<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Peluncuran Bilangan Fu</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 16:10:27 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: inda</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-1004</link>
		<dc:creator>inda</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 03:31:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-1004</guid>
		<description>saya pikir (malah) seharusnya bilangan fu itu bukan sebuah novel. kalau saya sih jadi nyesel bacanya, saya baca lompat lompat, terlalu banyak, terlalu padat, terlalu dijejal jejalkan, persaingan parangjati dan kupukupu malah saya mirip adegan di laskar pelangi ( ha ha ha ini pendapat saya aja lho).
bagi mas eka yang belum baca, baca aja, bisa jadi suka bisa jadi menyesal. penilaian masing masing aja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya pikir (malah) seharusnya bilangan fu itu bukan sebuah novel. kalau saya sih jadi nyesel bacanya, saya baca lompat lompat, terlalu banyak, terlalu padat, terlalu dijejal jejalkan, persaingan parangjati dan kupukupu malah saya mirip adegan di laskar pelangi ( ha ha ha ini pendapat saya aja lho).<br />
bagi mas eka yang belum baca, baca aja, bisa jadi suka bisa jadi menyesal. penilaian masing masing aja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mr rius</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-881</link>
		<dc:creator>mr rius</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 09:07:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-881</guid>
		<description>Ka, kamu tuh baru baca satu halaman sudah komentar. pantes saja km nggak dong maksudnya.

&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;rius:&lt;/strong&gt;
komentar saya apa, ya? saya cuma bertanya-tanya mengenai sebaris kalimat, kok (kira-kira itu mesti ditafsir menjadi apa, ya?) tentu saya tak akan berkomentar tentang novel ini, karena memang belum baca.
(eka)&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ka, kamu tuh baru baca satu halaman sudah komentar. pantes saja km nggak dong maksudnya.</p>
<blockquote><p><strong>rius:</strong><br />
komentar saya apa, ya? saya cuma bertanya-tanya mengenai sebaris kalimat, kok (kira-kira itu mesti ditafsir menjadi apa, ya?) tentu saya tak akan berkomentar tentang novel ini, karena memang belum baca.<br />
(eka)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Berto</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-791</link>
		<dc:creator>Berto</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 13:16:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-791</guid>
		<description>wah,kalau saya sie membaca buku ini kaya dikasih ajaran banyak. ada wayangnyalah, alkitablah, cara manjat tebinglah, dan lainlain. yah, memang ga salah. tetapi, rasanya kok ga asyik aja karena seperti kotbah siang bolong.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah,kalau saya sie membaca buku ini kaya dikasih ajaran banyak. ada wayangnyalah, alkitablah, cara manjat tebinglah, dan lainlain. yah, memang ga salah. tetapi, rasanya kok ga asyik aja karena seperti kotbah siang bolong.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Retno Pudjiastuti</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-790</link>
		<dc:creator>Retno Pudjiastuti</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 22:15:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-790</guid>
		<description>Hai Eka, saya tidak bermaksud menggurui. hanya ingin berbagi sedikit. Yang jelas, pasti kamu sudah lebih tahu. Btw, pengalaman saya belajar bahasa di SMA dan di tempat kerja dulu membuat saya tahu bahwa tidak semua tanda baca bisa atau harus dicantumkan ketika menulis sebuah kalimat. Sebab bila itu dilakukan, maka si kalimat bisa menjadi terlalu padat, terlalu ramai, terlalu membosankan selain juga terlalu menggurui orang yang membacanya. Jadi, seperti yang kamu bilang, sikap kritis dari pembaca memang diperlukan.

Bagi saya pribadi kalimat Ayu Utami di atas yg sudah saya bubuhi segala tanda baca secara tersurat itu mengganggu kelancaran saya membaca. Mungkin secara tidak sadar saya merasa didikte oleh tanda2 baca itu. Saya lebih suka membaca kalimat yg aslinya, walaupun jujur saja, sempat terkecoh bagaimana harus membacanya. Seperti kata Ilalang: dibaca pelan-pelan saja. Lagipula, itu kan salah satu gaya penulisan khas Ayu Utami. Minim tanda baca.

