<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Agama</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/tag/agama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 03:49:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Dua Novel Isaac Bashevis Singer</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 17:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Isaac Bashevis Singer]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>
		<category><![CDATA[Polandia]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Shosha]]></category>
		<category><![CDATA[The Slave]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php</guid>
		<description><![CDATA[Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.

Sekali waktu istri saya menonton film "Yentl" di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, "Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya." Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, "Yentl" merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/3tcJyYxNHcdx5pohR9k4RNH4PupN0N4zbW2b4PINbzr1qHQSA9swW0bqrA2r/IsaacBashevis.jpg"><img alt="Isaacbashevis" height="335" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/MgygXgj0gQzNeS45dNKr4WWQaRDFBxcYd8jDDLMoU1n5Cm2k3Bb99j43j9aI/IsaacBashevis.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </p>
<p>Isaac Bashevis Singer, barangkali bukan nama yang dikenal umum, meskipun ia salah satu penulis yang memperoleh Nobel Kesusatraan (1978). Saya menemukan namanya secara tak sengaja melalui cerita bersambung di majalah Femina (lupa judulnya, lupa edisi kapan), dan saya diingatkan kembali ketika membaca komentar pendeknya atas karya Knut Hamsun (juga lupa di mana). Dari sana saya coba mencari tahu tentangnya, membaca di satu tempat bahwa karya-karyanya memang sangat terpengaruh oleh Knut Hamsun.
<p /> Sekali waktu istri saya menonton film <em>Yentl</em> di televisi, dan tampak kegirangan menemukan film itu. Katanya ia sudah lama ingin menontonnya. Saya tanya, apa ceritanya? Setelah ia menceritakan secara singkat, saya langsung komentar, &#8220;Itu seperti tema-tema cerita Isaac Bashevis Singer. Barangkali diangkat dari karyanya.&#8221; Intinya, kisahnya mengenai kaum Yahudi. Tapi berbeda dengan kisah-kisah Yahudi yang sering kami baca di novel atau tonton di film, ini bukan kisah Yahudi yang gelap, dikejar-kejar atau di-gheto-kan Nazi, dan sejenisnya. Tapi tentang kehidupan sehari-hari orang Yahudi, dengan roman percintaan, dan problem-problem teologis maupun sosial-agama. Saya cari di internet, dan ternyata tebakan saya benar, <em>Yentl</em> merupakan salah satu cerita pendeknya. Tentu saja ini memberi saya minat tambahan untuk mulai membaca satu-dua karyanya. <br /><span id="more-2916"></span>
<p /> Kesempatan itu datang bersamaan dengan sampainya pesanan dua novelnya, <em>The Slave</em> dan <em>Shosha</em>. Saya memesannya dari internet, dari toko buku bekas (selain jarang edisi baru, saya memang suka dengan buku bekas, tapi soal ini kapan-kapan saya cerita). Dalam dua minggu, saya membaca kedua novel itu hingga selesai, menyingkirkan dulu novel-novel lain yang belum saya baca. Benarlah memang, gayanya mendekati cara Hamsun menulis. Tapi seperti banyak ditulis kritikus, Hamsun sering bermain di wilayah ego karakter utamanya; sementara Singer bermain di wilayah ego karakter utamanya, yang berbenturan dengan tuntutan sosial agama/komunitas Yahudi.
<p /> Novel <em>The Slave</em> sangat menyiratkan hal itu. Dengan latar Polandia abad ketujuh belas, kisah berputar mengenai Jacob, seorang anak rabi yang saleh. Setelah kota tempatnya tinggal diserbu bangsa Cossack, dan banyak orang Yahudi dibunuh, diperkosa, Jacob dijual sebagai budak kepada seorang petani desa. Di sanalah ia bertemu dengan anak si petani, Wanda seorang janda, yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah padang rumput, di tengah ancaman kematian (orang-orang di desa itu menganggap Yahudi sebagai penyakit yang bisa membawa petaka), dikelilingi gunung-gunung dan bukit-bukit, kisah cinta mereka terajut.
