Negara Teater</em> (kalau tidak salah, penerbitnya Bentang Pustaka). Buku lainnya adalah kumpulan puisi Wislawa Szymborska berjudul <em>View with a Grain of Sand</em>. Tampaknya itu buku pilihan puisinya yang kedua terbit dalam bahasa Inggris, terbit jauh sebelum ia memperoleh Nobel. Total harga kedua buku hanya 900 Yen (waktu itu kurs Yen sekitar 130 Rupiah), lumayan murah. Di toko itu juga saya menemukan beberapa karya William Faulkner, dengan harga rata-rata di bawah 300 Yen. Tapi karena saya sudah punya buku-bukunya, saya tidak membeli.</p>
<p><div id="attachment_565" class="wp-caption alignright" style="width: 235px"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6UlHvJrfI/AAAAAAAAAMg/OVENjqInwrA/s400/bukubekas-225x300.jpg" alt="Di Toko Buku Bekas Kichijoji. Foto Oleh Ratih Kumala." title="bukubekas" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-565" /><p class="wp-caption-text">Di Toko Buku Bekas Kichijoji. Foto Oleh Ratih Kumala.</p></div><br />
Ketika mengunjungi Ghibli Museum, saya baru tahu kalau <em>Animal Farm</em> karya George Orwel menjadi film animasi (saya tak sempat ngecek, apakah produksi Ghibli atau Ghibli sekadar merayakan?). Maka ketika di satu toko buku bekas saya menemukan buku tersebut, saya juga membelinya. Saya pernah membaca buku itu dalam versi Indonesia, saya lupa penerjemahnya, tapi dengan cara aneh judulnya diterjemahkan sebagai <em>Binatangisme</em>. Penerbitnya mungkin Pustaka Jaya. Saya tak pernah lagi melihat buku itu. Ada memang terjemahan-terjemahan versi baru (beberapa versi jika saya tak salah), tapi saya tak pernah membeli maupun membacanya. Buku ini saya beli cuma 70 Yen (tidak sampai 10 ribu rupiah), padahal kondisinya bisa dibilang baru. Edisi Penguin Books.</p>
<p>Bersama buku itu, saya juga membeli satu buku drama karya Kurt Vonegut berjudul <em>Happy Birthday, Wanda June</em>, seharga 100 Yen. Saya belum tahu apa isinya. Saya bersama beberapa teman sedang belajar membuat naskah drama. Forum ini digagas oleh teman-teman di Teater Garasi. Karena secara pribadi saya tak begitu familiar dengan naskah drama (kecuali yang saya tahu sepintas lalu saja), akhir-akhir ini saya mencoba membaca berbagai naskah drama untuk membantu pemahaman saya. Saya mengenal Kurt Vonegut lebih sebagai novelis dengan gaya yang lucu serta sering mengangkat tema fiksi sains. Melihat buku dramanya, tentu saja saya jadi ingin membaca seperti apa jadinya.</p>
<p>Oh ya, saya juga menemukan buku <em>The Adventures of Huckleberry Finn</em> karya Mark Twain. Saya juga pernah membaca edisi terjemahan Indonesia buku ini. Saya lupa penerjemahnya, tapi penerbitnya kemungkinan besar Pustaka Jaya. Kalau tidak salah juga, ada versi Indonesia <em>Petualangan Tom Sawyer</em>. Mungkin buku ini tipe yang saya beli tapi tak akan saya baca (lagi), kecuali kebutuhan untuk mengkaji (siapa tahu?). Saya membelinya hanya karena harganya murah, 105 Yen, dan kondisi bukunya bagus. Bisa untuk koleksi, dan siapa tahu kelak anak atau cucu saya tertarik membaca novel semacam ini (hehe).</p>
<p>Buku bekas terakhir yang saya beli, juga cuma 105 Yen dan kondisinya bisa dibilang baru, adalah novel DBC Pierre berjudul <em>Vernon God Little</em>. Terbitan Faber and Faber. Novel ini memperoleh The Man Booker Prize pada tahun 2003 lalu.</p>
<p>Menjadi seorang pembaca buku, mengunjungi toko buku bekas dan menemukan buku asik berharga murah merupakan kebahagiaan luar biasa. Saya ingat, kegemaran berburu buku bekas ini dimulai ketika saya mahasiswa. Buku bekas pertama yang saya beli adalah novel Knut Hamsun berjudul <em>The Wanderer</em>. Novel itu sampai sekarang masih ada, meski keadaan bukunya tidak terlalu baik (tidak ada yang sobek, tapi permukaan kertasnya sudah kuning betul, hehe). Saya menemukan buku itu di gang kecil di belakang Malioboro, di Pasar Kembang.</p>
<p>Selain buku-buku itu, sebenarnya ada dua buku lain yang saya bawa dari Tokyo. Keduanya buku baru dan saya beli karena tidak (belum) ada di Jakarta. Pertama, buku titipan Richard Oh: novel baru Philiph Roth berjudul <em>Indignation</em>. Masih edisi <em>hardcover</em>. Kedua, <em>Snakes and Earrings</em> karya perempuan penulis Jepang kelahiran 1983 bernama Hitomi Kanehara. Ratih sudah lama ingin membaca buku itu, tapi di Jakarta kami hanya menemukan novel keduanya (<em>Autofiction</em>). Novel itu meraih Akutagawa Prize. Karena novel itu pendek, Ratih menyelesaikan buku itu di pesawat dalam perjalanan pulang dari Tokyo menuju Denpasar.  Setelah Ratih menyelesaikan baca, saya juga membaca buku itu di pesawat dalam perjalanan dari Denpasar ke Jakarta, dan menyelesaikannya di dalam bis bandara.</p>
<p>Dua teman Jepang kami, menganggap kemenangan Hitomi Kanehara sebagai &#8220;skandal&#8221;. Mereka menduga kemenangannya juga diwarnai oleh kecenderungan selebritisasi sastra. Memang Hitomi Kanehara, selain masih muda juga bisa dibilang cantik (di buku yang kami beli, fotonya bahkan dicetak besar di balik sampul belakang). Mereka bahkan menyamakannya dengan gejala &#8220;sastrawangi&#8221; di Indonesia. Apalagi tema novel itu juga penuh adegan seks yang blak-blakan.</p>
