From New Left Review 50
It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and [...]
Dari Sampul Buku Binhad Hingga Blog Djenar
Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar browsing sampai membongkar kode PHP). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran — tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.
Monolog Cantik itu Luka
Ini video monolog Cantik itu Luka dari acara ulang tahun milis Apresiasi-Sastra (16 Februari 2008). Video diambil oleh Indah Survyana. Dewi Ayu diperankan oleh Maya Sekartaji; skenario dan sutradara oleh Bung Kelinci. Monolog ini mengambil fragmen bagian depan dari novel Cantik itu Luka, terutama bagian Dewi Ayu ditahan tentara Jepang dan dipaksa menjadi pelacur. Sila [...]
Monolog Cantik itu Luka
Acara ulang tahun milis Apresiasi-Sastra di Japan Foundation 16/2/2008, salah satunya menampilkan monolog Cantik itu Luka. Sebagai sutradara, Bung Kelinci mengambil fragmen bagian depan ketika Dewi Ayu masuk ke Bloedenkamp dan kemudian dipaksa menjadi pelacur tentara Jepang. Naskah dipentaskan oleh Maya Sekartaji (sebagai Dewi Ayu), yang mainnya sangat bagus dan berhasil mengeluarkan karakter ironi Dewi [...]