<p /> Jacob tak menyangkal memiliki hasrat berahi kepada Wanda, tapi ia tak berani berbuat lebih jauh, dan hanya memendam saja hasrat itu. Ia punya istri dan dua anak yang entah dimana (saat itu ia belum tahu mereka termasuk korban pembantaian Cossack). Tapi yang lebih penting lagi, ia tak berani memenuhi hasrat berahinya karena sadar, zinah merupakan dosa. Itu yang pertama. Yang kedua, bahkan jika ia berpikir tentang pernikahan, juga dosa jika ia menikahi perempuan kafir (Wanda seorang Kristen, tapi digambarkan bahwa penghuni desa itu meskipun secara legal beragama Kristen, tapi masih banyak yang percaya pada adat/agama/ritual penyembah berhala). Ketiga, bahkan jika Wanda bersedia masuk menjadi &#8220;anak Israel&#8221; (yakni menjadi Yahudi), juga terlarang jika ia menjadi Yahudi karena cinta, dan bukan karena percaya kepada Tuhan.
<p /> Di sinilah Jacob terlibat pertarungan antara hasrat daging-tubuhnya, dan ikatan moral-jiwanya. Dan di sini pulalah, perjalanan perdebatan antara hukum-hukum agama yang mengikat, dan tafsir yang mencoba membebaskan diri dari ikatan tersebut. (Saya jadi terpikirkan hal ini: ketika kita menghadapi hukum agama yang tidak sejalan dengan apa yang kita kehendaki/pikirkan, di titik itulah kita mulai mencoba memberi tafsir. Saya pikir hal ini tak hanya terjadi pada Jacob dan hukum-hukum agama Yahudi-nya, tapi barangkali terjadi atas semua umat agama dan hukum-hukum agama mereka. Siapa tahu?)
<p /> Jika Jacob merupakan gambaran sosok saleh yang harus melakukan perbuatan dosa dan bagaimana ia mencari pembenaran atas tindakannya (atau mencoba menghapus dosanya, atau mencoba mencari kompromi), hal sebaliknya terjadi pada Aaron dalam novel <em>Shosha</em> (dengan latar belakang tahun-tahun sebelum penyerbuan Hitler ke Polandia). Aaron, meskipun sama-sama anak rabi, sejak awal digambarkan sudah tidak saleh. Ia tak lagi melakukan ritual agama, ia juga kumpul kebo dengan pacarnya, meniduri dua perempuan temannya, dan meniduri pelayan di kamar pondokannya. Intinya, ia orang yang agak bejat dari sudut pandang moral agama. Tapi ketika ia bertemu dengan Shosha, gadis masa kecilnya, ia mencoba menjadi orang saleh.
<p /> Meskipun dilihat dari sudut pandang yang berbeda, di sini cinta menjadi peletup bagaimana orang berperilaku terhadap agama. Di kedua novel, agama kemudian, alih-alih merupakan hubungan antara manusia dan Tuhan, tak lebih menjadi sejenis syarat dan prasyarat dalam hubungan berkomunitas. Jacob dan Aaron, dengan karakter yang berbeda, beragama lebih karena tuntutan komunitas Yahudi di sekitarnya. Dalam kasus Jacob, bahkan meskipun ia terkurung di tengah padang rumput dan jauh dari orang-orang Yahudi, tekanan itu tetap terasa. Dalam kasus Aaron, bahkan meskipun ia sudah tidur dengan banyak perempuan, meskipun Shosha agak sakit (kekanak-kanakan dan rada terbelakang), ketika ia berbaring di ranjang bersama Shosha (sebelum mereka menikah), ia tetap tak mau menyentuhnya.
