<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Penulisan</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/category/penulisan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Beberapa Tesis Tentang Judul Novel</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 18:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Judul]]></category>
		<category><![CDATA[Knut Hamsun]]></category>
		<category><![CDATA[Milan Kundera]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[William Faulkner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3111</guid>
		<description><![CDATA[Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-08/hnCrzlufivdBjtBonfHkFJksrcfHJaGxybkhfDphzxzcECxJwzpqErkCavwa/buku.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Buku" height="338" src="http://getfile3.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-08/hnCrzlufivdBjtBonfHkFJksrcfHJaGxybkhfDphzxzcECxJwzpqErkCavwa/buku.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis &#8220;brand&#8221;, di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa &#8220;Warung Ice&#8221; tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.</p>
<p>Judul yang asyik memiliki karakter filosofis, puitis, kiasan, tapi juga deskriptif mengenai isi novel, serta mengakomodir tujuan praktis: memancing rasa ingin tahu pembaca. Judul paling asyik yang pernah saya baca, ditulis oleh Milan Kundera: <em>The Unbearable Lightness of Being</em>. Saya pikir judul tersebut merepresentasikan hal yang telah saya maksud di atas.</p>
<p><span id="more-3111"></span></p>
<p>Dari karya ke karya, para penulis biasanya bergerak di tema-tema yang saling berkaitan. Bisa dikatakan, ada tema besar yang menjadi minat penulis, dan nyaris selalu terulang di karya-karyanya. Pola ini juga bisa terlihat dari cara mereka memilih judul. Judul-judul karya Milan Kundera, dekat dengan tema &#8220;lelucon&#8221;: <em>The Joke</em>, <em>The Book of Laughter and Forgetting</em>, <em>Laughable Loves</em>; Gunter Grass dekat dengan judul-judul berbau fabel: <em>Dog Years</em>, <em>Cat and Mouse</em>, <em>From the Diary of a Snail</em>, <em>The Flounder</em>; Haruki Murakamid dekat dengan judul-judul berbau kebudayaan barat: <em>Norwegian Wood</em>&nbsp;(dari lagu The Beatless), <em>Kafka on the Shore</em>&nbsp;(dari nama penulis Ceko berbahasa Jerman, Franz Kafka), <em>1Q84</em>&nbsp;(dari judul novel George Orwell, <em>1984</em>), <em>Sputnik Sweetheart</em>&nbsp;(dari nama pesawat luar angkasa Rusia).</p>
<p>Ada judul-judul yang diambil dari nama/julukan tokohnya: <em>Anna Karenina</em>&nbsp;(Tolstoy), <em>The Idiot&nbsp;</em>(Dostoyevski), <em>Madame Bovary</em>&nbsp;(Gustave Flaubert), <em>Gadis Pantai</em>&nbsp;(Pramoedya Ananta Toer). Saya pikir, untuk menjadikannya judul, tokoh-tokoh itu mesti berkarakter kuat, dan tentu saja demikian menonjol di novel tersebut, dan barangkali novel itu memang tentang si tokoh. Perkecualian, tentu harus merupakan hasil pemikiran yang matang. Misalnya, saya pikir, novel <em>Bumi Manusia</em>&nbsp;akan menjadi aneh jika diberi judul &#8220;Minke&#8221; atau &#8220;Nyai Ontosoroh&#8221;. Meskipun karakter mereka kuat di sana, tapi novel itu tidak spesifik tentang salah satu di antara mereka.</p>
<p>Judul juga bisa tidak berhubungan langsung dengan karya yang diberi judul. Ia bisa merupakan upaya mengaitkannya dengan karya atau referensi lain. Knut Hamsun menulis novel <em>Pan</em>, tidak bercerita tentang Pan &#8212; dewi cinta dalam mitologi Skandinavia, tapi memang bercerita tentang cinta. William Faulkner menulis novel <em>Absalom, Absalom</em>, tentu dengan maksud untuk mereferensi ke kisah Al-Kitab mengenai Absalom. James Joyce menulis <em>Ulysses</em>, mau tak mau kita juga mereferensikannya ke kisah Ulysses dalam mitologi Yunani.</p>
<p>Tesis-tesis tentang judul novel ini, saya pikir bisa juga diterapkan untuk judul jenis-jenis karya lainnya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Karakter</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 13:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Dostoyevski]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Kafka]]></category>
		<category><![CDATA[Kazuo Koike]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3002</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana menciptakan karakter yang tak hanya "memorable", tapi juga terasa nyata?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-17/GxJubrwHpgCrkCjaqxjhFlexkxzExmnAeJHdyadqxjuCzbDhJhElAmokbyqo/crowd.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Crowd" height="353" src="http://getfile2.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-17/GxJubrwHpgCrkCjaqxjhFlexkxzExmnAeJHdyadqxjuCzbDhJhElAmokbyqo/crowd.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya selalu mengingat resep dari Kazuo Koike, komikus Jepang yang terkenal dengan manga <em>Lone Wolf and Cub</em> mengenai keberhasilannya menulis komik: &ldquo;Character that stands out.&rdquo; Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam <em>Bumi Manusia</em> (Pramoedya Ananta Toer), Mishkin dalam <em>The Idiot</em> (Dostoyevski), Kakek dalam &ldquo;Robohnya Surau Kami&rdquo; (A.A. Navis), atau Gregor Samsa dalam &ldquo;The Metaporphosis&rdquo; (Franz Kafka), seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali.</p>
<p>Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya &ldquo;memorable&rdquo;, tapi juga terasa nyata?</p>
<p><span id="more-3002"></span></p>
<p>Mari kita membayangkan hamparan rumput yang luas berwarna hijau merata. Tiba-tiba di tengah hamparan itu, tumbuh bunga lantana berwarna kuning cemerlang. Siapa pun, pasti akan segera melihat bunga itu. Demikian pula di keluasan langit yang biru cerah, tiba-tiba seekor elang terbang sendirian, perlahan-lahan. Hitam kelam. Dengan mudah elang tersebut menjadi fokus perhatian.</p>
<p>Itu merupakan teknik paling mudah untuk membuat sesuatu menjadi fokus perhatian. Kita bisa melakukan teknik yang sama untuk karakter rekaan kita dalam sebuah cerita: buat karakter yang demikian berbeda di tengah karakter-karakter lain yang relatif sama. Bahkan meskipun kita memiliki bunga lantana kuning, bunga mawar merah, bunga melati putih, jika mereka semua diletakkan dengan jarak tertentu di hamparan hijau, lantana, mawar dan melati akan tampak secara bersama-sama.</p>
<p>Demikianlah, di tengah masyarakat yang takut pada kekuasaan kolonial dan berpasrah diri pada tradisi adat, Pramoedya memunculkan tokoh Minke dan Ontosoroh. Di tengah keluarga yang menjalani hidup biasa-biasa, cenderung parasit, Kafka menciptakan tokoh Samsa yang bekerja keras, depresi, hingga berubah menjadi kecoa. Di tengah masyarakat yang hipokrit dan para penjilat, tokoh Mishkin ciptaan Dostoyevski yang lurus, lugu, apa adanya, menjadi begitu menonjol.</p>
<p>Sekarang bayangkan jika Mishkin dalam <em>The Idiot</em> itu hidup di antara tokoh-tokoh yang juga lurus, apa adanya, jujur, tanpa pamrih? Percayalah, tokoh Mishkin itu tak hanya tak akan nampak, tetapi juga di tengah tokoh-tokoh yang seragam semacam itu, kemungkinan akan muncul konflik sangatlah kecil. Dan jika tak ada konflik, maka tak akan ada cerita, bukan?</p>
<p>Tapi bukankah pada dasarnya setiap karakter itu unik? Berbeda antara satu dan yang lainnya? Di kehidupan nyata itu benar. Tapi benar juga bahwa kadang-kadang perbedaan pribadi satu dan yang lainnya, begitu tipis jika dilihat sepintas lalu. Bukankah dalam novel atau cerita pendek, tak mungkin kita menyelam dalam ke pribadi semua tokoh. Sebagian besar tokoh barangkali hanya figuran, yang dilihat sepintas lalu. Coba perhatikan di dalam kehidupan sehari-hari. Siang hari, sepulang sekolah, perhatikan anak-anak sekolah keluar dari kelas. Dengan seragam yang sama, tingkah yang sama, tertawa yang sama, mereka tampak memiliki kepribadian yang sama satu sama lain. Hanya jika kita mengenal mereka satu per satu, akan tampak perbedaannya. Dan semakin kita mengenal, semakin nyata perbedaan-perbedaan itu.</p>
<p>Di sinilah sebagai penulis, kita harus memilih siapa-siapa di antara karakter kita yang harus menonjol dan siapa-siapa yang hanya akan berlalu sepintas saja.</p>
<p>Tapi menonjol saja tentu saja tidak cukup. Menonjol, jika tak menimbulkan kesan yang mendalam, barangkali akan segera dilupakan juga. Tugas selanjutnya, tentu saja menciptakan tokoh yang masuk akal bagi pembaca, sebab tanpa itu, semenonjol apa pun, hanya akan lewat sepintas saja di mata pembaca. Seperti apakah tokoh yang masuk akal? Bagi saya jawabannya sederhana: yakni tokoh yang memang layak berada di setting cerita yang tengah dibuat. Ibaratnya, jangan pergi ke pesta dengan salah kostum. Orang dengan salah kostum, barangkali akan menonjol di pesta. Tapi jikapun ia dikenang, pasti dikenang karena kekonyolannya. Jangan sampai karaktermu terasa salah berada di ceritamu.</p>
