5 July 2008 » Abu Nawas, merupakan penyair gay pertama di dunia muslim? Wallahu'alam. Saya malah berpikir itu tokoh fiktif. Baca di sini. (Baca Komentar: 2)

He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.

Like many aspiring writers who need to pay the bills, Eka Kurniawan started out as a journalist. The 33-year-old native of Tasikmalaya, West Java, then submitted a few short stories to Kompas daily’s respected literary page, and they were accepted.

“People always asked me how it happened that I had my stories published in Kompas,” says the Gadjah Mada University graduate. “But there’s really no magic to it. I sent [the stories] out to the editorial department, even though I didn’t know anybody there.”

Gradually, his journalistic days of meeting deadlines came to an end.
baca selengkapnya »

30 June 2008 » Dua buku saya sudah bisa dilihat preview-nya di Google Books. Dari situ kalau tertarik, bisa langsung beli ke penerbitnya. Emang Google dan Gramedia, keren deh! Kalo mau coba, sila kunjungi judul-judul ini: Lelaki Harimau, Gelak Sedih. Judul yang lain semoga nyusul. Update (19 Juli): Buku saya yang lain di Google Book: Cinta Tak Ada Mati. (Baca Komentar: 4)

Foto oleh: Ella’s Dad, Some rights reserved.

Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.

Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari ini. Pertama, konsistensi menyangkut penanggalan. Saya memutuskan untuk mempergunakan penanggalan Hijriah dalam novel ini. Itu berarti saya harus mengkonversi semua penanggalan Masehi ke Hijriah. Kedua, saya juga harus membereskan beberapa transliterasi Arab ke Bahasa Indonesia agar lebih konsisten. Kalau ada yang tahu sejenis software untuk konversi penanggalan dan rujukan transliterasi yang baku, let me know.

Sekarang kembali ke “Bagaimana Menulis Novel” Bagian 2.
baca selengkapnya »

27 June 2008 » Cerpen saya "Gerimis yang Sederhana" termuat di buku Cerpen Kompas Pilihan 2008 yang diluncurkan tadi malam. Yang belum sempat membacanya, sila di sini. (Baca Komentar: 0)
24 June 2008 » Lusa, 26 Juni, peluncuran buku Cerpen Kompas Pilihan 2008. Seperti biasa, Kompas merahasiakan siapa yang menang. Melihat ilustrasi undangan, saya mencoba menebak: "Samanasanta" karya F. Rahardi. Ada tebakan lain? UPDATE 25/6: Ternyata tebakan saya salah. Di Kompas hari ini, nama dan cerpen itu bahkan tak tercantum di buku tersebut. 26/6: Ternyata yang menang: "Cinta di Atas Perahu Cadik" karya Seno Gumira Ajidarma. (Baca Komentar: 0)
» Baru tahu, Ayu Utami sudah mengeluarkan novel baru: Bilangan Fu. Akan di-launch tanggal 20 Juli. Kapan saya? Kapan kamu? (Baca Komentar: 2)
22 June 2008 » Nonton Fiksi, karya Mouly Surya, harus saya bilang: Apa dia bener-bener tahu kenapa pake judul "fiksi"? Dan ulasan Susi Ivvaty di Kompas hari ini, masih juga tanya: Fiksi dan realitas, apa bedanya? Duh! Mending bacalah tulisan tentang Borges ini. (Baca Komentar: 1)

Foto oleh: icultist, Some rights reserved.

Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya print-out, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.

Bagaimanapun, meski saya merasa ada sesuatu yang enggak bener, bukan hal yang gampang untuk melacaknya dimana. Satu-satunya hal yang mungkin saya kerjakan, adalah mengingat-ingat kembali urutan kerja saya. Dalam hal ini disiplin kerja saya cukup memudahkan pelacakan ini. Saya terbiasa bekerja dengan agak metodis. Saya akan menuliskannya di sini, berdasarkan pengalaman saya menulis dua novel sebelumnya. Ini untuk mengingatkan saya, sekaligus barangkali ada yang tertarik mencontek cara kerja saya (hehe):

baca selengkapnya »

Quote: Dari Komentar di Posting "Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi" - 17 June 2008 »
Mas, kayanya ga usahlah bicarain seputar permasalahan agama (jilbab bukan tradisi, tapi emag kewajiban). kalo belom ada ilmunya, jadi keliatan begonya mas. jangan sok demokrasi-demokrasian, plural-pluralan, HAM-HAMan, itu semua juga masih kontradiksi mas. dalam Islam jilbab itu wajib, ya udah jangan diganggu keyakinan orang itu. katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang. itu aja sih yang ingin saya omongin. udahlah, mas eka nulis yang mas eka ngerti aja. saya suka kok tlisan2 mas eka.
Dari Komentar tukangtidur di posting Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi (Saya pindah ke dapan barangkali ada yang tertarik menanggapinya) (Baca Komentar: 30)