Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi
Baru-baru ini, novelis Turki peraih Nobel Kesusastraan 2006 Orhan Pamuk memberi dukungan penggunaan jilbab di universitas. Ia menegaskan bahwa jilbab sama sekali tak berhubungan dengan fundamentalisme Islam.
“Di Turki, perempuan mempergunakan jilbab secara tradisional, sebagaimana perempuan Italia melakukannya di masa lalu,” begitu pernyataannya kepada beberapa media. Ia menambahkan, “Sebagian besar perempuan Turki mempergunakan jilbab, tapi bukan anggota atau pengikut partai berhaluan Islam seperti Partai Keadilan Pembangunan (AKP).”
Isu ini dilontarkannya mengiringi pemungutan suara di parlemen untuk mencabut pelarangan mempergunakan jilbab di unversitas yang sebelum ini berlaku. “Jilbab merupakan isu yang kompleks; mengaturnya dari atas merupakan kesalahan.”
Orhan Pamuk kemudian merujuk ke beberapa novelnya, dimana ia menyarankan dalam kasus ini, kita bisa saling menghormati keputusan orang lain, tanpa perlu menjadikannya sebagai masalah kekuasaan. Isu ini terutama menjadi tema penting dalam novelnya Snow.
Meskipu begitu, isu ini masih menjadi perdebatan sengit di Turki. Banyak pihak kuatir, pemberhentian larangan mengenakan jilbab di universitas akan mengendurkan sikap sekulerisme yang didirikan sejak Kemal Ataturk.
Hmm. Ini mengingatkan saya pada beberapa peraturan daerah (dengan adanya otonomi daerah, banyak pemerintah daerah di Indonesia yang kemudian membuat aturan-aturan yang berbeda dengan pusat maupun daerah lain), tapi dengan wujud yang berbeda: anak-anak perempuan diwajibkan mengenakan jilbab di sekolah-sekolah.
Saya sepakat dengan Pamuk, kita mestinya tidak mengurusi jilbab. Kita tidak bisa melarang, sekaligus tak bisa memaksakannya. Yang terbaik, kita mesti menghormati seseorang yang mau mempergunakannya, dan menghormati pula yang tidak mau mempergunakannya.
Sekadar mengingatkan, Orhan Pamuk menulis beberapa novel selain Snow: My Name is Red, The Black Book, The New Life, The White Castle dan sebuah autobiografi, Istambul.
Update, 19 Juni 2008:
Tulisan ini dilanjutkan dengan perbincangan kecil di posting lain: Dari Komentar di Posting “Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi”. Sila mengikuti.

Bung eka, aku setuju banget ama Pamuk. Masalah personal, memang gak perlu dipaksakan apalagi dilegalkan. Masalah pake atau tidak pake jilbab adalah pilihan. Dan kita harus menghormati pilihan orang.
soalnya adalah : darimana pilihan-pilihan ini berasal?.kapan kita percaya bahwa ini adalah “yang personal’?. yg paling penting bagi saya adalah : KEDALAMAN DAN KELUASAN!. selalu curiga pada yang tetap, termasuk kepada klise baru: dorongan keras ke arah pilhan personal.
kak, saya dah selesai baca cantik itu luka.edan!!!!.seperti yang selalu dibilang randy: jika kamu bisa menyanyi, kamu bahkan bisa menyanyikan yellow pages.he3.bagi saya: ini debut paling menarik.segar cerdas nakal.seandainya saya nanti menulis, beginilah seharusnya saya menyikapi sebuah karya debut.sukses kak!!!!
kak, bagaimana kakak tu membagi waktu antara menulis, membaca, dan yang lainnya?.saya udah baca sih tulisan kakak tentang menulis tu.tapi rasanya stres aja bayangin kakak tu menulis novel2,cerpen2 yang hebat gitu juga ngurusin blog, dan tentu masih banyak yg lain kan?.bagaimana juga cara kakak membaca?.