<p>Hal paling mudah bagi pembaca untuk mengenali karakter rekaanmu, adalah melalui namanya. Dan melalui nama ini pula, sebenarnya kamu mulai menciptakan karakter dari tokohmu. Meskipun novel dan cerpen pada dasarnya cerita rekaan, tapi pembaca selalu memiliki referensi ke kehidupan nyata. Maka mau tidak mau, memberikan nama-nama kepada tokohmu, seringkali harus mengikuti konvensi di kehidupan yang sesungguhnya, jika tak ingin terlihat aneh.</p>
<p>Apakah ada nama yang akan terasa aneh diletakkan begitu saja? Banyak. Misalnya, jika kamu menciptakan tokoh pendeta Kristen atau rabi Yahudi, tapi bernama Muhammad. Itu pasti aneh, jika kamu tak membangun logika yang benar di ceritamu. Orang Batak bernama Sutejo, bagi orang asing mungkin tidak aneh, tapi bagi orang Jawa dan Batak, pasti butuh penjelasan. Pada nama, pada dasarnya sering terdapat latar-belakang banyak hal. Melalui nama kita sering bisa menebak latar belakangnya, baik agama maupun kultur. Sebab nama seringkali memang bersifat sosial.</p>
<p>Dengan teknik penamaan yang benar, kita seringkali tak perlu memberi penjelasan yang bertele-tele. Kita tak perlu mengatakan bahwa salah sati karakter kita adalah seorang dari suku Tonghoa. Cukup beri saja ia nama &ldquo;Tan Liong&rdquo;, dengan sendirinya pembaca membuat asumsi, tokoh itu orang Tionghoa. Selain untuk identitas sosial, penamaan juga bisa membangun dan memperkuat karakter pribadi. Ingat sejarah penamaan nama &ldquo;Minke&rdquo; di novel <em>Bumi Manusia</em>? Dari nama itu saja, pada dasarnya kita sudah menangkap tema besar dari novel tersebut.</p>
<p>Penulis seringkali mencopot nama begitu saja dari buku telepon, atau meminjam dari nama teman, atau bahkan mencari dari buku &ldquo;Nama-nama untuk Bayi Anda&rdquo;. Itu hal yang lumrah. Saya sendiri sering melakukannya, dan saya yakin penulis-penulis mapan juga sering melakukannya. Tapi di luar praktek lumrah itu, sering-seringlah bertanya, &ldquo;kenapa saya pilih nama ini untuk karakter ini&rdquo;? Apakah pemberian nama ini efektif untuk memperkuat karakternya? Jangan sampai pemilihan nama hanya sekadar enak didengar dan bagus untuk ditulis, tapi tak memberi nilai tambah bagi pembangunan karakter tokohmu.</p>
<p>Gabriel Garcia Marquez pernah mengatakan, pemilihan nama tokoh baginya merupakan salah satu cara menyalurkan &ldquo;obsesi puitis&rdquo;. Puitis bukan semata-mata enak didengar, bukan? Tapi juga mestinya mengandung makna yang dalam. Coba baca novel <em>Beloved</em>&nbsp;Toni Morrison, dan bertanya kenapa dan apa makna nama &ldquo;Beloved&rdquo; di novel itu? Tentu saja tak semua nama harus berurat-akar mendalam, tapi setidaknya ia harus tepat dilekatkan ke satu karakter.</p>
<p>Tugas terakhir, dan tampaknya inilah yang paling sulit: mengawal perkembangan karakter hingga ia tetap masuk akal dalam bangunan logika cerita.</p>
<p>Kita tahu cerita dibangun oleh konflik/permasalahan. Konflik atau permasalahan inilah yang menjalankan satu peristiwa digiring ke peristiwa lainnya, sehingga membentuk satu alur cerita. Tanpa permasalahan, tulisan kita hanya akan menjadi laporan peristiwa demi peristiwa saja.</p>
<p>Bagaimana permasalahan ini bisa mendorong satu peristiwa ke peristiwa lainnya? Jawabannya sederhana: karena ada reaksi dari tokoh-tokoh yang terlibat (langsung maupun tidak langsung) atas permasalahan tersebut. Reaksi tokoh-tokoh inilah yang pada akhirnya menghasilkan tindakan-tindakan dari mereka, dan tindakan-tindakan ini kemudian membangun peristiwa baru.</p>
<p>Nah, bagaimana setiap tokoh bereaksi terhadap permasalahan, ini akan sangat tergantung kepada karekter yang kita ciptakan kepada setiap tokoh. Jika permasalahan di ceritamu adalah perceraian rumah tangga, tentu reaksi sederhana saja akan terlihat berbeda antara: ayah, ibu, anak pertama, anak kedua, pembantu rumah tangga, kakek, nenek. Itu baru kategori-kategori sederhana. Reaksi tentu akan lebih beragam jika ayah yang bercerai itu antara lelaki saleh dan lelaki jahat, misalnya. Ibu yang berkarir dan ibu rumah tangga, tentu juga akan menghasilkan reaksi yang berbeda. Anak dengan keterbelakangan mental dengan anak pecandu narkoba, pasti reaksi atas perceraian orang tua juga beda.</p>
<p>Di tingkat semacam inilah, banyak novel menjadi terasa kering dan tak berkesan, karena kegagalan penulis menciptakan karakter yang masuk akal ketika memberikan respon kepada permasalahan. Padahal ini merupakan reaksi pertama.</p>
<p>Seperti dalam kehidupan, jika ada aksi maka akan ada reaksi. Setiap reaksi tokoh, akan memperoleh balasan reaksi tokoh lain. Sikap aksi-reaksi ini di satu sisi bisa menciptakan konflik baru (yang akan membaca cerita ke tingkat permasalahan lebih tinggi), tapi bisa juga menghasilkan resolusi-resolusi, dan negosiasi-negosiasi. Di titik ini, sangat mungkin satu atau beberapa atau semua karakter berubah. Bolehkah karakter tidak berubah? Tentu saja boleh dengan risiko: jika semua tak berubah, kemungkinan besar konflik tak terselesaikan. Itu mirip di kebanyakan film kartun. Tom dan Jerry selamanya bermusuhan dan karakter mereka nyaris tak berubah. Maka perkelahian mereka memang tak pernah menghasilkan resolusi apa pun. Tapi karakter mereka memang jelas bukan: keras kepala.</p>
<p>Tapi tak semua karakter keras kepala seperti itu bukan?</p>
<p>Nah untuk karakter-karakter yang berubah, di sini juga harus hati-hati. Apa yang membuat karakter berubah? Bagaimana caranya ia berubah? Ke arah mana ia berubah dan kenapa begitu? Kenapa orang pelit dan rakus itu tiba-tiba baik? Harus jelas, apakah ia baik karena memang insyaf atau tak lebih sedang melakukan tipuan baru? Dan bagaimana reaksinya ketika menghadapi masalah baru?</p>
<p>Tampaknya memang tugas yang sulit. Tapi dengan sering belajar kepada novel-novel yang berhasil, dan bagi saya terutama belajar dari kehidupan yang nyata, ini tahapan yang akhirnya akan terjadi tanpa hambatan. Keterampilan menulis pada akhirnya sama saja dengan keterampilan yang lain: semakin sering melakukannya, kemungkinan bekerja lebih baik juga semakin tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gabriel Garcia Marquez: Kalimat Pertama Merupakan Laboratorium</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kalimat-pertama-itu-laboratorium-2545.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kalimat-pertama-itu-laboratorium-2545.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2011 07:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Gabriel Garcia Marquez]]></category>
		<category><![CDATA[Plinio Apuleyo Mendoza]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/gabriel-garcia-marquez-kalimat-pertama-merupakan-laboratorium-2545.php</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang tentu bertanya-tanya, seperti apa proses kreatif di balik penulisan novel-novel besar semacam "One Hundred Years of Solitude" dan "Love in the Time of Cholera"? Sepanjang yang saya tahu, Gabriel Garcia Marquez sang penulis belum pernah menerbitkan sejenis buku "proses kreatif penulisan"-nya. Pikiran-pikirannya tentang itu lebih banyak berserak di berbagai buku (misal, di memoarnya "Living to Tell the Tale") atau wawancara-wawancaranya di media. Salah satu yang menarik, adalah wawancara dengan yuniornya, Plinio Apuleyo Mendoza, yang kemudian dibukukan dengan judul "The Fragrance of Guava".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang tentu bertanya-tanya, seperti apa proses kreatif di balik penulisan novel-novel besar semacam &#8220;One Hundred Years of Solitude&#8221; dan &#8220;Love in the Time of Cholera&#8221;? Sepanjang yang saya tahu, Gabriel Garcia Marquez sang penulis belum pernah menerbitkan sejenis buku &#8220;proses kreatif penulisan&#8221;-nya. Pikiran-pikirannya tentang itu lebih banyak berserak di berbagai buku (misal, di memoarnya &#8220;Living to Tell the Tale&#8221;) atau wawancara-wawancaranya di media. Salah satu yang menarik, adalah wawancara dengan yuniornya, Plinio Apuleyo Mendoza, yang kemudian dibukukan dengan judul &#8220;The Fragrance of Guava&#8221;.</p>
<p>Saya ingin berbagi pandangan-pandangan Marquez tentang penulisan di buku itu. Tentu saja percakapan di buku ini meliputi berbagai aspek kehidupan Marquez. Ia bicara mengenai asal-usul dan keluarganya, yang tentu saja jauh lebih lengkap jika kita membaca memoarnya; bicara tentang pandangan-pandangan politiknya, tentang perempuan, tentang tahayul, dan tentang ketenaran. Tapi saya ingin mengambil satu aspek yang penting untuk kita: mengenai proses kreatif penulisannya.<br />
<span id="more-2545"></span>
</p>
<p>Salah satu pertanyaan yang diajukan kepadanya, dan barangkali juga membuat kita penasaran adalah: apakah ia sering tertekan melihat halaman kosong? Marquez bilang, seperti kebanyakan penulis, ia sering tertekan melihat halaman kosong. Tapi ia mulai berhenti mencemaskan hal itu ketika membaca beberapa nasihat dari Hemingway. Hemingway bilang, kamu seharusnya berhenti menulis ketika kamu tahu apa yang akan ditulis keesokan harinya.</p>
