<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project &#187; Jurnal</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/category/jurnal/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>&#8220;Cantik Itu Luka&#8221; di Mobil Pick-up</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-mobil-pick-up-3133.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-mobil-pick-up-3133.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 06:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3133</guid>
		<description><![CDATA[Foto tulisan "Cantik Itu Luka", kiriman seorang teman di Twitter, <a href="http://twitter.com/saadsangit">@saadsangit</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-pickup500.jpg"><img src="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-pickup500.jpg" alt="" title="cil-pickup500" width="500" height="487" class="aligncenter size-full wp-image-19" /></a></p>
<p>Foto tulisan &#8220;Cantik Itu Luka&#8221;, kiriman seorang teman di Twitter, <a href="http://twitter.com/saadsangit">@saadsangit</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-mobil-pick-up-3133.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Hal yang Saya Pikirkan Tentang Buku dan Buku-e</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 15:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku-e]]></category>
		<category><![CDATA[ebook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3101</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terjadi dengan buku yang terbuat dari kertas, dengan kedatangan era buku digital?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-06/ibEdzjGJzBovftnCfDBfddgcjbJzaxszhoBmCjrCyneDtvqbaqkACswjcggC/ebook.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Ebook" height="368" src="http://getfile7.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-06/ibEdzjGJzBovftnCfDBfddgcjbJzaxszhoBmCjrCyneDtvqbaqkACswjcggC/ebook.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Meskipun sampai saat ini saya masih lebih suka membaca buku konvensional (terbuat dari kertas dan dijilid rapi), dan masih sangat jarang membaca buku dalam format digital (buku-e &#8212; terjemahan suka-suka saya dari <em>e-book</em>, seperti surat-e), saya melihat bahwa kehadiran buku-e merupakan keniscayaan. Ia telah datang, di beberapa laporan toko buku daring, penjualannya terus meningkat (sementara penjualan buku konvensional terus menurun); dan ia akan terus menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Di masa depan, tampaknya buku-e bakalan merupakan format buku yang utama (sampai ditemukan format baru lagi, yang saya belum tahu).</p>
<p>Ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang buku (konvensional):</p>
<p><span id="more-3101"></span></p>
<ol>
<li>Buku dalam format kertas dan dijilid akan tetap ada, tapi jumlahnya akan menurun sangat drastis. Barangkali hanya buku-buku tertentu diterbitkan dalam format seperti ini: buku dengan asumsi penjualan tinggi, kitab suci, buku manual. Atau sebaliknya: buku yang tak banyak dibaca, diterbitkan terbatas hanya untuk segelintir peminat. Intinya, menerbitkan buku konvensional akan merupakan kegiatan yang mahal. Hanya buku yang diminati orang, atau buku yang bisa dijual mahal (meskipun sedikit), menjadi masuk akal secara bisnis untuk diterbitkan.</li>
<li>Bisnis buku bekas akan lebih mengasyikan. Bahkan mulai terasa sejak sekarang. Buku-buku lama (kecuali yang domain publik, karena dianggap murah) sudah jarang dicetak ulang, sehingga perlu ke toko buku bekas untuk mencarinya. Saya sendiri penggemar toko online abebooks.com, yang menyediakan begitu banyak buku bekas, untuk memburu buku-buku lama yang tak lagi diterbitkan.</li>
<li>POD (print-on-demand) akan menjadi pilihan menarik bagi para pembaca yang tetap menginginkan buku konvensional di era digital. Sementara buku-buku telah beralih ke format digital, kita masih bisa memperoleh buku konvensional dengan mencetaknya secara satuan. Harganya akan lebih mahal daripada umumnya buku sekarang. Toko buku barangkali akan menurun drastis. Mereka barangkali akan berubah menjadi kios-kios pencetak buku POD.</li>
</ol>
<p>Dan ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang e-book:</p>
<ol>
<li>Para penyedia buku-e harus mulai memikirkan standar format. Bayangan saya seperti .mp3 (atau .m4a) untuk musik. Bahkan meskipun ada banyak format musik, masih jauh lebih mudah memutar file musik yang sama di beberapa perangkat yang berbeda. Dalam perkara buku-e, tampaknya masih ada pertarungan sengit antara para penyedia. Penerbit harus membuat beberapa format yang berbeda agar buku bisa dibaca di Apple iPad dan Amazon Kindle, misalnya. Buku yang dibuat untuk format perangkat tertentu, dibuat susah dibaca di format lain. Ini bisa bikin frustasi pembeli buku-e. Tapi mari kita lihat, cepat atau lambat barangkali akan menuju ke sana.</li>
<li>Selain soal daya tampung dan bobot (bisa membawa ribuan buku dalam satu perangkat tipis), buat saya hal paling menarik dari buku-e adalah &#8220;bisa diakses mesin pencari&#8221;. Saya membaca buku tak sekadar untuk &#8220;membaca&#8221;, tapi kadang melakukan penelitian. Buku-e memungkinkan saya mencari bagian-bagian tertentu yang saya inginkan dengan cepat. Saya bisa langsung masuk ke entri tertentu di kamus atau ensiklopedia. Jika saya lupa di bagian mana penulis tertentu menulis hal tertentu, saya tinggal mencari dengan kata kunci tertentu.</li>
<li>Di zaman buku konvensioanal, menerbitkan buku sendiri tentu saja bisa dilakukan. Tapi di zaman digital, hal ini akan semakin menjadi-jadi karena faktor ini: murah. Penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri dalam format buku-e, tak perlu mengeluarkan ongkos cetak. Dan akan lebih banyak hal bisa diterabas juga. Selain menerbitkan bukunya sendiri, penulis bisa menjualnya sendiri juga. Fenomenanya kurang lebih akan seperti blog: menulis sendiri, menerbitkan sendiri, dan menjualnya sendiri.</li>
</ol>
<p>Tentu saja bahasan mengenai pertarungan buku konvensional dan buku-e jauh lebih rumit dari itu, tapi sementara itulah hal-hal yang menarik perhatian saya. Dan apa yang akan saya lakukan jika era buku-e ini benar-benar telah datang (di negara yang lebih maju, era ini telah datang, tapi di Indonesia barangkali kita perlu beberapa tahun ke depan lagi):</p>
<p>Saya akan membaca buku-buku dalam format digital, terutama saya ingin menyimpan buku-buku referensi (kamus, ensiklopedia, buku-buku klasik, buku-buku pengetahuan, katalog, kronik) dalam bentuk digital. Untuk buku-buku yang saya suka, terutama novel, barangkali saya akan mencetaknya dalam bentuk POD. Dan sebagai penulis, saya mestinya tak perlu kuatir dengan perubahan format apa pun. Tugas penulis adalam menulis. Tulisannya bisa hadir dalam format apa pun. Bukankah begitu?</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lanskap &#8220;Lelaki Harimau&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 10:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Pangandaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3081</guid>
