Horison, Maret 2003
Inilah sebuah novel berkelas dunia! Membaca novel karya pengarang Indonesia kelahiran 1975 dan alumnus Filsafat UGM ini, kita akan merasakan kenikmatan yang sama dengan nikmatnya membaca novel-novel kanon dalam kesusastraan Eropa dan Amerika Latin. Kecakapan Eka mengisahkan kejatuhan sebuah keluarga incest dengan titik pusat pengisahan pada tokoh Dewi Ayu (lahir dari ayah Belanda dan ibu [...]
Cantik itu Dilukai
Cantik Itu merupakan campuran dari pelbagai gaya pemikiran yang memang menjadi minat penulisnya selama ini: surealisme-sejarah-filsafat. Maka kita bisa mencium bau aroma Franz Kafka–juga Gabriel Garcia Marquez–dalam novel ini. Bahkan, sejak paragraf pertama: Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. (Bandingkan dengan paragraf pertama Metamorfosis-nya Kafka: Kala Gregor Samsa terjaga di suatu pagi dari mimpi-mimpi buruknya, dia menemukan dirinya berubah menjadi seekor kecoa yang menakutkan).
Air Bah dalam Novel “Cantik itu Luka”
Dalam karya yang bermaksud mencampakkan logika, kejanggalan itu tak terlalu jadi soal. Tetapi masalahnya lain ketika ia mengangkat latar waktu pada zaman tertentu. Dewi Ayu, keturunan Belanda, pelacur zaman Jepang, dan melanjutkan karier kepelacurannya selepas merdeka. Di sinilah soalnya. Periksalah Khotbah di Atas Bukit, Ziarah, Godlob atau karya-karya yang mencampakkan logika. Di sana, latar waktu bisa terjadi kapan saja dengan lokasi yang juga bisa di mana saja. Dengan begitu, titik tekan pada gagasan atau pemikiran filosofis, bisa berlaku di sembarang waktu dan tempat. Ia sekaligus menunjukkan bahwa gagasan tak terikat ruang dan waktu.