<p>Setiap penulis senantiasa memiliki hal-hal tertentu dimana ia memperoleh gagasan, atau hal dimana ia mengawali gagasan penulisannya. Dalam hal Marquez, ia mengaku titik pijaknya adalah citra visual. Gambar. Ia menulis cerpen (menurutnya yang terbaik) &#8220;Tuesday Siesta&#8221; karena melihat seorang perempuan dan gadis muda berpakaian hitam membawa payung berjalan melintasi kota yang sepi di bawah matahari terik. Di novel &#8220;Leaf Storm&#8221;, itu karena ia melihat seorang kakek membawa cucunya ke pemakaman. Di &#8220;Nobody Writes to the Colonel&#8221;, itu berawal dari melihat seorang lelaki menunggu makan siang di pasar, di Barranquilla.</p>
<p>Dan &#8220;One Hundred Years of Solitude&#8221;?</p>
<p>&#8220;Saya melihat seorang lelaki tua membawa seorang anak untuk melihat es di pertunjukan sirkus.&#8221;</p>
<p>Begitulah, bagaimana peristiwa-peristiwa sehari-hari di depan mata, menjadi citra visual yang selanjutnya menjadi pemicu cerpen-cerpen dan novel-novel Marquez.</p>
<p>Dalam kepenulisannya, Marquez mengaku sangat memperhatikan kalimat pertama. Ia bahkan mengaku, seringkali menulis kalimat pertama lebih lama daripada menulis keseluruhan novel. &#8220;Sebab,&#8221; katanya, &#8220;Kalimat pertama bisa menjadi laboratorium untuk mengetes gaya, struktur dan bahkan panjangnya novel.&#8221;</p>
<p>Dengan cara seperti itulah, ia salah satu penulis yang memiliki kalimat pembuka novel yang indah. Perhatikan kalimat pertama dari &#8220;One Hundred Years of Solitude&#8221;: &#8220;Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi sederet regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia teringat sore yang jauh itu ketika ayahnya membawa dia untuk melihat es.&#8221; Dari satu kalimat itu saja, struktur dan desain novel ini sudah terlihat. Itu novel yang berpusat (bisa dikatakan begitu) pada Kolonel Aureliano Buendia. Tapi ketika nongol kata &#8220;ayah&#8221;, itu juga menyiratkan ini kisah tentang keluarga. Tentang generasi sebelum dan setelahnya. Ketika disebut &#8220;sederet regu tembak&#8221;, kita sudah terbawa pada aroma perang. Ketika disebut &#8220;menemukan es&#8221;, kita diajak bicara tentang magisme, tentang penemuan-penemuan, tentang mimpi-mimpi. Kalimat pembuka yang dahsyat, bukan?</p>
<p>Novel itu ditulis selama sekitar dua tahun. Tapi ia konon memikirkannya sudah selama lima belas atau enam belas tahun, sebelum mulai duduk menghadapi mesin tik. Novelnya yang lain, &#8220;Chronicle of a Death Foretold&#8221;, menghabiskan waktu tiga belas tahun. Kenapa begitu lama? Novel ini tentang pembunuhan seorang pemuda yang sungguh kejadian di sekitar rumah keluarganya, tahun 1951. Awalnya ia ingin menuliskannya sebagai artikel koran, tapi genre tersebut belum berkembang di Kolombia saat itu. Apalagi ia bekerja di koran lokal yang tak bakalan tertarik urusan seperti itu. Ia mulai memikirkannya sebagai karya sastra beberapa waktu kemudian, tapi ragu membayangkan ibunya akan kesal membaca nama-nama tetangga dan keluarganya ditulis oleh anaknya. Baru beberapa tahun kemudian ia menemukan satu formula, dimana ia memperkenalkan seorang narator yang bebas bergerak ke sana-kemari (bagaikan melakukan reportase), narator yang pada dasarnya tak terlibat dalam cerita. Untuk pertama kali ia memakai narator orang pertama di novel. Saat itulah ia menemukan satu formula yang nyaris dilupakan para penulis: formula terbaik sastra selalu merupakan kejadian sesungguhnya. Dan ia menambahkan: ia tak pernah tertarik dengan gagasan yang tak bisa bertahan lama. Barangkali itulah rahasianya. Novel sebaik &#8220;One Hundred Years of Solitude&#8221; gagasannya bisa bertahan lima belas tahun sebelum dituliskan; &#8220;The Autumn of Patriach&#8221; selama tiga belas tahun, sebagaimana &#8220;Chronicle of a Death Foretold&#8221;.</p>
<p>Apakah ia memiliki buku catatan untuk mencatat gagasan?</p>
<p>&#8220;Tidak. Kecuali untuk menulis cepat. Dari pengalaman, jika membuat catatan, kita lebih sering memikirkan tentang catatan itu daripada memikirkan tentang buku yang harus ditulis.&#8221;</p>
<p>Sekali lagi, wawancara di buku ini meliputi banyak aspek kehidupan Marquez. Tapi saya hanya mengutip beberapa bagian mengenai proses penulisannya saja. Semoga ulasan ringkas ini berguna, dan selamat menulis.</p>
<h3>Rujukan</h3>
<p>Gabriel Garcia Marquez &#038; Plino Apuleyo Mendoza, 1988, <em>The Fragrance of Guava, Conversations with Gabriel Garcia Marquez by Plino Apuleyo Mendoza</em>, Faber and Faber Limited, London.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kalimat-pertama-itu-laboratorium-2545.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Novel Itu Seperti Seks</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-itu-seperti-seks-2465.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-itu-seperti-seks-2465.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 07:59:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-itu-seperti-seks-2465.php</guid>
		<description><![CDATA[Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini umum saja: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Banyak lagu pop memakai pola ini, tapi baiklah, yang saya dengarkan adalah "Bad Day" yang dinyanyikan Daniel Powter. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika ini orgasme, kita tahu kita ingin menahannya dulu. Ingin mengulur waktu. Agar ia meledak lebih keras. Begitulah kenapa lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Pola berikutnya kita sudah merasakan orgasme ini, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta barangkali akan lelah. Ia memerlukan "bridge". Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu "outro", saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Dan saya pikir, ini juga bisa berlaku dalam penulisan novel ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="ekavatar" src="http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ekavatar.gif">Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini umum saja: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Banyak lagu pop memakai pola ini, tapi baiklah, yang saya dengarkan adalah &#8220;Bad Day&#8221; yang dinyanyikan Daniel Powter. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika ini orgasme, kita tahu kita ingin menahannya dulu. Ingin mengulur waktu. Agar ia meledak lebih keras. Begitulah kenapa lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Pola berikutnya kita sudah merasakan orgasme ini, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta barangkali akan lelah. Ia memerlukan &#8220;bridge&#8221;. Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu &#8220;outro&#8221;, saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Dan saya pikir, ini juga bisa berlaku dalam penulisan novel &#8230; <br />
<span id="more-2465"></span><br />
<br />Baiklah, mari kita bayangkan penulis novel yang buruk. Penulis novel yang buruk pasti sama dengan pecinta yang buruk. Jika klimaks adalah orgasme, barangkali kita tak pernah memperoleh orgasme. Barangkali orgasme keceplosan di tempat yang salah. Demikian pula penulis novel amatir akan sama dengan pecinta amatir. Pola-nya barangkali sesederhana A-B-C. Buka celana-orgasme-ngorok.
<p /> Saya bayangkan, novel yang baik minimal seperti percintaan dengan pola A-A-B-A-B-C-A-B-D semacam lagu di atas. Sekali lagi, dalam musik pola bait ini rasa-rasanya sangat umum di musik pop. Bahkan bisa dibilang &#8220;default&#8221;. Hampir semua lagu serupa itu. Tentu saja pencipta lagu-lagu yang jenius, bisa mengacak-acak pola ini lebih gila. Lebih panjang, barangkali. Lebih tak terduga. Tapi mari bayangkan musik yang umum saja. Sebagaimana para pecinta, saya pikir lebih banyak yang memakai pola umum juga. Yang &#8220;standar&#8221;. Jadi, itulah kenapa saya bilang &#8220;minimal&#8221;.
<p /> Baiklah, saya akan coba membayangkan novel dengan pola seperti itu. Kita akan membuka dengan pola A: ada masalah yang menggemaskan di antara tokoh-tokoh novel, demikian novel dibuka. Hingga tiba-tiba ada tokoh lain yang akan membuka kedok-kedok permasalahan itu. Di sini kita tahan dulu. Pola A diulang kembali: kedatangan tokoh baru itu malah menambah permasalahan semakin menggemaskan. Kita semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya salah satu tokoh merasa harus membuka kedok. Ledakkan. Kita masuk pola B: ketika satu kedok dibuka, kedok-kedok tokoh lain mulai terbuka. Motivasi-motivasi mereka terbuka. Mereka saling gasak, saling sikut. Tapi tentu saja cerita belum selesai.
<p /> Karena kedok-kedok itu sudah kebuka, muncul masalah baru. Pola A kembali. Konflik mereka semakin menggemaskan. Tapi jangan ditahan terlalu lama. Nanti membosankan. Satu tokoh tak tahan menghadapi masalah di antara mereka. Ia mengambil pistol dan menembak kepalanya. Meledak. Pola B. Tokoh yang lain mulai saling menyalahkan. Saling membuka borok. Saling cabik. Mereka semua terkapar berdarah-darah.