		<description><![CDATA[Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel "Lelaki Harimau", dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/KwiJZSWSkM0MB5T9tNl77fhHWFJgTRpb77KIgdtcVXFkEpwpbtIA0RgL2TjW/lh-lanskap.jpg"><img alt="Lh-lanskap" height="375" src="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/9tbLInQ5RsTtQwnayA2cdkbmUMg06zTpMWuGARQvuzcG9jTK0sy2jzTLwelg/lh-lanskap.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Foto di atas saya ambil belum lama ketika saya ke Pangandaran. Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel &#8220;Lelaki Harimau&#8221;, dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang. </p>
<p>Berminat membandingkan foto di atas dengan pembukaan novel tersebut? Sila baca paragraf pertama ini: <br /><span id="more-3081"></span> </p>
<blockquote><p>Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buahnya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang. Di tengah perkebunan, mengalir sungai kecil penuh dengan ikan gabus dan belut, dikelilingi rawa yang menampung tumpahan arus kala banjir. Orang-orang datang, selang berapa lama selepas perkebunan dinyatakan bangkrut tumbang, untuk memberi patok-patok dan menanam padi di rawa-rawa itu, mengusir eceng gondok dan rimba raya kangkung. Kyai Jahro datang bersama mereka, menanam padi untuk satu musim, terlalu banyak minta diurus dan menggerogoti waktu. Kyai Jahro yang bahkan tak mengenal apa makna bintang waluku mengganti padi dengan kacang yang lebih tangguh, tak minta banyak urus, namun dua karung kacang tanah di musim panen tak alang membuatnya bertanya-tanya, dengan cara apa ia mesti memamahnya. Demikianlah petak tersebut berakhir menjadi kolam, dilemparkan ke sana benih muzair dan nila, dan jadi kesenangannya untuk memberi pakan setiap senja, melihat mulut mereka cuap-cuap di permukaan air menggenang.</p></blockquote>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Cantik itu Luka&#8221; di Badan Truk</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 04:38:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Truk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman di Twitter (<a href="http://twitter.com/alvin_depresi" title="alvin_depresi">@alvin_depresi</a>) menemukan hiasan di truk bertuliskan seperti judul novel saya: "Cantik itu Luka".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile0.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-11-16/gflBClEzjIjpvgfolyxgpFchdBFFpjazosADroFAEtyhrpwhttzwckwqyIyp/cantikituluka-truk.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cantikituluka-truk" height="500" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-11-16/gflBClEzjIjpvgfolyxgpFchdBFFpjazosADroFAEtyhrpwhttzwckwqyIyp/cantikituluka-truk.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Sangat umum di Indonesia, badan truk dihiasi gambar dan tulisan. Umumnya lucu dan erotis. Barangkali merupakan ungkapan perasaan sopir truk yang harus berhari-hari berada di jalanan. Biasanya berupa ungkapan rasa rindu kepada kekasih, istri, atau harapan doa keselamatan dari ibu. Seorang teman di Twitter (<a href="http://twitter.com/alvin_depresi" title="alvin_depresi">@alvin_depresi</a>) menemukan hiasan di truk bertuliskan seperti judul novel saya: &#8220;Cantik itu Luka&#8221;. Senang juga melihatnya. Saya tak tahu siapa perempuan yang dilukiskan di sana. Siapa tahu itu Dewi Ayu atau Alamanda?</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidore: Melipir ke Desa Topo</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 03:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Ternate]]></category>
		<category><![CDATA[Tidore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php</guid>
		<description><![CDATA[Menyeberang dari Ternate ke Tidore, saya tersesat ke sebuah desa bernama Topo.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile1.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/sWpa6t3MtVO0ZFDe7Vu6D6KQPHHL6yM4JVczFGREcL1yWkpvlBJyRco9HAaU/topo.jpg.scaled.1000.jpg"><img alt="Topo" height="375" src="http://getfile8.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/xNqTS9x5nOhYvEhrqgUPoVwbaT4MT4yvyTn5KOe4xdDUhR3gK03lVAE3yhI4/topo.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Di tempat yang baru, biasanya saya mengandalkan peta untuk orientasi ruang. Sayang sekali hingga hari kedua, saya tak juga menemukan peta kota Ternate. Lobi hotel bersih-bersih saja dari benda semacam itu. Maka andalan kedua bisa diambil, ngelayap tanpa tahu tujuan, hanya mengandalkan rasa iseng menangkap pesan-pesan di sekeliling.
<p /> Berdua dengan Hilmar Farid, kami memutuskan untuk menyelinap ke Tidore. Seperti kita tahu, Tidore merupakan pulau tetangga Ternate. Hubungan kedua pulau itu dari dulu pasang-surut. Bersaing dan bersahabat. Jika kita perhatikan gambar uang kertas seribu rupiah, gunung besar di latar belakang adalah Tidore, yang kecil di latar depan adalah Mestara, dan kemungkinan besar gambar tersebut diambil dari Ternate. <br /><span id="more-2985"></span>
<p /> Setelah tersesat naik angkutan kota (sekali lagi, kota ini kecil saja, angkutan kota tak memiliki trayek tertulis di bagian depannya, jadi harus rajin bertanya ke sopir), kami berhasil kembali ke hotel dari tempat seminar. Dari hotel kami naik ojek (bayar 5000 rupiah) ke Bastiong. Itu pelabuhan penyeberangan ke Ternate. Karena sudah tanya-tanya dulu, ada dua pilihan harga untung menyeberang. Pertama, kapal fery kecil reguler kapasitas 16 penumpang dengan tarif 8000 rupiah (nunggu penumpang penuh, tapi biasanya tak lama); atau memakai speed boat dengan sewa 40 ribuan rupiah (di lokasi kami ditawari tarif 50 ribu rupiah). Tentu saja kami memilih yang murah saja.
<p /> Ada hal yang menarik tentang orang-orang Ternate. Saya menganggap mereka tipe yang tak malu-malu mengungkapkan pendapat atau protes jika ada sesuatu yang salah. Dua kejadian memperlihatkan itu. Pertama di angkutan kota. Seorang ibu marah-marah karena minta berhenti tapi mobil jalan terus. Sopir berdalih ia tidak mendengar. Si ibu mendebat, &#8220;Itu karena kamu putar musik kencang sekali.&#8221; Dalam hal ini si ibu benar, dan si sopir menyadari kesalahan ada padanya, tertawa kecut. Kejadian kedua terjadi di ferry yang menyeberangkan kami ke Tidore. Ada indikasi si pengemudi kapal akan melebihi muatan. Seorang bapak marah kepada pengemudi, bahwa itu tidak benar. Tapi alasannya lucu juga. Ia tidak bicara soal keselamatan pelayaran, tapi, &#8220;Lihat kita sedang ada tamu (maksudnya aku dan Hilmar), jangan mempermalukan diri sendiri!&#8221;
<p /> Sejujurnya kami belum tahu mau kemana atau berbuat apa di Tidore. Kami tak punya peta dan niatnya memang cuma melipir-melipir sekadar orientasi ruang. Maka ketika tukang ojek merekomendasikan untuk naik ke Desa Topo (awalnya saya salah dengar sehingga harus bertanya-tanya lagi), ya desa itulah kemudian jadi sekadar tujuan kami. Maka ketika kami sampai di Brum (mudah-mudahan saya tidak salah tulis), pelabuhan di bagian Tidore, kami langsung bertanya bagaimana caranya ke Desa Topo.
