Catatan Lebaran

Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal.

Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal.

Lebaran ini sepertinya saya tidak pulang, dan sebagai gantinya berkali-kali harus menelepon ibu saya, menanyakan kabar mereka di rumah. Pertama, tentu karena saya malas menghadapi kemacetan di jalan. Meskipun jalur mudik ke selatan tidak semacet jalur ke timur, tetap saja pulang menjelang Lebaran bukan satu perjalanan yang mengasyikan. Lebaran-lebaran tahun sebelumnya, saya lebih suka pulang dua atau tiga hari selepas Lebaran, ketika orang-orang justru kembali ke Jakarta.

Kedua, jika tidak ada halangan, saya akan ke Jepang akhir November untuk bicara tentang novel saya yang bakal terbit, “Malam Seribu Bulan”, atas undangan Tokyo University of Foreign Studies. Masih dua bulan, tapi saya harus mengurus visa di tengah kantor-kantor (termasuk kedutaan) yang terkena dampak tanggal-tanggal merah. Juga kesibukan mengurus tahap akhir novel saya, sebab novel itulah yang akan saya bicarakan di Jepang. Saya memutuskan untuk mendesain dan menata-letak sendiri buku ini, seperti yang saya lakukan di buku-buku pertama saya. Kalaupun saya mudik, tampaknya itu setelah urusan-urusan ini selesai saja.
Baca selengkapnya …

Surat Terbuka untuk FIFA: Bekukan Saja PSSI

Untuk Presiden FIFA yang terhormat, sebagai penggemar sepak bola Indonesia, dengan sangat memohon agar FIFA bersedia membekukan organisasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Memang belum lama ini PSSI meraih Juara 1 Piala Kemerdekaan setelah mengalahkan tim Libya 3-1. Tapi, Tuan Presiden FIFA yang terhormat, kemenangan itu kami peroleh dengan cara yang sangat memalukan. Setelah tertinggal 0-1 di babak pertama, salah seorang ofisial tim kami memukul pelatih Libya, sehingga tim Libya tak mau meneruskan pertandingan karena merasa terancam.

Saya benar-benar malu, Tuan Presiden FIFA. Lebih baik PSSI dibubarkan saja dan saya tak menonton sepakbola Indonesia, sampai waktu yang tak ditentukan, daripada saya (kami) terus-menerus dipermalukan PSSI dengan cara seperti ini. Belum lagi kalau ingat bahwa Ketua Umum PSSI (Tuan Nurdin Halid) masih mendekam di penjara. Artinya? Kriminal, Tuan Presiden FIFA! Sekali lagi saya mohon, bekukan saja PSSI. Saya sudah benar-benar malu!
Baca selengkapnya …

Halaman dari Kategori Tertentu di WordPress

WordPress memiliki dua jenis section: post dan page. Post untuk menulis blog biasa (dinamis), sementara page untuk menulis halaman yang cenderung statis. Halaman-halaman “page” biasanya berderet di atas menyerupai navigasi. Problemnya adalah ketika kita ingin membuat halaman “page” yang isinya dinamis seperti halaman “post”.

Misalnya: domain.com/blog dimana kita ingin menempatkan “blog” tidak di halaman utama. Atau: domain.com/esai dimana kita ingin membuat halaman esai yang isinya blog denga kategori esai.

WordPress mengatasinya dengan “page template”. Kita harus membuat dulu halaman php sebagai template (dan disimpan di folder themes yang dipergunakan). Misalnya: esai.php. Halaman ini harus berisi: Baca selengkapnya …

Dari Komentar di Posting “Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi”

Mas, kayanya ga usahlah bicarain seputar permasalahan agama (jilbab bukan tradisi, tapi emag kewajiban). kalo belom ada ilmunya, jadi keliatan begonya mas.
jangan sok demokrasi-demokrasian, plural-pluralan, HAM-HAMan, itu semua juga masih kontradiksi mas.
dalam Islam jilbab itu wajib, ya udah jangan diganggu keyakinan orang itu. katanya demokratis, kok masih turut campur masalah agama orang.
itu aja sih yang ingin saya omongin. udahlah, mas eka nulis yang mas eka ngerti aja. saya suka kok tlisan2 mas eka.

Dari Komentar tukangtidur di posting Orhan Pamuk: Jilbab Merupakan Tradisi
(Saya pindah ke dapan barangkali ada yang tertarik menanggapinya)

Merasa Nyaman dengan Selera Pribadi

Beberapa malam lalu, saya memperoleh email dari Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Mereka salah dua penulis yang saya kagumi: meskipun bisa dibilang pelit menerbitkan karya. Saya bisa dikata jarang bertemu mereka (apalagi sekarang keduanya di Amerika), tapi sesekali kami mendiskusikan sesuatu lewat internet. Kembali ke email: mereka mengajak saya membuat proyek kecil (kami batasi bertiga saja) menyangkut hal yang barangkali tak pernah dilirik kebanyakan penulis (apalagi kritikus): Tribute to Abdullah Harahap, the master guru of Indonesian horor fiction.

Tak hanya girang, bisa dibilang saya tersanjung dengan ajakan itu. Abdullah Harahap! Bertahun-tahun saya bergaul dengan para penulis, hampir bisa dikatakan tak pernah bertemu orang yang bisa memperbincangkan penulis ini dengan antusias. Atau barangkali hampir tak ada penulis yang pernah membacanya? Atau membacanya, namun tak menganggapnya ada?

Baca selengkapnya …

Silang Budaya

Seperti apakah Jawa? Seperti apakah Indonesia? Identitas kultural selalu merupakan medan di mana kehendak untuk mendefinisikan dan kehendak untuk melonggarkan batas-batasnya, selalu bertemu, jika tak bisa dikatakan bertarung. Denys Lombard sendiri, dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, memperlihatkan betapa apa yang kita sebut sebagai Jawa tak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tunggal. Demikian pula Benedict Anderson dalam Imaginary Community, melihat bahwa identitas kultural hanyalah sebuah rekaan yang direka.

Tapi kita juga sangat sulit untuk menapikan keberadaan identitas kultural semacam ini. Betapapun kaburnya sebuah definisi, seseorang barangkali masih bisa membayangkan seperti apa identitas kultural tertentu. Katakanlah, orang Madura dengan karapan sapi. Katakanlah orang Jawa dengan keris. Memang benar, menghubungkan identitas kultural dengan gambaran kasar tertentu tak lebih dari sebuah stereotif, tapi bahwa stereotif itu ada, tak bisa dipungkiri.
Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka