Sebab Kode Adalah Puisi

Foto oleh: silvia di natale’S, Some rights reserved.
Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”.
Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.
Baca selengkapnya …
Dari Sampul Buku Binhad Hingga Blog Djenar

Sampul Buku Demonstran Sexy
Di sela urusan tulis-menulis, jika memperoleh waktu luang ada dua hal yang saya suka lakukan: membuat grafis dan mengutak-atik internet (dari sekadar browsing sampai membongkar kode PHP). Soal grafis, saya memang pernah sekolah desain grafis (selain kuliah filsafat) waktu di Yogyakarta. Soal internet, saya tanya-tanya ke teman dan rajin membaca artikel-artikel manual yang bertebaran — tapi jangan sekali-kali menganggap saya pinter soal ini karena kenyataannya memang jauh dari pinter.
Buku-buku awal saya, (Cantik itu Luka versi penerbit Jendela, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis semua versi tiga penerbit, Corat-coret di Toilet) saya bikin sendiri sampulnya. Buku orang lain yang pernah saya bikin, sejauh yang saya ingat: Air Kaldera (Joni Ariadinata), Beatniks dan Puisi-puisi Lainnya (Nuruddin Asyhadie), Orang-orang Proyek (Ahmad Tohari — versi Penerbit Jendela), Sebuah Kitab yang Tak Suci (Puthut EA) dan belum lama ini buku puisi baru Binhad Nurrohmat, Demonstran Sexy. Saya juga membuat ilustrasi untuk sampul dan isi buku kumpulan cerpen Ratih Kumala, Larutan Senja.
Baca selengkapnya …
Quo Vadis Kritik Sastra?
Krisis sastra, ya? Untuk kesekian kali kita selalu mendiskusikan sesuatu yang nggak nyambung. yang satu menganggak sastra kita mengalami krisis karena toh dari dulu sampai sekarang tak muncul pembaharuan macam apa pun, kalau pun ada hanya segelintir orang. sementara yang lain menganggap tak ada krisis karena puisi dan cerpen dan novel terus diproduksi. apakah diskusi semacam itu akan nyambung? kedua pihak berdiri berdasarkan patokan yang berbeda, seumur hidup kupikir nggak bakal ketemu.
Jadi, bagaimana jika kita akhiri diskusi semacam itu, dan mengajukan pertanyaan yang lebih maju: apakah sastra kita sudah bermutu atau tidak? untuk menyamakan persepsi, baiklah kita ambil patokan sastra dunia (idealnya memang begitu, kan?) sebagai ukuran. sejauh mana sastra kita diterima publik sastra dunia? dalam hal ini kita seharusnya tak ngomongin soal karya-karya yang sekedar diterjemahkan (beberapa karya diterjemahkan sekedar merupakan proyek mercu suar saja, kan?), tapi juga melihat bagaimana tanggapan pasar terhadap karya tersebut. mana karya kita yang direview oleh media sastra internasional, dicetak ulang, sold out, sebagaimana karya-karya penulis Amerika Latin, penulis India, bahkan penulis Afrika?
Baca selengkapnya …
Gruppe 47 dan Grass
Salah satu yang menjadi inspirasi dibuatnya situs Bumi Manusia adalah kelompok sastrawan yang menamakan dirinya Gruppe 47 di mana Gunter Grass pernah menjadi anggotanya.
Selain sebagai novelis, Grass merupakan seorang penyair, penulis naskah drama, pematung dan desainer grafis (gambar si kecil Oscar sedang membawa genderang kaleng yang berwarna hitam-merah di cover The Tin Drum, kalau nggak salah, dia sendiri yang buat).
Baca selengkapnya …
Sastra Internet
Adakah sastra internet? Sebagaimana sejarah telah membuktikan, setiap penemuan media baru, revolusi besar-besaran muncul dalam proses kreatif sastra. Saat ditemukannya kertas, lalu mesin cetak dan teknologi penjilidan buku, tradisi sastra lisan bergeser ke sastra tulis. Meskipun pada awalnya kertas dipandang tak lebih dari alat pendokumentasian sastra tulis yang selama ini diceritakan dari mulut ke mulur, namun penemuan bari juga dimunculkan oleh tradisi sastra tulis: novel yang berkembang sejalan dengan penemuan buku dan cerita pendek lebih berkembang dengan munculnya penemuan terbitan berkala.
Kenapa novel muncul ketika ada teknologi buku? Karena, sebelum ditemukannya kertas dan mesin cetak dan penjilidan buku, sastra diceritakan secara lisan. Untuk memudahkan mengingat, cerita biasanya pendek sehingga mudah diceritakan ulang. Dalam tradisi dongeng yang panjang, selalu ada dua kemungkinan: cerita panjang itu ternyata merupakan cerita berbingkai di mana ada lusinan atau puluhan cerita pendek-pendek di dalamnya (misalnya Kisah Seribu Satu Malam), atau cerita panjang itu dibuat dalam bentuk lirik sehingga lebih mudah dihapal (misalnya Mahabarata dan Ramayana).
Kini internet nyaris diperlakukan sama dengan kemundulan kertas di zaman dahulu: para sastrawan baru melihatnya sebagai pemindahan medium dari kertas ke web. Baru sebagai tempat pendokumentasian yang lebih terjamin daripada kertas. Tapi apakah cuma itu? Bukankah media baru ini (internet) mempunyai banyak kelebihan-kelebihan (dan juga batasan- batasan), sehingg seharusnya menawarkan bentuk sastra baru? Namun pertanyaannya, sastra seperti apa yang bisa muncul sejiwa dengan media ini (sebagaimana novel sejiwa dengan buku dan cerita pendek sejiwa dengan terbitan berkala dan lirik sejiwa dengan tradisi lisan?). Kami tunggu komentar Anda semua …