<p /> Di sini kita perlu &#8220;bridge&#8221;. Pola C. Kita perlu menurunkan tempo. Kita barangkali flashback untuk mencari tahu latar belakang masalah mereka sebenarnya. Mencari latar belakang tokoh-tokohnya. Biarkan pembaca mengambil napas. Biarkan pecinta saling bercanda, saling meraba untuk membangkitkan gairah kembali. Ketika badan sudah mulai hangat, ciuman mulai kembali bergelora. Masuk kembali ke pola A:
<p /> Dalam keadaan berdarah-darah, babak belur, mereka mulai mencari cara menyelesaikan persoalan di antara mereka. Tapi karena mereka punya cara pandang yang berbeda terhadap masalah, pencarian mereka malah menimbulkan perdebatan baru. Yang satu mengusulkan ini, yang lain mengusulkan itu. Tak ada jalan. Buntu. Hingga salah satu tokoh, sentral konflik, tahu bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Masuk klimaks terakhir. Pola B. Si tokoh berjalan ke tengah rel. Lokomotif menabraknya. Masalah dengan sendirinya selesai.
<p /> Tinggal tokoh-tokoh yang tersisa menangisi kepergiannya, atau menertawakannya. Outro. Pola D.
<p /> Tentu saja adakalanya kita tak perlu bercinta dengan pola &#8220;default&#8221; semacam itu. Adakalanya kita memang perlu bercinta dengan cepat. A-A-B. A-B-C-B. Banyak alasan untuk bercinta cepat. Mungkin kamu membayar pasanganmu di tempat pelacuran dan harus selesai dalam satu jam. Mungkin kamu ngebet ingin bercinta di bandara, dan melakukannya buru-buru di dalam toilet. Atau di dalm lift. Waktu hanyalah urusan kuantitas. Percintaan yang pendek bisa tetap berkualitas, tergantung bagaimana kamu memainkannya. Demikianlah banyak novel-novel pendek juga mampu menghadirkan kualitas adidaya: &#8220;The Old Man and the Sea&#8221; Hemingway. &#8220;As I Lay Dying&#8221; Faulkner. &#8220;Metamorphosis&#8221; Kafka.
<p /> Tapi bisa juga kita bercinta panjang. Multi-orgasme. Tujuh hari tujuh malam. Untuk yang ini, kita bisa melirik ke karya-karya &#8220;grandeur&#8221; macam &#8220;Anna Karenina&#8221; Tolstoy. &#8220;Don Quixote&#8221; Cervantes. &#8220;One Hundred Years of Solitude&#8221; Marquez. Atau bahkan &#8220;In Search of Lost Time&#8221; Proust.
<p /> Akhirnya, menulis novel kurang lebih seperti seks. Itu seni. Seni mengelola waktu, seni mengelola emosi, seni mengelola impuls. Seni untuk mengetahui kapan partner kita mulai hangat. Seni yang tidak hanya asal orgasme, kecuali ingin menjadi penulis novel yang memang asal orgasme.
<p /> Terakhir, maaf buat yang belum pernah melakukan seks, buat anak-anak di bawah umur, yang barangkali tak akan mengerti metafora ini. Juga maaf jika saya salah tentang musik di atas. Saya bukan ahli musik. Saya hanya penyuka musik dan lagu &#8220;Bad Day&#8221; salah satu lagu favorit saya. Bagaimanapun saya yakin akan lebih asyik jika tulisan ini dibaca sambil mendengarkan lagu itu. Dan semoga metafora ini tidak berlebihan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-itu-seperti-seks-2465.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Point Kenapa Saya Tak Sepakat dengan Vandalisme Terhadap Karya Sastra</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/kenapa-saya-tak-sepakat-dengan-vandalisme-karya-sastra-2442.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/kenapa-saya-tak-sepakat-dengan-vandalisme-karya-sastra-2442.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Jan 2011 00:36:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Huckleberry Finn]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Twain]]></category>
		<category><![CDATA[Sensor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-point-kenapa-saya-tak-sepakat-dengan-vandalisme-terhadap-karya-sastra-2442.php</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>"Amerika tak selalu hebat lho dalam hal kebebasan berpendapat." <br />Masalahnya bukan "kebebasan berpendapat", tapi "politically incorrectness". Bahkan di Pippi Longstocking-nya Astrid Lindgren istilah "negro" dan "gipsy" dihapus. Baca: <br /><a href="http://diepresse.com/home/panorama/integration/579386/Kein-Negerkoenig-mehr-b....">http://diepresse.com/home/panorama/integration/579386/Kein-Negerkoenig-mehr-b...</a> Maaf, dalam Bahasa Jerman. Tapi ringkasannya "Tidak ada istilah raja orang negro lagi dalam buku Pippi Longstocking. Penerbit menghapus istilah-istilah rasis yang digunakan dalam buku cerita anak-anak itu." Jaman berganti, pemikiran berubah (menjadi maju/luas). Kita tidak mau menggunakan istilah-istilah rasis, toh? Sama seperti istilah "pribumi" di Indonesia yang sekarang sudah dianggap "politically incorrect". Kebebasan pendapat boleh saja, tapi jangan menyakiti hati orang lain. <br />(Kutipan dari komentar Sumire atas posting saya tentang <a href="http://ekakurniawan.com/blog/huckleberry-finn-disensor-2439.php">penghilangan kata "Nigger" di satu edisi Huckleberry Finn</a>).</blockquote>  

Karena balasannya tidak ringkas, saya akan menanggapinya dalam satu posting saja. Ini beberapa point kenapa saya tak sepakat dengan vandalisme karya sastra.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<blockquote>&#8220;Amerika tak selalu hebat lho dalam hal kebebasan berpendapat.&#8221; <br />Masalahnya bukan &#8220;kebebasan berpendapat&#8221;, tapi &#8220;politically incorrectness&#8221;. Bahkan di Pippi Longstocking-nya Astrid Lindgren istilah &#8220;negro&#8221; dan &#8220;gipsy&#8221; dihapus. Baca: <br /><a href="http://diepresse.com/home/panorama/integration/579386/Kein-Negerkoenig-mehr-b....">http://diepresse.com/home/panorama/integration/579386/Kein-Negerkoenig-mehr-b&#8230;</a> Maaf, dalam Bahasa Jerman. Tapi ringkasannya &#8220;Tidak ada istilah raja orang negro lagi dalam buku Pippi Longstocking. Penerbit menghapus istilah-istilah rasis yang digunakan dalam buku cerita anak-anak itu.&#8221; Jaman berganti, pemikiran berubah (menjadi maju/luas). Kita tidak mau menggunakan istilah-istilah rasis, toh? Sama seperti istilah &#8220;pribumi&#8221; di Indonesia yang sekarang sudah dianggap &#8220;politically incorrect&#8221;. Kebebasan pendapat boleh saja, tapi jangan menyakiti hati orang lain. <br />(Kutipan dari komentar Sumire atas posting saya tentang <a href="http://ekakurniawan.com/blog/huckleberry-finn-disensor-2439.php">penghilangan kata &#8220;Nigger&#8221; di satu edisi Huckleberry Finn</a>).</p></blockquote>
<p><img class="ekavatar" src="http://ekakurniawan.com/wordpress/wp-content/uploads/ekavatar.gif">Karena balasannya tidak ringkas, saya akan menanggapinya dalam satu posting saja. Ini beberapa point kenapa saya tak sepakat dengan vandalisme karya sastra.</p>
<p><span id="more-2442"></span><br />
Satu, masalah rasisme ada di pikiran kita, bukan di kata-kata itu. Jika kita ingin menghapus rasisme, perbaiki pikiran kita, jangan menjagal kata. Kata-kata, sebagaimana tanda-tanda, mungkin punya sejarah buruk. Tapi sekali lagi, pikiran kita yang membuatnya buruk, bukan? Contoh kasus adalah lambang swastika. Itu merupakan lambang suci. Hanya karena Nazi pernah memakainya sebagai lambang, maka pikiran kita menjadikan swastika sebagai hal buruk.</p>
<p>Dua: &#8220;Huck Finn&#8221; merupakan novel tentang perbudakan di Amerika. Jelas sekali itu tentang rasisme. Dan akan nonsens (persis seperti satu komentar di artikel BBC) kalau tidak ada &#8220;bahasa rasis&#8221;. Bagaimana kita tahu bahwa itu tentang rasisme jika dokumentasi sosial mengenai hal itu di novel tersebut malah dijagal? Ini ibarat kita bikin statemen bahwa: &#8220;Istilah Nigger merupakan istillah untuk menghina&#8221; lalu kita menghapus kata &#8220;Nigger&#8221; di kalimat tadi: kalimat tersebut jadi nonsens hanya karena kita menyalahkan sebuah kata, dan bukan menyalahkan pikiran kita.</p>
<p>Tiga. Ya betul, zaman berubah. Kita ingin politically correct. Kita tak ingin menghina orang lain. Tapi apa yang perlu diubah? Kata-kata dalam karya sastra? Itu seperti buruk muka cermin dibelah. Jika kita ingin politically correct, pikiran kitalah yang harus diubah. Kita bisa menghadapi istilah &#8220;Nigger&#8221; tanpa maksud melakukan penghinaan, seperti kita menggunakan istilah-istilah &#8220;China&#8221;, &#8220;Mosque&#8221;, tanpa pikiran buruk di balik istilah itu. Atau jangan-jangan kita harus menghapus kosakata &#8220;China&#8221; dan &#8220;Mosque&#8221; itu pula di seluruh karya sastra? Atau jangan-jangan banyak kata juga harus diganti karena mungkin suatu ketika kata-kata itu menjadi buruk? Ini absurd. Bisa-bisa separuh isi kamus hilang hanya karena kita punya pikiran buruk atas kata-kata tertentu.</p>
<p>Empat: penulis punya hak untuk mengganti satu kata dengan kata lain. Ganti kata &#8220;kontol&#8221; dengan &#8220;penis&#8221;; ganti kata &#8220;ngewe&#8221; dengan &#8220;bersetubuh&#8221;; sebagaimana orang Amerika mengganti &#8220;Nigger&#8221; menjadi &#8220;slave&#8221; atau &#8220;kulit hitam&#8221; atau &#8220;Afro-Amerika&#8221;. Kita tahu kata-kata itu toh mengacu pada pengertian yang tetap sama. Perbedaan hanya ada di pikiran kita: kata pertama barangkali tabu diucapkan, kata kedua terdengar lebih halus. Masalahnya, jika penggantian itu dilakukan oleh orang lain, itu adalah vandalisme. Di sinilah konteks kita harus menghormati kebebasan orang (penulis).</p>
<p>Lima, bahkan jika seorang penulis atau sebuah karya memang rasis, apakah kita berhak mengganti-ganti kata di karya mereka? Tak semua penulis di muka bumi memiliki kesadaran ideologis yang sama. Sejarah pergaulan mereka dengan kata/bahasa juga berbeda-beda. Hanya karena kamu anggap salah, tidak mesti kamu harus melakukan vandalisme. Membaca Huck Finn yang penuh dengan kata &#8220;Nigger&#8221; tak membuat kamu rasis. Atau kalau kamu menganggap tindakan membaca buku itu rasis, hal sederhana: jangan baca buku itu. Atau kalau mau lebih serius: bawa ke pengadilan. Jangan salahkan sebuah kata.</p>
<p>Apalah artinya sebuah nama? &#8212; William Shakespeare.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/kenapa-saya-tak-sepakat-dengan-vandalisme-karya-sastra-2442.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Novel Bersama Mario Vargas Llosa</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-bersama-mario-vargas-llosa-2192.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-bersama-mario-vargas-llosa-2192.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 11:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[Letters to a Young Novelist]]></category>
		<category><![CDATA[Mario Vargas Llosa]]></category>
		<category><![CDATA[Nobel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-bersama-mario-vargas-llosa-2192.php</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 10 Desember 2010, Mario Vargas Llosa memperoleh anugerah Nobel Kesusastraan dari Akademi Swedia. Saya ingin berbagi bacaan saya atas bukunya, "Letters to a Young Novelist". Seperti terlihat dari judulnya, buku ini bicara tentang proses dan pikiran-pikirannya mengenai penulisan novel. Saya pikir, ini akan sangat berguna bagi siapa pun yang tertarik untuk menjadi penulis novel, muda maupun tua.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/lHnpgavUCL1a09eynGcgrawNYzHbs4lC9q1AuT8Z7p4ktdMioEF4FsRoRQac/vargas-llosa.jpg'><img src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Ytk3bPVaaTVyyrPZOdz0mT0JueKopCX0vZWURYqXlXWKSQDeVFIz0DDP1FJw/vargas-llosa.jpg.scaled.500.jpg" width="500" height="400"/></a> </p>
<p>Hari ini, 10 Desember 2010, Mario Vargas Llosa memperoleh anugerah Nobel Kesusastraan dari Akademi Swedia. Saya ingin berbagi bacaan saya atas bukunya, &#8220;Letters to a Young Novelist&#8221;. Seperti terlihat dari judulnya, buku ini bicara tentang proses dan pikiran-pikirannya mengenai penulisan novel. Saya pikir, ini akan sangat berguna bagi siapa pun yang tertarik untuk menjadi penulis novel, muda maupun tua.