<p>Di luar apa yang mereka sebut &#8220;skandal&#8221;, kami berdua sebenarnya cukup menikmati novel itu. Tentu saja kalau harus memilih, kami akan menyebut penulis Jepang lainnya. Dalam kasus saya, saya masih tetap terpesona oleh Yasunari Kawabata dan sangat bergairah membaca Haruki Murakami. Ratih akan memilih penulis Okaru Oizumi. Tapi <em>Snakes and Earrings</em>, bagi saya juga cukup asyik. Saya menikmati alur ceritanya yang tanpa tendensi arah. Ada novel-novel dimana kita diberi semacam <em>foreshadow</em> sehingga kita bisa membayangkan akan dibawa kemana. Novel ini tidak seperti itu, ia mengalir dari satu adegan ke adegan lain. Mengenai apa novel ini barangkali baru bisa terasa setelah setengah buku dibaca. Di luar itu, saya juga menikmati dialog-dialognya yang cerdas, humor yang lumayan mencengangkan bagi penulis muda seperti Hitomi Kanehara.</p>
<p>Itulah oleh-oleh buku dari Jepang. Oh ya, ada oleh-oleh lain sebenarnya: teman Ratih titip dibelikan &#8220;payung Jepang&#8221;. Apa yang dimaksud &#8220;payung Jepang&#8221; ternyata payung biasa yang transparan. Dari teman-teman Indonesia yang tinggal di Jepang, kami juga tahu, payung itu memang jadi favorit orang Indonesia yang minta oleh-oleh. Tapi di Jepang kami baru tahu, payung itu dibuat dengan plastik transparan sebenarnya untuk fungsi tertentu: itu biasanya dipergunakan oleh pengguna sepeda, jadi ketika mereka mengendarai sepeda sambil berpayung, mereka masih bisa melihat jalan. Lha, kalau di Indonesia? Selain melindungi dari hujan, payung dipergunakan juga untuk melindungi diri dari terik matahari tropis. Kalau transparan? Ya tetap saja kepanasan! Dasar orang Indonesia, ya &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/oleh-oleh-buku-557.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Malam Seribu Bulan&#8221; di Tokyo University of Foreign Studies</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-di-tokyo-university-of-foreign-studies-551.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-di-tokyo-university-of-foreign-studies-551.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 01:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Seribu Bulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari. Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_686" class="wp-caption aligncenter" style="width: 365px"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6TilyErkI/AAAAAAAAAMQ/GcyrVrdtyCE/s400/seminar2.jpg" alt="Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala." title="seminar1" width="355" height="266" class="size-full wp-image-686" /><p class="wp-caption-text">Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.</p></div>
<p>Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari.</p>
<p>Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah sekaligus moderator. Terus ada Shiho Sawai, peneliti Jepang yang memberikan konteks mengenai kesusastraan Indonesia. Terus ada kritikus sastra Jepang yang mengulas novel <em>Bi wa Kizu</em> (<em>Cantik itu Luka</em>). Dua lainnya adalah saya dan penerjemah untuk saya.<br />
<span id="more-551"></span><br />
Saya kebagian membicarakan mengenai novel saya <em>Malam Seribu Bulan</em>, dan sesekali menanggapi komentar mengenai novel pertama saya, <em>Cantik itu Luka</em>. Karena novel tersebut belum terbit, saya memberi semacam ringkasan cerita bagi novel itu. Hal ini sebenarnya agak menyulitkan saya, soalnya novel itu tak cuma sekadar merupakan gagasan cerita, tapi juga mengandung gagasan bentuk yang berhubungan dengan cerita. Tanpa melihat novelnya secara utuh, rasanya sulit mengenali gagasan bentuknya. Tapi tak apa, kami kemudian lebih banyak membicarakan ide cerita novel tersebut.</p>
<p>Karena pusat studi yang mengadakan seminar ini merupakan pusat studi Asia Tenggara, sastra, dan Islam, mereka sangat tertarik dengan representasi Islam dalam novel <em>Malam Seribu Bulan</em>. Tentu saya tak berpretensi untuk mewakili gambaran umum Islam di masyarakat Indonesia, tentu tidak juga di dunia kesusastraan kita. Sebagai pembanding, maka Shiho bicara mengenai komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang banyak mengklaim sastra mereka sebagai &#8220;sastra Islami&#8221;. Saya sendiri tak akan mengatakan novel saya sebagai novel Islami, tapi bahwa <em>Malam Seribu Bulan</em> mengangkat isu mengenai agama Islam, bisa dikatakan benar. Tampaknya itulah yang membuat mereka kemudian mengundang saya untuk mempresentasikan novel ini.</p>
<p>Pada dasarnya saya tak biasa membicarakan isi cerita novel saya dengan ringkas, maka saya tak akan mengulangnya di sini. Tapi pada intinya, novel ini berkisah mengenai Syekh Ruhayat Jamil bersama empat muridnya. Saya menceritakan Syekh Ruhayat Jamil sejak masa nenek moyangnya mendirikan padepokan mereka, melintasi berbagai timbul-tenggelamnya perkembangan Islam di Indonesia: sejak kedatangan orang-orang Turki di Kerajaan Aceh; Perang Padri; Wali Songo di Jawa; pendirian organisasi Islam modern semacam Sarekat Islam, Nu, Muhammadiyah, peristiwa Darul Islam; para pemuda yang berbondong-bondong sekolah militer ke Pakistan. Ya, kira-kira itulah yang ada di novel ini. Semua kisah keluarga Ruhayat Jamil ini diceritakan dalam empat versi (yang kadang sama kadang berbeda jauh) serta empat gaya (ada yang mengkopi gaya prosaik Quran hingga alusi-alusi Nizami, gaya bercerita Kisah 1001 Malam hingga lelucon-lelucon sufistik Nasrudin). Keempat versi kisah ini merupakan usaha &#8220;kanonisasi&#8221;, sebagaimana sering terjadi dalam berbagai kelahiran kitab suci.</p>