<p /> Seorang polisi dan dua orang ibu membantu kami. Kami naik angkutan umum ke Swasio. Perjalanan darat ini semacam menelusuri satu sisi pulau, dengan Pulai Mestara jadi pemandangan di laut dan Ternate di bagian belakangnya. Seorang pemuda yang duduk di samping saya, dengan semangat membanggakan Pulau Mestara, sebagai pulai yang dicetak di uang seribu. Betapa menyenangkannya ngobrol-ngobrol dengan orang setempat yang ramah ini. Kami belum sampai ke Swasio ketika si ibu yang duduk di depan memberitahu untuk ke Desa Topo, lebih baik turun di situ dan ganti angkutan.
<p /> Desa Topo memang bisa dibilang berada di puncak bukit. Perjalanan ke sana melalui jalan terjal yang kemiringannya nyaris 45 derajat. Saya sih tampaknya tak memiliki keberanian sekiranya harus menyetir di tanjakan seperti itu. Tapi sopir angkutan kami santai sekali, itu makanan sehari-harinya. Setelah sekitar seperempat jam, kamis ampai di ujung desa. Kalau mau lanjut, harus jalan kaki.
<p /> Desanya unik. Rumah-rumah bertumpuk hampir vertikal. Saya bayangkan, anak-anak di sini pasti sehat, karena untuk main ke tetangga saja mereka harus jalan kaki naik dan turun. Desanya juga sepi, tipikal desa umumnya. Hanya ada beberapa orang sedang mengerjakan satu bangunan, dan warung kecil yang tampaknya hanya menjual jajanan anak-anak. Yang bisa kamu lakukan cuma hal yang memang hendak kami lakukan ketika naik ke desa itu: melihat laut dari ketinggian.
<p /> Dari Desa Topo ini kita memang bisa melihat laut, juga pulau-pulau kecil, dan tentu saja melihat Pulau Halmahera. Saya sempat mengambil foto. Tapi selebihnya tak ada yang bisa dilakukan. Akhirnya dengan angkutan yang sama (sopirnya mau menunggui kami), kami memutuskan jalan ke Swasio saja. Siapa tahu ada yang bisa dilihat. Paling tidak mencari segelas kopi.
<p /> Swasio kota kecil yang tenang, jauh lebih tenang dari Ternate. Angkutan kota berseliweran dengan musik yang keluar dari sound system mereka. Bising, tapi karena tidak banyak, tak terlalu mengganggu. Malah relatif unik. Angkutan dalam kota lainnya yang beroperasi adalah becak yang didorong oleh sepeda motor. Seperti kota-kota lainnya di Jawa, saya sempat melihat ada distro, sejenis toko pakaian yang menjual t-shirt semacam Quiksilver, Monster, Billabong dan sejenisnya. Saya tak tahu apakah produk asli atau bajakan, tapi siapa yang peduli?
<p /> Setelah mencari-cari, akhirnya kami menemukan warung soto. Tapi kami tak bisa memesan soto karena kata si penjual: &#8220;Belum belanja daging ke Ternate.&#8221; Jadi banyak kebutuhan sehari-hari kota ini, diimpor dari Ternate (dan Ternate sendiri mendatangkannya dari tempat lain, biasanya Makassar atau bahkan dari Jawa). Akhirnya kami makan ayam goreng dan minum kopi. Pemilik warung bukan orang setempat, tapi pendatang dari Jawa Timur (suami) dan Jawa Barat (istri). Hebat juga mereka datang ke &#8220;ujung dunia&#8221; begini untuk mencari penghasilan.
<p /> Tiba-tiba waktu sudah pukul 6. Berbeda dengan Jakarta, di sini pada jam seperti itu langit masih terang. Kami memutuskan untuk kembali ke Ternate.
<p /> Sebelum tidur, kami sempat mampir ke sebuah desa bernama Tubo bersama rombongan sastrawan. Itu merupakan desa tempat Sultan Ternate beristirahat. Ada sebuah mata air alami di sana (karena tengah malam, saya tak sempat memeriksanya). Masyarakat sekitar secara swadaya membangun semacam pendopo sederhana untuk sultan beristirahat. Di sana, seperti umumnya acara yang melibatkan pejabat daerah, kami disuguhi tari-tarian daerah. Saya tak terlalu menikmati tarian itu. Perjalanan melipir ke Tidore membuat saya lelah dan &#8230; ngantuk. Sudah saatnya kembali ke Amara, hotel tempat kami menginap. </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternate: Ujung Dunia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 11:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Ternate]]></category>
		<category><![CDATA[Tidore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php</guid>
		<description><![CDATA[Ketika tahu saya hendak ke Ternate, sopir taksi bertanya: “Terbang ke ujung, ya?” Ujung dunia?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile3.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/f9vZYKN9pwPRQz52t3ITmqbwzIbi1kdzAl8u3m7Sar7l9D1MvOTlJxcNo6SQ/afototidore.jpg.scaled.1000.jpg"><img alt="Afototidore" height="375" src="http://getfile1.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Gzkz9ABvl9ntxmZXKRfKXOca2IuIqp9tSy9VKkq86TJAD704hkCcmv4I2Nms/afototidore.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Ini gara-gara percakapan saya dengan sopir taksi yang mengantar ke bandara. Ketika ia tahu jam penerbangan saya pukul setengah satu malam, komentarnya adalah: “Terbang ke ujung, ya?” Ternyata yang ia maksud sebagai “ujung” adalah kota-kota seperti Manado, Ternate, Sorong, Jayapura. Kota-kota itu terdapat di “ujung” timur dan utara Indonesia, bentangan jaraknya barangkali memang yang paling jauh dari Jakarta. Karena memang saya mau ke Ternate, saya mengiyakan.
