<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Blog</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/blog/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Blog Goenawan Mohamad</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/blog-goenawan-mohamad-2236.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/blog-goenawan-mohamad-2236.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 12:43:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/blog-goenawan-mohamad-2236.php</guid>
		<description><![CDATA[Baru tahu, Mas Goen sudah punya blog di <a href="http://goenawanmohamad.com" title="Goenawan Mohamad">goenawanmohamad.com</a>. Saya menemukan satu tulisan menarik di sana: <a href="http://goenawanmohamad.com/esei/bebuka-kanggo-novel-“wong-njaba”.html">pengantar dalam Bahasa Jawa untuk novel Albert Camus (</a><em><a href="http://goenawanmohamad.com/esei/bebuka-kanggo-novel-“wong-njaba”.html">l'Etranger</a></em><a href="http://goenawanmohamad.com/esei/bebuka-kanggo-novel-“wong-njaba”.html">)</a> yang diterjemahkan (juga) ke dalam Bahasa Jawa jadi <em>Wang Njaba</em>. Jadi penasaran pengin baca novel itu dalam Bahasa Jawa, hehehe ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru tahu, Mas Goen sudah punya blog di <a href="http://goenawanmohamad.com" title="Goenawan Mohamad">goenawanmohamad.com</a>. Saya menemukan satu tulisan menarik di sana: <a href="http://goenawanmohamad.com/esei/bebuka-kanggo-novel-“wong-njaba”.html">pengantar dalam Bahasa Jawa untuk novel Albert Camus (</a><em><a href="http://goenawanmohamad.com/esei/bebuka-kanggo-novel-“wong-njaba”.html">l&#8217;Etranger</a></em><a href="http://goenawanmohamad.com/esei/bebuka-kanggo-novel-“wong-njaba”.html">)</a> yang diterjemahkan (juga) ke dalam Bahasa Jawa jadi <em>Wang Njaba</em>. Jadi penasaran pengin baca novel itu dalam Bahasa Jawa, hehehe &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/blog-goenawan-mohamad-2236.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Sempat Menulis Blog</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tak-sempat-menulis-blog-1464.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tak-sempat-menulis-blog-1464.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 09:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1464</guid>
		<description><![CDATA[Karena kesibukan, saya tak sempat nulis blog. Pertama, saya sedang mempersiapkan penerbitan novel ketiga, yang menyita waktu. Kedua, saya sedang mengambil les Bahasa Belanda, juga bikin nggak bisa mikir yang lain. Di luar itu, saya memperoleh kabar gembira: usia kandungan istri saya, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, sudah 5 minggu 3 hari. Kami mengetahuinya kemarin. Well, mungkin saya akan menulis blog yang panjang, karena itu? Hehe, siapa tahu? Mohon doa agar semuanya lancar. Salam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena kesibukan, saya tak sempat nulis blog. Pertama, saya sedang mempersiapkan penerbitan novel ketiga, yang menyita waktu. Kedua, saya sedang mengambil les Bahasa Belanda, juga bikin nggak bisa mikir yang lain. Di luar itu, saya memperoleh kabar gembira: usia kandungan istri saya, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, sudah 5 minggu 3 hari. Kami mengetahuinya kemarin. Well, mungkin saya akan menulis blog yang panjang, karena itu? Hehe, siapa tahu? Mohon doa agar semuanya lancar. Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tak-sempat-menulis-blog-1464.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompas Suka Tidak Teliti</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 15:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Foto oleh: Matt Callow, Some rights reserved. Kompas merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian Kompas. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek. Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center"><a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/blackcustard/81680010/"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/SYmR_k79ZVI/AAAAAAAAANY/SA35mH7gRNc/s400/korankopi.jpg" alt="" /></a><br/><br />