<p>Saya tak akan membicarakannya lebih jauh. Jika tertarik, segera membeli bukunya ketika waktunya terbit (hehehe).</p>
<p>Bagaimanapun, itu kali pertama saya membicarakan novel ini di depan publik. <em>Malam Seribu Bulan</em> sebenarnya saya rencanakan terbit November ini, tapi beberapa kesulitan dalam pengeditan membuat saya terpaksa mengundurnya kembali. Mungkin Januari atau Februari, mudah-mudahan target ini bisa tercapai. Sekembali ke Jakarta, saya tampaknya akan liburan selama satu atau dua minggu untuk menyelesaikan pengeditan novel ini.</p>
<p>Mengenai <em>Cantik itu Luka</em>, ada respon pembaca Jepang yang unik dan di luar dugaan saya. Ada adegan di novel itu ketika Kliwon menculik Alamanda ke tengah laut, dan di sana mereka terpaksa makan ikan mentah. Nah, dalam versi Indonesia, itu berarti sebuah &#8220;keterpaksaan&#8221; yang menderitakan. Tapi di Jepang, karena mereka doyan ikan mentah, efek itu enggak berhasil. Hehehe &#8230;</p>
<p>Begitulah. Selepas seminar, waktu saya dan Ratih lebih longgar lagi. Kami memutuskan pergi ke Tokyo Tower (norak ya, tapi di Jakarta pun, saya baru pergi ke Monas tahun lalu, itupun karena nganter keponakan, hehe), serta ini yang paling kami suka: Ghibli Museum. Tapi cerita mengenai itu besok aja, ya &#8230; Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/malam-seribu-bulan-di-tokyo-university-of-foreign-studies-551.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melihat Gadis Manga di Shibuya</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/melihat-gadis-manga-di-shibuya-543.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/melihat-gadis-manga-di-shibuya-543.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 02:14:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Seribu Bulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=543</guid>
		<description><![CDATA[Sudah tiga hari saya dan Ratih berada di Tokyo. Acara utama kami baru akan dilakukan siang ini. Saya diundang ke Tokyo University of Foreign Studies &#8211; TUFS &#8211; untuk membicarakan novel ketiga saya Malam Seribu Bulan, baru akan terbit awal tahun depan. Pengundang saya adalah Prof. Toru Aoyama. Ia tampaknya, sebagaimana diberitahu teman saya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_683" class="wp-caption aligncenter" style="width: 365px"><a href="http://ekakurniawan.com/blog/melihat-gadis-manga-di-shibuya-543.php/inokashira1" rel="attachment wp-att-683"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6Sw2ptjmI/AAAAAAAAAMI/uO7pAImJR9c/s400/inokashira.jpg" alt="Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala." title="inokashira1" width="355" height="266" class="size-full wp-image-683" /></a><p class="wp-caption-text">Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala.</p></div>
<p>Sudah tiga hari saya dan Ratih berada di Tokyo. Acara utama kami baru akan dilakukan siang ini. Saya diundang ke Tokyo University of Foreign Studies &#8211; TUFS &#8211; untuk membicarakan novel ketiga saya <em>Malam Seribu Bulan</em>, baru akan terbit awal tahun depan. </p>
<p>Pengundang saya adalah Prof. Toru Aoyama. Ia tampaknya, sebagaimana diberitahu teman saya yang bekerja di NHK, mengepalai pusat studi mengenai sastra, Islam, dan Asia Tenggara. Seminar kami pun ada hubungannya dengan pusat studi tersebut.<br />
<span id="more-543"></span><br />
Saya belum bisa membicarakan seminar tersebut, karena baru hari ini. Selama tiga hari kami di Tokyo, akhirnya saya dan istri mempergunakannya dengan berjalan-jalan saja. Dari Indonesia, kami menumpang peswat Garuda yang dipenuhi oleh remaja-remaja Jepang, yang tampaknya baru berlibur dari Bali. Beberapa di antaranya menenteng papan surf. Di Narita, seorang gadis yang masih terbata-bata berbahasa Indonesia bernama Miho datang menjemput. Saya tertidur di dalam bis yang membawa kami ke hotel di Kishijoji. Capek, hehe.</p>
<p>Orang-orang Jepang, sebagaimana yang kami tahu, sangat ramah. Bahkan saya terkesan dengan urusan imigrasi yang cepat, setelah mengalami tujuh jam tertahan di imigrasi bandara LAX, Los Angeles tahun lalu. Satu-satunya masalah, kebanyakan tidak berbahasa Inggris. Lebih parahnya, barangkali karena dandanan kami hehe, mereka dengan cueknya sering mengajak kami berbahasa Jepang, membuat saya dan Ratih buru-buru bilang, &#8220;<em>Sorry, we can&#8217;t speak Japanese</em>&#8220;. Kebetulan Ratih bisa mengatakan kalimat itu dalam bahasa Jepang.</p>