<p /> Mungkin juga gara-gara beberapa minggu terakhir di meja saya tergeletak tiga novel yang bagian judulnya memiliki frasa “The End of the World” (karya Antonio Lobo Antunes, Haruki Murakami dan Mario Vargas Llosa), secara semena-mena saya langsung mengingat “ujung dunia”. Tapi jujur saja, meskipun pernah lama tinggal di pinggir pantai (Pangandaran), pada dasarnya saya “anak darat”. Anak yang lebih sering melakukan perjalanan darat. Maka ketika mendarat pertama kali di Ternate, yang hanya pulau kecil dengan satu gunung menjulang dan kota di kakinya, perasaan berada di “ujung dunia” itu benar-benar saya rasakan. Maksudnya, saya merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi. <br /><span id="more-2984"></span>
<p /> Saya pergi ke Ternate atas undangan Temu Sastra Indonesia keempat. Begitu tahu tempatnya di Ternate, saya langsung mengiyakan. Secara berseloroh saya bilang, “Portugis saja sudah datang ke pulau itu ratusan tahun lalu (mereka datang untuk mencari rempah-rempah), masa saya tak berkesempatan mengunjunginya.” Saya lumayan banyak membaca tentang Ternate dan Tidore, dan sekali ada kesempatan datang ke sini dengan akomodasi gratis, pantang untuk dilewatkan tentu saja.
<p /> Jika pernah melihat uang kertas seribu rupiah bergambar dua gunung, itulah Ternate dan Tidore. Kenyataannya, seperti akan kamu lihat dari jendela pesawat, ada lebih dari dua gunung seperti itu, besar dan kecil, mencuat dari permukaan laut di sekitar Ternate dan Tidore. Pemandangannya (bagi saya yang “anak darat”), benar-benar membuat bengong. Hamparan permukaan laut dengan hiasan gunung-gunung itu serasa kolam hiasan depan rumah saja. Barangkali Tuhan sedang membuat taman bermain ketika kepulauan Ternate-Tidore diciptakan. Siapa tahu?
<p /> Dan begitu mendarat di bandara Sultan Baabullah (saya pikir di sini bukan tempatnya untuk mengulas sejarah kesultanan Ternate dan Tidore yang termasyhur tersebut, tapi baiklah sedikit memperkenalkan: ia salah satu sultan Ternate yang sangat terkenal), rasa bengong saya atas “ujung dunia” ini semakin bertambah-tambah. Pulau ini tak lebih dari puncak gunung besar. Gunung Gamalama. Bandara Baabullah persis berada di kakinya. Dan keluar dari bandara, kami langsung menemui kota Ternate yang tak lebih merupakan permukiman di setengah lingkaran kaki Gunung Gamalama.
<p /> Jadi pergi kemana pun di kota itu, di satu sisi kamu melihat gunung menjulang, di sisi lain kamu melihat laut terhampar dengan gunung-gunung lain menghiasinya. Percayalah, tak ada yang seperti ini di sekitar tempat saya lahir dan tinggal. Dan kota Ternate kecil saja, rasanya bisa dijelajahi hanya dalam satu-dua jam saja. Ada angkutan kota yang mengelilingi kota, dan menurut teman yang pernah mencoba, angkutan kota bisa disuruh mengantar ke tempat yang dituju layaknya taksi. Tapi jangan kuatir, saya kira segala kebutuhan sebuah kota ada di sini. Saya melihat ada konter California Fred Chicken. Meskipun belum lihat, saya diberitahu juga ada toko buku Gramedia (penting untuk penulis). Ada ATM. Ada mal (saya tak berminat mengunjunginya). Ada juga yang membuat saya takjub tak percaya: beberapa mobil bagus memiliki plat nomor B (Jakarta). Saya yakin itu bukan mobil pelancong (gila kan membawa mobil sejauh itu), tapi orang lokal yang sengaja membeli mobil di Jakarta dan mempertahankan plat nomornya entah dengan maksud apa.
<p /> Baiklah, lupakan dulu soal itu. Malam ini kami menghabiskan waktu di alun-alun kota, di sebuah taman bernama Taman Dodoku Kapita Lau Ali. Di sana kami mendengarkan pentas grup akustik dan pembacaan puisi. Seorang gadis mencoba tampil ke panggung, dan petugas polisi pamong praja menangkapnya. Sepanjang acara, terjadi kucing-kucingan antara si gadis dan polisi pamong praja. Saya membayangkan, di kota kecil ini barangkali pertentangan antara si gadis dan polisi pamong praja sudah menjadi legenda serupa Tom dan Jerry.
<p /> Acara kami hari itu selesai tengah malam, setelah tiga sesi seminar sepanjang siang dan sore (saya membawakan makalah “Komitmen Sosial dalam Kesusastraan Indonesia Hari Ini”). Bahkan kota ini terus hidup selewat jam 12. Ketika pulang dari alun-alun ke hotel, dari jendela bis antaran, saya masih melihat penjual sayur di pasar, pedagang martabak berderet di pinggir jalan, dan bahkan ada satu pertunjukan musik lain di pinggir jalan yang lain. Sempat terpikir oleh saya, jangan-jangan seluruh kota ini saling mengenal satu sama lain (barangkali saya perlu tanya Nukila Amal, penulis yang berasal dari Ternate, dan bertanya apakah ia mengenal seluruh penduduk kota?). Apa boleh buat, dengan kehidupan dikelilingi lautan membentang dan daratan dihabiskan oleh gunung gemuk menjulang (berapi dan masih aktif), bukankah pilihan terbaik adalah beirnteraksi satu sama lain dan menghidupkan kota kecil ini, siang dan malam? Setidaknya itulah yang saya pikirkan.
<p /> Saya baru satu hari di sini. Lelah dan belum tidur. Belum melihat banyak tempat ini (ada rencana menyeberang ke Tidore). Meskipun begitu, sudah terpikir oleh saya, kelak ingin kembali ke sini. Dan sungguh, saya menganjurkan siapa pun, jika berkesempatan, tengoklah “ujung dunia” ini. Rasakan denyut kota kecil di mana kamu merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi, kecuali berputar-putar di kaki Gunung Gamalama, dan coba pula merasakan hidup layaknya di sebuah kota dalam sebuah novel.