<p /> Sebagaimana kebanyakan penulis lain, di masa awal karirnya, Llosa sangat ingin menulis surat kepada sastrawan-sastrawan besar yang dikaguminya: Faulkner, Hemingway, Malraux, Dos Passos, Camus, Sartre. Tentu saja ia ingin meminta nasihat: bagaimana sih menjadi seorang penulis? Ia tak pernah memiliki keberanian mengirimkan surat kepada mereka. Ia menyadari banyak penulis muda mengalami hal seperti dia. Maka ketika ada seseorang yang memiliki keberanian mengirim surat dengan pertanyaan semacam itu, Llosa dengan senang hati membalasnya. Buku ini merupakan isi dari surat-surat mengenai bagaimana menjadi penulis tersebut.
<p />
<p><span id="more-2192"></span></p>
<p /> Bagian pertama dibuka dengan surat berjudul &#8220;Parabel Cacing Pita&#8221;. Llosa mengingatkan siapa pun yang memutuskan untuk memasuki dunia kesusastraan, ia harus bersiap masuk ke dunia pelayanan, yang tak lebih dari perbudakan. Apa maksudnya? Ia bercerita tentang seorang perempuan Paris tahun 60an bernama Jose Maria. Perempuan ini, demi menjaga agar tubuhnya tetap langsing (karena ia menganggap tubuh langsing berarti cantik), ia memutuskan untuk memakan cacing pita. Cacing ini menyatu dengan tubuhnya, hidup dan berkembang biak. Jose Maria tetap makan dan minum (terutama susu), tapi itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk si cacing pita. Jose Maria bisa dianggap martir untuk kecantikan.
<p /> Kesusastraan tak lebih dari seekor cacing pita bagi seorang penulis. Penulis harus siap diperbudak olehnya. Ia menjalani hidup, membaca buku, menonton teater, berjam-jam mendiskusikan politik, film, teman. Untuk siapa? Bukan untuk dirinya, melainkan pada akhirnya untuk kesusastraan yang telah dipilihnya. Tetapi perbudakan ini, percayalah, merupakan perbudakan yang dihasilkan oleh kebebasan memilih. Keputusan untuk menjadi penulis haruslah merupakan keputusan dari kehendak bebas.
<p /> Surat kedua berjudul &#8220;Catoblepas&#8221;, dan menjawab pertanyaan pendek, &#8220;Darimana cerita datang?&#8221; dan &#8220;Bagaimana novelis memperoleh gagasan mereka?&#8221; Jawabannya sederhana: semua cerita berakar di kehidupan orang yang menuliskannya; pengalaman merupakan sumber aliran fiksi. Ini bukan berarti novel selalu merupakan biografi telanjang; yang sering terjadi, di setiap fiksi, bahkan yang sangat imajinatif, sangatlah sulit untuk menguak titik awalnya, titik rahasia yang terhubung ke pengalaman si penulis.
<p /> Menulis novel serupa pekerjaan penari striptis dengan arah yang berkebalikan. Penari striptis, perlahan-lahan menanggalkan pakaiannya, sampai akhirnya mempertontonkan ketelanjangannya di panggung. Penulis novel melakukannya dengan cara terbalik: ketelanjangan (pengalamannya/biografinya), perlahan-lahan dibungkus sedikit demi sedikit dalam balutan fiksi. Hingga hasil akhirnya (novel), mungkin orang tak lagi bisa melihat napas biografis di karya tersebut.
<p /> Penulis novel kurang-lebih seperti &#8220;catoblapes&#8221;. Itu binatang mistik yang memakan dirinya sendiri. Binatang ini muncul di karya Flaubert, &#8220;The Temptation of Saint Anthony&#8221; dan di karya Borges &#8220;Book of Imaginary Beings&#8221;. Kurang-lebih seperti itulah penulis: menguras cerita dari pengalaman hidupnya sendiri. Memakan dirinya sendiri, kalau perlu sampai habis.
<p /> Surat ketiga berjudul &#8220;Kekuatan Persuasi&#8221;. Ya, bagian ini mulai masuk ke permasalahan penulisan novel. Llosa mengingatlah, sangatlah sulit memisahkan isi dan bentuk novel, terutama di novel yang baik. Novel yang buruk, memang bisa tampak begitu terpisah, dan itulah mengapa novel itu buruk. Di novel yang baik, apa isi novel dan bagaimana (bentuk) cerita diceritakan, menjadi berkelindan. Mungkin jika kamu diberitahu bahwa &#8220;Metamorfosa&#8221; adalah cerita tentang pemuda aneh yang berubah jadi kecoa, kamu tak akan tertarik dan menganggap itu cerita aneh. Tapi karena kamu membacanya dengan cara &#8220;Kafka bercerita&#8221;, kamu tiba-tiba terhanyut oleh cerita itu. Di sinilah yang dimaksud Llosa bahwa isi dan bentuk di novel yang baik, tak terpisahkan. Di sinilah kemudian penulis harus memiliki apa yang disebut &#8220;kekuatan persusasi&#8221;.
<p /> Untuk melengkapi sebuah novel dengan &#8220;kekuatan persuasi&#8221;, sangat diperlukan kamu bercerita sehingga hampir semua pengalaman personal implisit di dalam plot dan karakternya, dan pada saat yang sama menyalurkan kepada pembaca ilusi otonomi dari kehidupan nyata yang didiaminya. Dengan kata lain, cerita di dalam novel harus bisa mandiri, otonom, bergerak dalam dunianya sendiri. Tentu saja &#8220;otonomi&#8221; ini hanya ilusi saja. Otonomi ini bagian dari fiksi juga. Dengan cara ini, sebuah novel yang baik, membuat pembaca &#8220;hidup di dalamnya&#8221;.
<p /> Menarik? Ya, pembahasan tentang penulisan novel dari Llosa ini sangat menarik. Inspiratif. Ia juga membuat perbandingan, dengan merujuk ke karya-karya penulis lain. Saya hanya akan mengutip tiga surat saja, dari seluruhnya berisi dua belas surat di buku ini. Saya tak hendak mengutip seluruhnya, karena barangkali itu hanya membuat kamu malas membaca bukunya. Ingat baik-baik, menjadi seorang penulis, kamu harus bersiap-siap memberi makan kepada kesusastraan di dalam dirimu. Jika salah satunya kamu merasa harus membaca buku Llosa ini, tentu saja saya sarankan membaca bukunya langsung, dan bukan sekadar kutipan sana-sini semacam tulisan saya ini.
<p /> Dan itulah memang maksud saya. Ini hanya sekadar makanan pembuka bagi kamu, siapa tahu berminat membaca buku ini, dan berminat menjadi penulis novel. Novel yang baik tentu saja, jika bukan novel yang hebat sekalian.
