Beberapa Hal yang Saya Pikirkan Tentang Buku dan Buku-e

Apa yang terjadi dengan buku yang terbuat dari kertas, dengan kedatangan era buku digital?

Sampul Baru “Cantik itu Luka”, 2012

Jika tak ada halangan, “Cantik itu Luka” dengan sampul versi ketiga ini akan beredar 5 Januari 2012 16 Februari 2012.

Bacaan dan Percik Ingatan

Queen-loana

Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film “The Name of the Rose”, dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. “The Mysterious Flame of Queen Loana” jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan “Faucault’s Pendulum” dan “Baudolino” dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu “The Island of the Day Before”.

Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal “The Mysterious Flame of Queen Loana”. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik.

Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan “mysterious flame” di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman.

Dua Novel Isaac Bashevis Singer

Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.

Sekali waktu istri saya menonton film “Yentl” di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, “Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.” Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, “Yentl” merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya.

Perampokan Buku di Palestina

Israel tak hanya merampok tanah dari warga Palestina, tapi juga buku-buku untuk perpustakaan mereka! Cek di sini: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/menjarah-buku-ketika-perang-masih-berkobar.

The World’s Greatest Bookshops

Buat pecinta buku dan jalan-jalan, Lonely Planet merilis “The World’s Greatest Bookshops”. Catat baik-baik, siapa tahu mampir di kota-kota yang bersangkutan. Sila tengok di sini: http://www.lonelyplanet.com/england/travel-tips-and-articles/76233

Cantik itu Luka