Salam ya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hai Eka, saya tidak bermaksud menggurui. hanya ingin berbagi sedikit. Yang jelas, pasti kamu sudah lebih tahu. Btw, pengalaman saya belajar bahasa di SMA dan di tempat kerja dulu membuat saya tahu bahwa tidak semua tanda baca bisa atau harus dicantumkan ketika menulis sebuah kalimat. Sebab bila itu dilakukan, maka si kalimat bisa menjadi terlalu padat, terlalu ramai, terlalu membosankan selain juga terlalu menggurui orang yang membacanya. Jadi, seperti yang kamu bilang, sikap kritis dari pembaca memang diperlukan.</p>
<p>Bagi saya pribadi kalimat Ayu Utami di atas yg sudah saya bubuhi segala tanda baca secara tersurat itu mengganggu kelancaran saya membaca. Mungkin secara tidak sadar saya merasa didikte oleh tanda2 baca itu. Saya lebih suka membaca kalimat yg aslinya, walaupun jujur saja, sempat terkecoh bagaimana harus membacanya. Seperti kata Ilalang: dibaca pelan-pelan saja. Lagipula, itu kan salah satu gaya penulisan khas Ayu Utami. Minim tanda baca.</p>
<p>Salam ya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ekakurniawan</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-786</link>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 02:39:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-786</guid>
		<description>&lt;strong&gt;hi, ilalang dan retno:&lt;/strong&gt;
memang tidak ada yang aneh, kan? saya juga selalu berpikir tak ada yang aneh dalam tulisan apa pun: yang penting bagaimana pembaca menafsirnya, termasuk penafsiranmu memberi tanda baca imaji. sebenarnya saya kan enggak bilang itu aneh. saya cuma bertanya-tanya, kira-kira ini ditafsir seperti apa, ya. 

Penafsiranmu atas tanda baca imaji itu boleh juga, meskipun saya kembali bertanya-tanya, kenapa penulis melakukannya? jika pembaca membayangkan ada tanda baca (koma) di tengah-tengah dua kata itu, sebenarnya itu satu kritik dari pembaca (retno): &lt;strong&gt;koma itu seharusnya ada di sana&lt;/strong&gt;. Bukankah pembaca merupakan kritikus terbaik? Saya pikir saya bisa mengikuti pembacaan Retno, karena itu yang paling &lt;em&gt;make sense&lt;/em&gt;.

Tentu saja karena kita tahu tidak ada koma di sana (de facto), tafsir kita tak bisa menjadi satu-satunya tafsir yang meyakinkan. Hanya tafsir yang membuat kita nyaman sendiri :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><strong>hi, ilalang dan retno:</strong><br />
memang tidak ada yang aneh, kan? saya juga selalu berpikir tak ada yang aneh dalam tulisan apa pun: yang penting bagaimana pembaca menafsirnya, termasuk penafsiranmu memberi tanda baca imaji. sebenarnya saya kan enggak bilang itu aneh. saya cuma bertanya-tanya, kira-kira ini ditafsir seperti apa, ya. </p>
<p>Penafsiranmu atas tanda baca imaji itu boleh juga, meskipun saya kembali bertanya-tanya, kenapa penulis melakukannya? jika pembaca membayangkan ada tanda baca (koma) di tengah-tengah dua kata itu, sebenarnya itu satu kritik dari pembaca (retno): <strong>koma itu seharusnya ada di sana</strong>. Bukankah pembaca merupakan kritikus terbaik? Saya pikir saya bisa mengikuti pembacaan Retno, karena itu yang paling <em>make sense</em>.</p>
<p>Tentu saja karena kita tahu tidak ada koma di sana (de facto), tafsir kita tak bisa menjadi satu-satunya tafsir yang meyakinkan. Hanya tafsir yang membuat kita nyaman sendiri :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Retno Pudjiastuti</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-785</link>
		<dc:creator>Retno Pudjiastuti</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 20:45:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-785</guid>
		<description>Saya setuju dengan Ilalang, sebaiknya Eka membaca buku itu pelan2 saja. spy akhirnya tau bhw kalimat (khususnya 2 kata yg Eka cetak tebal) itu tidak ada anehnya.