<p /></p>
<h3>Rujukan</h3>
<p>Mario Vargas Llosa, 2002, <em>Letters to a Young Novelist</em>, Diterjemahkan oleh Natasha Wimmer, Farrar Straus and Giroux, New York.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/menulis-novel-bersama-mario-vargas-llosa-2192.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proses Menulis Skripsi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/proses-menulis-skripsi-2120.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/proses-menulis-skripsi-2120.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 13:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=2120</guid>
		<description><![CDATA[Buat yang sedang kuliah dan hendak skripsi, saya hendak berbagi bagaimana saya (dulu) menulis skripsi. Awalnya tulisan ini saya tulis terpenggal-penggal di twitter, sebelum saya tulis ulang untuk blog. Mudah-mudahan bisa sedikit mencerahkan.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat yang sedang kuliah dan hendak skripsi, saya hendak berbagi bagaimana saya (dulu) menulis skripsi. Awalnya tulisan ini saya tulis terpenggal-penggal di twitter, sebelum saya tulis ulang untuk blog. Mudah-mudahan bisa sedikit mencerahkan.</p>
<p>Baiklah, studi kasusnya, tentu saja skripsi saya sendiri karena itulah yang saya ketahui. Skripsi saya sudah diterbitkan menjadi buku <em>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</em> (diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Aksara Indonesia, 1999; kemudian oleh Penerbit Jendela, 2002; terakhir oleh Gramedia Pustaka Utama, 2006).</p>
<p>Baiklah, kita mulai. Karena skripsi saya hendak membahas Pramoedya Ananta Toer, tentu saja pertama-tama saya harus membaca karya-karyanya. Waktu itu saya belum tahu karya mana yang akan saya pergunakan, yang penting saya baca semua.<br />
<span id="more-2120"></span><br />
Meskipun kita akan membahas satu novel (misalnya),saya sarankan untuk memperoleh gambaran utuh, kita harus membaca semua karangan penulis yang bersangkutan. Karya-karya Pramoedya tak hanya meliputi novel dan cerita pendek, tapi juga esai-esai dan wawancara-wawancara. Beberapa sudah terbit dalam bentuk buku, beberapa lain masih tercecer di koran-koran atau majalah/jurnal lama. Dari sana saya punya gambaran dunia kepenulisan Pramoedya.</p>
<p>Oya tentu saja saya juga perlu membaca dan mencari tahu riwayat hidupnya. Selengkap mungkin. Kalau perlu wawancara dengan obyek penelitian. Saya melakukan wawancara sekali dengan Pramoedya. Saya tanyakan hal-hal yang ingin saya ketahui, mengkonfirmasi yang saya masih ragu, meskipun toh pada akhirnya saya lebih memilih mempergunakan bahan tertulis daripada hasil wawancara tersebut.</p>
<p>Apakah membaca karya dan biografinya, sudah cukup untuk saya memetakan kepenulisan Pramoedya? Belum. Saya juga membaca tulisan-tulisan orang tentang Pramoedya. Buku maupun jurnal. Ini juga berguna sekiranya apa yang kelak akan saya tulis, ternyata sudah ditulis oleh orang lain. Saya pikir sangat penting kita menulis sesuatu yang belum ditulis orang lain. Paling tidak, meksipun obyek penelitian sama, sudut pandang kita bisa berbeda. Darimana saya tahu orang lain belum menuliskannya, jika saya tidak mencoba melacak apa saja yang sudah ditulis orang lain?</p>
<p>Masih ada dua hal lagi untuk saya melengkapi pemetaan kepenulisan Pramoedya: saya harus baca juga karya-karya penulis lain sezamannya. Saya percaya konteks eksternal juga barangkali membantu untuk memahami sesuatu. Meskipun tidak banyak saya pergunakan di hasil akhirnya, paling tidak bacaan saya atas Idrus, Chairil Anwar, Mochtar Loebis, memberi saya perspektif ketika menulis tentang Pramoedya.</p>
<p>Hal terakhir yang saya lakukan untuk pemetaan kepenulisan Pramoedya: Membaca juga karya-karya penulis yang mempengaruhinya: Gorky, Sorayan, Steinbeck dll. Sesuatu tidak datang dengan semena-mena. Selalu ada akar. Selalu ada sebab-musabab.</p>
<p>Baiklah, apa yang saya tulis di atas baru separuh jalan. Itu hanya untuk memetakan kepenulisan Pramoedya. Setengah jalan lain: karena saya mau mengulas soal filsafat &#8220;realisme sosialis&#8221; Pramoedya, tentu saya juga harus mencari tahu soal realisme sosialis. Bagaimana trik saya melacak hal-hal semacam ini?</p>
<p>Tentu saja, ketika saya mulai berminat pada tema ini, saya sudah punya dasar pengetahuan minimal tentang realisme sosialis. Saya pikir, pengetahuan minimal ini sangat perlu kita miliki sebelumnya. Tentu saja itu datang dari proses saya membaca, kuliah, jauh sebelum saya hendak menulis skripsi. Tentu saja pengetahuan minimal ini perlu dikembangkan. Dari mana awal mengembangkannya? Buku apa yang perlu dicari?</p>
<p>Saya punya trik: ambil ensiklopedia. Eksiklopedia selalu membantu menjadi titik berangkat. Di ensiklopedia (yang bagus) selalu ada rujukan buku apa yang perlu dibaca untuk memperoleh pembahasan lebih lengkap. Kita kejar buku-buku rujukan tersebut. Di buku-buku rujukan itu, jika selesai baca, tengok daftar pustakanya, lihat kembali buku-buku yang dipakai. Itu akan menjadi jejaring panjang, dan kita akan semakin tahu referensi-referensi apa yang perlu dibaca.</p>
<p>Di samping itu, tentu saja saya juga harus mencari tahu apa kata Pramoedya soal &#8220;realisme sosialis&#8221;. Tentu saja kalau saya tidak tahu Pramoedya pernah menulis soal ini, saya tak akan mengambil tema ini. Sekali lagi, kita memang harus punya bekal pengetahuan mengenai obyek yang akan diteliti. Selebihnya kita bisa mulai meriset.</p>
<p>Yang paling sulit dari penelitian saya: mencari akar filsafat realisme sosialis. Saya harus mundur ke belakang, mempelajari filsafat Kant, Hegel, Marx, Lucaks. Tentu saja karena saya mahasiswa Filsafat, saya tak terlalu asing dengan mereka. Tapi demi keperluan skripsi, dan dari penelusuran saya filsafat mereka merupakan akar dari realisme sosialis, saya harus kembali membaca karya mereka. Lebih teliti.</p>
<p>Dari penelusuran pula saya tahu realisme sosialis pernah menjadi &#8220;estetika resmi&#8221; di Uni Sovyet dan China. Saya mencari tahu bagaimana realisme sosialis diterapkan dalam kesusastraan Sovyet, lalu China. Referensinya lebih susah, karena saya tak tahu bahasa Rusia, apalagi China. Beruntung beberapa literatur dalam bahasa Inggris banyak mengulas soal itu. Kemudian, selepas itu saya cari tahu pula bagaimana realisme sosialis masuk ke kesusastraan Indonesia.</p>
<p>Karena realisme sosialis identik dengan Marxisme, saya juga merasa perlu mencari tahu perkembangan Marxisme/komunisme di Indonesia. Saya membaca sejarah ideologi ini, baik di lapangan politik, maupun kesenian/kesusastraan. Dari sini saya menemukan nama-nama seperti Semaun, Marco Kartodikromo, dll, para penulis pendahulu Pramoedya.</p>
<p>Setelah semua itu di tangan, baru saya cari realisme sosialis di karya-karya Pramoedya. Dengan kata lain, dua jalur penelitian saya (tentang Pramoedya dan tentang realisme sosialis), bertemu di bagian akhir. Bagian ini bukan lagi bagian penelusuran, tapi bagian membaca semua bahan-bahan itu, berkutat dengan catatan, stabilo, hipotesis-hipotesis, dan spekulasi-spekulasi.</p>
<p>Selesai. Dengan kesabaran dan kegairahan untuk berkarya, kita bisa menghasilkan skripsi yang paling tidak bisa mengantarkan kita lulus. Syukur-syukur bisa menghasilkan skripsi yang layak dibaca umum, sehingga diterbitkan kembali menjadi buku.</p>
<p>Jelas, kan? Intinya, menurut saya peta obyek penelitian dan peta permasalahan merupakan hal yang pokok harus diketahui. Tak cuma untuk skripsi, tapi untuk penelitian/tulisan apapun. Semoga membantu buat kamu yang sedang puyeng menghadapi layar kosong di semester akhir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/proses-menulis-skripsi-2120.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detail dan Trik Meyakinkan Pembaca</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/detail-dan-trik-meyakinkan-pembaca-1490.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/detail-dan-trik-meyakinkan-pembaca-1490.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 16:21:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/detail-dan-trik-meyakinkan-pembaca-1490.php</guid>
		<description><![CDATA[Dari pengalaman saya, menulis "567 orang kelaparan, 47 di antaranya balita" lebih meyakinkan daripada sekadar menulis: "Ratusan orang kelaparan."]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
The devil is in the details.