<p>Di Tokyo, kami tinggal di Kichijoji. Sekitar seperempat jam dengan kereta ke pusat Tokyo. Kami baru tahu, dulunya distrik ini merupakan permukiman seniman. Banyak toko suvenir yang membuat kami kegirangan. Benar, saya dan Ratih suka sekali melihat toko-toko kecil yang menjajakan suvenir, termasuk t-shirt dan pakaian lucu-lucu. Kami juga dua kali pergi ke Taman Inokashira. kebetulan musim gugur belum berakhir, jadi kami bisa melihat dedaunan berwarna merah dan kuning. Jika musim semi, orang datang ke taman itu untuk melihat bunga-bunga bermekaran, termasuk bunga Sakura.</p>
<p>Diantar teman kami, Lily Yulianti Farid yang tinggal dan bekerja di Tokyo, kami akhirnya pergi ke Harajuku. Hehe, itu memang salah satu rencana kami. Entah kenapa, sebagai penulis, kami lebih suka pergi ke tempat seperti itu daripada ke museum seni atau teater. Lily sempat bilang, kaum intelek biasanya risih pergi ke Harajuku. Ia bahkan bilang, teman-teman Jepangnya, yang terpelajar dan aktivis, akan merasa malu kalau kepergok berada di sana. Tapi kami cuek saja. Saya bukan pengamat budaya masa. Kami pergi ke sana karena memang senang melihat toko-toko pakaian, mode-mode yang asyik di lihat, dan tentu saja juga senang melihat penyanyi hiphop beratraksi di teras stasiun. Malam itu, kami melihat segerombolan penggemar <em>rock and roll</em> berjoget dan berdandan ala Elvis Presley di depan pintu masuk Kuil Meiji.</p>
<p>Yang membuat kami agak tergelak adalah kenyataan bahwa kebanyakan remaja Tokyo, berjalan dengan menekan telapak kaki bagian luar. Itu membuat kaki mereka sedikit membentuk huruf O atau huruf Y terbalik. Tentu saja itu bukan kelainan, melainkan trend agar terlihat seksi. Gaya itu mereka tiru dari gaya gadis-gadis di <em>manga</em>. Perhatikan cara tokoh-tokoh komik <em>Sailor Moon</em> atau sejenisnya berdiri, kakinya selalu dengan sikap seperti itu: kedua paha agak dirapatkan, tapi kedua betis agak direnggangkan. Konon hal seperti itu seksi. Tentu saja kalau mempraktekannya, pasti merepotkan. Tapi mereka tetap melakukannya, hehe.</p>
<p>Ledakan gadis-gadis seperti itu terdapat di Shibuya, terutama di sekitar patung Hachiko. Kami sampai berpendapat, sol sepatu mereka harus benar-benar kuat atau akan cepat rusak.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal Hachiko, kami sempat berfoto di depan patung anjing bernama Hachiko itu. Konon itu nama anjing sungguhan. Ia lahir tahun 1923 dan dimiliki oleh seorang profesor dari Universitas Tokyo bernama Eisaburo Ueno. Tiap hari, sang profesor berangkat ke kampus dengan membawa Hachiko hingga stasiun Shibuya, lalu Hachiko ditinggal di sana untuk pulang sendirian. Nanti ia akan datang lagi untuk menjemput pak profesor pulang kerja. Semua pelanggan stasiun mengenal baik profesor dan anjingnya ini.</p>
<p>Tapi suatu hari, sang profesor meninggal di kampusnya. Meskipun begitu, Hachiko tetap datang ke stasiun Shibuya untuk menjemputnya. Ia terus melakukannya hingga 10 atau 11 tahun, tak tahu jika majikannya sudah meninggal. Untuk mengenang kesetiaan Hachiko, sebuah patung anjing didirikan di muka stasiun Shibuya itu, setahun sebelum Hachiko sendiri meninggal.</p>
<p>Terakhir, setelah mengunjungi Harajuku, kami berencana mengunjungi Museum Ghibli, sepuluh menit dari hotel kami. Saya menyukai karya-karya animasi Hayao Miyazaki, dan ketika tahu kami akan tinggal di Kichijoji, mengunjungi museum itu jadi salah satu yang terbayang. Tapi ternyata enggak bisa asal datang terus beli tiket, hehe &#8230; harus pesan dulu. Mudah-mudahan sih kesampaian.</p>
<p>Sekarang, saya harus bersiap-siap pergi ke TUFS, dengan <em>print-out</em> <em>Malam Seribu Bulan</em> yang saya bungkus dari Jakarta. Itu bungkusan kesayangan saya akhir-akhir ini, hehe &#8230; Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/melihat-gadis-manga-di-shibuya-543.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pangandaran: Berdamai dengan Laut</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/pangandaran-berdamai-dengan-laut-108.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/pangandaran-berdamai-dengan-laut-108.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 11:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi, trauma masih ada. Penduduk di sekitar pantai kini jauh lebih mudah merasa panik hanya karena gelombang besar menghantam jalan raya di pinggir pasir. Padahal mereka tahu, gelombang seperti itu sudah sering terjadi, terutama di sekitar bulan purnama. Meskipun begitu, tidak saya lihat keputus-asaan. Seperti adik saya yang berani menggeluti usaha yang bukan bidangnya, penduduk kota itu juga tetap bertahan di sana -- meskipun banyak hal telah hilang dari mereka: rumah, toko, bahkan mungkin sanak-keluarga.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img src="http://farm3.static.flickr.com/2094/2343135114_ee60aa74d3_o.jpg" alt="" /><br />
<span class="caption">Reklamasi di Pantai Timur. Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>.<br />
</span></center></p>
<p>Selama lebih dari satu minggu kemarin (9-17 Maret 2008) saya dan istri menghilang dari Jakarta. Salah satunya kami pergi ke <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pangandaran">Pangandaran</a>. Setelah bencana tsunami hampir dua tahun lalu, saya sudah beberapa kali pulang ke sana. Tapi baru kemarin saya memiliki waktu luang untuk berjalan-jalan kembali sepanjang pantai.</p>
