Beberapa Tesis Tentang Judul Novel

Buku

Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis “brand”, di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa “Warung Ice” tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.

Judul yang asyik memiliki karakter filosofis, puitis, kiasan, tapi juga deskriptif mengenai isi novel, serta mengakomodir tujuan praktis: memancing rasa ingin tahu pembaca. Judul paling asyik yang pernah saya baca, ditulis oleh Milan Kundera: The Unbearable Lightness of Being. Saya pikir judul tersebut merepresentasikan hal yang telah saya maksud di atas.

Baca selengkapnya …

Menciptakan Karakter

Crowd

Saya selalu mengingat resep dari Kazuo Koike, komikus Jepang yang terkenal dengan manga Lone Wolf and Cub mengenai keberhasilannya menulis komik: “Character that stands out.” Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), Mishkin dalam The Idiot (Dostoyevski), Kakek dalam “Robohnya Surau Kami” (A.A. Navis), atau Gregor Samsa dalam “The Metaporphosis” (Franz Kafka), seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali.

Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya “memorable”, tapi juga terasa nyata?

Baca selengkapnya …

Gabriel Garcia Marquez: Kalimat Pertama Merupakan Laboratorium

Banyak orang tentu bertanya-tanya, seperti apa proses kreatif di balik penulisan novel-novel besar semacam “One Hundred Years of Solitude” dan “Love in the Time of Cholera”? Sepanjang yang saya tahu, Gabriel Garcia Marquez sang penulis belum pernah menerbitkan sejenis buku “proses kreatif penulisan”-nya. Pikiran-pikirannya tentang itu lebih banyak berserak di berbagai buku (misal, di memoarnya “Living to Tell the Tale”) atau wawancara-wawancaranya di media. Salah satu yang menarik, adalah wawancara dengan yuniornya, Plinio Apuleyo Mendoza, yang kemudian dibukukan dengan judul “The Fragrance of Guava”.

Saya ingin berbagi pandangan-pandangan Marquez tentang penulisan di buku itu. Tentu saja percakapan di buku ini meliputi berbagai aspek kehidupan Marquez. Ia bicara mengenai asal-usul dan keluarganya, yang tentu saja jauh lebih lengkap jika kita membaca memoarnya; bicara tentang pandangan-pandangan politiknya, tentang perempuan, tentang tahayul, dan tentang ketenaran. Tapi saya ingin mengambil satu aspek yang penting untuk kita: mengenai proses kreatif penulisannya.
Baca selengkapnya …

Menulis Novel Itu Seperti Seks

Saya memikirkan ini ketika sedang mendengarkan sebuah lagu. Pola bait lagu ini umum saja: A-A-B-A-B-C-A-B-D, dengan B sebagai refrain lagu dan C sebagai bridge dan D sebagai outro. Banyak lagu pop memakai pola ini, tapi baiklah, yang saya dengarkan adalah “Bad Day” yang dinyanyikan Daniel Powter. Bayangkan pola bait lagu ini sebagai seks, dengan refrain sebagai titik orgasme. Pertanyaannya, kenapa di awal ada pola A-A-B? Inilah bayangan saya: refrain lagu ini enak sekali. Menggelora. Meledak. Jika ini orgasme, kita tahu kita ingin menahannya dulu. Ingin mengulur waktu. Agar ia meledak lebih keras. Begitulah kenapa lagu ini dibuka dengan A-A (tahan) lalu B (refrain). Pola berikutnya kita sudah merasakan orgasme ini, kita ingin mengulangnya. Kita tak perlu mengulur waktu lebih lama, sebab jika terlalu lama, percintaan barangkali akan jatuh menjadi membosankan. Maka cukup A-B. Selepas itu, para pecinta barangkali akan lelah. Ia memerlukan “bridge”. Ia memerlukan pola nada yang sedikit berbeda, dengan tempo yang lebih turun. Saling manja, saling mengambil napas, saling mencoba membangkitkan kembali gairah. Dan akhirnya mulai bercinta lagi. A lagi. Dan kembali orgasme. B. Refrain. Setelah itu “outro”, saling cium, saling peluk, dengan napas tersengal. Sebelum tidur kelelahan. Dan saya pikir, ini juga bisa berlaku dalam penulisan novel …
Baca selengkapnya …

Beberapa Point Kenapa Saya Tak Sepakat dengan Vandalisme Terhadap Karya Sastra

“Amerika tak selalu hebat lho dalam hal kebebasan berpendapat.”
Masalahnya bukan “kebebasan berpendapat”, tapi “politically incorrectness”. Bahkan di Pippi Longstocking-nya Astrid Lindgren istilah “negro” dan “gipsy” dihapus. Baca:
http://diepresse.com/home/panorama/integration/579386/Kein-Negerkoenig-mehr-b… Maaf, dalam Bahasa Jerman. Tapi ringkasannya “Tidak ada istilah raja orang negro lagi dalam buku Pippi Longstocking. Penerbit menghapus istilah-istilah rasis yang digunakan dalam buku cerita anak-anak itu.” Jaman berganti, pemikiran berubah (menjadi maju/luas). Kita tidak mau menggunakan istilah-istilah rasis, toh? Sama seperti istilah “pribumi” di Indonesia yang sekarang sudah dianggap “politically incorrect”. Kebebasan pendapat boleh saja, tapi jangan menyakiti hati orang lain.
(Kutipan dari komentar Sumire atas posting saya tentang penghilangan kata “Nigger” di satu edisi Huckleberry Finn).

Karena balasannya tidak ringkas, saya akan menanggapinya dalam satu posting saja. Ini beberapa point kenapa saya tak sepakat dengan vandalisme karya sastra.

Baca selengkapnya …

Menulis Novel Bersama Mario Vargas Llosa

Hari ini, 10 Desember 2010, Mario Vargas Llosa memperoleh anugerah Nobel Kesusastraan dari Akademi Swedia. Saya ingin berbagi bacaan saya atas bukunya, “Letters to a Young Novelist”. Seperti terlihat dari judulnya, buku ini bicara tentang proses dan pikiran-pikirannya mengenai penulisan novel. Saya pikir, ini akan sangat berguna bagi siapa pun yang tertarik untuk menjadi penulis novel, muda maupun tua.

Sebagaimana kebanyakan penulis lain, di masa awal karirnya, Llosa sangat ingin menulis surat kepada sastrawan-sastrawan besar yang dikaguminya: Faulkner, Hemingway, Malraux, Dos Passos, Camus, Sartre. Tentu saja ia ingin meminta nasihat: bagaimana sih menjadi seorang penulis? Ia tak pernah memiliki keberanian mengirimkan surat kepada mereka. Ia menyadari banyak penulis muda mengalami hal seperti dia. Maka ketika ada seseorang yang memiliki keberanian mengirim surat dengan pertanyaan semacam itu, Llosa dengan senang hati membalasnya. Buku ini merupakan isi dari surat-surat mengenai bagaimana menjadi penulis tersebut.

Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka