Tiga Lukisan, Mei 2008
Ini tiga lukisan yang saya bikin sepanjang minggu terakhir Mei 2008. Awalnya karena Richard tanya, "Kamu bisa gambar, kenapa nggak melukis?" Kami pergi ke Plaza Semanggi, dan dari sana kami membeli empat kanvas dan beberapa botol cat acrylic setengah literan. Satu kanvas dipakai Djenar. Untuk melihat detailnya, sila klik gambar di atas. It's not bad, ha?
(Baca Komentar: 9)

Foto oleh: Boby Dimitrov, Some rights reserved.
Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa itu menjadi Indonesia. Di akhir tahun 50an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.
Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad 19 hingga awal abad 20. Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas. Dalam hal ini, Pramoedya berhasil menemukan tokoh ideal anak kandung semangat ini: Tirto Adhi Soerjo. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno, atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka, tapi seorang wartawan sekaligus penulis roman.
baca selengkapnya »

Foto oleh: Boby Dimitrov, Some rights reserved.
Seperti apakah Jawa? Seperti apakah Indonesia? Identitas kultural selalu merupakan medan di mana kehendak untuk mendefinisikan dan kehendak untuk melonggarkan batas-batasnya, selalu bertemu, jika tak bisa dikatakan bertarung. Denys Lombard sendiri, dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, memperlihatkan betapa apa yang kita sebut sebagai Jawa tak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tunggal. Demikian pula Benedict Anderson dalam Imaginary Community, melihat bahwa identitas kultural hanyalah sebuah rekaan yang direka.
Tapi kita juga sangat sulit untuk menapikan keberadaan identitas kultural semacam ini. Betapapun kaburnya sebuah definisi, seseorang barangkali masih bisa membayangkan seperti apa identitas kultural tertentu. Katakanlah, orang Madura dengan karapan sapi. Katakanlah orang Jawa dengan keris. Memang benar, menghubungkan identitas kultural dengan gambaran kasar tertentu tak lebih dari sebuah stereotif, tapi bahwa stereotif itu ada, tak bisa dipungkiri.
baca selengkapnya »

Screenshot: presidensby.info.
Berawal dari iklan Wiranto di berbagai koran yang bertajuk Wiranto Masih Berharap SBY Penuhi Janji Soal BBM, polemik mulai berkembang. Menteri Sekretaris Negara, Hatta Rajasa, berkomentar atas iklan itu, “Sangat tendensius dan bisa menyesatkan kalau tidak ditanggapi. Seakan-akan Presiden berjanji untuk tidak menaikkan harga BBM.” Benarkah Presiden SBY tak pernah berjanji tidak akan menaikkan harga BBM?
Silakan lihat di laman situsnya sendiri: presidensby.info 7 November 2007. Jika dengan ajaib halaman itu dihapus (gampang lah menghapus halaman web), saya mempunyai screenshotnya di sini. Sekarang, mari kita tunggu, apakah presiden kita tukang ingkar janji atau tidak? Atau masih mau menyangkal janji yang sudah diucapkan?
baca selengkapnya »

Telah beredar majalah Tempo edisi khusus dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Judul sampulnya: “Indonesia yang Kuimpikan”. Di dalamnya ada ulasan mengenai 100 buku/teks dalam seabad Indonesia (1908-2008) yang dianggap membawa pengaruh pada kehidupan bangsa Indonesia, serta mampu menjelaskan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Saya promosikan edisi ini karena saya menulis salah satu artikel di dalamnya (he2). Saya menulis mengenai Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer dalam tulisan berjudul “Tetralogi Buru dan Indonesia ‘Modern’”. Selamat membaca dan berjanji, mari menulis buku yang jauh lebih baik lagi, juga lebih banyak lagi, untuk Indonesia satu abad mendatang!
baca selengkapnya »

Foto oleh: silvia di natale’S, Some rights reserved.
Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”.
Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.
baca selengkapnya »

Foto oleh: xfce, Some rights reserved.
Karena berbagai kemudahannya, saya selalu menyarankan kepada beberapa teman yang ingin nge-blog dengan domain dan hosting sendiri, untuk mempergunakan Wordpress. Sejujur nya, dibandingkan Textpattern atau Drupal, banyak hal yang tidak dimiliki Wordpress memang; tapi menyangkut kemudahan, Wordpress memberikan lebih banyak kenyamanan. Setelah membantu beberapa teman menginstalasi Wordpress, ada baiknya mungkin saya membagi tips kecil menulis puisi di Wordpress ini, yang saya peroleh dari masalah teman-teman. Dalam hal ini saya mempergunakan Wordpress versi 2.5.1 (mestinya juga berlaku di Wordpress.com dan Blogspot.com):
baca selengkapnya »
Komentar Terbaru