<p>Syukurlah, denyut kehidupan kota itu sudah tampak seperti sediakala, meskipun belum bisa dikatakan pulih sepenuhnya. Minggu itu badai membuat angin laut sangat kencang dan permukaan ombak lebih tinggi dari biasanya. Tapi masih banyak anak-anak yang bermain bola di pasir, serta orang-orang yang bermain selancar di permukaan ombak. Mereka tengah mencoba mengikis trauma, merelakan yang mati dan hilang, dan berdamai dengan laut.<br />
<span id="more-108"></span><br />
<center>***</center><br />
<center><img src="http://farm4.static.flickr.com/3294/2343135112_20f4dcc40e_o.jpg" alt="" /><br />
<span class="caption">Tunas-tunas ketapang, program reboisasi sepanjang pantai. Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>.<br />
</span></center></p>
<p>17 Juli 2006 menjelang malam, saya sedang berdiri di depan bioskop Megaria dengan satu tiket masuk. Karena istri saya sedang pergi ke Solo, saya punya kebiasaan menghabiskan waktu dengan menonton seorang diri. Saya lupa film apa yang hendak saya lihat malam itu, sebab tiket masuk tak pernah saya pergunakan.</p>
<p>Saat itu telepon tiba-tiba berdering. Dari <a href="http://waaaw.wordpress.com/">Wawa</a>, adik saya. Tak jelas apa yang ia katakan. Saya hanya mendengar suara tangisannya, bercampur teriakan-teriakan, dan napasnya yang ngos-ngosan. Setelah beberapa saat mencoba menenangkannya dan bertanya apa yang terjadi, baru saya tahu, Wawa menelepon sambil berlari menghindari air laut yang tiba-tiba menghantam kota kecil kami, Pangandaran.</p>
<p>Di kota itu, ayah dan ibu saya, serta adik-adik tinggal. Wawa sebenarnya tinggal di Yogya, tapi malam itu ia sedang berlibur di Pangandaran. 17 Juli 2006 akan selalu dikenang penduduk kota tersebut sebagai hari ketika bencana tsunami menghantam. Tak hanya bangunan-bangunan sepanjang pantai yang rata dengan tanah: lebih dari 300 orang meninggal, banyak diantaranya dinyatakan hilang.</p>
<p>Malam itu, saya memutuskan untuk berangkat ke Pangandaran. Meskipun istri saya dan beberapa teman mengingatkan betapa berbahayanya datang langsung ke tempat itu, saya memutuskan untuk tetap pergi ke sana. Saya meyakinkan mereka bahwa saya mengenal dengan baik kota Pangandaran. Apa pun yang terjadi, saya ingin tahu secara langsung keadaan keluarga saya. Terutama setelah mengetahui, dalam pelarian dan pengungsian tersebut, seluruh anggota keluarga saya tercerai-berai di tempat-tempat penampungan yang berbeda.</p>
<p>Saya sudah sampai di Pangandaran pukul 2 dinihari. Bersama seorang ayah yang mengaku mendapat kabar anaknya menjadi korban tsunami (selamat tapi dirawat di rumah sakit), barangkali kami merupakan dua orang luar kota yang pertama kali datang ke kota itu. Baru menjelang pagi sukarelawan, bantuan, tentara, dan wartawan memenuhi alun-alun kecil di depan masjid agung. Itu sejauh yang saya lihat.<br />
<center>***</center><br />
<center><img src="http://farm4.static.flickr.com/3013/2343135110_e5fc9768ce_o.jpg" alt="" /><br />
<span class="caption">Papan penunjuk jalur evakuasi. Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>.<br />
</span></center></p>
<p>Air laut hanya mencapai bagian belakang bangunan SMPN 1 Pangandaran, sekolah saya waktu SMP. Itu artinya, rumah orang tua saya yang hanya terpisahkan oleh satu lapangan bola dengan SMP tersebut, selamat. Ketika saya sampai di rumah, suasana sangat sepi. Semua rumah nyaris tak berpenghuni. Tapi akhirnya saya menemukan ayah saya masih berada di rumah.</p>
<p>Saya tak bisa menjelaskan dengan tepat seperti apa ayah saya. Saya sangsi apakah ia seorang yang realistis atau apatis. Ia bilang, tak yakin tsunami akan mencapai rumah kami, karena itu sementara ibu dan adik-adik saya, serta para tetangga berlarian menyelamatkan diri, ia memilih untuk tetap tinggal di rumah. Konon ia malah sempat menggiring ayam-ayam kampung peliharaannya ke dalam kandang. Karena ayah tidak mau mengungsi, akhirnya paman saya, adik ayah yang paling kecil, juga tidak mengungsi untuk menemaninya. Dini hari itu, hanya saya, ayah dan paman yang tinggal di rumah. Di sekeliling kami, hanya rumah-rumah yang kosong. Hanya sesekali muncul patroli, dan suara anjing melolong.</p>
<p>Paman mengingatkan kami, jika terjadi gempa dan tsunami susulan, cara terbaik adalah lari ke loteng rumah. Itu juga yang ada di dalam pikiran saya. Rumah kami terdiri dari dua lantai, dan saya yakin, jika terjadi gelombang susulan yang lebih kuat, lantai dua rumah kami cukup aman. Tinggi permukaan tanah rumah kami sekitar 6 atau 7 meter dari permukaan laut. Jika ada gelombang yang lebih tinggi dari itu, saya percaya, alternatif lain hampir tidak ada.</p>
<p>Karena saya juga percaya gempa dan tsunami susulan tak pernah lebih besar dari yang sebelumnya (saya harus mengoreksi keyakinan yang barangkali suatu ketika berakibat buruk ini), subuh itu saya memutuskan tidur di bawah. Karena lelah oleh perjalanan dari Jakarta ke Pangandaran (yang mencapai sekitar 8 jam perjalanan), saya tertidur di sofa. Ayah juga melanjutkan tidurnya di kamar. Hanya paman yang agak panik dan memutuskan untuk tidak tidur, berjaga-jaga.</p>