<p /> Tapi pada titik lain, kisah cinta Aaron kepada Shosha dan Jacob kepada Wanda, justru memperlihatkan sesuatu yang tampak ilahiah: tak terelakkan, sejenis takdir, di luar rasio, di luar ikatan-ikatan sosial. Perjalanan kisah cinta mereka tampak seperti perjalanan spiritual. Bahkan kemudian Wanda digambarkan sebagai orang suci (sejenis santa atau wali). Demikian pula gambaran Shosha sejak awal: tanpa dosa. Atau barangkali benarlah apa kata kebanyakan orang, bahwa pada dasarnya inti dari agama, inti dari ajaran Tuhan, adalah cinta? Dan cinta paling mudah digambarkan melalui hubungan antara lelaki dan perempuan, juga melibatkan nafsu daging-tubuh, selain dorongan jiwa yang tak terjelaskan.
<p /> Saya pikir, kedua novel merupakan pintu yang bagus untuk mengenal karya-karya Isaac Bashevis Singer. Saya berharap bisa membaca beberapa novelnya yang lain. Dan terakhir, saya pikir penulis-penulis yang tertarik menggarap aspek-aspek sosial agama dalam karya mereka, juga bisa belajar melalui Singer. Kenapa tidak?
<p /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dua-novel-isaac-bashevis-singer-2916.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adonis</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 08:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Hujan lebat pada Senin sore kemarin, tak menghalangi niat saya untuk menempuh setengah jam perjalanan ke Komunitas Salihara. Saya sudah meniatkan kunjungan ini sejak dua minggu sebelumnya. Acara malam itu adalah ceramah umum yang akan dibawakan oleh Adonis, dengan tema &#8220;Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama&#8220;. Siapakah Adonis, sehingga saya rela meninggalkan meja kerja saya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6WWmgajCI/AAAAAAAAAMo/_HIV4LPA894/s400/adonis.jpg"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/ST6WWmgajCI/AAAAAAAAAMo/_HIV4LPA894/s1600/adonis.jpg"/></a></p>
<p>Hujan lebat pada Senin sore kemarin, tak menghalangi niat saya untuk menempuh setengah jam perjalanan ke Komunitas Salihara. Saya sudah meniatkan kunjungan ini sejak dua minggu sebelumnya. Acara malam itu adalah ceramah umum yang akan dibawakan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Adonis_(poet)">Adonis</a>, dengan tema &#8220;<em>Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama</em>&#8220;.</p>
<p>Siapakah Adonis, sehingga saya rela meninggalkan meja kerja saya yang selama berminggu-minggu ini menjadi sarang bagi berlembar-lembar draft akhir novel saya? Adonis bisa dibilang penyair Arab paling penting sekarang ini. Bahkan boleh dibilang, ia penyair paling kuat sebagai kandidat peraih Nobel Kesusastraan di tahun-tahun terakhir sekaligus tahun-tahun ke depan.<br />
<span id="more-528"></span><br />
Sejujurnya saya tak tahu banyak perihal Adonis. Lebih tepatnya, saya tak akrab dengan puisi-puisi Arab. Justru karena itu saya ingin sekali datang dan mendengarkan ceramahnya. Saya bahkan menyiapkan bolpen untuk mencatat hal-hal menarik, persis sebagaimana saya lakukan dulu ketika masih masuk ke ruang kuliah dan mendengarkan ceramah dosen saya. Di luar dugaan, meskipun hujan deras yang seringkali menghalangi orang Jakarta keluar rumah, gedung teater Salihara dijejali orang. Tempat duduk penuh dan sebagian orang terpaksa berdiri demi mendengar ceramahnya. Untung saya masuk lebih awal sehingga memperoleh tempat duduk.</p>
<p>Di samping kiri saya ada Hakim, sutradara film yang segera merilis film debutnya Desember ini, suami dari sutradara Nan Achnas. Di samping kanan ada Zaim Rofiqi, penyair. Di belakang tempat duduk saya ada Seno Joko, kakak kelas saya di UGM sekaligus wartawan Tempo. Di depan ada Bagus Takwin, dosen filsafat UI. Itu sekadar untuk memperlihatkan beragam latar-belakang pengunjung yang datang untuk mendengar ceramah Adonis.</p>
