<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; bumimanusia.or.id</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/bumimanusiaorid/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sebab Kode Adalah Puisi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 04:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Jorge Luis Borges]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</guid>
		<description><![CDATA[Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah "memimpikan" dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal "link". ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">S</span>ekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah &#8220;memimpikan&#8221; dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal &#8220;link&#8221;. </p>
<p>Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.<br />
<span id="more-158"></span><br />
Tak disangsikan, internet telah membentuk kultur baru produksi dan reproduksi. Dalam dunia sastra di Indonesia, sederhananya, kultur itu telah berawal ketika penulis tak lagi pernah pergi ke kantor pos untuk mengirimkan naskah. Tentu saja kultur ini semestinya bisa jauh dari itu. Internet dipercaya tak sekadar sebagai narasumber yang mencengangkan untuk berbagai hal, dari bumbu yang tepat untuk satu resep masakan hingga racikan kimia yang tepat untuk meledakkan jembatan; yang lebih penting lagi, internet juga merupakan suatu media baru. Sebagaimana media baru umumnya, tentu saja ia memberi tantangan-tantangan baru bagi proses kreatif baru.</p>
<p>Sebagai misal, melalui internet dan dunia digital kita sekarang mengenal berbagai jenis lisensi untuk karya kreatif. Jika sebelumnya barangkali kita hanya memiliki dua dikotomi hak cipta: copyright dan domain publik, kini kita memiliki lebih banyak alternatif. Sebagai pemilik karya cipta, barangkali seorang pengarang tak menginginkan lisensi seketat copyright. Sebuah lembaga nirlaba bernama <a href="http://cerativecommon.org">Creative Common</a> menawarkan berbagai jenis lisensi yang fleksibel.</p>
<p>Software semacam Linux atau esai-esai di beberapa blog, juga banyak foto di flickr.com didistribusikan dengan lisensi semacam ini, sehingga Anda bisa mengambil dan mempergunakannya tanpa harus takut dikira membajak atau menjiplak. Kultur ini memungkinkan berkembang, saya pikir, hanya karena penetrasi internet yang luar biasa.</p>
<h3>Blog</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>aya tertarik mengamati ini, terutama setelah akhir-akhir ini banyak penulis semakin memaksimalkan fungsi-fungsi internet dengan membuat blog dan saya beranggapan ini perkembangan yang penting untuk dicatat. Jika sebelumnya para penulis lebih banyak berkerumun di komunitas-komunitas milis tertentu, akhir-akhir ini semakin banyak yang hadir secara individu, menuliskan pikiran-pikirannya melalui media bernama blog. Saya sendiri sebenarnya telah lama menjadi pengunjung tetap blog-blog penulis yang saya anggap bermutu untuk menunjukkan ini bukan hal baru, misalnya blog milik jurnalis <a href="http://andreashardono.blogspot.com">Andreas Harsono</a> atau milik kritikus film <a href="http://pakde.com">Totot Indrarto</a>.</p>
<p>Tengok misalnya beberapa penulis yang baru-baru ini memutuskan untuk menulis di blog: Ada <a href="http://djenar.com">Djenar Maesa Ayu</a> dan kritikus seni rupa <a href="http://adiwicaksono.com">Adi Wicaksono</a>, serta penyair <a href="http://binhadnurrohmat.com">Binhad Nurrohmat</a>. Mereka menyusul penulis-penulis lain yang telah lebih dulu. Beberapa yang saya ingat: penyair <a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com">Hasan Aspahani</a>, <a href="http://jokpin.blogspot.com">Joko Pinurbo</a>, <a href="http://jengki.com">Wayan Sunarta</a>, cerpenis <a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com">Agus Noor</a>, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">Ook Nugroho</a>, juga Linda Christanty yang menulis di blog sendiri maupun blog milik situs <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>.</p>