Dua kata itu seperti bersambungan, tanpa jeda karena tidak ada tanda baca apapun yang memisahkan kedua kata tersebut. tetapi untuk membacanya silakan Eka beri tanda baca imagi (maksud saya, di dalam hati saja) di antara kedua kata itu. sehingga membacanya akan menjadi seperti ini: 

Kau pasti enggan percaya jika kubilang, &quot;Padaku ada sebuah stoples selai....&quot; 

Nah, tidak ada yg aneh kan dalam kalimat itu?

Selamat membaca Bilangan Fu !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju dengan Ilalang, sebaiknya Eka membaca buku itu pelan2 saja. spy akhirnya tau bhw kalimat (khususnya 2 kata yg Eka cetak tebal) itu tidak ada anehnya.</p>
<p>Dua kata itu seperti bersambungan, tanpa jeda karena tidak ada tanda baca apapun yang memisahkan kedua kata tersebut. tetapi untuk membacanya silakan Eka beri tanda baca imagi (maksud saya, di dalam hati saja) di antara kedua kata itu. sehingga membacanya akan menjadi seperti ini: </p>
<p>Kau pasti enggan percaya jika kubilang, &#8220;Padaku ada sebuah stoples selai&#8230;.&#8221; </p>
<p>Nah, tidak ada yg aneh kan dalam kalimat itu?</p>
<p>Selamat membaca Bilangan Fu !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: husnil</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-781</link>
		<dc:creator>husnil</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 14:21:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-781</guid>
		<description>bukannya mau membela ayu. tapi, bukankah di usia dini jati telah melahap banyak buku, bahkan kelas internasional. mungkin setidaknya itu membentuk pola pikirnya yang agak &quot;matang&quot;. tapi, ini bacaan saya lho..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bukannya mau membela ayu. tapi, bukankah di usia dini jati telah melahap banyak buku, bahkan kelas internasional. mungkin setidaknya itu membentuk pola pikirnya yang agak &#8220;matang&#8221;. tapi, ini bacaan saya lho..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sari</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-764</link>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 15:24:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-764</guid>
		<description>wah b&#039;ati saya ngeduluin mas eka dong bacanya. over all, bukunya bgs, cm ada beberapa bag. yg bkn saya aga terganggu. kyknya agak susah ya bwt penulis untuk bercerita ttg perasaan dan pikiran anak2 dng &#039;bahasa&#039; anak2. aga aneh aja klo parang jati kecil pny pikiran yg sangat kompleks ttng sebuah konsep dlm ajaran agama tertentu... bknya akan tampak berlebihan dan maksa??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah b&#8217;ati saya ngeduluin mas eka dong bacanya. over all, bukunya bgs, cm ada beberapa bag. yg bkn saya aga terganggu. kyknya agak susah ya bwt penulis untuk bercerita ttg perasaan dan pikiran anak2 dng &#8216;bahasa&#8217; anak2. aga aneh aja klo parang jati kecil pny pikiran yg sangat kompleks ttng sebuah konsep dlm ajaran agama tertentu&#8230; bknya akan tampak berlebihan dan maksa??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ilalang</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/peluncuran-bilangan-fu-320.php/comment-page-1#comment-756</link>
		<dc:creator>ilalang</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 12:28:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=320#comment-756</guid>
		<description>dibaca pelan-pelan saja, pasti tahu kalimat itu tidak ada anehnya, hehehe....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dibaca pelan-pelan saja, pasti tahu kalimat itu tidak ada anehnya, hehehe&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