<p>Setelah Anya Rompas dan Sitok Srengenge membacakan dua puisi Adonis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (buku terjemahan ini akan segera terbit), Adonis langsung memulai ceramahnya. Ia berceramah dalam bahasa Arab. Tentu saja hanya anak-anak yang pernah mengenyam pendidikan pesantren (dan itu pasti enggak semuanya) yang bisa mengerti. Untung saja bagi sebagian besar orang yang tak mengerti bahasa Arab, disediakan <em>slide</em> terjemahannya sehingga kita bisa mengikuti ceramah tersebut.</p>
<p>(Hal ini dengan sedih mengingatkan saya kepada fakta bahwa sebagian besar orang Indonesia, paling tidak saya, bisa membaca huruf Arab. Bahkan sampai sekarang, meskipun tidak saya lakukan tiap hari, saya masih bisa membaca Al Quran tanpa kesulitan. Tapi sialnya, saya tak tahu apa pun arti bacaan tersebut. Sejak jaman kuliah, saya mulai &#8220;hanya&#8221; membuka Al Quran yang ada terjemahannya, sebab saya tak lagi mau membaca sesuatu yang saya tak tahu apa artinya. Saya tak mengerti, kenapa anak kecil disuruh mengaji, bukannya disuruh membaca buku terjemahan dulu baru setelah itu diajar mengaji? Ah, pusing!)</p>
<p>Dan ceramah Adonis, saya senang tidak melewatkannya (sebab belum tentu hari lain ia mampir ke Indonesia, kan?), sangat inspiratif sekaligus cerdas. Kesan saya, selain orang kreatif, Adonis juga seorang intelektual yang berkelas. Ceramahnya bisa dibilang provokatif. Bahkan Zaim sempat berbisik, &#8220;Kalo dia ceramah begini di negaranya, barangkali dia bisa ditembak mati.&#8221; Seperti inilah kalimat pembuka ceramahnya:</p>
<p>&#8220;Seperti anda ketahui, wahyu Islam merendahkan puisi &#8211; sebagaimana Plato memandangnya sebagai kesesatan.&#8221; Dan dalam acara tanya jawab, ia sempat mengutip pendapat bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis manusia: &#8220;Pertama, manusia berakal yang tidak beragama, dan kedua, manusia beragama yang tidak berakal.&#8221; Saya sendiri menganggapnya lelucon. Adonis mengaku ia tidak menyesal dilahirkan sebagai Muslim. Jika ia banyak mengkritik Islam, itu ia lakukan, &#8220;Karena saya mencintai Islam. Kalau saya tidak mencintainya, buat apa saya memikirkannya? Saya memikirkannya karena saya menganggap Islam penting buat hidup saya.&#8221; Ia juga berpendapat, atheisme merupakan &#8220;agama&#8221; paling tua.</p>
<p>Hm. Menurut Adonis, wahyu agama (dalam hal ini Islam) telah membatalkan wahyu puisi justru dengan bahasa puisi sendiri. Wahyu agama diturunkan dengan bahasa Arab, padahal bahasa itu telah menjadi milik para penyair dan puisi, jauh sebelum Islam diturunkan. Jika puisi pada awalnya dianggap sebagai sumber pengetahuan dalam menemukan &#8220;yang benar&#8221; atau &#8220;kebenaran&#8221;, dengan kedatangan wahyu agama, puisi direndahkan menjadi sekadar perkakas. Mengapa? Sebab hakekat kebenaran dalam puisi adalah &#8220;perubahan&#8221;. Sementara wahyu agama datang dengan ide &#8220;firman Tuhan yang terakhir&#8221;, dan &#8220;penutup para nabi&#8221;. Artinya? Wahyu agama menyiratkan &#8220;kebenaran&#8221; sudah final, sudah selesai. Tak ada tempat bagi puisi!</p>
<p>Saya tak akan membahas semua isi ceramahnya di sini. Barangkali cepat-atau lambat ceramah tersebut (yang sudah ada terjemahannya) mungkin akan diterbitkan atau disebarkan. Silakan cari sendiri makalah tersebut selengkapnya (makalahnya panjang, hingga mencapai 15 halaman). Kesan saya secara umum, sebagai penyair, Adonis memang &#8220;berkelas&#8221;. Sepulang dari Salihara, di dalam taksi, saya terus-menerus berpikir, adakah penyair Indonesia yang &#8220;berkelas&#8221; semacam itu?</p>