<p>Mungkin Anda masih sering kecele untuk memastikan, apa beda blog dengan website? Sebenarnya ini juga pertanyaan umum yang diajukan kepada saya oleh para penulis yang ingin memulai membuat blog. Secara sederhana, semua blog adalah website, tapi tidak sebaliknya. Situs seperti yahoo.com merupakan website, tapi jelas bukan blog. Ciri utama blog adalah website dengan konten yang terus di-update, dan pengaturan kontennya secara umum diurut berdasarkan waktu (mirip jurnal atau buku harian).</p>
<p>Ketika situs <a href="http://cybersastra.net">cybersastra.net</a> diluncurkan sekitar akhir 90an, pada dasarnya ia telah mempergunakan prinsip-prinsip blog. Demikian pula ketika tahun 2000 saya bersama dua penulis, Linda Christanty dan <a href="http://nuruddinasyhadie.com">Nuruddin Asyhadie</a> mendirikan situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a>, kami mempergunakan software open source yang pada dasarnya juga blog. Software semacam itu telah dibuat komunitas internet di masa-masa tersebut, meski dengan standar keamanan dan fleksibilitas yang barangkali masih rendah. Baru ketika software semacam <a href="http://www.ekakurniawan.com/movabletype.com">Movable Type</a> dan <a href="http://www.ekakurniawan.com/wordpress.org">WordPress</a> muncul, blog menjadi istilah yang populer. Ditambah pula layanan <a href="http://blogger.com">Blogger.com</a> (<a href="http://blogspot.com">blogpspot.com</a>) dari Google yang memungkin orang untuk membuat blog secara lebih gampang tanpa harus mengerti hal teknis instalasi software ke server. Hal ini semakin menjadi-jadi sekarang setelah munculnya fenomena Web 2.0 yang mengisyaratkan akan internet yang menunjang kreativitas sekaligus interaktivitas.</p>
<p>Kenapa saya beranggapan penulis yang membuat blog sebagai sesuatu yang penting? Masih ingat belum lama ini ketika jaringan kabel bawah laut di Pasifik terputus, dan terputus pula hubungan internet? Sebenarnya yang terputus adalah hubungan internet ke Amerika, sementara situs seperti <a href="http://kompas.co.id">kompas.co.id</a> atau <a href="http://detik.com">detik.com</a> yang menyimpan server di dalam negeri masih bisa diakses. Ini semestinya segera menyadarkan betapa kita membutuhkan konten lokal, dan secara pribadi saya berharap kepada para penulis dari berbagai disiplin: sastrawan, sejarawan, jurnalis, dosen dan lainnya. Hal ini akan semakin dimungkinkan jika mereka langsung bersentuhan secara personal di blog masing-masing.</p>
<p>Tentu saja konten lokal tersebut akan semakin berarti jika disimpan di server lokal. Itulah kenapa saya lebih suka menganjurkan untuk mempergunakan layanan blog lokal semacam <a href="http://dagdigdug.com">dagdigdug.com</a> atau <a href="http://www.ekakurniawan.com/blogdetik.com">blogdetik.com</a> (dengan catatan harus dicek apakah benar mereka menempatkan server di dalam negeri), atau melakukan instalasi domain sendiri sehingga bisa memutuskan untuk memilih layangan hosting, ketimbang mempergunakan <a href="http://wordpress.com">wordpress.com</a> atau <a href="http://blogger.com">blogger.com</a>.</p>
<p>Dengan semakin banyak penulis menulis di blog, bisalah secara sederhana kita mengharapkan suatu ketika tercapainya swasembada konten lokal; tentu saja terutama jika konten ini ditulis dalam bahasa Indonesia pula. Maka jika sesuatu terjadi pada jaringan internasional (kabel bawah laut putus, atau traffic mengalami kemacetan, misalnya), kita tak hanya masih bisa mempergunakan jaringan internet dalam negeri, tapi juga bisa mengakses konten-konten yang diperlukan.</p>
