Obituari untuk Bapak

Hari ini, ayah saya meninggal. Guru-guru saya sering memanggilnya Pak Sanusi. Tetangga lebih terbiasa memanggilnya Pak Uci. Ia lahir empat belas hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Meninggal 23 Juli 2009. 63 tahun menjelang 64. Ia pasti suka sekali, sebab itu juga umur Rasulullah ketika meninggal.

Sebelum sakit, ia pengkhotbah Jumat di sebuah masjid. Kadang-kadang ia menuliskan khotbahnya di sebuah majalah berbahasa Sunda. Dulu ia menyewakan komik dan novel silat. Ia pernah menjadi guru Bahasa Inggris. Ia membuat t-shirt. Ia membuat batik. Tentu saja ia juga mahir menjahit. Ia pernah pula bertani jamur. Jamur merang dan jamur kuping.

Tentu kenangan saya atasnya jauh melebihi apa yang saya tulis di sini. Tapi barangkali suatu hari saya menulis lebih banyak. Ijinkan saya meminta maaf kepada siapa pun yang mengenalnya, jika ada kesalahannya sewaktu hidup. Dan terima kasih untuk yang telah menyampaikan belasungkawa serta doa untuknya. Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak lelaki, tiga anak perempuan, dan seorang cucu perempuan. Selamat jalan.

Selamat Jalan, Alex


Foto oleh: kevindooley, Some rights reserved.

Sebenarnya hari ini saya ingin menulis catatan jalan-jalan ke Lampung dua hari kemarin (30 April-1Mei 2008) bersama Joko Pinurbo dan Binhad Nurrohmat (serta istri saya). Tapi mendadak kemarin, di jalan pulang ke Jakarta, Binhad memberi tahu saya: Alex sudah meninggal. Waktu itu saya belum tahu, Alex mana yang dimaksudnya. Saya punya beberapa teman bernama Alex. Setelah dijelaskan Binhad, baru saya tahu, yang dimaksud adalah penjaga kedai “Warung Alex” tempat kami biasanya nongkrong di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Kalau saya membuat janji dengan seseorang untuk bertemu di TIM, saya pasti akan meminta bertemu di “Warung Alex”. Sebenarnya itu bukan nama sebenarnya, dan teman-teman saya yang baru pertama kali ke TIM suka kecele mencari papan nama “Warung Alex” dan dijamin tak akan pernah menemukannya. Nama warung itu yang sebenarnya adalah “Cipta Rasa”.
Baca selengkapnya …

Augustin Sibarani: Seorang yang Melukis Potret


Lukisan karya Augustin Sibarani

Ia melukis siapa saja, dari Soeharto sampai Osama bin Laden, dengan pendekatan realis maupun karikatural. Dia seorang karikaturis yang disebut – Benedict ROG Anderson, ahli Indonesia asal Universitas Cornell, Amerika, sebagai yang terbesar di negeri ini. Beberapa bulan lalu, satu hari di bulan April 2001, Augustin Sibarani tampak penuh semangat bicara kepada siapa saja tentang rencana penerbitan buku karikaturnya yang pertama, setelah bertahun-tahun tak mempublikasikan buku. Waktu itu dia bahkan membawa beberapa lembar coretannya, dibuat dengan kombinasi drawing pen dan cat air.

Satu di antaranya bergambar empat politisi kelas atas Indonesia: Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Akbar Tanjung, dan Amin Rais tengah mengelilingi meja bermain kartu. Ia mencorat-coret permukaan karikaturnya dengan tip-ex, terutama menghapus bagian-bagian teks yang terasa terlampau verbal, sebab media sekarang tak menyukai gaya semacam itu.
Baca selengkapnya …

Bon Voyage, Mr. President


Foto oleh Chaval Brasil, Some rights reserved.

