Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu

oleh Berto Tukan, Kecoa Merah

Menarik membandingkan STK dan CIL. Pasalnya, dalam pembacaan sepintas pun terlihat bagaimana kesamaan antara kedua karya ini; pertama sama-sama menggunakan gaya realisme magis. Realisme magis sendiri merupakan gaya penulisan yang menggunakan surealisme dan realisme secara bersamaan dan tak terpisahkan. Istilah ini diambil dari kasanah seni lukis oleh kritikus sastra untuk mencandrakan karya Marquez, Grass (dalam novel The Tin Drum) Borges, Okri serta Eka Kurniawan.

“Malam Seribu Bulan” di Tokyo University of Foreign Studies

Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari. Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah [...]

Supriyadi alias Shodancho

Pemimpin pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar tahun 1945, Supriyadi, kembali menjadi berita (baca Kompas dan Detik). Ini terkait terbitnya buku Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, dan munculnya seseorang yang mengaku sebagai Supriyadi. Tokoh ini memang misterius: sempat diangkat sebagai Panglima Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (sebelum diserahkan kepada Sudirman karena Supriyadi tak [...]

Eka Kurniawan: An Unconventional Writer

He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.

Bagaimana Menulis Novel? (2)

Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.

Bagaimana Menulis Novel? (1)

Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya print-out, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.

Cantik itu Luka