<p>Baru setelah pagi, dengan bantuan telepon genggam, saya berhasil menghubungi ibu dan adik-adik di pengungsian. Semuanya selamat. Satu-satunya kerugian kami adalah: usaha keluarga bisa dikatakan bangkrut, sebab usaha kami berhubungan dengan industri pariwisata yang hancur total di sepanjang pantai.<br />
<center>***</center><br />
Kini, adik pertama saya, Remi, membangun kembali usaha keluarga yang porakporanda bersamaan dengan tsunami. Remi yang pada dasarnya sarjana peternakan dari <a href="http://ugm.ac.id">Universitas Gadjah Mada</a>, berhenti bekerja dari perusahaan peternakan untuk menekuni bisnis pakaian jadi, khususnya membuat pakaian suvenir &#8212; yang merupakan usaha ayah saya sejak lama. Harapan belum pudar: toko-toko sepanjang pantai mulai dibangun lagi, termasuk toko keluarga, dan para pelancong mulai berdatangan kembali.</p>
<p>Harapan juga terlihat di sepanjang pantai. Kini di pantai timur, tengah dibangun beton penangkal gelombang, sekaligus mereklamasi bagian yang sudah telanjur erosi oleh gelombang. Di sepanjang pantai barat &#8212; yang diterjang tsunami dan menelan korban paling banyak &#8212; kini penuh ditanami pohon ketapang. Dua atau tiga tahun yang akan datang, pohon-pohon itu pasti sudah cukup tinggi, paling tidak untuk menahan sementara terjangan angin badai dan gelombang besar. Selain itu dibangun pagar beton sampai ujung kota, yang sekaligus berfungsi sebagai pot tanaman dan tempat para pengunjung bisa sekadar duduk-duduk.</p>
<p>Sekali lagi, trauma masih ada. Penduduk di sekitar pantai kini jauh lebih mudah merasa panik hanya karena gelombang besar menghantam jalan raya di pinggir pasir. Padahal mereka tahu, gelombang seperti itu sudah sering terjadi, terutama di sekitar bulan purnama. Meskipun begitu, tidak saya lihat keputus-asaan. Seperti adik saya yang berani menggeluti usaha yang bukan bidangnya, penduduk kota itu juga tetap bertahan di sana &#8212; meskipun banyak hal telah hilang dari mereka: rumah, toko, bahkan mungkin sanak-keluarga.</p>
<p>Di setiap perempatan jalan kini terlihat rambu-rambu penujuk jalur evakuasi. Juga petunjuk darurat apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. Saya hanya berharap sikap berjaga-jaga seperti ini, rambut-rambu tersebut, dan semua upaya (yang terlambat karena baru dibuat pascabencana), akan tetap ada hingga lima puluh, seratus tahun, bahkan selamanya.</p>
<p>Kita tak mungkin menyalahkan laut, juga gempa yang akan selalu terjadi di dasar sana. Tapi kita bisa berdamai dengannya, hidup berdampingan di sisinya. Bagi saya pribadi, tak mungkin rasanya mengindari laut. Saya telanjur mencintai laut, sejak ayah membawa kami pindah ke Pangandaran ketika saya masih berumur sepuluh tahun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/pangandaran-berdamai-dengan-laut-108.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mojave: Perempuan Tua di Belakang Konter</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/mojave-perempuan-tua-di-belakang-konter-97.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/mojave-perempuan-tua-di-belakang-konter-97.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2007 03:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[California]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[L.A. Underlover]]></category>
		<category><![CDATA[Lake Tahoe]]></category>
		<category><![CDATA[Las Vegas]]></category>
		<category><![CDATA[Los Angeles]]></category>
		<category><![CDATA[Nevada]]></category>
		<category><![CDATA[San Francisco]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali, di Amerika, nama Indonesia hanya dikenal sebagai sesuatu yang jauh dan lampau. Entah kenapa, di atas batu-batu membara Mojave, itulah yang saya pikirkan. Padang batu ini, dengan ajaib bisa menghidupi orang-orang di sana, bahkan meski harus menyiram rumput setiap hari di oase-oase tertentu, demi ternak mereka. Sementara, di negeri saya yang hijau dan "tongkat kayu dan batu jadi tanaman", kita kekurangan beras. Saya pikir, kita layak untuk tersenyum kecut. Sekecut-kecutnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah minimarket di pinggiran Mojave Desert, sambil minum soda kaleng seharga satu dolar yang saya beli dari mesin, saya memperhatikan perempuan tua di belakang konter. Ia membungkusi barang-barang yang dibeli pelanggan, mengembalikan uang kembalian, dan bersenda gurau dengan pengunjung. Tiba-tiba saya bertanya kepada diri sendiri tentang &#8220;roh&#8221; Amerika.</p>
<p>Dimanakah terletak &#8220;roh&#8221; Amerika? Jika saya boleh berpendapat, salah satunya akan saya sebut Mojave Desert. Itu merupakan padang batu yang membentang dari negara bagian California hingga Nevada, lalu menyambung pula menuju Arizona. Sebagian daerahnya juga terdapat di Utah. Saya tak bisa menyebutnya padang rumput, meski di sana ada belukar tumbuh; tidak pula padang pasir, meski di sana tentu terhampar pasir, di atas batu-batu masif sebesar gunung. Di sini pula kita akan menemukan satu daerah bernama Death Valley atau Lembah Kematian.<br />