<p>Sekali lagi, sebagai penyair, Adonis tak hanya luar biasa pencapaian puisi-puisinya, tapi juga memiliki pergulatan &#8220;akademis&#8221; dengan puisi dan lingkungannya. Ia melakukan riset mengenai sejarah puisi Arab. Dan jangan lupa desertasinya yang empat jilid tebal itu, mengenai Arab dan Islam. Di Indonesia? Banyak penyair bagus dan hebat. Tapi adakah yang bisa berceramah mengenai puisi pra-Indonesia? Adakah yang menulis desertasi tentang Negarakrtagama? Sampai titik ini, saya jadi kuatir jangan-jangan kita memang masih jauh dari memperoleh penyair &#8220;kelas dunia&#8221; dalam arti kapasitasnya yang melebihi sebagai &#8220;sekadar&#8221; pengrajin puisi.</p>
<p>Mudah-mudahan kekuatiran saya tak beralasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Komentar di Posting &#8220;Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/dari-komentar-di-posting-orhan-pamuk-jilbab-merupakan-tradisi-204.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/dari-komentar-di-posting-orhan-pamuk-jilbab-merupakan-tradisi-204.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 13:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Mas, kayanya ga usahlah bicarain seputar permasalahan agama (jilbab bukan tradisi, tapi emag kewajiban). kalo belom ada ilmunya, jadi keliatan begonya mas. jangan sok demokrasi-demokrasian, plural-pluralan, HAM-HAMan, itu semua juga masih kontradiksi mas. dalam Islam jilbab itu wajib, ya udah jangan diganggu keyakinan orang itu. katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang. itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Mas, kayanya ga usahlah bicarain seputar permasalahan agama (jilbab bukan tradisi, tapi emag kewajiban). kalo belom ada ilmunya, jadi keliatan begonya mas.<br />
jangan sok demokrasi-demokrasian, plural-pluralan, HAM-HAMan, itu semua juga masih kontradiksi mas.<br />
dalam Islam jilbab itu wajib, ya udah jangan diganggu keyakinan orang itu. katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang.<br />
itu aja sih yang ingin saya omongin. udahlah, mas eka nulis yang mas eka ngerti aja. saya suka kok tlisan2 mas eka.</p></blockquote>
<p>Dari Komentar <a href="http://tukangtidur.multiply.com/">tukangtidur</a> di posting <a href="http://ekakurniawan.com/blog/orhan-pamuk-jilbab-merupakan-tradisi-61.php"><strong>Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi</strong></a><br />
(Saya pindah ke dapan barangkali ada yang tertarik menanggapinya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/dari-komentar-di-posting-orhan-pamuk-jilbab-merupakan-tradisi-204.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/orhan-pamuk-jilbab-merupakan-tradisi-61.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/orhan-pamuk-jilbab-merupakan-tradisi-61.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 12:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekakurniawan.com/blog/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Foto diambil dari orhanpamuk.net  Baru-baru ini, novelis Turki peraih Nobel Kesusastraan 2006 Orhan Pamuk memberi dukungan penggunaan jilbab di universitas. Ia menegaskan bahwa jilbab sama sekali tak berhubungan dengan fundamentalisme Islam. &#8220;Di Turki, perempuan mempergunakan jilbab secara tradisional, sebagaimana perempuan Italia melakukannya di masa lalu,&#8221; begitu pernyataannya kepada beberapa media. Ia menambahkan, &#8220;Sebagian besar perempuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2274/2262047447_5d37d96afd_o.jpg" alt="" /><br />
