<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Buku</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/buku/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Beberapa Hal yang Saya Pikirkan Tentang Buku dan Buku-e</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 15:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku-e]]></category>
		<category><![CDATA[ebook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3101</guid>
		<description><![CDATA[<p>Meskipun sampai saat ini saya masih lebih suka membaca buku konvensional (terbuat dari kertas dan dijilid rapi), dan masih sangat jarang membaca buku dalam format digital (buku-e -- terjemahan suka-suka saya dari <em>e-book</em>, seperti surat-e), saya melihat bahwa kehadiran buku-e merupakan keniscayaan. Ia telah datang, di beberapa laporan toko buku daring, penjualannya terus meningkat (sementara penjualan buku konvensional terus menurun); dan ia akan terus menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Di masa depan, tampaknya buku-e bakalan merupakan format buku yang utama (sampai ditemukan format baru lagi, yang saya belum tahu).</p>  <p>Ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang buku (konvensional):</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-06/ibEdzjGJzBovftnCfDBfddgcjbJzaxszhoBmCjrCyneDtvqbaqkACswjcggC/ebook.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Ebook" height="368" src="http://getfile7.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-06/ibEdzjGJzBovftnCfDBfddgcjbJzaxszhoBmCjrCyneDtvqbaqkACswjcggC/ebook.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Meskipun sampai saat ini saya masih lebih suka membaca buku konvensional (terbuat dari kertas dan dijilid rapi), dan masih sangat jarang membaca buku dalam format digital (buku-e &#8212; terjemahan suka-suka saya dari <em>e-book</em>, seperti surat-e), saya melihat bahwa kehadiran buku-e merupakan keniscayaan. Ia telah datang, di beberapa laporan toko buku daring, penjualannya terus meningkat (sementara penjualan buku konvensional terus menurun); dan ia akan terus menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Di masa depan, tampaknya buku-e bakalan merupakan format buku yang utama (sampai ditemukan format baru lagi, yang saya belum tahu).</p>
<p>Ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang buku (konvensional):</p>
<p><span id="more-3101"></span></p>
<ol>
<li>Buku dalam format kertas dan dijilid akan tetap ada, tapi jumlahnya akan menurun sangat drastis. Barangkali hanya buku-buku tertentu diterbitkan dalam format seperti ini: buku dengan asumsi penjualan tinggi, kitab suci, buku manual. Atau sebaliknya: buku yang tak banyak dibaca, diterbitkan terbatas hanya untuk segelintir peminat. Intinya, menerbitkan buku konvensional akan merupakan kegiatan yang mahal. Hanya buku yang diminati orang, atau buku yang bisa dijual mahal (meskipun sedikit), menjadi masuk akal secara bisnis untuk diterbitkan.</li>
<li>Bisnis buku bekas akan lebih mengasyikan. Bahkan mulai terasa sejak sekarang. Buku-buku lama (kecuali yang domain publik, karena dianggap murah) sudah jarang dicetak ulang, sehingga perlu ke toko buku bekas untuk mencarinya. Saya sendiri penggemar toko online abebooks.com, yang menyediakan begitu banyak buku bekas, untuk memburu buku-buku lama yang tak lagi diterbitkan.</li>
<li>POD (print-on-demand) akan menjadi pilihan menarik bagi para pembaca yang tetap menginginkan buku konvensional di era digital. Sementara buku-buku telah beralih ke format digital, kita masih bisa memperoleh buku konvensional dengan mencetaknya secara satuan. Harganya akan lebih mahal daripada umumnya buku sekarang. Toko buku barangkali akan menurun drastis. Mereka barangkali akan berubah menjadi kios-kios pencetak buku POD.</li>
</ol>
<p>Dan ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang e-book:</p>
<ol>
<li>Para penyedia buku-e harus mulai memikirkan standar format. Bayangan saya seperti .mp3 (atau .m4a) untuk musik. Bahkan meskipun ada banyak format musik, masih jauh lebih mudah memutar file musik yang sama di beberapa perangkat yang berbeda. Dalam perkara buku-e, tampaknya masih ada pertarungan sengit antara para penyedia. Penerbit harus membuat beberapa format yang berbeda agar buku bisa dibaca di Apple iPad dan Amazon Kindle, misalnya. Buku yang dibuat untuk format perangkat tertentu, dibuat susah dibaca di format lain. Ini bisa bikin frustasi pembeli buku-e. Tapi mari kita lihat, cepat atau lambat barangkali akan menuju ke sana.</li>
<li>Selain soal daya tampung dan bobot (bisa membawa ribuan buku dalam satu perangkat tipis), buat saya hal paling menarik dari buku-e adalah &#8220;bisa diakses mesin pencari&#8221;. Saya membaca buku tak sekadar untuk &#8220;membaca&#8221;, tapi kadang melakukan penelitian. Buku-e memungkinkan saya mencari bagian-bagian tertentu yang saya inginkan dengan cepat. Saya bisa langsung masuk ke entri tertentu di kamus atau ensiklopedia. Jika saya lupa di bagian mana penulis tertentu menulis hal tertentu, saya tinggal mencari dengan kata kunci tertentu.</li>