<p /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Twilight of the American Idols</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/twilight-of-the-american-idols-2980.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/twilight-of-the-american-idols-2980.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 15:10:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Friedrich Nietzsche]]></category>
		<category><![CDATA[Parodi]]></category>
		<category><![CDATA[Twilight of the Idols]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/twilight-of-the-american-idols-2980.php</guid>
		<description><![CDATA[Simon Cowell benar, kita harus memiliki mulut sekeras dan sekuat palu. Kita harus mengeliminasi mulut-mulut yang hanya bisa mengerang. Dunia ini memang tidak baik. Semua orang bijak dari berbagai zaman mengatakan begitu. Bahkan Socrates sebelum mati sempat berkata, &#8220;Hidup berarti sakit untuk waktu yang lama.&#8221; Mereka harus dibikin sakit. Dihantam palu. Banyak yang bilang, betapa itu keterlaluan. Tak berperasaan. Sesungguhnya siapa yang tidak berperasaan? Mereka memperoleh kesempatan bernyanyi di depan kamera. Disiarkan langsung ke rumah-rumah. Tidak hanya di ruang tamu keluarga Amerika, tapi dimana-mana. Dan apa yang mereka lakukan? Hanya mengumbar teror. Mulut mereka mengerang. Kita bisa menjadi sedikit bijak di sini: kita bisa menikmati nyanyian yang merdu, disebabkan terlalu sering kita mendengar suara rombeng.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<h3>BEBERAPA MAKSIM</h3>
<p style="text-align: center;">1</p>
<p>&ldquo;Amerika merupakan negara demokrasi.&rdquo; Tidakkah itu merupakan kebohongan ganda?</p>
<p style="text-align: center;">2</p>
<p>&ldquo;Impian Amerika&rdquo;, selamanya merupakan impian.</p>
<p style="text-align: center;">3</p>
<p><em>Pepatah militer Amerika</em>. Apa yang tidak membuat Osama bin Laden hancur, hanya akan membuat dia semakin kuat.</p>
<p style="text-align: center;">4</p>
<p>Di Amerika, Anda minum Coca Cola atau Pepsi. Pilihan lain sangatlah kecil, yakni: Anda tidak minum sama sekali &#8211; <em>menjadi orang miskin</em>.</p>
<p><span id="more-2980"></span></p>
<p style="text-align: center;">5</p>
<p>Superman diturunkan di Amerika, tentu saja karena negara itu merupakan yang paling perlu ditolong. Seperti Musa dikirim ke Mesir.</p>
<p style="text-align: center;">6</p>
<p>Orang-orang jahat tak bisa menyanyi. Itulah kenapa mereka menciptakan kontes menyanyi &ldquo;American Idol&rdquo;, dan seluruh dunia mengikutinya.</p>
<p style="text-align: center;">7</p>
<p>Amerika tak punya uang. Mereka cuma punya Freeport dan Exxon Mobil.</p>
<p style="text-align: center;">8</p>
<p>Amerika menancapkan bendera di bulan, sebab semua tempat di bumi sudah mereka kencingi.</p>
<p style="text-align: center;">9</p>
<p>Columbus tidak menemukan Amerika. Amerika yang menemukan Columbus.</p>
<p style="text-align: center;">10</p>
<p>Dunia tak akan baik-baik saja. Apa yang tidak diveto oleh China, akan diveto oleh Amerika.</p>
<p style="text-align: center;">11</p>
<p>Disney tidak menciptakan Minnie dari tulang rusuk Mickey. Mickey lah yang menciptakan Disney dari tulang rusuk Minnie.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<h3>KONTES MENYANYI</h3>
<p style="text-align: center;">1</p>
<p>Simon Cowell benar, kita harus memiliki mulut sekeras dan sekuat palu. Kita harus mengeliminasi mulut-mulut yang hanya bisa mengerang. Dunia ini memang tidak baik. Semua orang bijak dari berbagai zaman mengatakan begitu. Bahkan Socrates sebelum mati sempat berkata, &ldquo;Hidup berarti sakit untuk waktu yang lama.&rdquo; Mereka harus dibikin sakit. Dihantam palu. Banyak yang bilang, betapa itu keterlaluan. Tak berperasaan. Sesungguhnya siapa yang tidak berperasaan? Mereka memperoleh kesempatan bernyanyi di depan kamera. Disiarkan langsung ke rumah-rumah. Tidak hanya di ruang tamu keluarga Amerika, tapi dimana-mana. Dan apa yang mereka lakukan? Hanya mengumbar teror. Mulut mereka mengerang. Kita bisa menjadi sedikit bijak di sini: kita bisa menikmati nyanyian yang merdu, disebabkan terlalu sering kita mendengar suara rombeng.</p>
<p style="text-align: center;">2</p>
<p>Jika setiap kontes menyanyi Amerika memilih satu penyanyi terbaik, ditemani sebelas penyanyi hampir terbaik, apakah berarti mereka tengah menjual dua belas penyanyi terbaik ke seluruh dunia? Benar. Tapi ini lebih benar: Di kontes semacam itu, ada lebih banyak orang bersuara buruk, dan Amerika menjual ratusan penyanyi bersuara buruk ini kemana-mana. Dan dunia tertawa. Wagner tertawa di kuburannya. Itulah tragedi televisi.</p>
<p style="text-align: center;">3</p>
<p>Di antara para filsuf, mari kita kembali ke nama ini, Socrates termasuk salah satu yang perlu dieliminasi. Mari kita bayangkan ia hadir di kontes menyanyi. Ia tak layak berada di atas panggung. Ia tak semestinya hadir di layar televisi Anda. Inilah yang saya akan bilang sebagai &#8220;Masalah Socrates&#8221;. Kita semua tahu, Socrates dilahirkan dari masyarakat kelas rendah. Ia seorang Plebeian. Semua orang juga tahu, betapa buruknya orang ini. Anda bisa melihat patungnya. Saya kira ia bahkan lebih buruk dari itu. Dan apa kesimpulan dari semua ini? Saya beritahu, sebagaimana kita sudah mendengarnya dari para pakar kriminal antropologis bahwa: tipikal orang-orang kriminal adalah buruk rupa. Dan di sinilah tempat Socrates berada. Ia buruk muka, ia seorang kriminal. Bahkan orang bijak ini sendiri mengakuinya! Maka jangan biarkan orang semacam ini, kriminal dan buruk rupa, menjadi berhala baru Anda. Jika ia naik ke atas panggung kontes menyanyi, ia orang pertama yang harus dieliminasi. Tak ada teriakan &#8220;Selamat datang ke Hollywood!&#8221; untuknya.</p>