</p></blockquote>
<div class="text-isi">
Salah satu tugas penulis adalah meyakinkan pembaca. Persinggungan saya dengan bacaan (yang baik maupun buruk), serta usaha-usaha penulisan saya, mengajarkan saya trik-trik sederhana untuk meyakinkan pembaca. Salah satunya, bagaimana kita menghadapi detail, terutama menyangkut angka dan jumlah.</p>
<p>Mari kita langsung saja. Dari pengalaman saya, menulis &#8220;567 orang kelaparan, 47 di antaranya balita&#8221; lebih meyakinkan daripada sekadar menulis: &#8220;Ratusan orang kelaparan.&#8221; Kalimat pertama menyiratkan penulis sungguh-sungguh memegang data sehingga tahu persis jumlahnya, sementara kalimat kedua terkesan kita memperoleh data sekunder, atau bahkan sekadar kabar burung.<br />
<span id="more-1490"></span><br />
Tapi agak berbeda di sini: menulis &#8220;Saya berumur 27 tahun&#8221; lebih meyakinkan daripada &#8220;Saya berumur 26 tahun, 7 bulan, 4 hari.&#8221; Dari contoh ini, saya merasa detail tak selalu membantu untuk meyakinkan pembaca. Ada kesan berlebihan ketika kita menyebut umur yang terlalu detail. Dalam hal ini, detail yang moderat mungkin lebih meyakinkan dengan cara seperti ini: &#8220;Saya berumur 27 tahun pada Agustus yang akan datang.&#8221;</p>
<p>Demikian pula dalam contoh kasus seperti ini: menulis &#8220;Kami saling mengulum bibir lama sekali&#8221; bisa lebih meyakinkan daripada &#8220;Kami saling mengulum bibir 9 menit 7 detik.&#8221; Di contoh ini pun, kembali detail tidak berfungsi baik sebagai alat untuk meyakinkan. Dalam kasus ini, faktor kebiasaan kita umumnya menjadi penting. Sebagaimana umur, kita cenderung tak pernah menghitung berapa lama kita berciuman. Tapi kita mungkin menghitung berapa antrian di depan pintu dokter, sehingga lebih baik mengatakan &#8220;Ada dua puluh tujuh orang antri&#8221; daripada &#8220;Ada banyak orang antri.&#8221;</p>
<p>Dari pengalaman-pengalaman di atas, saya menyimpulkan, detail berfungsi baik untuk meyakinkan pembaca, sejauh itu bersifat paralel dengan kebiasaan umum dalam menangkap detail tersebut. Terutama jika menyangkut angka. Kita cenderung menghitung umur bayi dalam hitungan minggu atau bulan (&#8220;berumur 24 bulan,&#8221; misalnya), tapi menghitung umur orang dewasa dalam hitungan tahun (maka jangan sebut &#8220;berumur 351 bulan&#8221;).</p>
<p>Selain itu detail angka juga tak akan berfungsi untuk sesuatu yang sulit atau bahkan mustahil untuk diverifikasi. Misalnya, menulis &#8220;Kuburannya dinaungi jutaan bintang&#8221; tampak lebih meyakinkan daripada &#8220;Kuburannya dinaungi 52.688.634 bintang.&#8221; Lagi-lagi detail tidak berfungsi baik, sebab pembaca tahu sangatlah sulit untuk menghitung jumlah bintang dengan pasti. Sama seperti kenapa kita menghitung beras dengan ukuran kilogram atau liter, dan tidak dengan ukuran berapa juta butir.</p>
<p>Itu merupakan beberapa trik menyangkut angka yang kerap saya pergunakan, yang saya pelajari dari proses penulisan saya. Tentu saja trik-trik lain menyangkut angka atau jumlah bisa kita temukan bersama semakin seringnya kita berproses menulis. Intinya, saya percaya detail dan pengamatan yang jeli sangat penting dalam proses penulisan. Tapi penanganan kita atas detail itu pun, tentu saja juga sangat penting. Dengan kata lain: data penting, tapi cara menyajikannya juga penting. Atau analogi dalam memasak: bahan baku penting, tapi cara memasak yang salah bisa membuat makanan tidak enak.</p>
<p>Di luar urusan angka, tentu kita juga perlu mempelajari trik-trik lain. Sejauh pengamatan saya, misalnya, menulis &#8220;Kuda berkulit pink&#8221; lebih meyakinkan daripada &#8220;Kuda berwarna pink.&#8221; Tentu ada alasan-alasan tertentu di balik itu. Kita bisa menelaahnya. Tapi daripada terus menerus bergumul dengan contoh-contoh, dan bahkan teori-teori, jauh lebih baik kita mencobanya dalam praktek langsung di proses menulis. Menulis satu kalimat lalu kita uji, apakah kalimat itu sudah cukup meyakinkan? Jika belum, kita coba dengan kalimat lain.</p>
<p>Selamat mencoba dan selamat meyakinkan pembaca.
</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/detail-dan-trik-meyakinkan-pembaca-1490.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencuri dari Penulis Lain</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 11:23:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1486</guid>
		<description><![CDATA[Tapi tentu saja penulis yang keren adalah penulis yang berhasil mencuri sesuatu dari karya lain, tanpa seorang pun mengetahuinya bahwa itu curian! Dalam hal ini tampaknya saya belum mencapai hal seperti itu: pencurian saya terlalu gamblang, dan bahkan sangat gamblang saya perlihatkan. Ya, seperti Zorro, kadang-kadang ada penulis seperti saya yang ingin meninggalkan jejak "Z", seolah ingin mengatakan keras-keras: saya mencuri, lho!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Mediocre Writers Borrow; Great Writers Steal&#8221; &#8211; T.S. Eliot</p></blockquote>
<p>Mengacu pada kutipan T.S. Eliot di atas, saya pikir, saya masih jauh dari &#8220;great writer&#8221;, dan mungkin lebih tepat sebagai &#8220;mediocre writer&#8221;. Meskipun begitu, saya suka mencoba mencuri sesuatu dari penulis lain, untuk tulisan saya sendiri. Saya tidak tahu apakah usaha pencurian saya berhasil atau tidak, atau hanya sekadar &#8220;meminjam&#8221; sebagaimana penulis-penulis medioker: saya ingin berbagi bagaimana saya mencuri.</p>
<p>Pertama-tama, saya percaya sebagian besar penulis belajar dari penulis lain. Mereka membaca, dan mereka memuntahkannya kembali dalam bentuk tulisan lain. Apa dan bagaimana mereka mencurinya dari bacaan, mungkin itulah yang berbeda dari satu penulis dengan penulis lain.</p>
<p><span id="more-1486"></span></p>
<p>Saya ingin memulainya dari cerpen saya yang berjudul &#8220;Pengakuan Seorang Pemadat Indis.&#8221; Siapa pun pasti bisa melacak asal-usul cerpen tersebut berasal dari buku <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Confessions_of_an_English_Opium-Eater"><em>Confessions of an English Opium-Eater&#8221;</a></em> (1821) karya Thomas de Quincey. Baiklah, sebelum membaca buku tersebut, saya pernah membaca satu tulisan di majalah Granta (edisi 74, 2001) berjudul &#8220;Confessions of a Middle-Aged Ecstasy Eater&#8221;.</p>
<p>Artikel di Granta, ditulis dengan gaya memoar seorang pemadat ekstasi. Gayanya modern, tapi tentu terpengaruh gaya Quincey satu abad sebelumnya. Gara-gara baca artikel itu, saya akhirnya membaca buku Quincey tersebut, yang menceritakan tentang seorang pemadat Inggris abad 19. Sampai sejauh itu, saya belum terpikir untuk menulis cerpen, sampai saya membaca buku &#8220;Opium to Java&#8221;, sebuah buku sejarah mengenai perdagangan dan penggunaan opium di Jawa abad 19 karya James R. Rush.</p>
<p>Begitulah, tiba-tiba saya terpikir untuk menulis tentang pemadat Indis, abad 19, dengan gaya memoar serupa yang dilakukan Quincey. Tapi di sinilah kemudian saya mencoba membuat eksplorasi: meskipun sama-sama bersetting abad 19, Jawa tentu berbeda dengan Inggris. Saya mencoba membayangkan gaya bahasa seperti apa yang akan dilakukan pemadat Indis, juga ejaannya. Tentu saja untuk hal itu saya harus &#8220;mencuri&#8221;nya dari roman-roman yang terbit juga di abad 19.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah memoar pemadat Indis saya berhasil atau tidak. Gaya bahasa dan ejaannya, benar-benar pekerjaan nekat. Begitu juga mungkin referensi seejarahnya. Tapi sebagai penulis, kadang-kadang saya merasa memang perlu untuk nekat. Begitulah latar &#8220;Pengakuan Seorang Pemadat Indis&#8221; (bisa dibaca di buku <em>Cinta Tak Ada Mati</em>, Gramedia, 2005).</p>
<p>Baiklah, cerpen kedua yang akan saya bocorkan adalah &#8220;Cinta Tak Ada Mati&#8221;. Jika ada yang pernah membaca novel &#8220;Love in the Time of Cholera&#8221;, pasti akan melihat kesamaan tema cerpen saya dengan novel tersebut. Saya tak akan menyangkalnya: memang saya ambil dari novel itu. Jika novel Marquez tersebut menekankan mengenai &#8220;cinta yang abadi menunggu&#8221;, saya mencoba memodifikasinya sedikit: &#8220;cinta yang abadi menunggu, dan penolakan yang tak ada henti&#8221;.</p>
<p>Di novel &#8220;Love in the Time of Cholera&#8221;, Florentino Ariza harus menunggu sampai tua untuk memperoleh cinta Fermina Daza. Di akhir cerita, mereka akhirnya dipersatukan oleh cinta. Di cerpen saya, Mardio menunggu cinta Melatie, dan terus ditolak. Bahkan tetap ditolak sampai Melatie meninggal. &#8220;Kekuatan cinta&#8221; di novel Marquez diperlihatkan melalui penantian Florentino Ariza. Saya mencoba mengubahnya, dengan memperlihatkan &#8220;kekuatan cinta&#8221; itu justru terlihat ketika Mardio masih mencintai Melatie, meskipun Melatie sudah meninggal.</p>
<p>Tentu saja, cerita yang terentang dari masa mereka kecil hingga masa tua ini membutuhkan kerja keras. Saya harus memberikan setting yang berubah-ubah, dari masa pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, hingga masa 50 tahun kemudian, lengkap dengan film apa yang mereka tonton dan sebagainya. Dari sini saya memperoleh pelajaran ringan: menjadi pencuri pun tetap harus kerja keras, karena setting dan motif cerita pasti berbeda. Dan dengan cara itulah, kita menghasilkan karya yang berbeda dari karya yang awalnya kita coba mencurinya.</p>