<h3>Media baru</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>ebagaimana berbagai teknologi baru, blog sebenarnya telah dipergunakan di Indonesia nyaris bersamaan dengan di belahan dunia lainnya. Selain kita masih membutuhkan konten yang lebih kaya, harus diakui kita masihlah “hanya sekadar” pengguna. Kita bukan pencipta wiki maupun berbagai perangkat lunak blog: hanya mempergunakan apa yang tersedia.</p>
<p>Meskipun begitu, ini bukan alasan untuk patah semangat. Menulis blog merupakan langkah kecil dari sesuatu yang kelak menanti. Ada banyak hal di depan media baru yang terus berkembang ini; ada berbagai peluang mengkreasi bentu-bentuk seni yang khas, sebagaimana mungkin kesusastraan yang hanya bisa dinikmati melalui media ini dan tidak di media yang lain, sehingga mau tidak mau kita mesti memberinya sebuah nama baru. Kita bisa merealisasikan gagasan Borges tentang ensiklopedia fiktif, kalau mau.</p>
<p>Sekali lagi, menulis blog bisa menjadi awal yang baik. Sebagaimana penyair Joko Pinurbo akhirnya dipaksa mengenali kode-kode HTML ketika harus memasukkan puisi-puisinya ke blog. Siapa tahu kelak ia mau mempelajari bahasa pemrograman seperti PHP, Javascript, atau lainya, sehingga kelak dari tangannya bisa ditulis puisi saiber yang sejati (dalam arti tak mungkin dinikmati di media non-saiber). Sebab, “<em>Code is poetry</em>,” kata para programer WordPress. Ya, siapa tahu?</p>
<div class="footnote">
Tulisan ini pernah diterbitkan di <a href="http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/11/01543237/sebab.kode.adalah.puisi"><em>Kompas</em></a>, Minggu, 11 Mei 2008. Ada beberapa kesalahan ketik di pemuatan <em>Kompas</em>, yang saya perbaiki di versi blog ini. Blog Totot Indrarto tertulis pekde.com, seharusnya <a href="http://pakde.com">pakde.com</a>. Situs pantau.org seharusnya <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>. Blog Ook Nugroho tertulis ooknurgoho.blogspot.com seharusnya <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">ooknugroho.blogspot.com</a>.
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Sampul Buku Binhad Hingga Blog Djenar</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 16:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Corat-coret di Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Larutan Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Sampul Buku]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php</guid>
		<description><![CDATA[Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar <em>browsing</em> sampai membongkar kode <a href="http://www.php.net/">PHP</a>). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran -- tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2047/2403781332_043ee10bbe_o.jpg" alt="" /><br />
<span class="caption">Sampul Buku <em>Demonstran Sexy</em></span> </p>
<p>Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar <em>browsing</em> sampai membongkar kode <a href="http://www.php.net/">PHP</a>). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran &#8212; tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.</p>
<p>Buku-buku awal saya, (<em>Cantik itu Luka</em> versi penerbit Jendela, <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> semua versi tiga penerbit, <em>Corat-coret di Toilet</em>) saya bikin sendiri sampulnya. Buku orang lain yang pernah saya bikin, sejauh yang saya ingat: <em>Air Kaldera</em> (Joni Ariadinata), <em>Beatniks dan Puisi-puisi Lainnya</em> (Nuruddin Asyhadie), <em>Orang-orang Proyek</em> (Ahmad Tohari &#8212; versi Penerbit Jendela), <em>Sebuah Kitab yang Tak Suci</em> (Puthut EA) dan belum lama ini buku puisi baru Binhad Nurrohmat, <em>Demonstran Sexy</em>. Saya juga membuat ilustrasi untuk sampul dan isi buku kumpulan cerpen Ratih Kumala, <em>Larutan Senja</em>.<br />
