Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu
Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader’s Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.
Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal “Indonesia”. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.
Bebek Hijau dan Pelajaran Mendongeng dari Bayi yang Hendak Tidur
Sekali waktu, seorang teman bertanya, apakah setelah punya bayi saya masih punya waktu untuk menulis dan mengarang cerita? Jawaban saya: masih. Bahkan saya seringkali memperoleh ide justru saat terpaksa harus menidurkan Kidung Kinanti, anak saya yang sekarang berumur 7 bulan. Sejak Kinan (begitu nama panggilan anak saya) masih umur sebulan, saya beberapa kali memperoleh kesempatan untuk menidurkannya. Terutama jika Kinan sedang rewel, dan ibunya sedang capek, pada akhirnya saya harus membopongnya. Dan Kinan hanya akan diam kalau saya (seolah-olah) bicara dengannya.
Nah, daripada saya ngobrol ngalor-ngidul tak jelas hanya agar tetap bersuara dan Kinan terbuai sampai tertidur di pundak saya, saya memutuskan untuk mengarang-ngarang cerita. Di sinilah saya kembali belajar hal mendasar dari mendongeng. Persis seperti bagaimana Syahrazad melakukannya: tugas saya adalah terus mendongeng sampai anak tertidur. Jika belum tertidur, saya harus menemukan berbagai cara agar dongeng terus berlanjut. Begitulah, sambil menidurkan anak, saya terus melatih teknik-teknik tertentu untuk mendongeng.
Saya kutipkan dongeng yang tadi malam saya dongengkan ke Kinan. Tak terlalu panjang, sebab ternyata Kinan kali ini lebih mudah dibikin tidur. Mari kita kasih judul “Bebek Hijau” saja:
Nilai Politik Saya
Saya baru mengikuti Pancasila Interaktif, sebuah aplikasi yang bisa menentukan posisi nilai politik kita dengan cepat di situs Budiman Sudjatmiko. Aplikasi ini pada dasarnya berupa kuis, dimana kita menentukan sikap kita atas beberapa pilihan dalam satu dan beberapa isu/masalah. Dan setelah mengisi kuis tersebut, inilah hasil “Nilai Politik” saya terlihat dalam bagan:
Di gambar pertama, rupanya saya termasuk penganut “progresif etis”. Di bagan kedua, sebagai interpretasi alternatif, saya berada di irisan “nasionalisme radikal” dan “sosialisme demokrat”. Hmmm. Dan apakah itu “progresif etis”? Ini penjelasan dari Spektika.com, pengembang aplikasi tersebut: Baca selengkapnya …
Ketakutan dan Bagaimana Menyembuhkannya
Saya mungkin agak konyol. Salah satu hal yang saya takutkan adalah: suatu hari gaya gravitasi hilang. Terutama kalau sedang memandang langit, siang atau malam, saya suka takut tiba-tiba “jatuh” melayang ke angkasa karena gaya gravitasi lenyap. Mengerikan kan jatuh ke langit yang tiada berujung?
Nah, untuk menyembuhkan rasa takut itu, saya baca-bacalah fisika tentang gravitasi. Saya kemudian tahu, kalau gaya gravitasi hilang, tubuh kita akan berantakan. Tak hanya jantung berhenti berdetak atau darah berhenti mengalir, tapi atom-atom di sel tubuh kita juga akan berhamburan. Intinya: saya akan mati sebelum sempat jatuh melayang ke angkasa. Mengetahui hal itu, saya jadi lebih tenang. Saya tak akan pernah mengalami saat alam semesta kehilangan gaya gravitasi.
Buat para ahli fisika, mohon ralat jika saya keliru.Moral ceritanya: takut seringkali disebabkan karena kita tak tahu apa-apa soal hal tertentu. Konon begitulah.
Perpustakaan
Bayangan perpustakaan yang asyik di benak saya, barangkali mirip seperti yang ada di novel Kafka on the Shore, Haruki Murakami. Si bocah bernama Kafka itu, sekali waktu kabur dari rumah dan pergi ke kota kecil, dan terdampar di sebuah perpustakaan. Perpustakaan itu sebenarnya milik pribadi, milik seorang penulis (kalau tak salah ingat), tapi kemudian dibuka untuk umum. Ruangannya kecil saja, dengan seorang pengurus, dan orang asing boleh masuk untuk membaca-baca di ruangan baca.
Di Indonesia, sebenarnya banyak juga perpustakaan semacam itu. Yang paling terkenal barangkali perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Tak hanya berupa perpustakaan, tempat itu bahkan menyerupai museum, dengan naskah-naskah langka milik para penulis. Kita tahu awalnya itu merupakan perpustakaan pribadi kritikus dan penulis HB Jassin. Setelah beliau meninggal, perpustakaan tersebut berada di bawah tanggung jawab Pemda Jakarta dan menempati satu ruangan di pojok Taman Ismail Marzuki. Baca selengkapnya …
Buku “Bi wa Kizu”

@jafrane Nemu terjemahan bhs Jepun “Cantik itu Luka” nya Eka Kurniawan. Sayang gak bisa baca. :D http://yfrog.com/gypzauj
Seorang teman di Twitter, @jafrane menemukan “Cantik itu Luka” edisi terjemahan Jepang. Ayo siapa lagi yang menemukan buku langka saya (mungkin di toko buku bekas), semisal Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis edisi pertama (sampul jelek warna merah)? Atau Cantik itu Luka edisi pertama dengan sampul putih? Atau Corat-coret di Toilet, buku kumpulan cerpen pertama saya yang cuma dicetak 1200 eksemplar itu? Sila berbagi di twitter saya @ekakurniawan atau di facebook saya facebook.com/ekakurniawan.project.





