Kompas Suka Tidak Teliti
(Update: 5 Februari 2009)


Foto oleh: Matt Callow, Some rights reserved.

Kompas merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian Kompas. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek.

Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai Matt Mullenweg di halaman 16 berjudul “Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress”.

Pertama, antara pernyataan dan penjelasan kadang enggak nyambung. Sebagai contoh, saya kutip paragraf sembilan:
Baca selengkapnya …

Jose Saramago (Juga) Ngeblog

Jose Saramago, penulis Baltazar & Blimunda dan Blindness, juga peraih Nobel Kesusastraan 1998, ternyata juga nge-blog. Asli, ia sendiri yang menulisnya. Sayang blognya dalam bahasa Portugis dan Spanyol. Tapi konon edisi Inggrisnya juga akan diluncurkan. Kedua versi (bahasa) blognya mempergunakan Wordpress.

Meski sudah berumur 85 tahun, Saramago gaul juga. Kita tunggu saja, apa dia juga mau gabung di Facebook dan Friendster atau tidak, ya? Hehehe … Lihat, enggak seperti penulis tua lainnya, di foto Saramago juga tampaknya nyaman mengetik di depan komputer. Enggak tanggung-tanggung, ia pakai desktop dan juga laptop. Oke, deh kakek … Yahoo Messenger-an, yuk!

Nirwan Dewanto Nge-blog

Satu lagi penulis nge-blog: Nirwan Dewanto di nirwandewanto.blogspot.com.

Sebab Kode Adalah Puisi


Foto oleh: silvia di natale’S, Some rights reserved.

Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”. 

Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.
Baca selengkapnya …

Bersihar Lubis dan Interogator yang Dungu


Foto oleh piccadillywilson, Some rights reserved.

Mas Bambang Bujono (mantan Pemimpin Redaksi majalah D&R), biasanya ia dipanggil kebanyakan rekannya dengan panggilan Mas Bambu, mengingatkan hari ini Bersihar Lubis akan divonis oleh Pengadilan Negeri Depok. Ini perkara terbaru menyangkut kebebasan menulis. Lebih jelasnya, Bersihar Lubis dikriminalkan oleh kejaksaan hanya karena ia menulis! Selamat datang di rezim anti tulisan, selamat datang di negeri yang tidak intelek!

Semuanya berawal dari kolom Bersihar Lubis di Koran Tempo, 17 Maret 2007 berjudul “Kisah Interogator yang Dungu” (website Koran Tempo butuh password untuk bisa membaca artikel tersebut).
Baca selengkapnya …