<div class="footnote"><strong>Catatan:</strong> ini keisengan saya beberapa bulan lalu membuat coretan setelah membaca &#8220;Twilight of the Idols&#8221; Friedrich Nietzsche.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/twilight-of-the-american-idols-2980.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 15:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Benedict Anderson]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[New Left Review]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Tariq Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Verso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader's Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.</p>  <p>Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal "Indonesia". Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/uEcCemGzxbbkyJrIIxEazAAvtHHDmdmgqzfHFaAmwkJbwJesDzGfFrkialpv/TariqAli_EkaKurniawan1.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Tariqali_ekakurniawan1" height="393" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/uEcCemGzxbbkyJrIIxEazAAvtHHDmdmgqzfHFaAmwkJbwJesDzGfFrkialpv/TariqAli_EkaKurniawan1.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader&#8217;s Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.</p>
<p>Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal &#8220;Indonesia&#8221;. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.</p>
<p><span id="more-2977"></span>  </p>
<p>Tadi malam akhirnya kami bertemu tak jauh dari hotel tempatnya tinggal di daerah Kemang. Saya ditemani Richard Oh, Mikael Johani, Rahung dan Reiner, ngobrol dan makan malam bersama dia. Malam itu kami lebih banyak bicara tentang situasi politik. Antara lain mengenai rencana buku berikutnya, &#8220;The Future of America&#8221;. Juga ngobrol soal kenapa para pemimpin Komunis Indonesia yang terbunuh sampai sekarang belum juga ditemukan kuburannya, padahal di negara-negara lain hal ini mulai terungkap. Soal obrolannya mengenai hal ini, Rahung merekamnya dengan video.&nbsp;</p>
<p>Sementara itu mengenai urusan dengan saya, ia cuma meminta beberapa kopi novel saya. Melalui penerbitnya, Verso, dua tahun lalu ia memang pernah meminta buku-buku itu, tapi entah kenapa kiriman kami tak pernah sampai ke tangannya. Akhirnya saya berjanji besok siang dalam perjalanan ke studio saya akan mampir ke hotelnya dan membawakannya kedua novel saya, serta beberapa manuskrip yang juga dia minta.</p>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/CaAhFIglDhzdkslywaJpcwtxFzoCuchClFwzAeCjtEfqdIbtHldqxAvuacHH/TariqAli_RatihKumala2.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Tariqali_ratihkumala2" height="375" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/CaAhFIglDhzdkslywaJpcwtxFzoCuchClFwzAeCjtEfqdIbtHldqxAvuacHH/TariqAli_RatihKumala2.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Akhirnya siang tadi bersama Ratih Kumala, dalam perjalanan ke kantor, kami mampir ke hotelnya. Tariq Ali kebetulan ada di lobi. Istriku tanya apakah ia sudah makan siang. Karena belum, akhirnya kami makan siang bersama di satu restoran Jepang, di Codefin Kemang. Tak terasa, akhirnya kami bertiga ngobrol lagi. Dan kali ini dia menceritakan berbagai hal-hal lucu dan konyol di negara-negara Komunis yang dia kunjungi.</p>
<p>Salah satu negara yang diceritakannya, tentu saja Korea Utara. Kata dia, di negara itu, sopir yang mengantarnya ke sana-kemari sering berhenti selama beberapa waktu. Saat dia tanya untuk apa, si sopir jawab: untuk berpikir. Akhirnya dia bilang: sudah deh, kamu nggak usah berhenti-berhenti, aku gak akan bikin laporan yang menyusahkan ke atasanmu. Si sopir akhirnya ketawa ngakak bebas.</p>
<p>Dia juga bercerita tentang Museum Seni Nasional. Isinya? Di ruang pertama, ia melihat lukisan Kim Jong-il masih bayi. Ruang kedua, ada lukisan Kim Jong-il remaja. Ruang ketiga, ada lukisan Kim Jong-il sudah menikah, dan seterusnya. Garing banget, kan?</p>
<p>Dan, nah ini yang paling lucu. Saat kami masuk ke Codefin, pandangan Tariq Ali tertuju pada pajangan suratkabar &#8220;Koran Jakarta&#8221;. Dengan tak percaya, ia menoleh kepada kami dan bertanya: &#8220;Koran?&#8221; Awalnya kami tak menyadari apa yang salah dengan nama suratkabar itu, sampai kemudian aku dan Ratih tertawa. Buru-buru kami menjelaskan, &#8220;No, No. Koran dalam bahasa Indonesia artinya suratkabar. Kalau kitab agama Islam, di sini ditulis dengan &#8216;Q&#8217;. Quran.&#8221; Tariq Ali akhirnya mengangguk-angguk dan ikut tertawa. Dia bilang, di Pakistan kayaknya nggak akan ada yang berani kasih nama suratkabar dengan nama &#8220;Koran&#8221;, hahaha.</p>
<p>Untuk yang belum mengenal Tariq Ali, di luar buku-buku politiknya, ia menulis beberapa novel. Antara lain: &#8220;Kitab Salahuddin&#8221;, &#8220;Seorang Sultan di Palermo&#8221;, &#8220;Perempuan Batu&#8221; dan &#8220;Bayang-bayang Pohon Delima&#8221;. Keempatnya sudah tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Akhirnya, selepas makan siang kami berpisah, sambil berjanji untuk saling berhubungan. Tak lupa ia memberi kami salah satu novelnya, &#8220;Fear of Mirrors&#8221;. Di bukunya ia menulis pesan untuk kami, &#8220;Terima kasih untuk perkawanan dan solidaritas pada kunjungan pertamaku ke Jakarta.&#8221; Kami juga senang dan berterima kasih dengan pertemuan tadi, Kamerad. Semoga Anda menikmati suasana Jakarta, yang macet gila (seperti kota-kota Asia lainnya).</p>
</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bebek Hijau dan Pelajaran Mendongeng dari Bayi yang Hendak Tidur</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bebek-hijau-dan-pelajaran-mendongeng-2961.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bebek-hijau-dan-pelajaran-mendongeng-2961.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 06:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Kidung Kinanti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/bebek-hijau-dan-pelajaran-mendongeng-dari-bayi-yang-hendak-tidur-2961.php</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sekali waktu, seorang teman bertanya, apakah setelah punya bayi saya masih punya waktu untuk menulis dan mengarang cerita? Jawaban saya: masih. Bahkan saya seringkali memperoleh ide justru saat terpaksa harus menidurkan Kidung Kinanti, anak saya yang sekarang berumur 7 bulan. Sejak Kinan (begitu nama panggilan anak saya) masih umur sebulan, saya beberapa kali memperoleh kesempatan untuk menidurkannya. Terutama jika Kinan sedang rewel, dan ibunya sedang capek, pada akhirnya saya harus membopongnya. Dan Kinan hanya akan diam kalau saya (seolah-olah) bicara dengannya.</p>  <p>Nah, daripada saya ngobrol ngalor-ngidul tak jelas hanya agar tetap bersuara dan Kinan terbuai sampai tertidur di pundak saya, saya memutuskan untuk mengarang-ngarang cerita. Di sinilah saya kembali belajar hal mendasar dari mendongeng. Persis seperti bagaimana Syahrazad melakukannya: tugas saya adalah terus mendongeng sampai anak tertidur. Jika belum tertidur, saya harus menemukan berbagai cara agar dongeng terus berlanjut. Begitulah, sambil menidurkan anak, saya terus melatih teknik-teknik tertentu untuk mendongeng.