Mengelola Draft dan Memanfaatkan Teknologi
Foto oleh: Paul Watson, Some right reserved.
Saya bukan seorang gadget freak, meskipun saya suka dengan teknologi dan perangkat yang bisa membantu pekerjaan saya. Sebagai seorang penulis, pada dasarnya saya bisa bekerja nyaris dengan apa saja. Saya biasa mencatat dengan tangan jika diperlukan, tapi jika ada teknologi yang mempermudah, tentu saja saya akan mempergunakannya.
Sudah hampir lima tahun saya mempergunakan laptop. Sudah dua kali ganti dengan merk yang berbeda. Saya memilih sebuah laptop daripada seperangkat desktop. Alasannya sederhana: saya sering bepergian. Selain menulis, kadang-kadang saya membuat desain dengan komputer itu. Meskipun begitu, pekerjaan utama laptop saya tetaplah sebuah mesin ketik. Sebab pekerjaan utama pemiliknya adalah penulis.
Kompas Suka Tidak Teliti
(Update: 5 Februari 2009)

Foto oleh: Matt Callow, Some rights reserved.
Kompas merupakan satu-satunya koran yang saya langganan tiap hari, dan hampir enggak pernah terlewat membacanya. Tapi jujur, saya sering terganggu dengan ketidaktelitian Kompas. Memang hal-hal kecil, sih, tapi sebagai koran besar, mestinya bisa diminimalisir dengan cek dan selalu ricek.
Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan artikel hari ini mengenai Matt Mullenweg di halaman 16 berjudul “Matt Mullenweg, Antara Jazz dan WordPress”.
Pertama, antara pernyataan dan penjelasan kadang enggak nyambung. Sebagai contoh, saya kutip paragraf sembilan:
Baca selengkapnya …
Adonis
Hujan lebat pada Senin sore kemarin, tak menghalangi niat saya untuk menempuh setengah jam perjalanan ke Komunitas Salihara. Saya sudah meniatkan kunjungan ini sejak dua minggu sebelumnya. Acara malam itu adalah ceramah umum yang akan dibawakan oleh Adonis, dengan tema “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama“.
Siapakah Adonis, sehingga saya rela meninggalkan meja kerja saya yang selama berminggu-minggu ini menjadi sarang bagi berlembar-lembar draft akhir novel saya? Adonis bisa dibilang penyair Arab paling penting sekarang ini. Bahkan boleh dibilang, ia penyair paling kuat sebagai kandidat peraih Nobel Kesusastraan di tahun-tahun terakhir sekaligus tahun-tahun ke depan.
Baca selengkapnya …
Bagaimana Menulis Novel? (2)
Foto oleh: Ella’s Dad, Some rights reserved.
Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.
Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari ini. Pertama, konsistensi menyangkut penanggalan. Saya memutuskan untuk mempergunakan penanggalan Hijriah dalam novel ini. Itu berarti saya harus mengkonversi semua penanggalan Masehi ke Hijriah. Kedua, saya juga harus membereskan beberapa transliterasi Arab ke Bahasa Indonesia agar lebih konsisten. Kalau ada yang tahu sejenis software untuk konversi penanggalan dan rujukan transliterasi yang baku, let me know.
Sekarang kembali ke “Bagaimana Menulis Novel” Bagian 2.
Baca selengkapnya …
Bagaimana Menulis Novel? (1)
Foto oleh: icultist, Some rights reserved.
Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya print-out, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.
Bagaimanapun, meski saya merasa ada sesuatu yang enggak bener, bukan hal yang gampang untuk melacaknya dimana. Satu-satunya hal yang mungkin saya kerjakan, adalah mengingat-ingat kembali urutan kerja saya. Dalam hal ini disiplin kerja saya cukup memudahkan pelacakan ini. Saya terbiasa bekerja dengan agak metodis. Saya akan menuliskannya di sini, berdasarkan pengalaman saya menulis dua novel sebelumnya. Ini untuk mengingatkan saya, sekaligus barangkali ada yang tertarik mencontek cara kerja saya (hehe):
Sebab Kode Adalah Puisi

