Untuk Presiden FIFA yang terhormat, sebagai penggemar sepak bola Indonesia, dengan sangat memohon agar FIFA bersedia membekukan organisasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Memang belum lama ini PSSI meraih Juara 1 Piala Kemerdekaan setelah mengalahkan tim Libya 3-1. Tapi, Tuan Presiden FIFA yang terhormat, kemenangan itu kami peroleh dengan cara yang sangat memalukan. Setelah tertinggal 0-1 di babak pertama, salah seorang ofisial tim kami memukul pelatih Libya, sehingga tim Libya tak mau meneruskan pertandingan karena merasa terancam.

Saya benar-benar malu, Tuan Presiden FIFA. Lebih baik PSSI dibubarkan saja dan saya tak menonton sepakbola Indonesia, sampai waktu yang tak ditentukan, daripada saya (kami) terus-menerus dipermalukan PSSI dengan cara seperti ini. Belum lagi kalau ingat bahwa Ketua Umum PSSI (Tuan Nurdin Halid) masih mendekam di penjara. Artinya? Kriminal, Tuan Presiden FIFA! Sekali lagi saya mohon, bekukan saja PSSI. Saya sudah benar-benar malu!
baca selengkapnya »

24 August 2008 » Istri saya sedang membaca buku tentang Che, tiba-tiba ia bertanya, "Amerika ini tukang invasi negara lain, ya?" Saya jawab, memang begitu. Itu negara yang enggak bisa hidup tanpa menginvasi negara lain. Lalu saya berkata berandai-andai, "Kalau Amerika menginvasi Indonesia, gimana? Aku sih kayaknya mau gerilya." Istri saya menatap dengan cemas dan bilang, jangan mengatakan hal buruk. Tapi siapa tahu, kan? "Trus aku gimana?" tanyanya. "Kamu tinggal saja di kampung nenek di Tasik. Aku yakin tentara Amerika enggak tahu tempat itu," kata saya. "Trus kamu?" Saya menjawab, "Gerilya di Bekasi." Hehehe ... perbincangan aneh antar suami-isteri, ya? Tapi soal Amerika suka menginvasi negara lain ... kayaknya ini bukan suatu yang aneh. Seluruh dunia tahu itu: Kuba, Vietnam, Afghanistan, Irak, dan entah mana lagi. (Baca Komentar: 5)
18 August 2008 » Satu lagi penulis nge-blog: Nirwan Dewanto di nirwandewanto.blogspot.com. (Baca Komentar: 2)
16 August 2008 » Di gedung yang sama, Graha Nikmat Rasa, dua tahun lalu saya menikah. Kini, hari ini saya kembali ke gedung tersebut untuk menghadiri pernikahan teman saya: Ugoran Prasad dengan Rini Larasati. Selamat menempuh hidup baru yang bahagia, Ugo. Kalau benar kamu kemudian tinggal di Jakarta, kita bisa mudik bareng ke Solo! (Baca Komentar: 0)

Mumpung lagi di Solo, saya menyempatkan diri untuk menjelajahi toko-toko buku bekas di sekitar alun-alun. Tujuan utamanya: mengumpulkan novel-novel karya Abdullah Harahap. Itu proyek kecil saya bersama Ugoran Prasad (ketika catatan ini ditulis, saya baru dari tempat pernikahan Ugo dengan Rini Larasati, di gedung tempat saya menikah dua tahun sebelumnya; selamat menempuh hidup baru, Ugo!) dan Intan Paramaditha. Novel Abdullah Harahap tidak gampang ditemui sekarang ini. Meskipun langka, kenyataannya tak banyak juga yang mencari.

Ini katalog sementara novel-novel Abdullah Harahap yang ada pada saya, dengan sedikit catatan kondisinya:
baca selengkapnya »

12 August 2008 » Pemimpin pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar tahun 1945, Supriyadi, kembali menjadi berita (baca Kompas dan Detik). Ini terkait terbitnya buku Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, dan munculnya seseorang yang mengaku sebagai Supriyadi. Tokoh ini memang misterius: sempat diangkat sebagai Panglima Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (sebelum diserahkan kepada Sudirman karena Supriyadi tak juga nongol), tokoh ini tak pernah diketahui kapan mati dan dimana mayatnya. Saya sendiri mempergunakan tokoh ini untuk model tokoh Shodancho di novel Cantik itu Luka. Yup, Supriyadi memang seorang Shodancho, yakni pemimpin kesatuan PETA setingkat pleton. (Baca Komentar: 1)
9 August 2008 » Hari ini ayah mertua saya (Haris Fadillah, ayah Ratih Kumala) meninggal. Terima kasih untuk semua kiriman simpati dan doa. Baca "Obituari" di blog Ratih. (Baca Komentar: 1)
6 August 2008 » Selama eksil 18 tahun di Cavendish, Vermont, masyarakat kota kecil itu sangat menghormati dan melindungi Solzhenitsyn. Jangan pernah berharap bisa diberitahu arah menuju rumah sang penulis oleh penduduk lokal. Baca mengenai hal itu di satu artikel The New York Times (1994). (Baca Komentar: 1)
Solzhenitsyn Meninggal Umur 89 Tahun - »
Penulis Rusia peraih Nobel, Aleksandr Solzhenitsyn, dimakamkan hari ini. Ia meninggal hari Minggu kemarin pada umur 89 tahun. Ia pernah dimasukkan ke gulag oleh Stalin, kemudian eksil selama 2 tahun di Swiss dan 18 tahun di Amerika. Selama itu ia konon tetap memakai jam tangan yang diset dengan waktu Moskow. Ia kembali ke Rusia tahun 1994, setelah Sovyet bubar. Sebagaimana harapannya, ia meninggal dan akan dimakamkan di kampung halamannya. (Baca Komentar: 1)
2 August 2008 » Theme Wordpress bikinan saya, Descartes versi 1.2, sekarang sudah bisa didownload di wordpress.org/extend/themes/descartes! (Baca Komentar: 0)