12 August 2008 » Pemimpin pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar tahun 1945, Supriyadi, kembali menjadi berita (baca Kompas dan Detik). Ini terkait terbitnya buku Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, dan munculnya seseorang yang mengaku sebagai Supriyadi. Tokoh ini memang misterius: sempat diangkat sebagai Panglima Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (sebelum diserahkan kepada Sudirman karena Supriyadi tak juga nongol), tokoh ini tak pernah diketahui kapan mati dan dimana mayatnya. Saya sendiri mempergunakan tokoh ini untuk model tokoh Shodancho di novel Cantik itu Luka. Yup, Supriyadi memang seorang Shodancho, yakni pemimpin kesatuan PETA setingkat pleton. (Baca Komentar: 1)
30  June  2008

Eka Kurniawan: An Unconventional Writer

He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.
Like many aspiring writers who need to pay [...]

28  June  2008

Bagaimana Menulis Novel? (2)

Foto oleh: Ella’s Dad, Some rights reserved.
Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.
Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari [...]

20  June  2008

Bagaimana Menulis Novel? (1)

Foto oleh: icultist, Some rights reserved.
Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar [...]

Quote: From New Left Review 50 - 3 May 2008 »
It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.
(Benedict Anderson, Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant, New Left Review, March-April 2008) (Read Comments: 8)
10  April  2008

Dari Sampul Buku Binhad Hingga Blog Djenar

Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar browsing sampai membongkar kode PHP). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran — tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.

25  December  2007

Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh

Oleh: Roslan Jomel, roslanjomel.blogspot.com

Setelah membuat cetakan salinan cerpen-cerpen Eka Kurniawan, saya akan memesan segelas teh tarik, dan mula membaca baris demi baris di dalam restoran India Muslim. Sebaik sahaja cerpen Caronang, Kasih Tak Sampai, Kutukan Dapur mempengaruhi saya, jangkaan saya, gaya yang sebegitu (realisme magis?) akan berkekalan mengikuti mata pena penulisannya. Saya membayangkan, Eka Kurniawan akan menjungkirkan realiti melalui cerpen-cerpen terbaharunya nanti, dan itu membuatkan saya tambah asyik menanti.

18  December  2007

Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan

Photo by ahisgett, Some rights reserved.
Japan’s role in globalizing Asia has been widely recognized. Ever since the 1990’s, Japan has been exporting waves of it’s cultural products such as anime or animated films, television dramas, music, manga or comics, novels, and so on. These spreads of cultural products across the borders of Asia have sprung [...]

12  November  2007

“Bi wa Kizu” di Kinokuniya Plasa Senayan

Foto oleh ahisgett, Some rights reserved.
Kapan seseorang merasa telah menjadi seorang penulis? Bagi saya, itu ketika saya melihat apa yang saya tulis sudah dicetak. Jujur saja, saya barangkali termasuk pengidap grafomania, itu istilah Milan Kundera untuk mengatakan, orang yang senang mencetak apa pun yang ditulisnya. Tentu saja saya tidak mencetak apa pun yang saya tulis. [...]

14  June  2007

Cantik Itu Luka Sebuah Terobosan Literer

Oleh: Titon Rahmawan, langitkubiru.blogspot.com

Foto oleh venkane, Some rights reserved.
Bagi saya, “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khazanah sastra Indonesia. Cukup lama saya merasa tak mendapatkan kepuasan optimum setiap kali selesai membaca sejumlah novel-novel karya penulis asli Indonesia, yaitu semenjak terakhir kali saya membaca “Olenka” karya Budi Darma. Dan [...]