Catatan Perjalanan

di simpang lampu merah ini,
ke arah menuju barat,
masihkah belok kiri jalan terus?
di belakang ada kemilau subuh,
dengan warna emasnya yang selalu begitu.

Oleh-oleh Buku (Bekas)
(Catatan dari Tokyo (3))

Toko Buku Bekas di Universitas Tokyo. Foto oleh Ratih Kumala.

Toko Buku Bekas di Universitas Tokyo. Foto oleh Ratih Kumala.

Seperti pergi ke manapun, saya selalu menyempatkan diri pergi ke toko buku, terutama keluar-masuk toko buku bekas. Selama di Tokyo, setiap kali saya jalan dan menemukan toko buku bekas, pasti saya masuk. Tapi kali ini saya tak begitu banyak membeli buku. Pertama, karena sangat jarang buku berbahasa Inggris (berbahasa Jepang sih melimpah). Kedua, jika dibandingkan di tempat lain, harga buku di Jepang hampir satu setengah hingga dua kali lipat di tempat lain.

Meskipun begitu, saya sempat gembira ketika mengunjungi Tokyo University, saya menemukan sebuah toko buku bekas. Toko itu mengingatkan saya pada toko Jose Rizal di Taman Ismail Marzuki, tapi dengan penataan yang lebih rapi dan cahaya lebih terang. Pemiliknya juga seorang lelaki tua yang ditemani istrinya. Sebagian besar buku berbahasa Jepang (tapi saya bisa mengira-ngira, sebagian besar buku sastra dan kajian), tapi saya menemukan dua buku berbahasa Inggris yang langsung saya beli.
Baca selengkapnya …

“Malam Seribu Bulan” di Tokyo University of Foreign Studies
(Catatan dari Tokyo (2))

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.

Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari.

Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah sekaligus moderator. Terus ada Shiho Sawai, peneliti Jepang yang memberikan konteks mengenai kesusastraan Indonesia. Terus ada kritikus sastra Jepang yang mengulas novel Bi wa Kizu (Cantik itu Luka). Dua lainnya adalah saya dan penerjemah untuk saya.
Baca selengkapnya …

Melihat Gadis Manga di Shibuya
(Catatan dari Tokyo (1))

Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala.

Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala.

Sudah tiga hari saya dan Ratih berada di Tokyo. Acara utama kami baru akan dilakukan siang ini. Saya diundang ke Tokyo University of Foreign Studies – TUFS – untuk membicarakan novel ketiga saya Malam Seribu Bulan, baru akan terbit awal tahun depan.

Pengundang saya adalah Prof. Toru Aoyama. Ia tampaknya, sebagaimana diberitahu teman saya yang bekerja di NHK, mengepalai pusat studi mengenai sastra, Islam, dan Asia Tenggara. Seminar kami pun ada hubungannya dengan pusat studi tersebut.
Baca selengkapnya …

Pangandaran: Berdamai dengan Laut


Reklamasi di Pantai Timur. Foto oleh: Ratih Kumala.

Selama lebih dari satu minggu kemarin (9-17 Maret 2008) saya dan istri menghilang dari Jakarta. Salah satunya kami pergi ke Pangandaran. Setelah bencana tsunami hampir dua tahun lalu, saya sudah beberapa kali pulang ke sana. Tapi baru kemarin saya memiliki waktu luang untuk berjalan-jalan kembali sepanjang pantai.

Syukurlah, denyut kehidupan kota itu sudah tampak seperti sediakala, meskipun belum bisa dikatakan pulih sepenuhnya. Minggu itu badai membuat angin laut sangat kencang dan permukaan ombak lebih tinggi dari biasanya. Tapi masih banyak anak-anak yang bermain bola di pasir, serta orang-orang yang bermain selancar di permukaan ombak. Mereka tengah mencoba mengikis trauma, merelakan yang mati dan hilang, dan berdamai dengan laut.
Baca selengkapnya …

Mojave: Perempuan Tua di Belakang Konter


Foto oleh: stevecadman, Some rights reserved.

Di sebuah minimarket di pinggiran Mojave Desert, sambil minum soda kaleng seharga satu dolar yang saya beli dari mesin, saya memperhatikan perempuan tua di belakang konter. Ia membungkusi barang-barang yang dibeli pelanggan, mengembalikan uang kembalian, dan bersenda gurau dengan pengunjung. Tiba-tiba saya bertanya kepada diri sendiri tentang “roh” Amerika.

Dimanakah terletak “roh” Amerika? Jika saya boleh berpendapat, salah satunya akan saya sebut Mojave Desert. Itu merupakan padang batu yang membentang dari negara bagian California hingga Nevada, lalu menyambung pula menuju Arizona. Sebagian daerahnya juga terdapat di Utah. Saya tak bisa menyebutnya padang rumput, meski di sana ada belukar tumbuh; tidak pula padang pasir, meski di sana tentu terhampar pasir, di atas batu-batu masif sebesar gunung. Di sini pula kita akan menemukan satu daerah bernama Death Valley atau Lembah Kematian.
Baca selengkapnya …