kak, dah ntn 3:10 to yuma?. barusan saya nonton kak.stressssss dah. geregetan ma tu film.tdk ada satu adegan pun yg percuma kan.bahkan gerakan sederhana semacam kepala alice yg menongek ke ben wade saat wade cerita tentang gadis bermata hijau di sanfransisko atau gerkan jakun william saat wade cerita tentang judi dan perempuan tu, gak terlupakan kakkkk….saya sebagai perempuan, bayangin ngliat alice yang nengok tu,duuuhhhhhhh…bagaimana kami para perempuan mesti bersikap menghadapi pesona yang tiada tara itu coba, kecuali memalingkan muuka, melihatnya, dengan cara yang sangat hati2, dan sebegitunya kami gak bisa menyembunyikan ada yang sedang buncah di dada kami. he3.apa yg lebih menarik pria belasan selain aroma petualangan dan perempuan?.saya mengerti kok kenapa william mpe nelan ludah tu.hik3.dasar laki2!!!!. (jadi ingat margio yg begitu dingin tu kak, sama sekali tdk ada pesona shodancho, palagi kamerad kliwon, atau bahkan pun maman gendeng tetep menyiratkan pesona kok.he3. kakak terlalu dingin tauk, jahat ma margio!!!!tp saya belum selesai membacanya kak,he3).kapan cerpen kita sekuat itu kak?.tu dari cerpen kan?.saya suka bangt adegan terakhirnya: teater besar yg dipersembahkan 2 legenda untuk william.seperti teaternya nolan kan kak.he3.oh ya, mnurut kakak sbg penulis, si penulis cerpennya tu pertama ketemunya tu apa dulu ya kak?.kalau tokohnya, ben wade dulu?.atau dan?.bgm menuju penemuan sejarah kepincangannya Dan dan ketmu latar psikologis ben wade mengenai hubungan orang tua-anak yg pedih itu: membaca alkitab selama 3 hari di stasiun tanpa mengerti bahwa ibunya telah meniggalkannya.
kok toiletnya jongkok????….huuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhh …tak bilangin ben wade dah!!!suruh dia buatin toilrt duduk buat kak ratih!! kasihan kan.kalau hamil gimana coba????????? !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! huhhhhhhhhhhhhhhhhh……
maksud saya dengan CARA MEMBACA tu bukan membaca dalam arti HARFIAH kak!!!!!!tapi membaca sebagai penulis; sebagai cara mengambil seluruh daya kreatif dari apa2 yg dibaca. begetoooooooooooooooooooooooo. he3.
kak, nonton ya kak.pleaseee….ne saya nyari ulasannya leila chudori kok gak ada ya.cuma dia yg bisa drpercaya.he3.coba ja kak google, ngaco dah tu ulasan2nya.emang sih cuma sinopsis2, tapi tetep ja kliatan cara nontonnya yg ngaco.leila is the best.coba besok di perpus kampus, dia buat ulasan gak ya di tempo tentang yuma?.saya nunggu no country for old man, yg dibilang leila sebagai film yg gaungnya akan senantiasa abadi di dada kita.
oh ya tentang jilbab: saya PERCAYA(sengaja saya pakai kapital llho.karena ne soal percaya gak percaya kan, yg bisa dikorek lagi lebih panjang dan lebar knapa saya percaya ini kan.he3.) tu wajib bagi yang merasa cantik(kalau gak pake jilbab berarti gak percaya kalau dirinya mampu membangkitkan pretensi secual pada laki2.he3).
kak, dah ntn belom?.kok tentang menulis gak ditanggepin?.
lagi sibuk sekali ya kak?.aduhhhhhh…kok gak ditanggepin kak?
huhhhhhhhhhhhhhhhhh……..saya jadi keliatan SKSD (sok akrab sok dekat)!!!!huh huh huh.bikin mangkel aja.awas novel ketiganya buruk ya!!!!!!saya pembaca the catcher in the rye lho!!!!!huh!huh!huh!huh!
Mas, kayanya ga usahlah bicarain seputar permasalahan agama (jilbab bukan tradisi, tapi emag kewajiban). kalo belom ada ilmunya, jadi keliatan begonya mas.
jangan sok demokrasi-demokrasian, plural-pluralan, HAM-HAMan, itu semua juga masih kontradiksi mas.
dalam Islam jilbab itu wajib, ya udah jangan diganggu keyakinan orang itu. katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang.
itu aja sih yang ingin saya omongin. udahlah, mas eka nulis yang mas eka ngerti aja. saya suka kok tlisan2 mas eka.
Menulis perspekstif kita thd hal2 yang prinsipil seperti agama misalnya, memang siap2 ‘dicubit’ ama orang yg merasa lebih ‘mengerti’.
Aku sempet di ‘gerudug’ juga waktu nulis di blog tentang Ahmadiyah.
Soal jilbab, pernah baca tulisannya Nong Darol Mahmada..? Silahkan baca di portalnya JIL dengan kata kunci “Nong Darol”. Tapi kayaknya portal JIL lagi diperbaiki.
Salam..
[...] Komentar tukangtidur di posting Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi (Saya pindah ke dapan barangkali ada yang tertarik [...]
tertarik dg obrolan sastra