Identitas Film Asia
(Sebuah Kasus: Akira Kurosawa)
Foto oleh: Darren Hester, Some rights reserved.
Majalah Time Asia, salah satunya memilih Akira Kurosawa sebagai bagian dari daftar “60 Years of Asian Hero”. Pertama-tama, tentu saja yang dimaksud adalah tokoh-tokoh Asia, berdarah Asia. Dalam daftar ini, juga terdapat animator ulung Jepang Hayao Miyajaki (sutradara Spirit Away), serta aktor Cina, Gong Li. Artikel mengenai Kurosawa di majalah itu dibuka dengan kalimat pembuka bahwa selama ini dunia tak mengenal kebudayaan Jepang selain beberapa patah kata serupa “harakiri” atau “sayonara”, hingga sebuah film Jepang memenangkan hadiah tertinggi di Festival Film Vanice: Rashomon karya Akira Kurosawa.
Dari ungkapan itu seperti jelas bahwa Rashomon dan Akira Kurosawa merupakan representasi kulutural Jepang, bahkan mungkin Asia.
Dalam kasus Akira Kurosawa, hal ini pasti problematik. Sepanjang karir filmnya, Kurosawa pada dasarnya sangat terpengaruh oleh kultur Eropa (dan sebaliknya, ia memberi pengaruh yang cukup besar ke perfilman Barat lainnya, Hollywood, termasuk kepada sutradara semacam Steven Spielberg atau George Lukas). Kita bisa melihat beberapa filmnya bahkan merupakan adaptasi dari karya-karya agung Eropa. Ran, merupakan adaptasi atas drama Shakespeare, King Lear, demikian pula film Throne of Blood merupakan adaptasi dari Machbet, dan The Bad Sleep Well dari Hamlet.
Itu belum seberapa. Masih ada daftar lain. The Idiot diadaptasi dari novel Fyodor Dostoyevski dengan judul yang sama. The Lower Depth diangkat dari drama karya Maxim Gorki. Ikiru berdasarkan novelet Leo Tolstoy, The Death of Ivan Illych. Dari sini sendiri jelas bahwa ia sebenarnya “sangat barat”, meskipun harus diakui ia juga berbeda dengan sineas barat pada umumnya. Dalam film-filmnya, kita juga melihat adaptasi bentuk-bentuk yang identik dengan Jepang: teater Kabuki maupun Noh.
Problema ini akan sama kita hadapi ketika kita membayangkan mengenai identitas film Asia. Tentu saja seraca umum kita bisa mengasumsikannya sebagai film yang diproduksi di atau oleh orang Asia. Memang benar, ada kecenderungan dalam film-film Asia, yang membedakannya dari film di luar wilayah tersebut. Sebagaimana kita tahu, negara-negara Asia, berbagi pengaruh kultural dan sejarah satu sama lain, dan tentu saja akan berimbas ke film. Sebagai contoh, kultur Asia Tenggara memiliki hubungan erat dengan Asia Selatan (India), sementara Asia Timur banyak dipengaruhi kebudayaan Cina. Cina dan India sendiri berbagi pengaruh, misalnya dalam tradisi Hinduisme dan Budhaisme mereka.
Dalam kacamata Eropa maupun Amerika, istilah Asia (dan karena itu juga Film Asia), lebih tidak sederhana lagi. Mereka bisanya memakai istilah Asia (dan Film Asia) untuk Asia Selatan dan Asia Timur. Asia Barat, dalam kacamata mereka, lebih familiar disebut sebagai Timur Tengah. Nah? Jadi seperti apakah film Asia? Tentu ini juga akan mewakili kompleksitas kultural di wilayah ini.
Saya pikir, identitas bukanlah suatu definisi yang stabil. Kata itu lebih mewakili suatu kata kerja, atau karya. Ia tidak bisa dipegang. Bahkan untuk film-film Akira Kurosawa sendiri, kita tak akan pernah bisa memperoleh satu pemaknaan tunggal mengenai identitasnya, bukan? Ketika sutradara kenamaan John Ford berkomentar bahwa Akira Kurosawa seperti hujan, ia (Kurosawa) menjawab, “Anda sungguh memperhatikan film saya.” Barangkali tak hanya hujan, ia bisa beridentitas apa pun.
mas, eka boleh minta tolong ga…aku mau tanya tentang proses pengiriman cerpen ke koran. maksudnya bagaimana sih cara pembayaran honornya? apakah kita mencantumkan nomor rekening bank kita di email? terima kasih sebelumnya.
Kapan sich sejarah animasi di asia dimulai? trus boleh minta infonya lebih lengkap