Foto oleh: silvia di natale’S, Some rights reserved.
Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”.
Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.
Baca selengkapnya …
Tips Menulis Puisi di Wordpress

Foto oleh: xfce, Some rights reserved.
Karena berbagai kemudahannya, saya selalu menyarankan kepada beberapa teman yang ingin nge-blog dengan domain dan hosting sendiri, untuk mempergunakan Wordpress. Sejujur nya, dibandingkan Textpattern atau Drupal, banyak hal yang tidak dimiliki Wordpress memang; tapi menyangkut kemudahan, Wordpress memberikan lebih banyak kenyamanan. Setelah membantu beberapa teman menginstalasi Wordpress, ada baiknya mungkin saya membagi tips kecil menulis puisi di Wordpress ini, yang saya peroleh dari masalah teman-teman. Dalam hal ini saya mempergunakan Wordpress versi 2.5.1 (mestinya juga berlaku di Wordpress.com dan Blogspot.com):
Baca selengkapnya …
Bisakah “Hidup” dengan Menulis? Bisakah Hidup “Tanpa” Menulis?

Foto oleh: catatronic, Some rights reserved.
Yang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau copy editor di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah “hidup” hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja — dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?
Benar, ini sudah sangat sering ditanyakan. Saya akan mencoba menghitung-hitung (untuk ukuran Indonesia), juga sedikit membocorkan resep-resep yang dilakukan beberapa teman saya (yang memang bisa dikatakan sebagai “penulis penuh waktu”).
Baca selengkapnya …
Sastra dan Asal-usul Moral

Foto oleh: la_bella_polenesiana, Some rights reserved.
Apa sesungguhnya yang bercokol di belakang seluruh perdebatan mengenai sastra (dan seni secara umum)? Tentu saja dengan sangat mudah kita bisa merujuk ke perubahan standar-standar moral yang berlaku di sebuah masa, serta kemudian terdapatnya berbagai standar moral tersebut yang hidup di masa yang sama. Di antara banyak filsuf, Nietzsche barangkali satu-satunya manusia yang berdiri untuk mengacak-acak struktur dan urat-urat perubahan serta pertarungan kepentingan moral yang berbeda-beda ini.
Dalam sejarah sastra Indonesia, polemik yang muncul dari generasi ke generasi, dari “polemik kebudayaan” hingga “manifes kebudayaan”, dari soal sastra kontekstual hingga meluncurnya Rancangan Undang-undang Anti-pornografi dan Pornoaksi, meskipun selalu memiliki bias politik, tentu saja selalu menempatkan moral sebagai ujung tombak penyerangan maupun lempeng perisai pertahanan. Ungkapan seperti “penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman” dalam Surat Kepercayaan Gelanggang, saya pikir juga merupakan ungkapan-ungkapan umum moralitas.
Baca selengkapnya …
Writer’s Block, Bagian 2: Lubang Cacing
+ Writer’s Block Bagian 1: Jalan Belukar

Foto oleh: miss pupik, Some rights reserved.
Dalam menyikapi writer’s block, saya selalu merujuk kepada sebuah pepatah lama: sedia payung sebelum hujan. Ya, menurut saya, cara terbaik untuk menghindari writer’s block adalah persiapan yang memadai. Jika payung kita anggapkan sebagai perkakas menghindari hujan; dalam bayangan saya, tentu ada juga perkakas yang dibutuhkan seorang penulis ketika hendak menulis. Perkakas inilah yang saya pikir barangkali bisa membebaskan diri kita dari writer’s block.
Pertama-tama, setelah beberapa kali menderita writer’s block ini, saya selalu menghindari diri menulis saat saya belum tahu apa atau bagaimana saya akan menulis. Bagi saya jauh lebih mudah untuk duduk dan memikirkan gagasan tulisan sebelum menghadapi layar komputer. Jika otak saya tidak cukup memadai (karena lelah, misalnya) untuk membayangkan apa yang akan saya tulis, saya ambil kertas dan membuat catatan.
Baca selengkapnya …


