Pesan Buku di Sini

Buku-buku di bawah ini bisa dipesan langsung melalui blog saya. Beberapa masih bisa ditemukan di toko buku, beberapa hanya tinggal beberapa kopi di gudang penerbit. Semoga ini membantu teman-teman yang mencari buku saya (dan Ratih Kumala) tapi tak menemukannya di toko buku, atau malas ke toko buku, atau memang tak ada toko buku.

Buku-buku Eka Kurniawan

Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya
(Kumpulan Cerita Pendek)
ISBN: 979-22-1257-4
Gramedia Pustaka Utama, 2005
Rp. 35.000,-
Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya
(Kumpulan Cerita Pendek)
ISBN: 979-22-1348-1
Gramedia Pustaka Utama, 2005
Rp. 37.500,-

Baca selengkapnya …

“Cantik itu Luka” versi Melayu

Pagi ini dapat kabar dari penerbit: “Cantik itu Luka” kemungkinan diterbitkan di Malaysia dalam versi (terjemahan?) Melayu. Fakta sederhana jarak kedua bahasa semakin lebar?

Rengganis si Cantik dan Foto-foto dari Pangandaran

Buat yang pernah membaca novel Cantik itu Luka dan menemukan tokoh bernama Rengganis si Cantik, ini adalah asal-usul sebenarnya. Di hutan lindung Pananjung, Pangandaran, terdapat goa dan mata air Rengganis. Siapa yang membersihkan badan di sana, konon bakal awet muda. Saya memotret mata air tersebut pada kunjungan saya ke Pangandaran, tempat saya dibesarkan dan orang tua saya masih tinggal, Lebaran 2009 lalu.

Baca selengkapnya …

Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu

Oleh: Berto Tukan
Sumber: Kecoa Merah

Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka bold (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas. Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula. Maka, setiap pembacaan dengan kaca mata pembacaannya masing-masing sangat mungkin mengungkapkan ketidak sadaran-ketidak sadaran yang berbeda-beda. Sama dengan hasil pembacaan saya atas STK dan CIL yang berkelindan-bersetubuh dengan hasil pembacaan saya atas hasil pembacaan-pembacaan terhadap STK dan CIL lainnya yang terkristalkan dalam tulisan ini; mencoba mengungkapkan sesuatu yang (mungkin) tak terungkap.
Baca selengkapnya …

“Malam Seribu Bulan” di Tokyo University of Foreign Studies
(Catatan dari Tokyo (2))

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.

Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari.

Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah sekaligus moderator. Terus ada Shiho Sawai, peneliti Jepang yang memberikan konteks mengenai kesusastraan Indonesia. Terus ada kritikus sastra Jepang yang mengulas novel Bi wa Kizu (Cantik itu Luka). Dua lainnya adalah saya dan penerjemah untuk saya.
Baca selengkapnya …

Supriyadi alias Shodancho

Pemimpin pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar tahun 1945, Supriyadi, kembali menjadi berita (baca Kompas dan Detik). Ini terkait terbitnya buku Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, dan munculnya seseorang yang mengaku sebagai Supriyadi. Tokoh ini memang misterius: sempat diangkat sebagai Panglima Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (sebelum diserahkan kepada Sudirman karena Supriyadi tak juga nongol), tokoh ini tak pernah diketahui kapan mati dan dimana mayatnya. Saya sendiri mempergunakan tokoh ini untuk model tokoh Shodancho di novel Cantik itu Luka. Yup, Supriyadi memang seorang Shodancho, yakni pemimpin kesatuan PETA setingkat pleton.

Eka Kurniawan: An Unconventional Writer

He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.


Like many aspiring writers who need to pay the bills, Eka Kurniawan started out as a journalist. The 33-year-old native of Tasikmalaya, West Java, then submitted a few short stories to Kompas daily’s respected literary page, and they were accepted.

“People always asked me how it happened that I had my stories published in Kompas,” says the Gadjah Mada University graduate. “But there’s really no magic to it. I sent [the stories] out to the editorial department, even though I didn’t know anybody there.”

Gradually, his journalistic days of meeting deadlines came to an end.
Baca selengkapnya …

Bagaimana Menulis Novel? (2)

Foto oleh: Ella’s Dad, Some rights reserved.

Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.

Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari ini. Pertama, konsistensi menyangkut penanggalan. Saya memutuskan untuk mempergunakan penanggalan Hijriah dalam novel ini. Itu berarti saya harus mengkonversi semua penanggalan Masehi ke Hijriah. Kedua, saya juga harus membereskan beberapa transliterasi Arab ke Bahasa Indonesia agar lebih konsisten. Kalau ada yang tahu sejenis software untuk konversi penanggalan dan rujukan transliterasi yang baku, let me know.

Sekarang kembali ke “Bagaimana Menulis Novel” Bagian 2.
Baca selengkapnya …

Bagaimana Menulis Novel? (1)

Foto oleh: icultist, Some rights reserved.

Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya print-out, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.

Bagaimanapun, meski saya merasa ada sesuatu yang enggak bener, bukan hal yang gampang untuk melacaknya dimana. Satu-satunya hal yang mungkin saya kerjakan, adalah mengingat-ingat kembali urutan kerja saya. Dalam hal ini disiplin kerja saya cukup memudahkan pelacakan ini. Saya terbiasa bekerja dengan agak metodis. Saya akan menuliskannya di sini, berdasarkan pengalaman saya menulis dua novel sebelumnya. Ini untuk mengingatkan saya, sekaligus barangkali ada yang tertarik mencontek cara kerja saya (hehe):

Baca selengkapnya …

From New Left Review 50

It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.

(Benedict Anderson, Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant, New Left Review, March-April 2008)
Baca selengkapnya …