<span id="more-97"></span><br />
Saya melakukan perjalanan darat dari Los Angeles menuju Las Vegas membelah gurun ini di awal Mei, melalui Route 15. Dari Las Vegas berbalik menuju San Fransisco melalui Route 95, sebelum berbelok melalui Tahoe Lake. Dalam perjalanan pertama sekitar lima jam, diseling dua kali istirahat, saya hanya menyaksikan hamparan tanah yang tandus. Anda mungkin akan terkejut oleh fakta bahwa di sana hidup tak kurang dari 1500 jenis spesies tanaman, meski yang mudah dikenali barangkali hanya sejenis pohon Joshua di sana-sini. Barangkali agak konyol, tapi bagi orang yang seumur-umur hidup di kenyamanan tropis, sejujurnya saya agak kasihan membayangkan orang-orang Amerika harus hidup dengan alam yang ganas semacam itu.</p>
<p>Sepanjang jalan tersebut, hanya beberapa permukiman yang tampak. Sebagian besar bergerombol di sekitar pom bensin atau tempat-tempat istirahat bagi kendaraan yang lewat di jalan bebas hambatan tersebut. Di tempat semacam itulah kita bisa melihat sopir-sopir truk, bagai koboi-koboi pengelana yang kesepian, rehat di restoran-restoran siap saji semacam Carl&#8217;s Jr. atau Jack in the Box. Kadang-kadang mereka bertukar sapa atau ngobrol dengan sesama sopir truk. Saya membayangkan mereka sebagai pengelana-pengelana yang membawa sekop untuk mencari emas di ladang-ladang California, satu babakan awal yang membawa bangsa Amerika ke kemajuan seperti tampak sekarang. </p>
<h3>Lembah Kematian</h3>
<p>Menurut statua dan cerita, pada bulan Desember 1849 dua kelompok pemburu emas yang tengah menuju Lembah Emas California melewati Lembah Kematian dalam rangka memperoleh jalur terpendek. Mereka membawa tak kurang dari 100 kereta, ternyata terjebak di sana tanpa memperoleh jalan keluar, memaksa mereka memakan sendiri sapi peliharaan untuk bertahan hidup. Meski berhasil menemukan beberapa sumber mata air, mereka juga dipaksa mempreteli kereta mereka, diambil kayunya untuk bahan bakar.</p>
<p>Meski harus menelantarkan kereta-kereta bawaan, mereka berhasil keluar dari sana. Satu kelompok naik melalui daerah selatan, sisanya melalui pegunungan utara. Saat itu, salah seorang perempuan di antara mereka berbalik dan mengucapkan salam, &#8220;<em>Goodbye Death Valley</em>.&#8221; Sejak itulah, konon, tempat itu dinamakan Lembah Kematian hingga hari ini. Dan itu bukan omong kosong; beberapa titik merupakan lembah-lembah yang menukik hingga 900 meter di bawah permukaan laut. Beberapa tempat lain, juga merupakan salah satu tempat terpanas dan terkering di Amerika, disebabkan tak adanya air di permukaan tanah. Suhunya bisa mencapai 50 derajat celsius di bawah dan di atas nol.</p>
<p>Fakta bahwa orang-orang sini bisa bertahan hidup di tengah ketandusan semacam itu sejujurnya membuat saya kagum. Bahkan sebenarnya bisa dikatakan, mereka berhasil mengubah sesuatu yang tampak ganas menjadi ladang bisnis yang mencengangkan. Tengoklah misalnya kota semacam Las Vegas. Semua orang tahu, kota itu terletak di tengah hamparan gurun sejauh mata memandang, tanpa apa pun sebagai sumber penghidupan. Namun mereka berhasil menyulapnya menjadi kota dengan kasino, mall, hotel dan aneka hiburan. Para pelancong dari penjuru dunia berdatangan menggelontorkan dolar. Penduduk kota hidup dengan cara seperti itu.</p>
<p>Kisah mengenai Las Vegas pasti sudah banyak orang yang tahu. Namun dalam skala yang lain, kita bisa melihat kisah serupa itu di sepanjang jalan yang membelah-belah Mojave Desert. Selain sopir-sopir truk yang harus melintasi daerah kering hanya berteman deru roda truknya sendiri, angin gurun, atau barangkali radio AM yang secara ajaib terus bisa tertangkap entah dari Nevada atau California, kita juga bisa melihat orang-orang yang bertahan tinggal di kantung-kantung kota kecil laksana oase. Mereka umumnya membuka pom bensin, minimarket, restoran cepat saji, atau motel; meski kebanyakan berupa usaha jaringan.</p>
<p>Itulah mengapa saya mengatakan Mojave Desesrt sebagai salah satu &#8220;roh&#8221; Amerika, karena ia menggambarkan dengan nyata semangat, atau &#8220;impian&#8221; Amerika, yang tertanam sejak masa <em>gold rush</em> dan koboi di masa lampau. Semangat bisnis mereka tetap berkobar-kobar di tengah tanah tandus semacam itu, meski saya tahu mereka juga kedinginan di saat malam, dan seperti saya, beberapa juga mengoleskan <em>lipsgloss</em> untuk menangkal bibir kekeringan.</p>
<p>Mereka tak hanya mengubah tempat-tempat istirahat di pinggir jalan bebas hambatan sebagai oase penghidupan, bahkan di beberapa tempat, daerah-daerah tersebut menjadi resor yang menyenangkan. Di Lembah Kematian sendiri, kita bisa menemukan padang golf yang ditumbuhi pohon-pohon cemara, hijau dan sejuk. Sementara itu di Sungai Colorado, kita bisa singgah ke Hoover Dam. Itu bendungan yang dibangun tahun 1931. Meskipun terletak di kesunyian padang batu, bendungan tersebut merupakan sumber energi utama untuk kota semacam Las Vegas. Sayang dua tahun ke depan bendungan tersebut akan tertutup bagi turis, sebagai gantinya mereka tengah membangun jembatan panjang. Konon karena pemerintah mencemaskan bendungan ini menjadi sasaran teroris.</p>
