Buku “Bi wa Kizu”
Seorang teman di Twitter, @jafrane menemukan “Cantik itu Luka” edisi terjemahan Jepang. Ayo siapa lagi yang menemukan buku langka saya (mungkin di toko buku bekas), semisal Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis edisi pertama (sampul jelek warna merah)? Atau Cantik itu Luka edisi pertama dengan sampul putih? Atau Corat-coret di Toilet, buku kumpulan cerpen pertama saya yang cuma dicetak 1200 eksemplar itu? Sila berbagi di twitter saya @ekakurniawan atau di facebook saya facebook.com/ekakurniawan.project.
Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan
A Case Study of an Indonesian Novel Translation
What is surprising is that despite the contents of this novel, in 2006, the Japanese company Shinpusha purchased the publishing rights and a translation of this work was published entitled Bi wa Kizu. For foreign countries to succeed in penetrating a target market, every cultural product must overcome the language barrier; in the case of this study, the language barrier between Indonesian and Japanese. This is where translation plays a major role.
“Bi wa Kizu” di Kinokuniya Plasa Senayan
Kapan seseorang merasa telah menjadi seorang penulis? Bagi saya, itu ketika saya melihat apa yang saya tulis sudah dicetak. Jujur saja, saya barangkali termasuk pengidap grafomania, itu istilah Milan Kundera untuk mengatakan, orang yang senang mencetak apa pun yang ditulisnya. Tentu saja saya tidak mencetak apa pun yang saya tulis. Tapi, ya, saya senang jika apa yang saya tulis sudah dicetak. Mungkin penulis lain juga melakukannya: jika tulisan saya muncul di koran, saya suka memandanginya beberapa lama. Kadang tidak untuk membacanya, tapi hanya untuk melihatnya secara visual. Melihat tata-letaknya, melihat jenis hurufnya, kualitas cetaknya. Melihat bagaimana apa yang sudah saya tulis (termasuk nama saya) muncul di permukaan kertas. Entahlah, mungkin ada hubungannya juga dengan latar belakang saya sebagai desainer grafis (sekarang partikelir).
