30  October  2005

Novel dan Psikologi


Foto oleh chaosinjune, Some rights reserved.

Lelaki tua itu sudah genap delapan puluh empat hari tak memperoleh ikan. Kita tahu itu merupakan pembukaan kisah Lelaki Tua dan Laut Ernest Hemingway. Kita juga tahu lelaki tua itu kemudian membuktikan dirinya masih nelayan yang boleh diperhitungkan. Setelah berhari-hari melaut, ia akhirnya berhasil mengalahkan seekor ikan marlin besar.

Novel itu sering dirujuk sebagai novel eksistensialis paling berhasil. Pembuktian bahwa manusia mampu mengalahkan alam. Saya tak akan memperdebatkan hal itu. “Mereka mengalahkanku, Manolin,” kata lelaki tua itu. “Mereka benar-benar mengalahkanku.” Akhir dari kisah itu sesungguhnya tak hanya bahwa si lelaki mengalahkan marlin besar.

Marlin itu sepanjang jalan pulang digerogoti ikan-ikan hiu. Akhir cerita sesungguhnya adalah: nampak sebujur tulang punggung yang putih panjang dan besar yang berujung ekor yang lebar yang terangkat dan bergoyang oleh air pasang …

Dengan kata lain, ia tetap membawa kerangka ikan itu ke pantai. Ia ingin memamerkan kepada orang-orang apa yang telah dibuktikannya. Dengan kata lain, ini sesungguhnya kisah tentang psikologi manusia. Sebuah novel psikologi. Saya selalu berpikir bahwa setiap novel, yang berarti kisah tentang manusia, selalu merupakan kisah mengenai psikologi manusia.

Novel-novel yang berhasil adalah novel yang selalu gigih menemukan cara menggambarkannya. Novel yang buruk tak menggambarkan apa pun, bahkan meskipun psikologi menjadi subyeknya. Tapi bagaimana sesuatu yang bersemayam jauh di dalam diri manusia, sesuatu yang barangkali abstrak, bisa diungkapkan?

Dalam filsafat, psikoanalisa merupakan aliran psikologi yang dengan cara analisa bawah sadar mencoba mengeluarkan yang di dalam itu menjadi sesuatu yang terdefinisikan dan terjelaskan. Di dalam sastra, kehendak mengeluarkan yang di dalam melahirkan begitu banyak aliran pengungkapan, yang pada akhirnya juga cara pandang terhadap hidup ini sendiri.

***

Pada masa-masa tertentu, monolog interior pernah menjadi suatu trend dalam mengungkapkan bagian dalam manusia. Pikiran, hasrat, lanturan. Kita tahu bahwa kegilaan, atau penyimpangan dari sudut pandang psikologi kebanyakan, juga buah dari pikiran, hasrat dan lanturan ini, yang bentuk dasarnya selalu bersifat nomena.

Ini kategori Kant untuk menyebut hal yang adanya di dalam segala sesuatu, tak terindera. Apa yang kita ketahui mengenai psikologi seseorang, saya pikir selalu bersifat fenomena. Sesuatu yang kita tahu dari penampakannya. Misalnya, kita tahu seseorang dianggap gila karena berkeliaran di jalanan dengan pakaian lusuh, nyaris telanjang, bicara dan tertawa sendiri.

Para penulis cenderung tak merasa puas dengan gambaran umum semacam itu. Selalu ada keinginan untuk masuk ke dalam dan mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk pembaca. Demikianlah monolog interior berarti membiarkan orang gila bicara tentang kegilaannya.

Tentu saja kasus psikologi tak melulu kegilaan. Orang waras pun, jika di dunia ini ada orang yang betul-betul waras, tentu memiliki masalah psikologinya sendiri, dan jika ia mengungkapkan itu dengan bahasanya sendiri, kita menamakannya monolog interior.

Dalam hal ini, Milan Kundera, dalam Seni Novel percaya psikologi dalam novel lahir lebih belakangan. Ia menunjukkan bahwa dalam novel-novel awal Eropa, psikologi tidak muncul. Yang ada adalah aksi dan petualangan. Kemudian muncul penulis seperti Richardson yang mencoba menulis novel mengenai kehidupan “dalam” manusia.

Penerus-penerusnya yang paling berhasil bisa disebut: Goethe, Proust sampai Joyce.

Aku orang sakit … aku seorang yang terkutuk. Lelaki yang tak menarik. Hatiku sakit. Sebenarnya, aku tak tahu apa-apa mengenai sakitku, dan tak yakin apa yang menyebabkan sakit.

Itu merupakan bagian pembuka yang cukup populer dari Catatan dari Bawah Tanah Fyodor Dostoyevsky. Si tokoh yang “sakit” mengungkapkan bagian dalam dirinya sendiri. Itu merupakan monolog interior. Meskipun selalu ada kesan ia bicara kepada seseorang yang lain, katakanlah pembaca, sesungguhnya ia sedang bicara kepada dirinya sendiri.

Bagian akhir dari Ulysses James Joyce merupakan monolog interior yang menggambarkan dunia “dalam” pikiran Bloom, si tokoh, untuk menyebut contoh lain. Monolog interior menjadi sangat populer, terutama dalam novel-novel psikologis, dimana plotnya memang mengikuti apa yang biasa kita sebut sebagai arus-kesadaran.

Cerita tidak digambarkan melalui aksi dan petualangan secara fisik, tetapi justru apa yang bermain di “dalam”. Tapi pertanyaan pokoknya adalah, apakah dengan membiarkan si sakit bicara mengenai sakitnya sendiri, penulis sungguh-sungguh berhasil mengeluarkan apa yang ada di “dalam”?

Benarkah nomena berhasil dikuak? Benarkah bagian dalam itu bisa ditangkap? “Tidak pernah,” kata Milan Kundera.

***

Pages: 1 2

Merayakan Pembacaan Lelaki Harimau (Review #2)

Komentarmu