Foto-foto Los Angeles, 2007
Saya di depan Universal Studios. Ini merupakan foto-foto saya (dan beberapa penulis lain) mengunjungi Los Angeles, Las Vegas, Lake Tahoe dan berakhir di San Francisco.
Baca selengkapnya …
Mojave: Perempuan Tua di Belakang Konter
Di sebuah minimarket di pinggiran Mojave Desert, sambil minum soda kaleng seharga satu dolar yang saya beli dari mesin, saya memperhatikan perempuan tua di belakang konter. Ia membungkusi barang-barang yang dibeli pelanggan, mengembalikan uang kembalian, dan bersenda gurau dengan pengunjung. Tiba-tiba saya bertanya kepada diri sendiri tentang “roh” Amerika.
Dimanakah terletak “roh” Amerika? Jika saya boleh berpendapat, salah satunya akan saya sebut Mojave Desert. Itu merupakan padang batu yang membentang dari negara bagian California hingga Nevada, lalu menyambung pula menuju Arizona. Sebagian daerahnya juga terdapat di Utah. Saya tak bisa menyebutnya padang rumput, meski di sana ada belukar tumbuh; tidak pula padang pasir, meski di sana tentu terhampar pasir, di atas batu-batu masif sebesar gunung. Di sini pula kita akan menemukan satu daerah bernama Death Valley atau Lembah Kematian.
Baca selengkapnya …
“Koper” Karya Richard Oh
Untuk kali pertama, saya main film (Koper, 2006, karya Richard Oh — saya bermain sebagai Bapak Guru!). Jadi jangan heran kalau nama saya ada di Internet Movie Database yang terkenal itu, hehehe. Sebenarnya saya main hanya tiga scene, meski pengambilan gambarnya membutuhkan waktu dua malam yang melelahkan. Tidak pantas, lah, saya disebut kameo. Yang bener: figuran. Apa pun, itu pengalaman yang mengasyikan. Richard sebagai sutradara tampaknya puas dengan akting saya.
Sebenarnya tak ada maksud saya main film. Waktu itu sebenarnya saya sedang melihat Richard dan kru-nya berlatih. Tiba-tiba, ia menodong saya untuk memerankan Bapak Guru, karena pemeran yang awalnya direncanakan tidak datang. Sekadar membantu, waktu itu saya terima (karena pikir saya, cuma menggantikan pas latihan dialog). Eh, malah kemudian disuruh main beneran di depan kamera. Sayang di video trailer ini, tak ada bagian saya. Mudah-mudahan, suatu hari saya bisa menampilkan klip di blog ini pas bagian saya main di film tersebut. Atau kalau penasaran, nonton saja filmnya. Hehehe.
Sastra Asia dan Sastra Amerika Selatan
Aku termasuk yang gelisah dengan fenomena sastra Amerika Selatan, yang mengolah pinggiran melawan pusat itu. Namun aku belum sampai pada pokok gimana seharusnya sastra Asia. Sebaliknya, aku dalam setahun ini mencari benih-benih mengapa sastra Amerika Selatan hingga sampai pada titik itu.
Inilah yang kemudian baru kuperoleh: William Faulkner. Aku tengah mencoba membacanya, namun putus asa setengah mati. Aku tak bisa mengerti The Sound and the Fury, dan tak bisa melewati satu bab pun Absalom, Absalom. Tapi kupikir, untuk memahami sastra Amerika Selatan, sangatlah perlu memahami penulis besar Amerika ini. Seperti kita tahu, pengaruhnya sangat luar biasa pada Borges dan Marquez.
Baca selengkapnya …
Quo Vadis Kritik Sastra?
Krisis sastra, ya? Untuk kesekian kali kita selalu mendiskusikan sesuatu yang nggak nyambung. yang satu menganggak sastra kita mengalami krisis karena toh dari dulu sampai sekarang tak muncul pembaharuan macam apa pun, kalau pun ada hanya segelintir orang. sementara yang lain menganggap tak ada krisis karena puisi dan cerpen dan novel terus diproduksi. apakah diskusi semacam itu akan nyambung? Kedua pihak berdiri berdasarkan patokan yang berbeda, seumur hidup kupikir nggak bakal ketemu.
Jadi, bagaimana jika kita akhiri diskusi semacam itu, dan mengajukan pertanyaan yang lebih maju: apakah sastra kita sudah bermutu atau tidak? Untuk menyamakan persepsi, baiklah kita ambil patokan sastra dunia (idealnya memang begitu, kan?) sebagai ukuran. sejauh mana sastra kita diterima publik sastra dunia? Dalam hal ini kita seharusnya tak ngomongin soal karya-karya yang sekedar diterjemahkan (beberapa karya diterjemahkan sekedar merupakan proyek mercu suar saja, kan?), tapi juga melihat bagaimana tanggapan pasar terhadap karya tersebut. Mana karya kita yang direview oleh media sastra internasional, dicetak ulang, sold out, sebagaimana karya-karya penulis Amerika Latin, penulis India, bahkan penulis Afrika?
Baca selengkapnya …
Gruppe 47 dan Grass
Salah satu yang menjadi inspirasi dibuatnya situs Bumi Manusia adalah kelompok sastrawan yang menamakan dirinya Gruppe 47 di mana Gunter Grass pernah menjadi anggotanya.
Selain sebagai novelis, Grass merupakan seorang penyair, penulis naskah drama, pematung dan desainer grafis (gambar si kecil Oscar sedang membawa genderang kaleng yang berwarna hitam-merah di cover The Tin Drum, kalau nggak salah, dia sendiri yang buat).
Selain dikenal dengan cerita-ceritanya yang fantastik (sering disejajarkan dengan Gabriel Garcia Marquez, misalnya cerita si Oscar yang bisa menggerakkan benda-benda dari kejauhan (dalam The Tin Drum), ia juga dikenal dengan gaya fabelnya (lihat novel From the Diary of a Snail “Dari Catatan Harian Seekor Siput”).
Baca selengkapnya …