<span id="more-140"></span><br />
Di luar itu, masih ada beberapa proyek desain lain yang pernah saya kerjakan, sebagian besar saya sudah lupa. Selain menggarap sampul buku, yang paling saya suka dari pekerjaan sebagai desainer adalah membuat grafis untuk t-shirt (kaus oblong). Waktu saya masih kuliah, saya sering membuat kaus oblong dengan grafis yang saya bikin sendiri. Meskipun hanya saya jual di antara teman-teman dengan cara selalu membawa kausnya di dalam tas punggung, saya memberinya label sebagaimana kaus yang dijual di toko. Labelnya bernama &#8220;Teteruga&#8221;, yang berarti kura-kura (seorang teman asal Irian memberi saya nama itu). Hasilnya lumayan untuk jajan dan membeli buku. Hehehe.</p>
<p>Bisnis &#8220;Teteruga&#8221; saya berhenti ketika krisis ekonomi tahun 1997, selain karena saya mulai sibuk untuk menyelesaikan kuliah dan menulis buku <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em>. Meskipun begitu saya tak pernah berhenti membuat desain kaus oblong. Di komputer saya barangkali sudah lebih dari seratusan desain untuk oblong yang belum pernah dicetak. Jujur saja, suatu hari kalau saya cukup punya uang, saya ingin punya toko yang hanya menjual kaus oblong yang saya desain tersebut. Mudah-mudahan kesampaian (amin!).</p>
<p>Nah, mengenai internet, saya mulai memaksakan diri mengerti cara bikin halaman web ketika bersama teman-teman membuat situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a> (sudah tutup). Itu tahun 2000 dan waktu itu kalau tidak salah belum ada <a href="http://wordpress.org">WordPress</a> maupun <a href="http://blogger.com">Blogspot</a>! Meskipun sampai hari ini saya enggak ngerti logika bahasanya, saya mencoba untuk tahu cara mengedit PHP dan <a href="http://mysql.com">MySql</a> dan sejauh ini cukup berhasil untuk tidak membuat desain <strong>bumimanusia.or.id</strong> berantakan, (<em>bravo</em>!).</p>
<p>Beruntung ketika saya memulai blog ini, WordPress sudah ada. Bagi saya, WordPress benar-benar memudahkan orang untuk ngeblog, terutama untuk orang yang ingin memakai domain dan hosting sendiri seperti saya. Tinggal instal WordPress ke server, cari <em>theme</em> yang menarik, tinggal ngetik blog! Meskipun begitu, masih juga saya ingin mencoba mendesain sendiri blog di atas template WordPress ini. Dengan kemampuan PHP yang pas-pasan, saya mencoba membuat <em>theme</em> sendiri. Hasilnya adalah desain blog ini, yang dengan norak saya beri nama <strong>Faulkner for WordPress</strong>, (ceritanya biar nyaingin <em>theme</em> WordPress yang sangat terkenal bernama <a href="http://warpspire.com/hemingway">Hemingway</a> itu lho!).</p>
<p>Sekali lagi, WordPress membuat ngeblog jadi gampang. Dan untuk itu saya mulai membujuki teman-teman saya untuk mulai ngeblog. Kalau perlu saya akan bantuin untuk urusan membeli domain, sewa server, menginstal WordPress dan memilihkan <em>theme</em> yang cocok (selain <strong>Faulkner for WordPress</strong>, saya enggak janji punya waktu untuk membuat <em>theme</em> sendiri; paling banter mengedit sedikit dari <em>free theme</em> yang sudah ada). Yang pertama dibujuk, tentu saja istri saya. Ia ngeblog di <a href="http://ratihkumala.com">ratihkumala.com</a>. Teman saya di <strong>bumimanusia.or.id</strong>, Nuruddin Asyhadie, juga mulai ngeblog di <a href="http://nuruddinasyhadie.com">nuruddinasyhadie.com</a>. Nuredan (panggilan saya untuk Nuruddin), cukup <em>expert</em> untuk mengotak-atik sendiri WordPressnya hingga berantakan (haha).</p>