<small>Foto oleh: <a class="snap_noshots" href="http://www.flickr.com/photos/blackcustard/">Matt Callow</a>, <a class="snap_noshots" rel="license cc:license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/">Some rights reserved</a>.</small></p>
<p><em>Kompas</em> merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian <em>Kompas</em>. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek.</p>
<p>Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai Matt Mullenweg di halaman 16 berjudul <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04220425/matt.mullenweg.antara.jazz.dan.wordpress">&#8220;Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress&#8221;</a>.</p>
<p>Pertama, antara pernyataan dan penjelasan kadang enggak nyambung. Sebagai contoh, saya kutip paragraf sembilan:<br />
<span id="more-790"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Di dunia maya tidak banyak penyedia blog gratisan. Kalau Anda ingin memiliki blog atau situs pribadi, Anda bisa mengambil dari <a href="http://blogger.com">Blogger</a>, <a href="http://multiply.com">Multiply</a>, <a href="http://livejournal.com">LiveJournal</a>, MoveableType (maksudnya mungkin <a href="http://movabletype.com">MovableType</a>), <a href="http://typepad.com">TypePad</a>, dan salah satunya dari <a href="http://wordpress.com">WordPress</a> yang disediakan Matt.&#8221;</p></blockquote>
<p>Bagaimana mungkin mengatakan &#8220;tidak banyak penyedia blog gratisan&#8221;, lha kalimat berikutnya malah menderet empat situs penyedia layanan gratis (dan yang enggak disebut bisa berjumlah puluhan, minus MovableType dan TypePad yang berbayar!).</p>
<p>Kedua, di alinea ketiga belas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Matt tidak menyangkal kalau ia memperoleh pendapatan dengan mendirikan perusahaan di balik WordPress, seperti <a href="http://automattic.com">Automattic</a>, <a href="http://akismet.com">Akismet</a>, <a href="http://gravatar.com">Gravatar</a>, <a href="http://bbpress.org">bbPress</a>, <a href="http://intensedebate.com">IntenseDebate</a>, dan <a href="http://buddypress.com">BuddyPress</a>.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalimat itu mengindikasikan bahwa di balik WordPress ada perusahaan(-perusahaan) seperti Automattic, Akismet, Gravatar, bbPress, IntenseDebate dan BuddyPress. Jelas sekali penulisnya (Pepih Nugraha) enggak melakukan ricek. Di deratan nama-nama itu hanya Automattic yang merupakan nama perusahaan. Selebihnya merupakan &#8220;produk&#8221; dari Automattic (<a href="http://automattic.com/projects/">lihat di sini daftar produk Automattic</a>, yang mereka sebut sebagai &#8220;project&#8221;). Ini kan informasi yang gampang diricek dengan mengunjungi situs resmi perusahaan itu. Lagian, kan enggak masuk akal ada enam perusahaan di balik sebuah produk (WordPress). Yang lebih masuk akal (kalau mau nebak-nebak pun), kan ada &#8220;satu&#8221; perusahaan di balik enam produk.</p>
<p>Ketiga, dari alinea kedelapan belas:</p>
<blockquote><p>&#8220;Matt mengenang kembali masa-masa di tahun 2002 saat untuk pertama kalinya menciptakan peranti lunak sederhana untuk nge-blog yang ia namakan b2.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kalau kita berkunjung ke situs <a href="http://en.wikipedia.com/wiki/Wordpress">Wikipedia</a>, dan sebenarnya ini sudah pengetahuan umum di penggiat WordPress, jelas informasi di atas salah. Matt tidak menciptakan software blog b2. B2 dibuat oleh programer bernama Michel Valdrighi. Matt kemudian membuat <em>fork</em> (istilah untuk membuat cabang program baru dari sebuah program lama) dari b2 yang kemudian dia beri nama WordPress (<a href="http://ma.tt/2003/01/the-blogging-software-dilemma/">lihat posting Matt sendiri mengenai awal ketika ia melakukan <em>fork</em> atas b2</a>).</p>