<li>Di zaman buku konvensioanal, menerbitkan buku sendiri tentu saja bisa dilakukan. Tapi di zaman digital, hal ini akan semakin menjadi-jadi karena faktor ini: murah. Penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri dalam format buku-e, tak perlu mengeluarkan ongkos cetak. Dan akan lebih banyak hal bisa diterabas juga. Selain menerbitkan bukunya sendiri, penulis bisa menjualnya sendiri juga. Fenomenanya kurang lebih akan seperti blog: menulis sendiri, menerbitkan sendiri, dan menjualnya sendiri.</li>
</ol>
<p>Tentu saja bahasan mengenai pertarungan buku konvensional dan buku-e jauh lebih rumit dari itu, tapi sementara itulah hal-hal yang menarik perhatian saya. Dan apa yang akan saya lakukan jika era buku-e ini benar-benar telah datang (di negara yang lebih maju, era ini telah datang, tapi di Indonesia barangkali kita perlu beberapa tahun ke depan lagi):</p>
<p>Saya akan membaca buku-buku dalam format digital, terutama saya ingin menyimpan buku-buku referensi (kamus, ensiklopedia, buku-buku klasik, buku-buku pengetahuan, katalog, kronik) dalam bentuk digital. Untuk buku-buku yang saya suka, terutama novel, barangkali saya akan mencetaknya dalam bentuk POD. Dan sebagai penulis, saya mestinya tak perlu kuatir dengan perubahan format apa pun. Tugas penulis adalam menulis. Tulisannya bisa hadir dalam format apa pun. Bukankah begitu?</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampul Baru &#8220;Cantik itu Luka&#8221;, 2012</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 13:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gambar dan Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3004</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jika tak ada halangan, "Cantik itu Luka" dengan sampul versi ketiga ini akan beredar <del>5 Januari 2012</del> 16 Februari 2012. Lebih lengkap mengenai buku ini, sila <a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka" title="Cantik itu Luka">baca di sini</a>.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile8.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cil_new1000" height="342" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a></div>
</p>
<p>Jika tak ada halangan, &#8220;Cantik itu Luka&#8221; dengan sampul versi ketiga ini akan beredar <del>5 Januari 2012</del> 16 Februari 2012. Lebih lengkap mengenai buku ini, sila <a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka" title="Cantik itu Luka">baca di sini</a>.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan dan Percik Ingatan</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 08:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[The Mysterious Flame of Queen Loana]]></category>
		<category><![CDATA[Umberto Eco]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php</guid>
		<description><![CDATA[<p><div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/gKZZQNkplqdrdoSYqznw4XILMoyIpVOdS5FA5zBb8NYqvWZhE9LjEPUKWhEq/queen-loana.jpg"><img alt="Queen-loana" height="320" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Dgh1z4hWWe174bFgFtkE0BBbd3ZoU6TE3t5dtyWh6XDmepLR5yeCl2TX19aK/queen-loana.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div></p> <p>Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film "The Name of the Rose", dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. "The Mysterious Flame of Queen Loana" jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan "Faucault's Pendulum" dan "Baudolino" dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu "The Island of the Day Before". <p /> Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal "The Mysterious Flame of Queen Loana". Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik. <p /> Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan "mysterious flame" di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman. </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/gKZZQNkplqdrdoSYqznw4XILMoyIpVOdS5FA5zBb8NYqvWZhE9LjEPUKWhEq/queen-loana.jpg"><img alt="Queen-loana" height="320" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Dgh1z4hWWe174bFgFtkE0BBbd3ZoU6TE3t5dtyWh6XDmepLR5yeCl2TX19aK/queen-loana.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film &#8220;The Name of the Rose&#8221;, dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221; jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan &#8220;Faucault&#8217;s Pendulum&#8221; dan &#8220;Baudolino&#8221; dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu &#8220;The Island of the Day Before&#8221;.
<p /> Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221;. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik.
<p /> Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan &#8220;mysterious flame&#8221; di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman. <br /><span id="more-2950"></span><br />Meskipun tentu saja beda maksud dan tujuan, bagian-bagian tertentu novel ini mengingatkan saya pada film &#8220;Cinema Paradiso&#8221;. Ganti film di &#8220;Cinema Paradiso&#8221; dengan buku dan komik, maka akan jadi &#8220;The Mysterious Flame of Queen Loana&#8221;. Tentu saja tidak persis seperti itu. Barangkali saya teringat hal itu karena novel dan film sama-sama berlatar Italia, dengan kisah mengenai lelaki tua yang mengenang kembali masa lalunya. Ingatan semacam itu tentu sah, sebab kenangan tak lebih merupakan &#8220;sejarah personal&#8221;. Setiap benda selalu memercikan api sejarah, tapi sejarah yang terkuak barangkali berbeda dari satu orang ke orang lain. Itulah teman novel ini secara umum.