<p>Selanjutnya inilah tiga orang yang sudah berhasil saya bujuk membuat blog: Richard Oh di <a href="http://richardoh.net">richardoh.net</a>. Richard selain menulis tiga novel, juga dikenal sebagai sutradara film. Adi Wicaksono di <a href="http://adiwicaksono.com">adiwicaksono.com</a>. Adi dikenal sebagai penyair, juga sesekali menulis esai film dan seni rupa. Terakhir, Djenar Maesa Ayu juga mulai ngeblog di <a href="http://djenar.com">djenar.com</a>. Djenar selain menulis tiga kumpulan cerpen, satu novel, kini bertambah predikatnya sebagai sutradara film. Mereka membeli domain dan menyewa servernya sendiri, saya bantuin yang lebih teknis (gini-gini bolehlah jadi konsultan, caila!). <del datetime="2008-04-15T16:37:48+00:00">Khusus blog Djenar, karena masih bayi, masih dalam pengerjaan. Jadi mohon maaf jika kontennya masih berupa sampel, hehehe</del> (ayo, Bu, mulai nulis, ya!).</p>
<p>Bagaimanapun, <em>happy blogging</em>, Teman-teman. Siapa yang mau menyusul ngeblog?</p>
<h3>Update (Malam yang Sama, Beda Tanggal)</h3>
<p>Proyek desain terbaru, tentu saja merencanakan sampul buku novel ketiga saya, <em>Malam Seribu Bulan</em> yang sudah dijadwalkan terbit pertengahan tahun ini. Punya ide?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dari-sampul-buku-binhad-hingga-blog-djenar-140.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quo Vadis Kritik Sastra?</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/quo-vadis-kritik-sastra-936.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/quo-vadis-kritik-sastra-936.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jul 2001 16:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=936</guid>
		<description><![CDATA[Satu kesalahan yang ingin aku diskusikan pertama kali, adalah mengenai kritik sastra dan kebiasaan buruk membuat "angkatan-angkatan". Sederhana saja. Dalam sejarah sastra Indonesia, "angkatan-angkatan" selalu dibuat oleh seseorang di luar gerakan sastra Indonesia sendiri, dalam hal ini adalah HB jassin dan Korrie. Lihat saja, HB jassin memproklamasikan Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Angkatan 65. Korrie membuat Angkatan 2000.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="ekavatar" src="http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ekavatar.gif">Krisis sastra, ya? Untuk kesekian kali kita selalu mendiskusikan sesuatu yang nggak nyambung. yang satu menganggak sastra kita mengalami krisis karena toh dari dulu sampai sekarang tak muncul pembaharuan macam apa pun, kalau pun ada hanya segelintir orang. sementara yang lain menganggap tak ada krisis karena puisi dan cerpen dan novel terus diproduksi. apakah diskusi semacam itu akan nyambung? Kedua pihak berdiri berdasarkan patokan yang berbeda, seumur hidup kupikir nggak bakal ketemu.</p>
<p>Jadi, bagaimana jika kita akhiri diskusi semacam itu, dan mengajukan pertanyaan yang lebih maju: apakah sastra kita sudah bermutu atau tidak? Untuk menyamakan persepsi, baiklah kita ambil patokan sastra dunia (idealnya memang begitu, kan?) sebagai ukuran. sejauh mana sastra kita diterima publik sastra dunia? Dalam hal ini kita seharusnya tak ngomongin soal karya-karya yang sekedar diterjemahkan (beberapa karya diterjemahkan sekedar merupakan proyek mercu suar saja, kan?), tapi juga melihat bagaimana tanggapan pasar terhadap karya tersebut. Mana karya kita yang direview oleh media sastra internasional, dicetak ulang, <em>sold out</em>, sebagaimana karya-karya penulis Amerika Latin, penulis India, bahkan penulis Afrika?<br />
<span id="more-936"></span><br />