<p>Duh, sebenarnya mungkin ini hal-hal sepele. Tapi karena saya baca <em>Kompas</em> tiap hari, dan sering menemukan hal-hal sepele begini tidak ditulis semestinya, lama-lama jadi pengin mengeluarkan uneg-uneg ini.</p>
<p>Saya enggak tahu, apakah ini masalah wartawan yang malas melakukan cek dan ricek, atau masalah keterampilan berbahasa (sebagaimana saya tunjukkan di kasus pertama dan kedua, jika susunan kalimatnya diubah, kalimat itu mungkin bisa jadi memberikan informasi benar).</p>
<p>Segitu dulu aja, lah. Saya tulis ini karena saya gemar membaca <em>Kompas</em> tiap bangun tidur. Buat wartawan <em>Kompas</em>, maaf ya &#8230;.</p>
<p>Tambahan: Di laman ini saja ada 40+ layanan blog gratis jika Anda tertarik; <a href="http://mashable.com/2007/08/06/free-blog-hosts/">40+ Free Blog Hosts</a>.</p>
<h3>Update: 5 Februari 2009</h3>
<p>Perbincangan ini telah memperoleh banyak tanggapan di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=63813100489&#038;ref=mf">lingkaran Facebook saya</a>, termasuk dari <a href="http://pepihnugraha.blogspot.com/">Pepih Nugraha</a>, wartawan Kompas yang menulis artikel <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/04220425/matt.mullenweg.antara.jazz.dan.wordpress">&#8220;Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress&#8221;</a>. Jika ada yang tertarik mengikuti perbincangan tersebut, sila berkunjung (dan menjadi &#8220;teman&#8221; saya) di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=63813100489&#038;ref=mf">Facebook</a>.</p>
<p>Sementara itu, Lily Yulianti Farid juga mengulasnya di blog <em>Kompasiana</em> dimana ia menjadi blogger tamu: <a href="http://lilyyulianti.kompasiana.com/2009/02/05/komentator-facebook-1-suara-pembaca-yang-dinote-kan/">&#8220;Komentator Facebook (1): Surat Pembaca yang Di&#8221;Note&#8221;-kan.&#8221;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kompas-suka-tidak-teliti-790.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jose Saramago (Juga) Ngeblog</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 11:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Saramago]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Jose Saramago, penulis <em>Baltazar &#38; Blimunda</em> dan <em>Blindness</em>, juga peraih Nobel Kesusastraan 1998, ternyata juga nge-blog. Asli, ia sendiri yang menulisnya. Sayang blognya dalam bahasa <a href="http://caderno.josesaramago.org/">Portugis</a> dan <a href="http://cuaderno.josesaramago.org/">Spanyol</a>. Tapi konon edisi Inggrisnya juga akan diluncurkan. Kedua versi (bahasa) blognya mempergunakan <a href="http://wordpress.org">Wordpress</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">J</span>ose Saramago, penulis <em>Baltazar &amp; Blimunda</em> dan <em>Blindness</em>, juga peraih Nobel Kesusastraan 1998, ternyata juga nge-blog. Asli, ia sendiri yang menulisnya. Sayang blognya dalam bahasa <a href="http://caderno.josesaramago.org/">Portugis</a> dan <a href="http://cuaderno.josesaramago.org/">Spanyol</a>. Tapi konon edisi Inggrisnya juga akan diluncurkan. Kedua versi (bahasa) blognya mempergunakan <a href="http://wordpress.org">WordPress</a>.</p>