</p>  <p>Saya kutipkan dongeng yang tadi malam saya dongengkan ke Kinan. Tak terlalu panjang, sebab ternyata Kinan kali ini lebih mudah dibikin tidur. Mari kita kasih judul "Bebek Hijau" saja:</p> ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-08-11/mEtfzowEFFDIrtHIAbjuDIiGjfxmIcydeetJcJoiJcjFsJyJkApobrBBzfAl/bebek-hijau.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Bebek-hijau" height="375" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-08-11/mEtfzowEFFDIrtHIAbjuDIiGjfxmIcydeetJcJoiJcjFsJyJkApobrBBzfAl/bebek-hijau.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Sekali waktu, seorang teman bertanya, apakah setelah punya bayi saya masih punya waktu untuk menulis dan mengarang cerita? Jawaban saya: masih. Bahkan saya seringkali memperoleh ide justru saat terpaksa harus menidurkan Kidung Kinanti, anak saya yang sekarang berumur 7 bulan. Sejak Kinan (begitu nama panggilan anak saya) masih umur sebulan, saya beberapa kali memperoleh kesempatan untuk menidurkannya. Terutama jika Kinan sedang rewel, dan ibunya sedang capek, pada akhirnya saya harus membopongnya. Dan Kinan hanya akan diam kalau saya (seolah-olah) bicara dengannya.</p>
<p>Nah, daripada saya ngobrol ngalor-ngidul tak jelas hanya agar tetap bersuara dan Kinan terbuai sampai tertidur di pundak saya, saya memutuskan untuk mengarang-ngarang cerita. Di sinilah saya kembali belajar hal mendasar dari mendongeng. Persis seperti bagaimana Syahrazad melakukannya: tugas saya adalah terus mendongeng sampai anak tertidur. Jika belum tertidur, saya harus menemukan berbagai cara agar dongeng terus berlanjut. Begitulah, sambil menidurkan anak, saya terus melatih teknik-teknik tertentu untuk mendongeng.</p>
<p>Saya kutipkan dongeng yang tadi malam saya dongengkan ke Kinan. Tak terlalu panjang, sebab ternyata Kinan kali ini lebih mudah dibikin tidur. Mari kita kasih judul &#8220;Bebek Hijau&#8221; saja:</p>
<p><span id="more-2961"></span></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ada seekor Mak Bebek berwarna kuning yang punya anak tiga ekor. Seperti dia, ketiga anaknya juga berwarna kuning. Sayang, anaknya yang paling bungsu, satu ketika tercebur ke kuah cincau, dan warna tubuhnya menjadi hijau. Si bebek hijau sedih sekali, karena badannya tiba-tiba berbeda dengan kakak-kakaknya. Ia merasa malu, dan hidupnya jadi murung. Ia ingin kembali menjadi bebek warna kuning.</p>
<p>Ibunya bilang, ia bisa kembali berwarna kuning asal ia mau makan umbi kunir. Senang sekali bebek hijau mendengarnya. Tapi, kata ibunya, kunir hanya tumbuh di atas bukit jauh di sana. Bebek hijau tak peduli, ia ingin kembali berwarna kuning. Maka satu pagi, sendirian, bebek hijau pun pergi menaiki bukit, demi menemukan kunir.</p>
<p>Di perjalanan, ia bertemu kucing liar yang jahat. Kucing liar sangat lapar dan hendak menyantapnya. Bebek hijau berlari dan bersembunyi di balik daun talas. Kucing mendekat, mengitari gerumbul daun talas, bahkan mengorek-ngoreknya. Untunglah, karena daun talas dan bulu bebek sama berwarna hijau, kucing liar tak melihatnya. Kucing liar pun pergi dan si bebek hujau selamat.</p>
<p>Setelah memastikan kucing tak ada, bebek hijau pun melanjutkan perjalanan menaiki bukit. Ia harus melintasi satu sungai. Sungainya tidak deras, dengan pelajaran berenang yang pernah diajarkan ibunya, bebek hijau pun berenang perlahan. Namun tiba-tiba muncul seekor ular yang juga tengah lapar. Ular itu melihat bebek hijau dan menuju ke arahnya. Bebek hijau buru-buru berenang menghindar. Di tengah sungai tak ada apa pun untuk bersembunyi. Hanya ada untaian-untaian lumut yang seperti rambut meliuk-liuk di permukaan air. Bebek hijau mendekat ke arah lumut, berenang di antaranya. Itu membuak ular kebingungan, karena warna bulu bebek dan lumut sama-sama hijau, ular tak melihatnya. Ular akhirnya pergi mencari mangsa lain, dan bebek hijau berhasil melintasi sungai.</p>
<p>Setelah setengah hari berjalan, bebek hijau sudah hampir mencapai puncak bukit. Tapi di depannya, tampak segerombolan serigala. Mereka memang tak makan bebek kecil, tapi mereka suka menjadikan bebek kecil mainan, dan cakar mereka bisa juga membuat luka atau kematian. Gerombolan serigala melihatnya, dan dengan riang berlarian ke arahnya. Bebek hijau panik dan buru-buru berlari. Ia menemukan buah mangga mentah yang jatuh dari pohonnya, dan buru-buru meringkuk di sampingnya. Kembali, karena warna buang mangga mentah dan bulu si bebek sama hijau, gerombolan serigala terkecoh dan pergi meninggalkannya.</p>
<p>Dengan napas tersengal-sengal, bebek hijau akhirnya sampai di puncak bukit dan menemukan pohon kunir. Ia segera memakan umbinya, lalu seketika warna bulunya kembali menjadi kuning. Kuning cemerlang seperti bulu saudara-saudaranya.</p>
<p>Dari atas, seekor elang melihat ke bawah. Di hamparan rumput yang hijau, ia melihat benda kuning bergerak-gerak. Semakin ia menajamkan pandangannya, tahulah bahwa itu seekor anak bebek kuning. Elang yang sangat lapar, menukik dan langsung mencengkeram si bebek kuning. Hari itu elang memperoleh makan siang yang lezat &#8230;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kinan sudah tertidur ketika cerita itu berakhir. Saya masih sempat bercanda kepadanya sebelum meletakkan Kinan ke boks bayi: &#8220;Jadi moral ceritanya, Nak, bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki.&#8221;</p>
<p>Ceritanya memang sedih, dan saya tak tahu apakah itu cocok untuk anak yang sudah mengerti. Tapi untuk Kinan, yang terpenting adalah saya terus bicara. Dan bagi saya, yang terpenting saya bisa menceritakan sesuatu sebaik-baiknya. Ketika harus menenangkan bayi yang menangis karena ngantuk, saya terpaksa menceritakan sesuatu dengan gagasan cerita saya ambil sembarangan dari sekitarnya. Cerita keluarga bebek kuning tiba-tiba muncul karena kebetulan Kinan punya boneka bebek kuning empat ekor (satu ibu dan tiga anak). Ini mengajari saya kembali: gagasan bisa diambil dari mana saja. Pernah saya bocara tentang cicak setelah melihat seekor cicak melintas. Pernah juga menceritakan kisah tentang seekor nyamuk setelah melihat luka kecil di kulit Kinan karena digigit nyamuk. Apa pun bisa menjadi cerita. Yang terpenting: bagaimana memberi bobot kepada cerita itu.</p>