Kita hanya menemukan satu nama untuk kategori yang sangat ketat seperti itu: Pramoedya Ananta Toer. Dengan begitu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa sastra Indonesia memang tidak bermutu. suka atau tidak, hormat atau tidak, kita harus berani mengambil kesimpulan seperti itu. jadi, pasti ada sesuatu yang salah. Kupikir kesalahan itu banyak, segudang (kita bisa mendiskusikannya di <em>mailing list</em> ini).</p>
<p>Satu kesalahan yang ingin aku diskusikan pertama kali, adalah mengenai kritik sastra dan kebiasaan buruk membuat &#8220;angkatan-angkatan&#8221;. Sederhana saja. Dalam sejarah sastra Indonesia, &#8220;angkatan-angkatan&#8221; selalu dibuat oleh seseorang di luar gerakan sastra Indonesia sendiri, dalam hal ini adalah HB jassin dan Korrie. Lihat saja, HB jassin memproklamasikan Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Angkatan 65. Korrie membuat Angkatan 2000. Keduanya bersikap sesuka hati. Aku bahkan bisa curiga keduanya sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan oleh anggota-anggota Angkatan tersebut. Meskipun HB Jassin hidup di tahun 45, aku hanya bisa percaya Angkatan 45 itu ada jika Chairil Anwar yang memproklamasikannya, memperdebatkannya, dan menunjukkan bukti-buktinya. Sebesar apa pun jasa HB Jassin untuk sastra Indonesia, (aku harus berani mengatakannya) ia bukanlah apa-apa bahkan dalam sastra Indonesia sendiri. Dan Korrie? Tahu apa ia tentang apa yang dipikirkan oleh Seno Gumira Adjidarma? Oleh Ayu Utami? Oleh siapa pun yang disebutnya sebagai Angkatan 2000?</p>
<p>Aku bukannya anti &#8220;angkatan-angkatan&#8221;. Tapi jika merasa perlu untuk mentasbihkan suatu gerakan sastra, seharusnya itu lahir dari penulisnya sendiri. memang HB jassin dan Korrie penulis sastra juga, tapi sejauh mana kapabilitas mereka dalam satu gerakan sastra? Aku bisa mengambil contoh tentang Jack Kerouac dengan &#8220;Beat Generation&#8221;- nya. Gerekan itu dia dan teman-temannya lah yang memproklamasikannya sendiri, berbarengan dengan gerakan serupa di bidang lain, dan ia memperlihatkan contoh karya &#8220;Beat Generation&#8221; melalui karya-karya sendiri juga (bukan dengan menunjuk karya orang lain yang belum tentu bisa kita tebak apa yang dipikirkannya seperti dilakukan HB Jassin dan Korrie).</p>
<p><em>Yeah, it&#8217;s just my opinion</em>. Kita bisa mulai mendiskusikan ini, termasuk jika kita memang butuh satu gerakan sastra untuk membalas ketidakmutuan sastra kita dalam satu gerakan meningkatkan kualitas sastra Indonesia. Yang jelas, satu keyakinanku, jika ingin sastra kita bagus, para penulis harus menghasilkan karya yang bagus. Seorang penulis yang bagus akan mengabaikan kritik yang jelek. Dan seorang penulis kritik jelek yang diabaikan akan berpikir sehingga mulai belajar menulis kritik yang baik. </p>
<div class="footnote">Catatan ini awalnya muncul di milis bumimanusia.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/quo-vadis-kritik-sastra-936.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gruppe 47 dan Grass</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/gruppe-47-dan-grass-928.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/gruppe-47-dan-grass-928.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2001 16:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=928</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu yang menjadi inspirasi dibuatnya situs Bumi Manusia adalah kelompok sastrawan yang menamakan dirinya Gruppe 47 di mana Gunter Grass pernah menjadi anggotanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu yang menjadi inspirasi dibuatnya situs Bumi Manusia adalah kelompok sastrawan yang menamakan dirinya Gruppe 47 di mana Gunter Grass pernah menjadi anggotanya.</p>
<p>Selain sebagai novelis, Grass merupakan seorang penyair, penulis naskah drama, pematung dan desainer grafis (gambar si kecil Oscar sedang membawa genderang kaleng yang berwarna hitam-merah di cover <em>The Tin Drum</em>, kalau nggak salah, dia sendiri yang buat).</p>