<p /> Untuk pembaca yang semata-mata menginginkan cerita dan petualangan, drama maupun roman, bagian kedua novel ini (yang merupakan bagian paling panjang), mungkin akan terasa membosankan. Isinya melulu bercerita tentang buku, komik, majalah, dan sesekali musik, dengan referensi ke sana-kemari. Tapi sebagaimana melalui esai-esainya, Eco mencacah bacaan-bacaan itu menjadi percik-percik, tak hanya sejarah kehidupan masa kecil dan masa remaja Yambo, tapi juga sejarah Italia dan Fasisme yang diingat Yambo.
<p /> Melalui bacaan semacam Micky Tikus dan Donal Bebek, kita diajak berkelana pada sejarah industri buku, budaya penerjemaan, proses adaptasi budaya, bahkan politik yang pasang-surut antara Italia dan Amerika. Beberapa buku yang dibahas barangkali kita kenal karena merupakan &#8220;bacaan dunia&#8221;, tapi beberapa barangkali asing dan hanya dimengerti oleh pembaca Italia (atau paling tidak Eropa).
<p /> Sepanjang membaca novel ini, jujur saya malah berkelana sendiri membayangkan saya dalam posisi Yambo. Bacaan saya tentu jauh berbeda dengan Yambo, tapi menarik juga melacak masa lalu sendiri (dan negeri kita) melalui bacaan. Pertama barangkali saya akan membaca ulang novel-novel serial Wiro Sableng yang saya baca pada umur belasan, dan mencoba mencari tahu, &#8220;percik ingatan&#8221; macam apa yang saya peroleh dari sana. Mungkin saya akan membaca kembali majalah Bobo dari tahun 80an awal, membaca Paman Kikuk, Husin dan Asta. Membaca Si Janggut. Semakin besar saya membaca komik-komik silat, membaca cersil Kho Ping Hoo, kisah-kisah misteri Abdullah Harahap. Zaman jatuh cinta pertama kali kepada seorang gadis, saya sedang membaca serial &#8220;Lupus&#8221;.
<p /> Apakah kita bisa membaca politik negeri ini melalui bacaan-bacaan populer semacam itu? Saya yakin, sebagaimana Umberto Eco melakukannya melalui novel ini, bisa dilakukan. Tapi tentu saja membutuhkan ketekunan, dan kejelian &#8220;membaca&#8221; dan menafsir.
<p /> Melalui penjelajahan bacaan-bacaan masa kecilnya pula, Yambo mengenang kembali sejarah negerinya di bawah fasisme. Ini bagian paling menarik di bagian kedua buku itu. Kita tahu, fasisme memiliki kecenderungan untuk menyeragamkan makna. Tapi mungkinkah tafsir orang atas sesuatu sama? Tentu saja mungkin, jika pikiran kita terpenjara. Tapi Yambo, yang baru bangun dari koma, dan sebagian ingatannya bermasalah, menunjukkan bahwa pikiran yang bebas bisa membawanya kemana pun. Dan &#8220;percik misterius&#8221; di dalam ingatan, seperti mesin waktu yang akan melemparkan kita entah ke mana. </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bacaan-dan-percik-ingatan-2950.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Novel Isaac Bashevis Singer</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 17:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Isaac Bashevis Singer]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>
		<category><![CDATA[Polandia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Shosha]]></category>
		<category><![CDATA[The Slave]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php</guid>
		<description><![CDATA[Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.

Sekali waktu istri saya menonton film "Yentl" di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, "Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya." Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, "Yentl" merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/3tcJyYxNHcdx5pohR9k4RNH4PupN0N4zbW2b4PINbzr1qHQSA9swW0bqrA2r/IsaacBashevis.jpg"><img alt="Isaacbashevis" height="335" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/MgygXgj0gQzNeS45dNKr4WWQaRDFBxcYd8jDDLMoU1n5Cm2k3Bb99j43j9aI/IsaacBashevis.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </p>
<p>Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.
<p /> Sekali waktu istri saya menonton film <em>Yentl</em> di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, &#8220;Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.&#8221; Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, <em>Yentl</em> merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya. <br /><span id="more-2916"></span>
<p /> Kesempatan itu datang bersamaan dengan sampainya pesanan dua novelnya, <em>The Slave</em> dan <em>Shosha</em>. Saya memesannya dari internet, dari toko buku bekas (selain jarang edisi baru, saya memang suka dengan buku bekas, tapi soal ini kapan-kapan saya cerita). Dalam dua minggu, saya membaca kedua novel itu hingga selesai, menyingkirkan dulu novel-novel lain yang belum saya baca. Benarlah memang, gayanya mendekati cara Hamsun menulis. Tapi seperti banyak ditulis kritikus, Hamsun sering bermain di wilayah ego karakter utamanya; sementara Singer bermain di wilayah ego karakter utamanya, yang berbenturan dengan tuntutan sosial agama/komunitas Yahudi.
<p /> Novel <em>The Slave</em> sangat menyiratkan hal itu. Dengan latar Polandia abad ketujuh belas, kisah berputar mengenai Jacob, seorang anak rabi yang saleh. Setelah kota tempatnya tinggal diserbu bangsa Cossack, dan banyak orang Yahudi dibunuh, diperkosa, Jacob dijual sebagai budak kepada seorang petani desa. Di sanalah ia bertemu dengan anak si petani, Wanda seorang janda, yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah padang rumput, di tengah ancaman kematian (orang-orang di desa itu menganggap Yahudi sebagai penyakit yang bisa membawa petaka), dikelilingi gunung-gunung dan bukit-bukit, kisah cinta mereka terajut.
<p /> Jacob tak menyangkal memiliki hasrat berahi kepada Wanda, tapi ia tak berani berbuat lebih jauh, dan hanya memendam saja hasrat itu. Ia punya istri dan dua anak yang entah dimana (saat itu ia belum tahu mereka termasuk korban pembantaian Cossack). Tapi yang lebih penting lagi, ia tak berani memenuhi hasrat berahinya karena sadar, zinah merupakan dosa. Itu yang pertama. Yang kedua, bahkan jika ia berpikir tentang pernikahan, juga dosa jika ia menikahi perempuan kafir (Wanda seorang Kristen, tapi digambarkan bahwa penghuni desa itu meskipun secara legal beragama Kristen, tapi masih banyak yang percaya pada adat/agama/ritual penyembah berhala). Ketiga, bahkan jika Wanda bersedia masuk menjadi &#8220;anak Israel&#8221; (yakni menjadi Yahudi), juga terlarang jika ia menjadi Yahudi karena cinta, dan bukan karena percaya kepada Tuhan.
<p /> Di sinilah Jacob terlibat pertarungan antara hasrat daging-tubuhnya, dan ikatan moral-jiwanya. Dan di sini pulalah, perjalanan perdebatan antara hukum-hukum agama yang mengikat, dan tafsir yang mencoba membebaskan diri dari ikatan tersebut. (Saya jadi terpikirkan hal ini: ketika kita menghadapi hukum agama yang tidak sejalan dengan apa yang kita kehendaki/pikirkan, di titik itulah kita mulai mencoba memberi tafsir. Saya pikir hal ini tak hanya terjadi pada Jacob dan hukum-hukum agama Yahudi-nya, tapi barangkali terjadi atas semua umat agama dan hukum-hukum agama mereka. Siapa tahu?)
<p /> Jika Jacob merupakan gambaran sosok saleh yang harus melakukan perbuatan dosa dan bagaimana ia mencari pembenaran atas tindakannya (atau mencoba menghapus dosanya, atau mencoba mencari kompromi), hal sebaliknya terjadi pada Aaron dalam novel <em>Shosha</em> (dengan latar belakang tahun-tahun sebelum penyerbuan Hitler ke Polandia). Aaron, meskipun sama-sama anak rabi, sejak awal digambarkan sudah tidak saleh. Ia tak lagi melakukan ritual agama, ia juga kumpul kebo dengan pacarnya, meniduri dua perempuan temannya, dan meniduri pelayan di kamar pondokannya. Intinya, ia orang yang agak bejat dari sudut pandang moral agama. Tapi ketika ia bertemu dengan Shosha, gadis masa kecilnya, ia mencoba menjadi orang saleh.
<p /> Meskipun dilihat dari sudut pandang yang berbeda, di sini cinta menjadi peletup bagaimana orang berperilaku terhadap agama. Di kedua novel, agama kemudian, alih-alih merupakan hubungan antara manusia dan Tuhan, tak lebih menjadi sejenis syarat dan prasyarat dalam hubungan berkomunitas. Jacob dan Aaron, dengan karakter yang berbeda, beragama lebih karena tuntutan komunitas Yahudi di sekitarnya. Dalam kasus Jacob, bahkan meskipun ia terkurung di tengah padang rumput dan jauh dari orang-orang Yahudi, tekanan itu tetap terasa. Dalam kasus Aaron, bahkan meskipun ia sudah tidur dengan banyak perempuan, meskipun Shosha agak sakit (kekanak-kanakan dan rada terbelakang), ketika ia berbaring di ranjang bersama Shosha (sebelum mereka menikah), ia tetap tak mau menyentuhnya.
<p /> Tapi pada titik lain, kisah cinta Aaron kepada Shosha dan Jacob kepada Wanda, justru memperlihatkan sesuatu yang tampak ilahiah: tak terelakkan, sejenis takdir, di luar rasio, di luar ikatan-ikatan sosial. Perjalanan kisah cinta mereka tampak seperti perjalanan spiritual. Bahkan kemudian Wanda digambarkan sebagai orang suci (sejenis santa atau wali). Demikian pula gambaran Shosha sejak awal: tanpa dosa. Atau barangkali benarlah apa kata kebanyakan orang, bahwa pada dasarnya inti dari agama, inti dari ajaran Tuhan, adalah cinta? Dan cinta paling mudah digambarkan melalui hubungan antara lelaki dan perempuan, juga melibatkan nafsu daging-tubuh, selain dorongan jiwa yang tak terjelaskan.
<p /> Saya pikir, kedua novel merupakan pintu yang bagus untuk mengenal karya-karya Isaac Bashevis Singer. Saya berharap bisa membaca beberapa novelnya yang lain. Dan terakhir, saya pikir penulis-penulis yang tertarik menggarap aspek-aspek sosial agama dalam karya mereka, juga bisa belajar melalui Singer. Kenapa tidak?
<p /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perampokan Buku di Palestina</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/perampokan-buku-di-palestina-2237.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/perampokan-buku-di-palestina-2237.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2010 14:09:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/perampokan-buku-di-palestina-2237.php</guid>
		<description><![CDATA[Israel tak hanya merampok tanah dari warga Palestina, tapi juga buku-buku untuk perpustakaan mereka! Cek di sini: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/menjarah-buku-ketika-perang-masih-berkobar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>Israel tak hanya merampok tanah dari warga Palestina, tapi juga buku-buku untuk perpustakaan mereka! Cek di sini: <a href="http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/menjarah-buku-ketika-perang-masih-berkobar">http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/menjarah-buku-ketika-perang-masih-berkobar</a>.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/perampokan-buku-di-palestina-2237.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The World’s Greatest Bookshops</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/the-worlds-greatest-bookshops-2164.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/the-worlds-greatest-bookshops-2164.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Nov 2010 10:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Toko Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/wordpress/blog/the-worlds-greatest-bookshops-2164.php</guid>
		<description><![CDATA[Buat pecinta buku dan jalan-jalan, Lonely Planet merilis &#8220;The World&#8217;s Greatest Bookshops&#8221;. Catat baik-baik, siapa tahu mampir di kota-kota yang bersangkutan. Sila tengok di sini: http://www.lonelyplanet.com/england/travel-tips-and-articles/76233]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>Buat pecinta buku dan jalan-jalan, Lonely Planet merilis &#8220;The World&#8217;s Greatest Bookshops&#8221;. Catat baik-baik, siapa tahu mampir di kota-kota yang bersangkutan. Sila tengok di sini: <a href="http://www.lonelyplanet.com/england/travel-tips-and-articles/76233">http://www.lonelyplanet.com/england/travel-tips-and-articles/76233</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/the-worlds-greatest-bookshops-2164.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Buku di Toko Buku</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/membaca-buku-di-toko-buku-96.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/membaca-buku-di-toko-buku-96.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 17:30:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Toko Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Membaca buku di dalam toko? Bahkan toko buku sebesar Gramedia Matraman pun tak menyediakan sofa, apalagi kedai kopi di dalam toko yang bisa menjadi tempat rehat. Aduh, jangankan sofa untuk membaca buku di dalam toko, sebagian besar toko buku Gramedia selalu memberi peringatan: <em>dilarang membuka pembungkus plastik</em>, yang artinya, <em>dilarang membaca buku</em>!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="ekavatar" src="http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ekavatar.gif">Tempo hari saya pergi ke toko buku Gramedia di Matraman. Itu yang kedua setelah renovasi besar-besaran tahun lalu. Dulu merupakan toko Gramedia yang paling besar, sekarang jauh lebih besar lagi. Konon toko buku paling besar di Asia. Entahlah, saya belum berkesempatan mengelilingi Asia untuk membandingkan toko bukunya satu per satu.</p>
<p>Tokonya terdiri dari empat lantai, lima lantai kalau harus menghitung <em>underground</em> tempat parkir, Holland Bakery dan restoran Es Teler 77 itu. Lantai dasar, seperti Gramedia di mana-mana, berisi peralatan tulis-menulis. Tiga lantai sisanya, buku dan buku. Dengan eskalator di tengah-tengah, toko yang ini memang agak menyerupai mall yang hanya menjual buku. Konon pula, ini toko buku paling lengkap di Indonesia &#8212; agak menyedihkan memang, karena saya bisa mendaftar banyak buku yang <em>out of stock</em> di toko ini.<br />
<span id="more-96"></span><br />
Sebenarnya saya datang ke sini untuk janjian bertemu seseorang. Selebihnya saya ingin melanjutkan beberapa bagian novel saya. Maka saya sengaja membawa laptop dan mendamparkan diri di Dunkin&#8217; Donuts yang ada di lantai dasar. Sejujurnya, kedai ini sama sekali tidak ideal untuk melakukan itu. Terutama karena hari-hari itu kedai tersebut sedang direnovasi. Sangat berisik dengan para tukang yang menggedor-gedor dinding. Bagaimanapun, mereka sudah memasang pengumuman permohonan maaf &#8230; bagaimana lagi, tak ada pilihan lain?</p>
<p>Inilah sebenarnya kekurangan terbesar dari toko buku ini. Saya selalu kebingungan setiap kali selesai membeli buku dari sini dan ingin langsung membacanya: tak ada tempat yang benar-benar asyik untuk duduk dan membaca buku yang baru dibeli. Itu berarti, tak ada tempat pula untuk bertemu teman dan ngomongin buku di sana, sebagaimana tak ada tempat untuk menulis. Kalau tokonya berada di mall tak ada masalah: kita bisa pindah ke Starbucks atau <em>foodcourt</em>. Masalahnya, Gramedia Matraman jauh dari mana-mana, di depan toko yang ada hanyalah warung makan Padang (yang juga mahal untuk ukuran kebanyakan warung Padang langganan saya).</p>
<p>Kalau sudah begini, saya jadi agak merindukan toko buku QB. Sayang juga toko itu harus tutup, ya? (Halo, <a href="http://richardoh.net">Richard</a>, apa kamu tak kepikiran membuka lagi toko itu? Satu saja, enggak usah terlalu banyak, hehehe).</p>
<p>Saya jadi teringat mengunjungi beberapa toko buku di Den Haag. Kota itu sebenarnya kecil saja, jauh lebih kecil daripada Jakarta. Tapi toko bukunya nyaris ada di setiap blok. Karena kotanya kecil, bangunan disana juga relatif kecil-kecil, berimpitan, dengan gang-gang kecil. Dan harap maklum, toko bukunya juga kecil-kecil. Meskipun kecil-kecil, karena setiap blok hampir selalu ada toko buku, menjelajah dari satu toko ke toko lain menjadi hal yang mengasyikkan. Dan karena tokonya kecil-kecil, tak ada banyak tempat juga untuk sekadar duduk-duduk membaca buku. Untunglah, keluar dari toko, biasanya banyak kedai untuk mengaso dan membaca. Cuaca di Den Haag, juga lalu-lintasnya, bukan merupakan gangguan yang serius bagi orang yang tergila-gila membaca di luar ruangan.</p>
<p>Agak berbeda dengan di San Francisco. Di sini tidak setiap blok ada toko buku. Toko buku relatif harus dicari-cari, karena biasanya harus berbagi dengan gedung-gedung dan toko-toko lain yang sama besar dan sama mencuri perhatian. Kalau mau membaca buku di luar, juga harus pintar-pintar mengetahui dimana ada taman. Lagian seperti kebanyakan kota besar, kota ini sama bisingnya dengan Jakarta. Jadi enggak nyamanlah untuk membaca buku di luar ruangan. Tapi untungnya, beberapa toko buku di sana menyediakan kedai kopi di dalam toko buku. Selain itu, di tokonya juga banyak sofa-sofa untuk duduk. Selepas membeli buku, bisalah mengaso sambil membaca buku dan menyesap segelas kopi.</p>
<p>Di Jakarta? Membaca buku di luar ruangan jelas membutuhkan ketabahan tertentu. Membaca buku di dalam toko? Bahkan toko buku sebesar Gramedia Matraman pun tak menyediakan sofa, apalagi kedai kopi di dalam toko yang bisa menjadi tempat rehat. Aduh, jangankan sofa untuk membaca buku di dalam toko, sebagian besar toko buku Gramedia selalu memberi peringatan: <em>dilarang membuka pembungkus plastik</em>, yang artinya, <em>dilarang membaca buku</em>!</p>
<p>Membeli buku di Indonesia jadi serasa membeli kucing dalam karung. Bahkan jika kita sudah membelinya pun, bagaikan tak ada hak untuk membacanya saat itu juga. Tak perlulah sofa, barangkali cukup kursi kayu. Berapa sih harga kursi kayu? Ayolah, sedikit memanjakan konsumen buku tak akan membuat Perang Dunia meletus, malahan bisa bikin semua orang pintar. Coba saja!</p>
<p>Benar, tidak?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/membaca-buku-di-toko-buku-96.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembatas Buku</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/pembatas-buku-85.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/pembatas-buku-85.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 20:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Dengan semua cara baca yang terbata-bata serupa itu, mau tidak mau, saya sangat tergantung dengan yang namanya <strong>pembatas buku</strong>. Saya sudah mengetahui betapa pentingnya barang kecil ini sejak dulu. Bahkan, waktu saya masih belajar desain grafis, barang yang paling sering saya desain adalah pembatas buku. Begitu pula waktu bekerja di sebuah penerbitan, saya sering mengakali sisa kertas sampul buku untuk dibuat pembatas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah sedikit kesibukan menulis dan mengerjakan hal-hal lain, beberapa di antaranya merupakan minat saya, beberapa lainnya merupakan rutinitas yang mungkin tidak mengasyikan tapi harus dikerjakan (misalnya menggosok gigi), saya benar-benar harus membikin strategi untuk tetap bisa membaca buku.</p>
<p>Saya bukan tipe orang yang bisa membaca buku sekali duduk. Itu sudah jelas. Tapi tetap saja saya sering lupa menyiapkan pembatas buku untuk menandai tempat terakhir saya membaca. Itu memberi tambahan strategi buat saya.</p>
<p>Sudah lama waktu berlalu dan saya bukan lagi anak sekolah. Di masa itu, sepulang sekolah saya bisa pergi ke tengah perkebunan coklat dan duduk di salah satu dahan, atau pergi ke tepi pantai dan duduk di tepian belukar pandan, anteng membaca novel atau komik tanpa terganggu apa pun. Sepanjang sore. Saya juga bukan lagi seorang mahasiswa, yang bisa pergi ke perpustakaan dan duduk sepanjang siang menghadapi buku yang saya suka. Saat seperti itu saya bisa tidak peduli dengan kuliah, kadang-kadang lupa makan dan minum.<br />
<span id="more-85"></span><br />
Ada masa ketika membaca buku malah jadi beban. Tiba-tiba saya menemukan diri saya menjadi sejenis kritikus gadungan, setiap kali membaca otak saya bekerja untuk mencari &#8220;sesuatu&#8221; di buku tersebut. Kadang-kadang dengan susah-payah mencoba menemukan kehebatan sebuah buku, lain kali mati-matian mencari kejelakannya. Untunglah masa-masa itu sudah lewat. Saya masih suka mengomentari buku-buku yang saya baca, kadang memuji &#8211; lain kali mengomeli, tapi saya sudah lumayan terbebas dari kecenderungan sebagai kritikus gadungan tadi. Saya mulai bisa menikmati membaca buku (novel atau komik, misalnya), sebagaimana dulu waktu umur belasan tahun.</p>
<p>Masalahnya, itu tadi, saya bukan anak sekolah yang punya waktu sepanjang sore untuk membaca buku.</p>
<p>Jujur saja, dulu tak banyak buku yang bisa saya baca. Saya tinggal di sebuah kota kecil tanpa perpustakaan dan tanpa toko buku. Hanya jika ada kesempatan melancong, saya beli buku. Selebihnya saya dapat buku dari taman bacaan, isinya cerita silat dan novel picisan. Atau pinjam dari teman. Sekarang, buku memenuhi tempat tidur saya, tapi bisa dipastikan lebih dari separuhnya belum juga sempat saya baca. Ternyata kemampuan saya membaca buku jauh lebih rendah daripada kemampuan menumpuknya!</p>
<p>Menyedihkan sekali memang, tapi begitulah kenyataannya.</p>
<p>Untuk menghindari rasa berdosa diri karena merasa tak cukup banyak membaca buku, akhirnya sekarang saya punya kebiasaan membaca beberapa buku sekaligus. Buku-buku tertentu saya baca dengan semangat <em>sprinter</em>. Saya baca secepat-cepatnya hanya agar tahu apa isinya. Kalau perlu saya buka dulu internet, sekiranya ada rangkuman mengenai buku tersebut. Beberapa saya baca dengan gaya pelari maraton. Tidak terlalu buru-buru, tapi tidak juga terlalu suntuk. Ibaratnya membaca untuk tahu apa isinya, tapi tak peduli dengan tulisannya. Meskipun begitu, ada buku-buku tertentu yang saya baca dengan gaya seorang pejalan kaki. Saya baca paragraf demi paragraf, kalimat demi kalimat, dan bahkan saya membikin catatan pinggir jika ada sesuatu yang ingin saya perhatikan kembali lain waktu.</p>
<p>Dengan begitu banyak buku yang harus dibaca dalam sekali waktu, lagi-lagi saya harus membagi mereka. Buku-buku tertentu saya letakkan tak jauh dari laptop saya. Biasanya ini jenis-jenis buku yang saya pergunakan untuk referensi saya menulis. Misalnya, karena sudah tiga tahun terakhir saya mengerjakan novel ketiga, maka buku-buku yang tak jauh dari komputer pasti ada hubungannya sebagai referensi novel tersebut. Beberapa di antaranya kalau saya boleh sebut: sebuah buku tentang sejarah gerakan Darul Islam, sebuah buku tulisan Deliar Noor, sebuah buku tua yang saya beli dari tukang loak mengenai gusi dan gigi, empat jilid buku mengenai sejarah Pos Indonesia, juga sebuah buku mengenai sejarah pesantren.</p>
<p>Selain itu saya biasanya punya satu jilid buku yang saya letakkan tak jauh dari tempat tidur. Biasanya buku baru, dan saya menyukainya. Ini tipe buku-buku yang saya baca dengan gaya berjalan kaki. Sebelum tidur sambil menunggu kantuk, saya buka-buka sebentar dan membacanya. Buku terakhir yang saya selesaikan dengan cara ini adalah novel <a href="http://harukimurakami.com">Haruki Murakami</a>, <em><a href="http://www.ekakurniawan.com/blog/index.php?now_reading_author=haruki-murakami&#038;now_reading_title=the-wind-up-bird-chronicle">The Wind-Up Bird Chronicle</a></em>.</p>
<p>Oh ya, saya juga suka meninggalkan satu buku di kamar mandi. Biasanya buku lama, buku klasik, yang juga bisa saya baca dengan gaya jalan kaki. Saya membaca novel-novel seperti <em>The Idiot</em> karya Dostoyevsky di kamar mandi, sambil duduk di atas kakus. Buku yang sekarang masih tergeletak di kamar mandi adalah <a href="http://www.ekakurniawan.com/blog/index.php?now_reading_author=michael-ondaatje&#038;now_reading_title=the-english-patient"><em>The English Patient</em></a> karya Michael Ondaatje. Ya, kamar mandi merupakan tempat saya membaca buku-buku yang dianggap &#8220;telat&#8221;.</p>
<p>Lantas, bagaimana kalau saya bepergian? Tentu saja ada buku lain di dalam tas. Sejujurnya saya jarang berhasil membaca buku di luar rumah, kecuali saya pergi sendirian dan tak bertemu dengan siapa pun. Buku terakhir yang saya baca sambil jalan adalah buku esai Milan Kundera, <a href="http://www.ekakurniawan.com/blog/index.php?now_reading_author=milan-kundera&#038;now_reading_title=the-curtain-an-essay-in-seven-parts"><em>The Curtain</em></a>. Selesai di Ubud, Bali, waktu mengikuti <a href="http://www.ubudwritersfestival.com">Ubud Writers and Readers Festival</a> &#8211; lumayan ada waktu luang dengan penginapan yang dingin dan nyaman.</p>
<p>Dengan semua cara baca yang terbata-bata serupa itu, mau tidak mau, saya sangat tergantung dengan yang namanya <strong>pembatas buku</strong>. Saya sudah mengetahui betapa pentingnya barang kecil ini sejak dulu. Bahkan, waktu saya masih belajar desain grafis, barang yang paling sering saya desain adalah pembatas buku. Begitu pula waktu bekerja di sebuah penerbitan, saya sering mengakali sisa kertas sampul buku untuk dibuat pembatas.</p>
<p>Waktu mahasiswa, ada seorang teman saya yang suka membuat kerajinan tangan berupa pembatas buku. Ia membuatnya dari kertas daur ulang, kadang-kadang ia meminta saya menggambarinya, dan sebagai bayarannya saya bisa memiliki beberapa lembar pembatas buku. Setahu saya di toko juga banyak dijual pembatas buku, baik yang didesain dan dicetak masal maupun yang berupa kerajinan tangan. Saya belum pernah membeli pembatas buku di toko; tapi saya yakin banyak orang pernah membelinya. Ya, bukan hal sulit untuk memperoleh pembatas buku. Bahkan sekarang ini, beberapa penerbit tampaknya selalu menyisipkan pembatas di setiap jilid buku yang mereka terbitkan. Pembatasnya didesain mengikuti sampul bukunya. Kalau tidak salah, kelompok <a href="http://mizan.com">Penerbit Mizan</a> melakukannya. Pembatas buku mereka biasanya bisa dilipat dengan bagian tengah berlubang, bisa untuk menjepit halaman buku.</p>
<p>Apesnya, dengan cara membaca yang gadungan seperti ini, saya justru sering melupakan pembatas buku. Ketika saya sedang membaca buku dan tiba-tiba ingin rehat, saya selalu kelimpungan mencarinya. Kalaupun saya menyelipkan satu pembatas buku, biasanya kemudian lupa menyimpan ketika saya membaca, dan saya harus mencari pembatas yang lain.</p>
<p>Akhirnya, saya cenderung memakai apa saja untuk pembatas buku. Di kamar mandi, jika tiba-tiba saya butuh pembatas, saya biasanya menyobek tisue dan menyelipkannya di tengah halaman buku. Lain kali bisa juga pakai kertas sisa bungkus sabun atau pasta gigi. Di perjalanan, saya menyelipkan bungkus permen atau kertas rokok. Kadang-kadang sobekan karcis bioskop atau kartu nama seseorang juga saya pergunakan sebagai pembatas. Karena saya suka mengoleksi <em>price tag</em> pakaian (karena suka dengan desain-desainnya), sering juga <em>price tag</em> saya pakai jadi pembatas buku.</p>
<p>Tapi yang paling heboh adalah ketika saya menemukan anak tikus jadi pembatas buku! Ceritanya, suatu hari saya melihat seekor anak tikus dan bermaksud mengusirnya keluar. Tapi ternyata ia malah masuk ke tumpukan buku yang memenuhi pojok ruangan. Saya menggeser-geser buku-buku tersebut, berharap si anak tikus keluar dan lari. Tikus itu tidak keluar. Saya mulai memukul-mukul buku dengan kasar, bahkan beberapa saya lemparkan, agar anak tikus itu benar-benar ketakutan. Tikus itu tak keluar juga. Akhirnya saya mengambil kesimpulan, barangkali anak tikus itu sudah lari tanpa saya menyadarinya. Eh, beberapa bulan kemudian, ketika saya mengambil salah satu buku, saya menemukan bangkai anak tikus terselip di antara halaman buku. Sudah kering bagaikan keripik.</p>
<p>Rupanya ia menyelinap ke lipatan buku, dan mati waktu saya memukul-mukul buku. Yah, nasibnya berakhir jadi pembatas. Maaf, deh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/pembatas-buku-85.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