<p>Meski sudah berumur 85 tahun, Saramago gaul juga. Kita tunggu saja, apa dia juga mau gabung di <a href="http://facebook.com">Facebook</a> dan <a href="http://friendster.com">Friendster</a> atau tidak, ya? Hehehe &#8230; Lihat, enggak seperti penulis tua lainnya, di foto Saramago juga tampaknya nyaman mengetik di depan komputer. Enggak tanggung-tanggung, ia pakai desktop dan juga laptop. Oke, deh kakek &#8230; <em>Yahoo Messenger</em>-an, yuk!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jose-saramago-juga-ngeblog-519.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Kode Adalah Puisi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 04:09:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[bumimanusia.or.id]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Jorge Luis Borges]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>
		<category><![CDATA[WordPress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php</guid>
		<description><![CDATA[Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah "memimpikan" dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal "link". ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">S</span>ekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol <em>on-line</em>. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah &#8220;memimpikan&#8221; dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di <a href="http://wikipedia.org">wikipedia.org</a>? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal &#8220;link&#8221;. </p>
<p>Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.<br />
<span id="more-158"></span><br />
Tak disangsikan, internet telah membentuk kultur baru produksi dan reproduksi. Dalam dunia sastra di Indonesia, sederhananya, kultur itu telah berawal ketika penulis tak lagi pernah pergi ke kantor pos untuk mengirimkan naskah. Tentu saja kultur ini semestinya bisa jauh dari itu. Internet dipercaya tak sekadar sebagai narasumber yang mencengangkan untuk berbagai hal, dari bumbu yang tepat untuk satu resep masakan hingga racikan kimia yang tepat untuk meledakkan jembatan; yang lebih penting lagi, internet juga merupakan suatu media baru. Sebagaimana media baru umumnya, tentu saja ia memberi tantangan-tantangan baru bagi proses kreatif baru.</p>
<p>Sebagai misal, melalui internet dan dunia digital kita sekarang mengenal berbagai jenis lisensi untuk karya kreatif. Jika sebelumnya barangkali kita hanya memiliki dua dikotomi hak cipta: copyright dan domain publik, kini kita memiliki lebih banyak alternatif. Sebagai pemilik karya cipta, barangkali seorang pengarang tak menginginkan lisensi seketat copyright. Sebuah lembaga nirlaba bernama <a href="http://cerativecommon.org">Creative Common</a> menawarkan berbagai jenis lisensi yang fleksibel.</p>
<p>Software semacam Linux atau esai-esai di beberapa blog, juga banyak foto di flickr.com didistribusikan dengan lisensi semacam ini, sehingga Anda bisa mengambil dan mempergunakannya tanpa harus takut dikira membajak atau menjiplak. Kultur ini memungkinkan berkembang, saya pikir, hanya karena penetrasi internet yang luar biasa.</p>
<h3>Blog</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>aya tertarik mengamati ini, terutama setelah akhir-akhir ini banyak penulis semakin memaksimalkan fungsi-fungsi internet dengan membuat blog dan saya beranggapan ini perkembangan yang penting untuk dicatat. Jika sebelumnya para penulis lebih banyak berkerumun di komunitas-komunitas milis tertentu, akhir-akhir ini semakin banyak yang hadir secara individu, menuliskan pikiran-pikirannya melalui media bernama blog. Saya sendiri sebenarnya telah lama menjadi pengunjung tetap blog-blog penulis yang saya anggap bermutu untuk menunjukkan ini bukan hal baru, misalnya blog milik jurnalis <a href="http://andreashardono.blogspot.com">Andreas Harsono</a> atau milik kritikus film <a href="http://pakde.com">Totot Indrarto</a>.</p>