<p>Selain dikenal dengan cerita-ceritanya yang fantastik (sering disejajarkan dengan Gabriel Garcia Marquez, misalnya cerita si Oscar yang bisa menggerakkan benda-benda dari kejauhan (dalam <em>The Tin Drum</em>), ia juga dikenal dengan gaya fabelnya (lihat novel <em>From the Diary of a Snail</em> &#8220;Dari Catatan Harian Seekor Siput&#8221;).<br />
<span id="more-928"></span><br />
Ia lahir di Gdansk, Polandia (dekat Danzig, Jerman) yang merupakan latar bagi kebanyakan novel-novelnya. Pada tahun 1930 ia bergabung dengan barisan Pemuda Hitler dan masuk angkatan perang pada umur 16 tahun, terluka tahun 1945, dan ditangkap serta dipenjara oleh Sekutu di Marienbad, Cekoslowakia. Ia bebas tahun 1946 dan bekerja di perkebunan.</p>
<p>Tahun 1948 ia belajar melukis dan patung, namun di sisi lain ia merasa menulis menjadi sesuatu yang penting. Ia mulai menulis puisi dan naskah drama, yang pada suatu hari ia membacakannya di radio dan menarik perhatian Hans Werner Richter, pimpinan Gruppe 47 (jadi bukan Grass yang mendirikan kelompok tersebut), yang saat itu sangat berpengaruh. Ia mengundang Grass membacakan sajak-sajaknya di kelompok tersebut.</p>
<p>Lantas, apakah Gruppe 47 itu? Kita kembali ke situasi Jerman paska kekalahan di Perang Dunia II. Jerman hancur-lebur. Kota-kotanya menjadi puing. Orang-orangnya, Yahudi ataupun bukan, banyak yang mati (mencapai puluhanjuta), dan sisanya harus mengungsi meninggakan tanah airnya. Apa yang diharapkan dari sastra negara dalam keadaan seperti itu. Nazi telah membakar banyak buku karya bangsa Jerman sendiri, apalagi karya penulis luar, dan perang membuat orang lapar akan bacaan. Karya-karya Heinrich Mann, Bertolt Brecht hanya bisa ditemukan di pasar gelap. Penulis-penulis muda berdatangan, tapi modal mereka cuma romantisme belaka. Bagaimanapun sejarah sastra Jerman diputus dengan paksa oleh perang. Pemuda-pemuda potensial tak sempat mempelajari sastra, sehingga ketika mereka mencoba menulis, hasilnya hancur-hancuran.</p>
<p>Dengan latar belakang seperti itu, tahun 1947 muncul Gruppe 47. Orang-orang yang datang dari generasi tersebut, yang memiliki kerpihatinan mendalam atas keadaan sastra Jerman, serta memiliki semangat yang meluap, mencoba berkumpul untukmengolah satu literatur baru. Mereka sangat kritis, dan menyadari bahasa sebagai alat sudah menjadi &#8220;alat&#8221; propaganda Nazi. Di sisi lain, intelektual-intelektual yang takut pada Hitler juga mempergunakan bahasa secara &#8220;kabur&#8221; yang mereka sebut sebagai bahasa &#8220;budak&#8221;. Kelompok ini mencoba melepaskan diri dari kedua bahasa tersebut.</p>
<p>Maka mereka memulai suatu ritual baru &#8220;pembantaian&#8221; terhadap karya yang harus dijalani oleh semua pengarang kelompok itu. Setiap penulis harus duduk di depan teman-temannya, dan membacakan karyanya. Setiap kalimat diperiksa. Jika ada kata-kata yang bergaya propaganda model Nazi, atau kabur bergaya penulis penakut, mereka akan langsung mengkritiknya dan membantainya. Si pengarangnya tak boleh ikut diskusi, dan bahkan tak boleh memberi reaksi berlebihan. Yang merasa tersinggung dengan cra seperti itu tak akan diundang di sidang berikutnya. Konon beberapa pengarang sampai keluar ruangan sambil menangis (bisa dibayangkan, mungkin seperti &#8220;penghajaran&#8221; skripsi mahasiswa S1 oleh dosen-dosennya; yang berbeda, penggojlokan ini dilakukan oleh sesama pengarang). Salah satu referensi mereka adalah Hemingway, yang memang banyak mempergunakan kata-kata serta kalimat-kalimat yang efektif.</p>
