Drop Cap Shortcode
Yang memiliki blog mempergunakan WordPress.org (yang diinstal sendiri, bukan yang hosting di WordPress.com), dan ingin membuat Drop Cap sebagaimana banyak saya pakai di blog saya (termasuk di artikel ini), sila download di http://wordpress.org/extend/plugins/drop-cap-shortcode. Itu plugin sederhana, tapi asyik buat bikin tampilan blog lebih mengingatkan ke masa-masa tipografi cetak. Cara pakainya juga gampang.
Kalau ada yang belum tau Drop Cap itu apa, bisa dijelaskan sedikit. Drop Cap merupakan huruf pertama di sebuah paragraf yang biasanya dibuat lebih besar (sekali), dan posisinya turun (lihat gambar, deh). Biasa dipergunakan di majalah, buku, atau koran. Di web, jarang sekali dipakai. Masalahnya lebih karena, bahkan untuk yang mengerti HTML dan CSS pun, berarti harus nambah-nambahin kode ke artikel, yang jelas ribet. Tapi dengan plugin ini, tugas tersebut jadi gampang. Gampang banget, malah (promosi). Baiklah, semoga plugin yang awalnya saya buat untuk keperluan blog sendiri ini, bisa bermanfaat. Sila memodifikasinya jika diperlukan.
Tilang dan Soal Keadilan
Jika tak salah ingat, saya cuma sekali di”prit” polisi. Beberapa tahun lalu, pakai motor melewati pertigaan. Karena jalan saya lurus (ada jalan lain ke kanan), saya pikir saya bisa menerobos lampu merah (seperti belok kiri jalan terus). Kalau tak salah ingat juga, saya harus membayar seratus ribu rupiah. Lumayan bikin kesel juga, sih. Setelah itu belum pernah kena stop polisi lagi. Saya selalu berusaha tertib di jalan raya. Jika pun saya melanggar, itu pasti enggak sengaja.
Selama enam bulan terakhir, setelah pindah rumah, saya nyetir dari Ciputat ke Mampang. Anda tahu, sepanjang jalan Mampang, mau pagi atau sore, bahkan kadang sampai tengah malam, sering macet banget. Dan di sepanjang jalan itu ada jalur Transjakarta, yang disebut Busway itu. Jalur tersebut mestinya steril, hanya boleh dilalui Transjakarta. Ambulance mungkin boleh. Tapi yang lain-lain jelas enggak boleh. Saya selalu menghindari jalur steril itu, dengan sabar mau terjebak di kemacetan (solusinya sih, saya berusaha lewat jalur itu siang hari dan lewat jam 9 malam, agar tidak kena macet parah). Tapi percayalah, selama melewati jalur itu, sering banget saya lihat mobil pribadi menerobos jalur busway. Tapi dua yang paling sering adalah: metromini dan … mobil mewah!
Terjemahan Melayu “Cantik itu Luka”
Buat yang penasaran seperti apa novel “Cantik itu Luka” diterjemahkan ke bahasa Melayu (Malaysia), ini contoh dari pembukaan bab pertama:
Petang pada hujung bulan Mac, Dewi Ayu bangkit semula dari kubur setelah 21 tahun kematiannya. Seorang budak gembala terjaga dari tidur siang di bawah pohon kemboja, kencing di seluar pendek sebelum memekik dan keempat-empat ekor kambingnya lari antara batu dengan kayu nisan tanpa arah bagaikan dikejar seekor harimau. Semuanya bermula dari kubur tua, dengan nisan tanpa nama dan rumput setinggi lutut. Semua orang mengenalinya sebagai kubur Dewi Ayu. Ia mati pada umur 52 tahun, hidup lagi setelah 21 tahun mati dan kini hingga seterusnya tak ada orang yang tahu bagaimana menghitung umurnya.
Tempat Kerja
Mau ngintip tempat kerja saya? Ini dia! Ini ruangan atas. Rencana awalnya memang buat tempat bekerja, tapi sampai hari ini belum sempat beres-beres. Beberapa buku masih di kardus, kekurangan rak. Bahkan masih ada dua kardus buku di bagasi mobil. Tapi tidak masalah, saya tetap suka ruangan ini, asal ada buku-buku! Lagipula mengingatkan saya zaman ngekost waktu mahasiswa, hehehe. Lengkap dengan kasur lipat, tape rusak yang saya pakai untuk mendengarkan radio, dan laptop tergeletak. Saya punya poster Gunter Grass gede, mau saya tempel di dinding. Menggantikan poster Axl Rose yang zaman kuliah sering saya pajang, hahaha.
Kidung Kinanti
Ini foto pertama Kidung Kinanti Kurniawan, anak pertama kami (saya dan Ratih Kumala). Lahir hari ini 3 Januari 2011. Salam untuk semuanya, Oom, Tante! ^.^
Foto-foto Kidung Kinanti bisa ditengok di sini.
Obrolan Singkat Perihal Murakami
Semalam saya berbincang via BBM dengan teman sekaligus senior kuliah saya, Nezar Patria, mengenai Haruki Murakami. Perbincangan singkat ini saya pikir menarik untuk saya bagi di sini, dan saya yakin Nezar tidak akan keberatan. Perbincangan bermula ketika Nezar bilang, ia doyan Murakami ini, sampai-sampai terikut cara berpikirnya. Tentu saja saya bertanya, cara berpikir apa?
Menurutnya, Murakami selalu masuk ke jagat batin tokohnya, tapi terus keluar dan kadang menegasinya. Dia liberal, tapi sebetulnya protes pada kemunafikan. Dia selalu jujur dalam menilai. Mengenai kemampuannya untuk keluar-masuk pikiran tokohnya, seolah-olah menyepakati pikiran mereka, tapi di saat-saat tertentu menapikannya, saya pikir kita bisa bersepakat.