<p>Tengok misalnya beberapa penulis yang baru-baru ini memutuskan untuk menulis di blog: Ada <a href="http://djenar.com">Djenar Maesa Ayu</a> dan kritikus seni rupa <a href="http://adiwicaksono.com">Adi Wicaksono</a>, serta penyair <a href="http://binhadnurrohmat.com">Binhad Nurrohmat</a>. Mereka menyusul penulis-penulis lain yang telah lebih dulu. Beberapa yang saya ingat: penyair <a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com">Hasan Aspahani</a>, <a href="http://jokpin.blogspot.com">Joko Pinurbo</a>, <a href="http://jengki.com">Wayan Sunarta</a>, cerpenis <a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com">Agus Noor</a>, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>, <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">Ook Nugroho</a>, juga Linda Christanty yang menulis di blog sendiri maupun blog milik situs <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>.</p>
<p>Mungkin Anda masih sering kecele untuk memastikan, apa beda blog dengan website? Sebenarnya ini juga pertanyaan umum yang diajukan kepada saya oleh para penulis yang ingin memulai membuat blog. Secara sederhana, semua blog adalah website, tapi tidak sebaliknya. Situs seperti yahoo.com merupakan website, tapi jelas bukan blog. Ciri utama blog adalah website dengan konten yang terus di-update, dan pengaturan kontennya secara umum diurut berdasarkan waktu (mirip jurnal atau buku harian).</p>
<p>Ketika situs <a href="http://cybersastra.net">cybersastra.net</a> diluncurkan sekitar akhir 90an, pada dasarnya ia telah mempergunakan prinsip-prinsip blog. Demikian pula ketika tahun 2000 saya bersama dua penulis, Linda Christanty dan <a href="http://nuruddinasyhadie.com">Nuruddin Asyhadie</a> mendirikan situs <a href="http://bumimanusia.or.id">bumimanusia.or.id</a>, kami mempergunakan software open source yang pada dasarnya juga blog. Software semacam itu telah dibuat komunitas internet di masa-masa tersebut, meski dengan standar keamanan dan fleksibilitas yang barangkali masih rendah. Baru ketika software semacam <a href="http://www.ekakurniawan.com/movabletype.com">Movable Type</a> dan <a href="http://www.ekakurniawan.com/wordpress.org">WordPress</a> muncul, blog menjadi istilah yang populer. Ditambah pula layanan <a href="http://blogger.com">Blogger.com</a> (<a href="http://blogspot.com">blogpspot.com</a>) dari Google yang memungkin orang untuk membuat blog secara lebih gampang tanpa harus mengerti hal teknis instalasi software ke server. Hal ini semakin menjadi-jadi sekarang setelah munculnya fenomena Web 2.0 yang mengisyaratkan akan internet yang menunjang kreativitas sekaligus interaktivitas.</p>
<p>Kenapa saya beranggapan penulis yang membuat blog sebagai sesuatu yang penting? Masih ingat belum lama ini ketika jaringan kabel bawah laut di Pasifik terputus, dan terputus pula hubungan internet? Sebenarnya yang terputus adalah hubungan internet ke Amerika, sementara situs seperti <a href="http://kompas.co.id">kompas.co.id</a> atau <a href="http://detik.com">detik.com</a> yang menyimpan server di dalam negeri masih bisa diakses. Ini semestinya segera menyadarkan betapa kita membutuhkan konten lokal, dan secara pribadi saya berharap kepada para penulis dari berbagai disiplin: sastrawan, sejarawan, jurnalis, dosen dan lainnya. Hal ini akan semakin dimungkinkan jika mereka langsung bersentuhan secara personal di blog masing-masing.</p>
<p>Tentu saja konten lokal tersebut akan semakin berarti jika disimpan di server lokal. Itulah kenapa saya lebih suka menganjurkan untuk mempergunakan layanan blog lokal semacam <a href="http://dagdigdug.com">dagdigdug.com</a> atau <a href="http://www.ekakurniawan.com/blogdetik.com">blogdetik.com</a> (dengan catatan harus dicek apakah benar mereka menempatkan server di dalam negeri), atau melakukan instalasi domain sendiri sehingga bisa memutuskan untuk memilih layangan hosting, ketimbang mempergunakan <a href="http://wordpress.com">wordpress.com</a> atau <a href="http://blogger.com">blogger.com</a>.</p>
<p>Dengan semakin banyak penulis menulis di blog, bisalah secara sederhana kita mengharapkan suatu ketika tercapainya swasembada konten lokal; tentu saja terutama jika konten ini ditulis dalam bahasa Indonesia pula. Maka jika sesuatu terjadi pada jaringan internasional (kabel bawah laut putus, atau traffic mengalami kemacetan, misalnya), kita tak hanya masih bisa mempergunakan jaringan internet dalam negeri, tapi juga bisa mengakses konten-konten yang diperlukan.</p>
<h3>Media baru</h3>
<p><span class="dropcaps">S</span>ebagaimana berbagai teknologi baru, blog sebenarnya telah dipergunakan di Indonesia nyaris bersamaan dengan di belahan dunia lainnya. Selain kita masih membutuhkan konten yang lebih kaya, harus diakui kita masihlah “hanya sekadar” pengguna. Kita bukan pencipta wiki maupun berbagai perangkat lunak blog: hanya mempergunakan apa yang tersedia.</p>
<p>Meskipun begitu, ini bukan alasan untuk patah semangat. Menulis blog merupakan langkah kecil dari sesuatu yang kelak menanti. Ada banyak hal di depan media baru yang terus berkembang ini; ada berbagai peluang mengkreasi bentu-bentuk seni yang khas, sebagaimana mungkin kesusastraan yang hanya bisa dinikmati melalui media ini dan tidak di media yang lain, sehingga mau tidak mau kita mesti memberinya sebuah nama baru. Kita bisa merealisasikan gagasan Borges tentang ensiklopedia fiktif, kalau mau.</p>
<p>Sekali lagi, menulis blog bisa menjadi awal yang baik. Sebagaimana penyair Joko Pinurbo akhirnya dipaksa mengenali kode-kode HTML ketika harus memasukkan puisi-puisinya ke blog. Siapa tahu kelak ia mau mempelajari bahasa pemrograman seperti PHP, Javascript, atau lainya, sehingga kelak dari tangannya bisa ditulis puisi saiber yang sejati (dalam arti tak mungkin dinikmati di media non-saiber). Sebab, “<em>Code is poetry</em>,” kata para programer WordPress. Ya, siapa tahu?</p>
<div class="footnote">
Tulisan ini pernah diterbitkan di <a href="http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/11/01543237/sebab.kode.adalah.puisi"><em>Kompas</em></a>, Minggu, 11 Mei 2008. Ada beberapa kesalahan ketik di pemuatan <em>Kompas</em>, yang saya perbaiki di versi blog ini. Blog Totot Indrarto tertulis pekde.com, seharusnya <a href="http://pakde.com">pakde.com</a>. Situs pantau.org seharusnya <a href="http://pantau.or.id">pantau.or.id</a>. Blog Ook Nugroho tertulis ooknurgoho.blogspot.com seharusnya <a href="http://ooknugroho.blogspot.com">ooknugroho.blogspot.com</a>.
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sebab-kode-adalah-puisi-158.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersihar Lubis dan Interogator yang Dungu</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bersihar-lubis-dan-interogator-yang-dungu-71.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bersihar-lubis-dan-interogator-yang-dungu-71.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 08:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Koran Tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Hanya karena mengutip pernyataan Joesoef Ishak bahwa "kejaksaan dungu", ia diadili pada <a href="http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/11/ac-i-diadili-karena-menulis-opini-mari.html">21 November 2007</a>.

Saya berpendapat, orang yang anti terhadap hak-hak setiap individu untuk mengemukakan pendapat (termasuk menulis, kolom maupun sekadar blog seperti saya), "memang dungu".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Bambang Bujono (mantan Pemimpin Redaksi majalah <em>D&#038;R</em>), biasanya ia dipanggil kebanyakan rekannya dengan panggilan Mas Bambu, mengingatkan hari ini Bersihar Lubis akan divonis oleh Pengadilan Negeri Depok. Ini perkara terbaru menyangkut kebebasan menulis. Lebih jelasnya, Bersihar Lubis dikriminalkan oleh kejaksaan hanya karena ia menulis! Selamat datang di rezim anti tulisan, selamat datang di negeri yang tidak intelek!</p>
<p>Semuanya berawal dari kolom Bersihar Lubis di <em>Koran Tempo</em>, 17 Maret 2007 berjudul <a href="http://korantempo.com/korantempo/2007/03/17/Opini/krn,20070317,50.id.html">&#8220;Kisah Interogator yang Dungu&#8221;</a> (website <em>Koran Tempo</em> butuh <em>password</em> untuk bisa membaca artikel tersebut).<br />
<span id="more-71"></span><br />
Kolom itu diawali oleh sebuah kisah mengenai Joesoef Ishak. Joesoef Ishak adalah seorang jurnalis, ia pernah bergabung dengan <em>Harian Merdeka</em>, dan selepas keluar dari penjara (1965, 1966, 1967) di tahun 80an terutama dikenal sebagai editor. Bersama Pramoedya Ananta Toer, ia mendirikan penerbit Hasta Mitra. Karena keberaniannya menerbitkan karya-karya Pramoedya inilah, Joesoef Ishak dipanggil dan diinterogasi Kejaksaan Agung.</p>
<p>Waktu itu, Joesoef sebenarnya memberi saran kepada Kejaksaan Agung untuk menggelar simposium yang obyektif dalam menilai karya Pramoedya. Tapi dengan sok tahu, menurut kisah Joesoef di kolom tersebut, Kejaksaan Agung menolak simposium dengan alasan, mereka &#8220;lebih paham dengan siapa pun bahwa <em>Bumi Manusia</em> dan <em>Anak Semua Bangsa</em> adalah karya sastra Marxis&#8221; (saya kutip dari kolom Bersihar Lubis).</p>
<p><center><a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/dukung-bersihar-lubis/"><img src="http://owbertku.files.wordpress.com/2007/11/banner-big-bersihar.jpg" /></a><br />
<span class="caption">Banner dukukang untuk Bersihar Lubis</span></center></p>
<p>Eh, waktu Joesoef diinterogasi, si interogator malah meminta Joesoef menunjukkan baris mana saja yang menunjukkan adanya teori Marxis dalam buku Pram. (<em>Lha, Bapak-bapak, katanya lebih paham dari siapa pun?</em>)</p>
<p>Kembali saya ingin mengutip pernyataan Joesoef yang dikutip Bersihar Lubis: &#8220;Saya telah disiksa oleh kedunguan interogator, dan interogator telah disiksa oleh atasan mereka yang lebih tinggi tingkat kedunguannya.&#8221;</p>
<p>Bersihar Lubis mengulang kisah Joesoef itu untuk mempertanyakan langkah Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan pada 5 Maret 2007, mengenai pelarangan buku teks pelajaran SMP dan SMU. Buku-buku tersebut dilarang karena tidak mencantumkan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun. Gerakan 30-September disinggung, tapi tak menyebutkan keterlibatan PKI. Jaksa Agung Muda Intelijen Muchtar Arifin beralasan, &#8220;Itu memutarbalikkan fakta sejarah.&#8221;</p>
<p>Intinya, kolom Bersihar Lubis mempertanyakan keputusan Kejaksaan Agung, dan mengkritik tentang monopoli kebenaran sejarah (yang menurutnya absurd).</p>
<p>Lalu apa yang terjadi? Hanya karena mengutip pernyataan Joesoef Ishak bahwa &#8220;kejaksaan dungu&#8221;, ia diadili pada <a href="http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/11/ac-i-diadili-karena-menulis-opini-mari.html">21 November 2007</a>.</p>
<p>Saya berpendapat, orang yang anti terhadap hak-hak setiap individu untuk mengemukakan pendapat (termasuk menulis, kolom maupun sekadar blog seperti saya), &#8220;memang dungu&#8221;.</p>
<p>Untuk mengetahui siapa Bersihar Lubis, <a href="http://bhayu.wordpress.com/2007/12/06/who-is-bersihar-lubis/">klik di sini</a>. Untuk mendukung Bersihar Lubis, sila <a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/dukung-bersihar-lubis/">klik di sini</a>. Sila juga meninggalkan pesan di <a href="http://ekakurniawan.com/blog/?p=71">blog saya</a>. Sekecil apa pun, suara kita semua sangat berarti untuk kebebasan berpendapat.</p>
<h3>Up-date (19:06 WIB)</h3>
<p>Hari ini, 20 Februari 2008, Bersihar Lubis <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/20/time/124420/idnews/897033/idkanal/10">divonis hukuman percobaan 1 bulan</a> oleh Pengadilan Negeri Depok. Sekali lagi, selamat datang di negeri yang tidak intelek!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bersihar-lubis-dan-interogator-yang-dungu-71.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