<p>Yang berhasil melalui sidang-sidang mengerikan semacam itu, biasanya kemudian muncul sebagai pengarang berbobot. Salah satunya adalah Gunter Grass. Ia konon tak hanya sekedar menulis, di kelompok tersebut ia termasuk kritikus yang &#8220;kejam&#8221;.</p>
<p>Ya, itulah yang sedikit saya ketahui tentang Gunter Grass dan Gruppe 47. Saya harap, di antara lebih dari dua ratus juta orang Indonesia, ada beberapa yang seperti Herr Grass. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/gruppe-47-dan-grass-928.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sastra Internet</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sastra-internet-925.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sastra-internet-925.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2001 16:01:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[Adakah sastra internet? Sebagaimana sejarah telah membuktikan, setiap penemuan media baru, revolusi besar-besaran muncul dalam proses kreatif sastra. Saat ditemukannya kertas, lalu mesin cetak dan teknologi penjilidan buku, tradisi sastra lisan bergeser ke sastra tulis. Meskipun pada awalnya kertas dipandang tak lebih dari alat pendokumentasian sastra tulis yang selama ini diceritakan dari mulut ke mulur, namun penemuan bari juga dimunculkan oleh tradisi sastra tulis: novel yang berkembang sejalan dengan penemuan buku dan cerita pendek lebih berkembang dengan munculnya penemuan terbitan berkala.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="ekavatar" src="http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ekavatar.gif">Adakah sastra internet? Sebagaimana sejarah telah membuktikan, setiap penemuan media baru, revolusi besar-besaran muncul dalam proses kreatif sastra. Saat ditemukannya kertas, lalu mesin cetak dan teknologi penjilidan buku, tradisi sastra lisan bergeser ke sastra tulis. Meskipun pada awalnya kertas dipandang tak lebih dari alat pendokumentasian sastra tulis yang selama ini diceritakan dari mulut ke mulur, namun penemuan bari juga dimunculkan oleh tradisi sastra tulis: novel yang berkembang sejalan dengan penemuan buku dan cerita pendek lebih berkembang dengan munculnya penemuan terbitan berkala.</p>
<p>Kenapa novel muncul ketika ada teknologi buku? Karena, sebelum ditemukannya kertas dan mesin cetak dan penjilidan buku, sastra diceritakan secara lisan. Untuk memudahkan mengingat, cerita biasanya pendek sehingga mudah diceritakan ulang. Dalam tradisi dongeng yang panjang, selalu ada dua kemungkinan: cerita panjang itu ternyata merupakan cerita berbingkai di mana ada lusinan atau puluhan cerita pendek-pendek di dalamnya (misalnya <em>Kisah Seribu Satu Malam</em>), atau cerita panjang itu dibuat dalam bentuk lirik sehingga lebih mudah dihapal (misalnya <em>Mahabarata</em> dan <em>Ramayana</em>).<br />
<span id="more-925"></span><br />
Kini internet nyaris diperlakukan sama dengan kemundulan kertas di zaman dahulu: para sastrawan baru melihatnya sebagai pemindahan medium dari kertas ke web. Baru sebagai tempat pendokumentasian yang lebih terjamin daripada kertas. Tapi apakah cuma itu? Bukankah media baru ini (internet) mempunyai banyak kelebihan-kelebihan (dan juga batasan- batasan), sehingg seharusnya menawarkan bentuk sastra baru? Namun pertanyaannya, sastra seperti apa yang bisa muncul sejiwa dengan media ini (sebagaimana novel sejiwa dengan buku dan cerita pendek sejiwa dengan terbitan berkala dan lirik sejiwa dengan tradisi lisan?). Kami tunggu komentar Anda semua &#8230;</p>
<div class="footnote">Catatan ini saya tulis sebagai perkenalan milis dan situs <a href="http://bumimanusia.com">bumimanusia.com</a> (kemudian menjadi <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a>)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sastra-internet-925.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