<p>Tentu saja tidak semua itu diubah fungsinya sebagai tempat usaha belaka. Sebagaimana kita ketahui, Amerika memiliki banyak taman nasional. Di sekitar Las Vegas, kita bisa mampir (penduduk lokal malah menyarankan &#8220;wajib&#8221; mampir) ke Red Rock. Telah disediakan jalan satu arah yang nyaman, berkelok-kelok, mengelilingi batu-batu cadas yang dibangun oleh alam selama jutaan tahun. Lembah Kematian sendiri juga merupakan taman nasional yang dijaga keberadaannya. Dan di sana-sini kita bisa menemukan tempat berkemah yang dipenuhi muda-mudi, tentu saja jika cuaca mengijinkan seperti bulan Mei. </p>
<h3><em>Have a nice evening</em></h3>
<p>Di setiap minimarket yang saya kunjungi, beberapa merupakan jaringan semacam 7 Eleven, tapi kebanyakan saya berhenti di minimarket pribadi dengan nama pemiliknya, rata-rata saya bertemu dengan pelayan kasir yang ramah. &#8220;<em>Have a nice evening</em>,&#8221; kata seorang penjaga kasir di sebuah kota kecil, barangkali lebih tepat disebut desa, bernama Lone Pine. Mereka kadang mengajak ngobrol terlebih dahulu, memandang heran kepada saya, seringkali bertanya, &#8220;<em>It&#8217;s your first trip here</em>?&#8221;</p>
<p>Selepas urusan visa yang bertele-tele (di hari yang sama mengurus visa di kedutaan Amerika, Jakarta, dalam antrian saya paling tidak 80% pemohon ditolak), diteruskan oleh imigrasi yang penuh kecurigaan (sebagai orang yang baru pertama kali berkunjung, saya harus masuk Secondary Room dan dipaksa menunggu hampir lima jam), keramahtamahan penduduk Amerika terasa mencengangkan bagi saya. Terutama jika mengingat kasir-kasir minimarket dan supermarket di mall-mall Jakarta cenderung bertampang <em>jutek</em>; jikapun mereka tersenyum, atau menyapa, senyum dan sapaannya seragam bagai terprogram.</p>
<p>Pemerintah Amerika sepatutnya memang berterima kasih kepada penduduknya, yang menampakkan wajah yang berbeda dengan citra pemerintah Amerika yang terkesan arogan dan doyan perang.</p>
<p>Di kota-kota kecil Indonesia, kita sering melihat orang kulit putih, atau hitam, menjadi perhatian penduduk karena &#8220;keasingan&#8221; mereka. Penduduk biasanya mengcapkan &#8220;<em>Hallo</em>&#8220;, sebagai salam perkenalan. Saya mengira itu hanya dilakukan orang Indonesia (beberapa teman bahkan mengejeknya sebagai sikap inferior inlander, apa pun maknanya); dan tidak dilakukan orang Amerika. Memang begitulah kejadiannya jika kita berjalan-jalan di kota besar semacam Los Angeles, Holywood atau Las Vegas. Bukankah di Jakarta pun orang tak terlalu peduli dengan orang asing?</p>
<p>Namun jika kita berjalan dan sering-sering berhenti di sepanjang rute-rute Mojave Desert, dimana terdapat kota-kota kecil dan perkampungan, orang Asia yang keluyuran pasti juga menarik perhatian. Karena penduduknya jarang, mereka tak akan mengerumuni kita, namun satu dua barangkali akan menyapa dengan senyum ramah sambil memakan kentang atau burger. Meskipun begitu, jangan kecwa jika kemudian mereka salah menduga dengan menebak, &#8220;<em>Are you from Philippine</em>?&#8221;</p>
<p>Ah, ya, mereka memang memiliki hubungan baik dengan Filipina, dan barangkali memang lebih mengenal orang Filipina daripada orang Indonesia. Atau mungkin kita tak cukup mempromosikan diri sendiri, dan pemerintah Indonesia masih sibuk membongkar-pasang susunan kabinet. Mereka hanya akan tersenyum jika tak cukup mengenal nama Indonesia. Namun suatu hari sempat juga saya terkejut ada yang mengenal nama Indonesia, dan semakin terkejut ketika dia membalas:</p>
<p>&#8220;Indonesia? Ah, ya, Soekarno, heh?&#8221;</p>
<p>Orang itu ingat Soekarno sebagai salah satu pemersatu solidaritas Asia dan Afrika. Seorang profesor asal Iran yang mengajar di UCLA, juga menyebut nama Soekarno begitu mendengar nama Indonesia. Tapi ia tak mengenal presiden terakhir kita. &#8220;Pernah membacanya, tapi gampang lupa,&#8221; katanya.</p>
<p>Barangkali, di Amerika, nama Indonesia hanya dikenal sebagai sesuatu yang jauh dan lampau. Entah kenapa, di atas batu-batu membara Mojave, itulah yang saya pikirkan. Padang batu ini, dengan ajaib bisa menghidupi orang-orang di sana, bahkan meski harus menyiram rumput setiap hari di oase-oase tertentu, demi ternak mereka. Sementara, di negeri saya yang hijau dan &#8220;tongkat kayu dan batu jadi tanaman&#8221;, kita kekurangan beras. Saya pikir, kita layak untuk tersenyum kecut. Sekecut-kecutnya.</p>
<p>Kembali melihat perempuan tua di belakang konter, saya juga tiba-tiba teringat perempuan-perempuan tua yang berjualan di sepanjang Malioboro, Yogyakarta. Mereka tak saling kenal, tapi berkecamuk di kepala saya. Entah kenapa.</p>
<p>NB: <a href="http://ekakurniawan.com/blog/foto-foto-los-angeles-2007-498.php">sila menikmati foto-foto saya dalam perjalanan ini di sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/mojave-perempuan-tua-di-belakang-konter-97.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