<p>Tentu saja cerita awalnya mengingatkan kita pada dongeng &#8220;Itik Buruk Rupa&#8221;. Saya pikir sangat lumrah ketika terpikir menceritakan induk bebek kuning dan ketiga anaknya, referensi awal saya lari ke dongeng itik buruk rupa. Saya hanya perlu memodifikasinya. Tentu saja jika Kinan lebih susah dibikin tidur (bisasanya dia diam saja selama saya bicara, tapi akan menangis kalau saya berhenti bicara), saya harus lebih pintar membuat cerita lebih panjang. Mungkin saya bisa ngarang cerita secara asal-asalan, hanya agar terus bicara. Tapi itu hanya akan membuat pendongengnya (saya sendiri) merasa bosan. Cara terbaik, tentu saja membuat asumsi anak saya yang baru tujuh bulan itu mengerti apa yang saya dongengkan, dan saya harus mendongeng dengan baik, dengan jalinan cerita yang berliku, suspens yang bermutu, dan akhir yang menarik.</p>
<p>Sebagai seorang penulis, saya memiliki utang besar terhadap keluarga saya yang mendongengi saya ketika masih kecil. Di antara mereka: ibu, ayah, paman, dan nenek saya, serta seorang pendongeng kampung bernama Ma Muah. Dongeng-dongeng mereka seringkali tak pernah saya dengar dari orang lain, membuat saya mengasumsikan mereka mengarang-ngarang sendiri dongeng itu untuk saya dan adik-adik saya. Kini saya memiliki kesempatan membayar utang luar biasa itu: mendongeng untuk anak saya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bebek-hijau-dan-pelajaran-mendongeng-2961.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai Politik Saya</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/nilai-politik-saya-2945.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/nilai-politik-saya-2945.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 04:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/nilai-politik-saya-2945.php</guid>
		<description><![CDATA[Saya baru mengikuti <a href="http://budimansudjatmiko.net/?q=node/2" title="Pancasila Interaktif" target="_blank">Pancasila Interaktif</a>, sebuah aplikasi yang bisa menentukan posisi nilai politik kita dengan cepat di situs <a href="http://budimansudjatmiko.net/?q=node/2" title="Pancasila Interaktif" target="_blank">Budiman Sudjatmiko</a>. Aplikasi ini pada dasarnya berupa kuis, dimana kita menentukan sikap kita atas beberapa pilihan dalam satu dan beberapa isu/masalah. Dan setelah mengisi kuis tersebut, inilah hasil "Nilai Politik" saya terlihat dalam bagan:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>Saya baru mengikuti <a href="http://budimansudjatmiko.net/?q=node/2" title="Pancasila Interaktif" target="_blank">Pancasila Interaktif</a>, sebuah aplikasi yang bisa menentukan posisi nilai politik kita dengan cepat di situs <a href="http://budimansudjatmiko.net/?q=node/2" title="Pancasila Interaktif" target="_blank">Budiman Sudjatmiko</a>. Aplikasi ini pada dasarnya berupa kuis, dimana kita menentukan sikap kita atas beberapa pilihan dalam satu dan beberapa isu/masalah. Dan setelah mengisi kuis tersebut, inilah hasil &#8220;Nilai Politik&#8221; saya terlihat dalam bagan:</p>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-06-26/nndupBpjJwBmezHeoACdgnqrzeqcuzJFCveuggJefArxdHeivpIJGCnHyHkJ/nilaipolitik1.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Nilaipolitik1" height="452" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-06-26/nndupBpjJwBmezHeoACdgnqrzeqcuzJFCveuggJefArxdHeivpIJGCnHyHkJ/nilaipolitik1.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-06-26/JluGadkJtdczkpFcwaCCaoCnkauemlqrbnmHahlAgwzjcmEgxgcqxGDpulnJ/nilaipolitik2.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Nilaipolitik2" height="316" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-06-26/JluGadkJtdczkpFcwaCCaoCnkauemlqrbnmHahlAgwzjcmEgxgcqxGDpulnJ/nilaipolitik2.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Di gambar pertama, rupanya saya termasuk penganut &#8220;progresif etis&#8221;. Di bagan kedua, sebagai interpretasi alternatif, saya berada di irisan &#8220;nasionalisme radikal&#8221; dan &#8220;sosialisme demokrat&#8221;. Hmmm. Dan apakah itu &#8220;progresif etis&#8221;? Ini penjelasan dari <a href="http://spektika.com/i/g/region#ProgresifEtis" title="Spektika" target="_blank">Spektika.com</a>, pengembang aplikasi tersebut:&nbsp;<span id="more-2945"></span></p>
<blockquote><h3>Progresif Etis</h3>
<p>Sistem nilai ini memberikan penekanan yang kuat prinsip kebebasan individu untuk mengembangkan potensi dirinya yang seluas-luasnya. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berusaha mengejar apa yang diinginkannya dan oleh karena itu berhak untuk menikmati hasil yang diperolehnya.</p>
<p>Dengan demikian, segala bentuk intervensi yang berasal dari luar diri individu tidak dapat ditolerir. Bahwa setiap individu memilliki kemampuan yang beragam dalam memanfaatkan hak-hak kemanusiaannya merupakan sesuatu yang natural dan tidak boleh dipertentangkan dengan semangat kebebasan dan persamaan itu sendiri.</p>
<p>Sistem nilai ini memahami negara sebagai entitas organis yang muncul dari keinginan dan aspirasi bersama warganya. Oleh karena itu, keberadaan negara semata-mata adalah merealisasikan tujuan etisnya yakni menjamin agar tidak ada pelanggaran terhadap kemerdekaan dan kebebasan individu untuk mengembang dirinya. Namun demikian, negara sama sekali tidak boleh mencampuri terlalu jauh urusan rakyatnya. Untuk mencegah agar kekuasaan negara tidak melampaui batas kewenangannya maka diperlukan konstitusi yang menjamin hak-hak kewarganegaraan.</p>
<p>Sistem nilai ini mempunyai kedekatan dengan ideologi liberalisme yang memberikan penekanan pada prinsip kebebasan sebagai nilai kemanusiaan yang utama. Variannya bisa berupa gerakan aktivisme yang mengadvokasi kebebasan dan hak-hak sosial politik individu.</p>
</blockquote>
<p>Aplikasi ini mungkin tak sepenuhnya menggambarkan posisi politik dan ideologis kita, mengingat terbatasnya isu/masalah yang dipergunakan sebagai sampel kuis. Tapi bolehlah untuk sekadar mengukur di mana kira-kira posisi seseorang secara ideologis. Hasil di atas, untuk saya sendiri, rasanya tak terlalu mengejutkan. Lah, ya iyalah, kan saya sendiri yang mengisi kuisnya? Hehehe &#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/nilai-politik-saya-2945.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

