Writer’s Block, Bagian 1: Jalan Belukar
+ Writer’s Block Bagian 2: Lubang Cacing
Dalam memoarnya, A Movable Feast, Ernest Hemingway menyinggung soal writer’s block dengan mengenang apa yang biasa ia lakukan jika penyakit itu datang. Ia biasanya berdiri dan memandang atap-atap bangunan kota Paris sambil berpikir, “Jangan cemas. Kamu selalu menulis sebelumnya, dan kamu akan menulis sekarang. Yang harus kamu lakukan hanyalah menulis satu kalimat yang sebenarnya, dan terus menulis dari sana.”
Dulu saya tak percaya dengan yang namanya writer’s block. Maklumlah, sebagai seorang penulis pemula, saya sedang semangat-semangatnya menulis. Saya menulis dari pagi hingga malam. Segala hal bisa menjadi bahan tulisan. Seandainya di satu titik seorang penulis terbentur dinding dimana ia tak bisa lagi menulis, saya percaya itu ada penjelasannya. Dan penjelasan itu pastinya tak ada hubungannya dengan tulis-menulis.
Baca selengkapnya …
Bersihar Lubis dan Interogator yang Dungu
Mas Bambang Bujono (mantan Pemimpin Redaksi majalah D&R), biasanya ia dipanggil kebanyakan rekannya dengan panggilan Mas Bambu, mengingatkan hari ini Bersihar Lubis akan divonis oleh Pengadilan Negeri Depok. Ini perkara terbaru menyangkut kebebasan menulis. Lebih jelasnya, Bersihar Lubis dikriminalkan oleh kejaksaan hanya karena ia menulis! Selamat datang di rezim anti tulisan, selamat datang di negeri yang tidak intelek!
Semuanya berawal dari kolom Bersihar Lubis di Koran Tempo, 17 Maret 2007 berjudul “Kisah Interogator yang Dungu” (website Koran Tempo butuh password untuk bisa membaca artikel tersebut).
Baca selengkapnya …
Proses Kreatif: Penulis sebagai si Juru Masak
Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?
Dalam proses kreatif saya sebagai penulis, saya belajar banyak dari para juru masak (dan bukan kebetulan jika saya pernah menulis sebuah cerita pendek mengenai juru masak terkenal abad kesembilan belas, berjudul “Kutukan Dapur”, dalam Cinta tak Ada Mati). Seperti para juru masak, saya selalu berusaha memperoleh bahan-bahan terbaik (segar dan bergizi) untuk setiap tulisan.
Kecuali singkong yang dibakar di ladang, kita tahu sebagian besar makanan yang kita makan merupakan olahan dari berbagai bahan. Ada buah kol, kentang, wortel, dan ceker ayam dalam sup yang dibikin ibu saya setiap kali saya pulang (sebab itu makanan favorit saya). Demikian pula dalam sebuah tulisan, kita bisa menemukan pengalaman hidup penulis, peradaban suatu zaman, atau mungkin analisa mengenai arsitektur sebuah kota.
Baca selengkapnya …
Dari Mana Datangnya Cerita?
Adalah seorang putri bernama Syahrazad yang menyerahkan dirinya untuk dinikahi sang raja lalim bernama Syahrial. Sang putri melakukan itu untuk menghindari kurban lebih banyak, sebab sang raja selalu membunuh pengantinnya selepas melewati malam pertama. Tapi dengan cara apa Syahrazad sendiri menyelamatkan nyawanya? Jawabannya: dengan bercerita. Setiap malam, Syahrazad menceritakan sederet kisah yang akan digantung ketika fajar menjelang. Sang raja akhirnya tak pernah memenggal kepada sang putri, sebab ia selalu ingin mendengar lanjutan kisah yang diceritakan Syahrazad, begitu pula besok paginya, dan besoknya, dan besoknya. Sekarang kita menyebut dongeng tersebut sebagai Kisah Seribu Satu Malam.
Baca selengkapnya …
