Melacak Jejak Horor Abdullah Harahap

oleh Akhmad Sekhu, Suara Merdeka

Meski penulisan buku ini berangkat dari membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, tapi serta-merta terjebak tema cerita-cerita horor yang diusungnya, karena ternyata ketiga penulis tersebut sepertinya mencoba menuntaskan dahaga penasarannya untuk kemudian menakar kebebasan bercerita yang tentu sesuai dengan daya kreatif mereka masing-masing.

“Jimat Sero” di Suara Merdeka

Salah satu cerpen dalam buku “Kumpulan Budak Setan”, diterbitkan di Suara Merdeka, 24 Januari 2010, berjudul “Jimat Sero”.

“Kumpulan Budak Setan”

Kumpulan Budak Setan, kompilasi cerita horor Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, adalah proyek membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif di era 1970-1980an. Dua belas cerpen di dalamnya mengolah tema-tema khas Abdullah Harahap — balas dendam, seks, pembunuhan — serta motif-motif berupa setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Februari 2010.

“Bisikan Arwah” Abdullah Harahap

Tak terasa sudah hampir tujuh bulan proyek “Tribute to Abdullah Harahap” berlangsung (lihat posting katalog buku Abdullah Harahap). Saya, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad sudah beberapa kali bertemu untuk mendiskusikan proyek kami, dan terus berjalan. Pertemuan terakhir, kami melakukannya melalui Yahoo Messanger karena saat itu berada di tempat yang berjauhan. Dalam diskusi terakhir kami, saya [...]

Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat proyek kecil (kami batasi bertiga saja) menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribute to Abdullah Harahap, the master guru of Indonesian horor fiction.

Cantik itu Luka