Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo

Foto oleh Montana Raven, Some rights reserved.
“Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata. Ratu Dewata memunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi …” Begitulah gaya khas Asmaraman S Kho Ping Hoo memberi latar sejarah dalam kisah fiksinya, Satria Gunung Kidul.
Sudah menjadi kecenderungan novel silat untuk mendasari kisahnya pada kurun peristiwa sejarah tertentu. Nagasasra Sabuk Inten SH Mintaraja dan Senopati Pamungkas Arswendo Atmowiloto mengambil latar Mataram. Tutur Tinular S Tidjah berbayang puncak kejayaan Singasari.
Dari beberapa novel yang saya pilih, yang secara khusus semuanya berlatar Nusantara karena Kho Ping Hoo juga dikenal, malah lebih dikenal, sebagai penulis novel silat berlatar Tiongkok, semuanya berlatar kurun tertentu sejarah yang dideskripsikan dengan terang. Di dalam sastra, ada beberapa alasan pokok mengapa sejarah menjadi satu elemen penting, atau bahkan terpenting.
Pertama, dalam banyak kasus, novel sejarah mempergunakan materi sejarah untuk menghadirkan sejarah itu sendiri. Ini termasuk kategori penulis yang mencoba mengukuhkan keyakinan sejarah tertentu maupun para penulis yang mencoba memberi pemaknaan baru terhadapnya. Novel-novel sejarah Pramoedya Ananta Toer bisa dimasukkan ke kategori ini.
Kedua, sejarah dipergunakan untuk memperkuat unsur-unsur fiktif di dalam karya. Sejarah tidak menjadi elemen penting di sini meskipun ia mengambil porsi yang sangat signifikan. Dalam Serat Manikmaya, misalnya, dikisahkan bahwa raja-raja Jawa merupakan keturunan dari Parikesit, melantur terus hingga muncul sosok Ajisaka, yang ternyata salah satu sahabat Nabi Muhammad yang membelot. Lihat pula Babad Tanah Jawi. Sejarah dan fiksi berkelindan untuk saling mempertegas.
Sesungguhnya, kedua kecenderungan ini tak pernah merupakan kategori ekstrem yang bertentangan. Di dalam novel yang menjadikan sejarah sebagai pembahasan utama, tak terhindarkan munculnya anasir fiktif yang pada gilirannya akan diperkukuh keberadaannya melalui fakta-fakta sejarah. Sementara pada kecenderungan kedua, meskipun sejarah menjadi anasir sekunder, secara tidak langsung penulis juga menghadirkan pandangan dunianya terhadap momen sejarah tertentu.
Sejarah dalam novel, atau sastra secara umumnya, bukanlah kecenderungan kemarin sore. Ia telah hadir mungkin setua sastra itu sendiri. Dalam karya-karya klasik, baik dalam sejarah sastra Nusantara maupun tempat lain di dunia, sejarah telah merasuk dengan berbagai fungsinya. Bagaimana dengan sejarah dalam novel-novel silat Kho Ping Hoo?
Pengembara dari istana
Pada umumnya, hampir semua novel silat Kho Ping Hoo berkisah mengenai orang-orang istana, dengan segala pergolakan dan intriknya. Tentu saja sebagaimana kisah silat, selalu akan ada kesatria pengelana yang menjadi tokoh sentral. Akan tetapi, sering kali kesatria ini pun memiliki latar istana yang kuat dan pergi mengembara biasanya untuk menuntut ilmu, bosan dengan kehidupan mewah, atau menjalankan tugas kekesatriaan untuk menegakkan keadilan dan melawan kezaliman.
Pola favoritnya adalah mempergunakan peristiwa sejarah yang mudah dikenali, kemudian menciptakan anasir fiktif di sekitar peristiwa tersebut. Peristiwa sejarah itu bisa pemberontakan, perang, kejatuhan sebuah kerajaan, dan sejenisnya. Di tengah aktor-aktor yang berperan dalam peristiwa tersebut, Kho Ping Hoo akan menciptakan karakter utamanya terlibat secara nyata dalam peristiwa tersebut, tetapi tentu saja tidak menjadi yang terpenting. Ia bisa muncul sebagai sosok putra seorang adipati, atau anak raja dari seorang selir, yang memang mudah untuk dihadirkan secara fiktif.
Saya akan mengambil contoh dari seri Badai Laut Selatan, Perawan Lembah Wilis, dan Sepasang Garuda Putih. Pendekar pengembaranya adalah Bagus Seto dan Retno Wilis. Mereka kakak beradik lain ibu, ayah mereka adalah Adipati Tejolaksono. Tejolaksono dikisahkan sebagai Patih Anom dari Kerajaan Panjalu. Kisah bergulir di sekitar naiknya Jayantakatunggadewa sebagai raja Jenggala. Demikianlah, kedua tokoh utama itu terlibat dalam babakan episode sejarah pemberontakan wilayah timur terhadap dominasi Jenggala dan Panjalu.
Atau dari novel pendek yang sudah saya kutip di muka, Satria Gunung Kidul. Yang dimaksud Satria Gunung Kidul ini sesungguhnya seorang pendekar bernama Saritama. Dikisahkan dalam sebuah perang, Saritama harus berhadapan dengan kakak kandungnya yang membela musuh, hingga sang kakak terbunuh. Kisah berlanjut dengan pembalasan dendam Saritama kepada seorang Tumenggung di wilayah Tangen.
Dalam novel ini, sang kesatria pengembara juga sesungguhnya orang istana: ternyata ia anak Adipati Cakrabuwana dari Tritis. Anasir sejarah: novel ini berawal sejak masa pemerintahan Tribuwana Tungga Dewi di Majapahit hingga meletusnya Perang Bubat. Anasir fiktif: Adipati Tangen, Adipati Tritis, dan perempuan cantik yang diperebutkan mereka, yang disisipkan dengan cantik ke tengah fakta sebagai anak Prabu Jayanegara dari seorang selir.
Saya memberi tekanan pada dari seorang selir untuk memperlihatkan peluang fiktif dari fakta-fakta sejarah yang sangat mungkin dan dengan cerdik sering dipergunakan Kho Ping Hoo. Peluang yang sama mungkin dengan menciptakan tokoh Patih Anom (saya beri tekanan pula untuk kata anom) bernama Tejolaksono di sebuah kerajaan serupa Panjalu dalam seri Sepasang Garuda Putih. Seorang penulis mungkin akan menghadapi keterbatasan ketika berhadapan dengan suatu karakter sejarah, tapi bisa sangat bebas menciptakan karakter baru di sekitar karakter sejarah tersebut: misalnya menciptakan kekasih Diah Pitaloka dalam Satria Gunung Kidul.
[...] Sila baca juga tulisan saya tentang cerita silat yang lain: Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo Diposting dengan kata kunci: asmaraman s kho ping hoo, goseki kojima, jepang, kazuo koike, komik, [...]
saya benar2 mencari sejarah gunung kidul artikel ini fiktif atau nyata