“Sebagaimana sering kita baca di novel dan komik,” katanya, “Penjahat besar yang keji, bengis, kotor dan bau neraka memang susah dikalahkan dan sulit mati.”
- “Peter Pan” (Gelak Sedih, 2005/Corat-coret di Toilet, 2000)

Judul di atas saya kutip dari satu cerpennya Gabriel Garcia Marquez, “Bon Voyage, Mr. President” (Strange Pilgrims), saya ucapkan untuk mengiringi kepergian mantan presiden kita, Soeharto, hari ini (27 Januari 2008 siang). Jujur saja saya terlambat mengetahuinya. Seharian saya duduk di samping televisi, tapi tak memerhatikan apa pun, sampai kemudian saya turun dan pergi ke warung makan jam empat sore. Di warung televisi sedang menayangkan kabar mengenai “tujuh hari berkabung nasional.”

Kalau kemudian saya merasa sore itu agak murung, yah, itu karena saya selalu merasa murung mendengar seseorang yang meninggal. Mengenai kemarian Soeharto, jujur saja saya tidak sedih, juga tidak bahagia. Rasanya agak mati rasa. Dua minggu sebelumnya, ketika sang mantan presiden masuk rumah sakit dan tampaknya “parah”, saya bergumam pada diri sendiri, “Sekarang, ia bakal pergi.” Saya menunggui televisi selama beberapa hari, membaca koran dengan rajin, untuk mengetahui perkembangannya. Ternyata tak semudah itu buatnya pergi. Saya mulai bosan, dan itulah alasannya kenapa saya tak memerhatikan televisi sampai sore.
Baca selengkapnya …

Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.

poetry3-355
Foto oleh J. Salmoral, Some rights reserved.

Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.”
Baca selengkapnya …

Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu


Foto oleh: Star Dust, Some rights reserved.

“Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam.” Demikian tulis Pramoedya dalam novelnya yang paling mengesankan, Bukan Pasarmalam. Ada daya hidup dalam tekanan kalimat seperti itu, namun sekaligus rasa tak berdaya. Demikian pula kesan ketika mendengar namanya, terutama dua hari terakhir ketika stasiun televisi menayangkan sang Maestro berbaring di ranjang Rumah Sakit St. Carolus dalam keadaan koma.
Baca selengkapnya …

Hidup untuk Berkisah


Foto oleh NTLam, Some rights reserved.
 

Ibu memintaku pergi bersamanya untuk menjual rumah. Ia datang pagi itu dari sebuah kota di mana keluarga kami tinggal, dan tak tahu bagaimana menemukanku. Ia bertanya pada beberapa kenalan dan diberitahu untuk mencariku ke Libreria Mundo, atau di kafe-kafe sekitar, tempat aku ke sana dua kali sehari untuk ngobrol dengan teman-teman penulis. Seseorang yang memberitahunya mewanti-wanti: “Hati-hati, sebab mereka semua tak punya otak.” Ia datang tepat pukul dua belas. Dengan langkah ringannya ia berjalan di antara meja tempat buku dipajang, berhenti di depanku memandang ke mataku dengan senyum nakal masa-masa bahagianya, dan sebelum aku bisa menanggapi ia berkata:

“Aku ibumu.”

Itulah bagian pembuka buku teranyar Gabriel Garcia Marquez, terbit dalam edisi Inggris sebagai Living to Tell the Tale yang diterjemahkan oleh penerjemah utamanya Edith Grossman (selain Gregory Rabassa yang menerjemahkan Cien anos de soledad sebagai One Hundred Years of Solitude) dari edisi Spanyol Vivir para contarla, November 2003 sepanjang hampir 500 halaman. Sejak tahun 1999, Gabito, demikian ia biasa disapa, menderita kanker limpa dan menarik diri dari kehidupan publik selepas membeli sebuah perusahaan surat kabar di negaranya, Kolombia, serta aktif dalam menjembatani negosiasi di antara pemerintah dan kaum gerilyawan yang mencarut-marut negeri tersebut dalam perang saudara berkepanjangan. Bersama isterinya, ia menyepi di Mexico City, tempat ia banyak tinggal, dan memutuskan untuk menulis memoar dalam bentuk trilogi. Living to Tell the Tale merupakan yang pertama, dan barangkali merupakan yang paling dinanti dunia sastra, berbagi bersama buku anyar peraih Nobel lainnya yang terbit hampir bersamaan, semacam Love karya Toni Morrison.
Baca selengkapnya …