<p>Bisa disimpulkan bahwa saya mencuri bagian tertentu dari karya-karya penulis lain, mencampurnya dengan hasil curian dari karya lain, memodifikasinya, serta menambah ornamen, elemen di bagian lainnya.</p>
<p>Saya ingin membuat perbandingan dengan karya yang (mudah-mudahan) dikenal banyak orang: Romeo dan Juliet. Jika saya hendak mencuri dari karya tersebut, saya akan memodifikasi bagian intinya, karena itu yang paling dikenal orang, sehingga kalau tidak dimodifikasi, maka akan menjadi tiruan yang tak mengasyikan. Apa inti dari kisah Romeo dan Juliet? Saya menyebutnya: &#8220;cinta yang terlarang&#8221;? Kenapa cinta mereka terlarang? Karena mereka berasal dari dua keluarga yang bermusuhan.</p>
<p>Saya membayangkan jika saya mencuri struktur Romeo dan Juliet, hal utama yang akan saya modifikasi adalah: &#8220;cinta terlarang&#8221;. Dengan apa? Bagaimana dengan &#8220;bisnis terlarang&#8221;? &#8220;perjalanan terlarang&#8221;? &#8220;mimpi terlarang&#8221;? Begitulah, menjadi pencuri pun, dalam kesusastraan, diperlukan untuk tetap bersikap kreatif. Menjadi pencuri, pada dasarnya melakukan pekerjaan kritik terhadap karya yang kita curi.</p>
<p>Sebagian besar cerpen saya di dua kumpulan (<em>Gelak Sedih</em> dan <em>Cinta Tak Ada Mati</em>) merupakan proyek pencurian saya atas karya-karya lain. Saya tak akan menceritakan semua proses cerita tersebut satu per satu (sila baca, dan sila coba cari jejak-jejaknya ke karya-karya lain), tapi saya akan menutup tulisan pendek ini dengan satu kasus lain: &#8220;Dongeng Sebelum Bercinta&#8221;.</p>
<p>Cerpen itu berkisah mengenai seorang perempuan yang mengulur-ulur waktu percintaan pertama dengan suaminya di malam pertama, dengan cara mendongeng. Ya, Anda dengan mudah bisa menebak dari mana asal-usul cerita tersebut: Syahrazad dan Hikayat Seribu Satu Malam. Bagaimana saya mencoba menjadikannya sebagai karya yang berbeda? Ah, itu juga gampang untuk menemukannya, bukan?</p>
<p>Tapi tentu saja penulis yang keren adalah penulis yang berhasil mencuri sesuatu dari karya lain, tanpa seorang pun mengetahuinya bahwa itu curian! Dalam hal ini tampaknya saya belum mencapai hal seperti itu: pencurian saya terlalu gamblang, dan bahkan sangat gamblang saya perlihatkan. Ya, seperti Zorro, kadang-kadang ada penulis seperti saya yang ingin meninggalkan jejak &#8220;Z&#8221;, seolah ingin mengatakan keras-keras: saya mencuri, lho!</p>
<p>Dan seperti Zorro, semoga hasil mencuri kita tidak sia-sia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/mencuri-dari-penulis-lain-1486.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Draft dan Memanfaatkan Teknologi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/mengelola-draft-dan-memanfaatkan-teknologi-1303.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/mengelola-draft-dan-memanfaatkan-teknologi-1303.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 20:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/mengelola-draft-dan-memanfaatkan-teknologi-2-1303.php</guid>
		<description><![CDATA[Padahal dalam kasus saya, tak ada cerita pendek, esai apalagi novel yang tidak diawali dengan draft pendek. Saya baru menulis dua novel, tapi untuk menulis dua novel itu, barangkali saya sudah menulis belasan atau puluhan draft novel. Draft itu bisa berupa catatan beberapa baris menyangkut ide, bisa juga novel utuh yang minta diperbaiki atau ditulis ulang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bukan seorang <em>gadget freak</em>, meskipun saya suka dengan teknologi dan perangkat yang bisa membantu pekerjaan saya. Sebagai seorang penulis, pada dasarnya saya bisa bekerja nyaris dengan apa saja. Saya biasa mencatat dengan tangan jika diperlukan, tapi jika ada teknologi yang mempermudah, tentu saja saya akan mempergunakannya.</p>
<p>Sudah hampir lima tahun saya mempergunakan laptop. Sudah dua kali ganti dengan merk yang berbeda. Saya memilih sebuah laptop daripada seperangkat desktop. Alasannya sederhana: saya sering bepergian. Selain menulis, kadang-kadang saya membuat desain dengan komputer itu. Meskipun begitu, pekerjaan utama laptop saya tetaplah sebuah mesin ketik. Sebab pekerjaan utama pemiliknya adalah penulis.</p>
<p><span id="more-1303"></span></p>
<p>Pada dasarnya, untuk keperluan menulis, laptop itu sangat cukup. Tapi belakangan saya menyadari, sebagai penulis, pekerjaan yang paling banyak saya lakukan justru bukanlah menulis karya, melainkan menulis draft-draft pendek. Laptop merupakan perangkat yang sangat memadai untuk menulis karya serupa cerpen, esai bahkan novel. Tapi menjadi berlebihan untuk menulis draft-draft pendek.</p>
<p>Padahal dalam kasus saya, tak ada cerita pendek, esai apalagi novel yang tidak diawali dengan draft pendek. Saya baru menulis dua novel, tapi untuk menulis dua novel itu, barangkali saya sudah menulis belasan atau puluhan draft novel. Draft itu bisa berupa catatan beberapa baris menyangkut ide, bisa juga novel utuh yang minta diperbaiki atau ditulis ulang.</p>
<p>Merasa penting menangani draft-draft ini, saya memiliki folder khusus di laptop untuk draft semacam ini. Masalahnya, kebutuhan untuk menulis draft-draft semacam ini adakalanya muncul ketika saya sedang tidak menghadapi komputer. Sedang duduk di ruang tunggu bandara, dalam perjalanan malam di bis, sedang jalan-jalan di mal, misalnya. Bukankah ide bisa datang kapan saja?</p>
<p>Mengatasi hal itu, saya sering membawa laptop saya kemana pun pergi. Kebiasaan itu berguna jika saya ingin menulis panjang di luar rumah. Saya sering menulis (cerpen, esai, novel atau script tv) di kedai kopi. Dengan <em>free wifi</em> di kedai kopi, saya bisa menulis sambil <em>browsing</em> mencari bahan dan membalas surat-surat elektronik. Tapi bagaimana jika yang ingin saya tulis hanya beberapa baris ide yang berkelebat ketika saya berjalan atau sedang makan? Rasanya tidak mungkin kan, masuk kedai kopi lalu membuka laptop untuk sekadar menulis catatan pendek?</p>
<p>Mengatasi hal itu, saya sering membawa bloknot dan mencatat hal-hal pendek dari sana, misalnya bagian-bagian kecil dari novel yang sedang saya garap. Tapi lama-kelamaan, catatan-catatan di bloknot mulai penuh dan saya ganti bloknot lagi. Lalu saya harus nyari bloknot lama jika ingin mencari catatan lama. Akhirnya saya berpikir: sebuah perangkat cerdas bernama telepon genggam mestinya bisa menyelesaikan masalah saya.</p>
<p>Tentu saja saya harus meng-<em>upgrade</em> telepon genggam saya. Sebelum ini saya cuma memakai telepon genggam biasa yang hanya dipergunakan untuk menelepon dan mengirim pesan pendek. Ketika ada tawaran perangkat telepon genggam cerdas dengan harga cukup terjangkau dari operator langganan saya, saya beralih ke perangkat ini. Saya tak ingin mempromosikan perangkat ini berlebihan, kemampuannya barangkali bisa diperoleh di perangkat telepon genggam cerdas lainnya. Saya memilihnya karena kebutuhan sebagai penulis: papan kunci QWERTY dan <em>pushmail</em> (harus terhubung terus dengan email untuk mengirim dan mengedit naskah tv yang tayang setiap hari), serta <em>chatting</em> dengan tim penulis dan seorang narasumber buku saya yang sulit ditemui karena berada di dalam tahanan).</p>
<p>Kini, saya merasa lebih &#8220;mobile&#8221;. Saya nyaris tak pernah membawa laptop bepergian lagi, kecuali niatnya memang hendak menulis di luar rumah. Saya pun tak ragu untuk keluar rumah tanpa kuatir tiba-tiba punya gagasan menarik untuk ditulis tapi tak ada komputer. Secara ekstrim, dengan telepon cerdas, saya bisa menulis catatan pendek untuk sebuah cerpen sambil berdiri di elevator. </p>
<p>Ada trik-trik yang tentu saja harus saya akali. Saya mempergunakan aplikasi Word to Go Standard Edition karena gratis. Versi ini tak bisa membuat file Word baru, tapi bisa mengedit. Saya mengakalinya dengan memasukan file Word kosong ke perangkat telepon dan menyimpannya dengan nama baru. Saya juga harus membiasakan diri menyimpan file dalam bentuk .doc karena hanya itu yang bisa dibaca (padahal saya suka .rtf alias Rich Text Format).</p>
<p>Sebagai penulis saya juga menulis blog. Karena blog saya mempergunakan platform WordPress, saya pun menginstal aplikasi WordPress di telepon genggam saya (saya tak tahu apakah untuk sistem dan perangkat lain sudah tersedia atau belum). Intinya, selain saya bisa menulis draft-draft tulisan saya di mana pun, saya juga bisa memoderasi komentar konten blog saya dari telepon genggam. Tidak cuma itu, saya juga bisa menulis blog langsung dari perangkat tersebut. Tulisan ini saya buat dan saya posting melalui telepon genggam, sebagai contoh.</p>
<p>Memang, untuk kreatif kita tak bisa menggantungkan diri kepada teknologi dan perangkat. Tapi jika ada teknologi dan perangkat yang mempermudah, apa salahnya dipergunakan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/mengelola-draft-dan-memanfaatkan-teknologi-1303.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