<span class="caption">Foto diambil dari <a class="snap_noshots" href="http://www.orhanpamuk.net">orhanpamuk.net</a></span> </div>
<p>Baru-baru ini, novelis Turki peraih <a href="http://nobel.se">Nobel Kesusastraan</a> 2006 <a href="http://www.orhanpamuk.net">Orhan Pamuk</a> memberi dukungan penggunaan jilbab di universitas. Ia menegaskan bahwa jilbab sama sekali tak berhubungan dengan fundamentalisme Islam.</p>
<p>&#8220;Di Turki, perempuan mempergunakan jilbab secara tradisional, sebagaimana perempuan Italia melakukannya di masa lalu,&#8221; begitu pernyataannya kepada beberapa media. Ia menambahkan, &#8220;Sebagian besar perempuan Turki mempergunakan jilbab, tapi bukan anggota atau pengikut partai berhaluan Islam seperti Partai Keadilan Pembangunan (AKP).&#8221;<br />
<span id="more-61"></span><br />
Isu ini dilontarkannya mengiringi pemungutan suara di parlemen untuk mencabut pelarangan mempergunakan jilbab di unversitas yang sebelum ini berlaku. &#8220;Jilbab merupakan isu yang kompleks; mengaturnya dari atas merupakan kesalahan.&#8221;</p>
<p>Orhan Pamuk kemudian merujuk ke beberapa novelnya, dimana ia menyarankan dalam kasus ini, kita bisa saling menghormati keputusan orang lain, tanpa perlu menjadikannya sebagai masalah kekuasaan. Isu ini terutama menjadi tema penting dalam novelnya <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0375706860/ref=nosim/bumimanusia-20">Snow</a></em>.</p>
<p>Meskipu begitu, isu ini masih menjadi perdebatan sengit di Turki. Banyak pihak kuatir, pemberhentian larangan mengenakan jilbab di universitas akan mengendurkan sikap sekulerisme yang didirikan sejak <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mustafa_Kemal_Atatürk">Kemal Ataturk</a>.</p>
<p>Hmm. Ini mengingatkan saya pada beberapa peraturan daerah (dengan adanya otonomi daerah, banyak pemerintah daerah di Indonesia yang kemudian membuat aturan-aturan yang berbeda dengan pusat maupun daerah lain), tapi dengan wujud yang berbeda: anak-anak perempuan diwajibkan mengenakan jilbab di sekolah-sekolah.</p>
<p>Saya sepakat dengan Pamuk, kita mestinya tidak mengurusi jilbab. Kita tidak bisa melarang, sekaligus tak bisa memaksakannya. Yang terbaik, kita mesti menghormati seseorang yang mau mempergunakannya, dan menghormati pula yang tidak mau mempergunakannya.</p>
<p>Sekadar mengingatkan, Orhan Pamuk menulis beberapa novel selain <em>Snow</em>: <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0375706852/ref=nosim/bumimanusia-20">My Name is Red</a></em>, <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/1400078652/ref=nosim/bumimanusia-20">The Black Book</a></em>, <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0375701710/ref=nosim/bumimanusia-20">The New Life</a></em>, <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0571164668/ref=nosim/bumimanusia-20">The White Castle</a></em> dan sebuah autobiografi, <em><a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0571218334/ref=nosim/bumimanusia-20">Istambul</a></em>.</p>
<h3>Update, 19 Juni 2008:</h3>
<p>Tulisan ini dilanjutkan dengan perbincangan kecil di posting lain: <a href="http://ekakurniawan.com/blog/dari-komentar-di-posting-orhan-pamuk-jilbab-merupakan-tradisi-204.php"><strong>Dari Komentar di Posting “Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi”</strong></a>. Sila mengikuti.</p>
<div class="footnote">Tulisan ini diambil dari sumber: <a href="http://www.adnkronos.com/AKI/English/Religion/?id=1.0.1857582953">adnkronos.com</a> dan <a href="http://english.sabah.com.tr/F526B6AD098F4E07850C5D1F5D287BC9.html">sabah.com.tr</a>.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/orhan-pamuk-jilbab-merupakan-tradisi-61.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

