14 Cerita Pendek dalam 5 Tahun

Awal tahun 2010, saya mencoba menoleh apa saja yang sudah saya lakukan. Karena terakhir kali saya menerbitkan buku tahun 2005, yakni kumpulan cerita pendek “Cinta Tak Ada Mati” dan re-issue “Corat-coret di Toilet” yang bersama cerita-cerita lain menjadi “Gelak Sedih”, saya nengoknya jauh hingga 2005. Ternyata dari 2005 sampai sekarang, meskipun tentu banyak yang saya tulis, ternyata hanya menerbitkan 14 cerita pendek! Inilah cerita-cerita pendek tersebut:
Baca selengkapnya …

28 November


Foto oleh: brian glanz, Some right reserved.

Apa istimewanya tanggal 28 November? Buat saya, paling tidak, saya tahu hari itu ibu saya masak nasi kuning. Ada saya atau tidak di rumah, ia hampir selalu melakukannya. Mudah-mudahan hari ini juga, soalnya seperti tahun yang sudah-sudah, lagi-lagi saya tidak di rumah orang tua saat saya berulang tahun.

Faktanya, saya sendiri agak tak terlalu peduli dengan hari itu. Toh setiap hari umur saya bertambah tanpa harus mengingat hari lahir. Kalaupun saya mengingatnya, itu karena setiap kali mengisi formulir (membuat KTP, paspor, membuka rekening bank, bahkan sekadar membuat akun Facebook), saya harus menulis tanggal kelahiran saya. Tentu saja saya bisa menulis tanggal kelahiran palsu untuk sekadar akun Facebook atau email gratis. Tapi pertanyaannya, untuk apa? Tanggal kelahiran saya bukan suatu rahasia besar: sudah tercatat di arsip kependudukan, kan? (Ya, dengan asumsi arsip kependudukan Negara ini diurus dengan benar).

Baca selengkapnya …

Rengganis si Cantik dan Foto-foto dari Pangandaran

Buat yang pernah membaca novel Cantik itu Luka dan menemukan tokoh bernama Rengganis si Cantik, ini adalah asal-usul sebenarnya. Di hutan lindung Pananjung, Pangandaran, terdapat goa dan mata air Rengganis. Siapa yang membersihkan badan di sana, konon bakal awet muda. Saya memotret mata air tersebut pada kunjungan saya ke Pangandaran, tempat saya dibesarkan dan orang tua saya masih tinggal, Lebaran 2009 lalu.

Baca selengkapnya …

Negara Merampas Hak Pilih Saya

Awalnya saya malas mengomentari Pemilihan Umum 2009 kali ini, tapi setelah berpikir-pikir, mungkin ada bagusnya saya mencatat kekesalan saya. Paling tidak, untuk mengingatkan saya bahwa hal ini pernah terjadi. Sejak saya memperoleh hak pilih saya, untuk kali pertama, saya tak memperoleh hak itu.

Saya merupakan warga negara yang baik. Saya belum pernah dihukum karena tindakan kriminal. Penghasilan saya dipotong pajak. Umur saya lebih dari cukup. Saya juga memiliki Kartu Tanda Penduduk yang sah. Tapi entah kenapa, negara tiba-tiba menghilangkan nama saya dari Daftar Pemilih Tetap yang berhak memilih wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat.
Baca selengkapnya …

Renang dan Jogging

Ketika memutuskan untuk menjadi penulis penuh waktu, saya menyadari barangkali saya akan menjalani hidup yang sangat tidak sehat. Paling tidak saya sudah menjalani hidup yang tidak sehat itu selama beberapa waktu: terlalu banyak duduk untuk menulis di depan komputer, terlalu banyak duduk untuk membaca buku, terlalu banyak aktifitas pikiran daripada aktifitas fisik, dan tentu saja sederet gaya hidup yang sama tidak sehatnya. Jelas: saya butuh berolahraga.

Ada dua jenis olahraga yang saya lakukan: jogging dan renang. Ketika masih di Yogya, tepatnya di akhir masa-masa saya tinggal di Yogya, saya sering jogging sore hari mengitari kampus UGM. Banyak orang melakukan kegiatan itu sehingga saya merasa senang, meskipun pada dasarnya saya berlari sendirian. Dari rumah biasanya saya cuma bercelana pendek, memakai sepatu kets, dan berbekal uang receh untuk membeli minuman. Setelah itu langsung lari.
Baca selengkapnya …

Apakah Para Pejabat Ditakdirkan untuk Bego?

Malam ini, dengan terpaksa saya mendownload semua file yang saya simpan selama sepuluh tahun terakhir di Yahoo Briefcase. Sambil melakukan itu, saya browsing dan menemukan satu tulisan lucu di sebuah blog. Saya kutipkan kembali di sini, sebab ini mengingatkan saya kepada peristiwa yang saya alami sekitar dua belas tahun lalu.
Baca selengkapnya …

Oleh-oleh Buku (Bekas)
(Catatan dari Tokyo (3))

Toko Buku Bekas di Universitas Tokyo. Foto oleh Ratih Kumala.

Toko Buku Bekas di Universitas Tokyo. Foto oleh Ratih Kumala.

Seperti pergi ke manapun, saya selalu menyempatkan diri pergi ke toko buku, terutama keluar-masuk toko buku bekas. Selama di Tokyo, setiap kali saya jalan dan menemukan toko buku bekas, pasti saya masuk. Tapi kali ini saya tak begitu banyak membeli buku. Pertama, karena sangat jarang buku berbahasa Inggris (berbahasa Jepang sih melimpah). Kedua, jika dibandingkan di tempat lain, harga buku di Jepang hampir satu setengah hingga dua kali lipat di tempat lain.

Meskipun begitu, saya sempat gembira ketika mengunjungi Tokyo University, saya menemukan sebuah toko buku bekas. Toko itu mengingatkan saya pada toko Jose Rizal di Taman Ismail Marzuki, tapi dengan penataan yang lebih rapi dan cahaya lebih terang. Pemiliknya juga seorang lelaki tua yang ditemani istrinya. Sebagian besar buku berbahasa Jepang (tapi saya bisa mengira-ngira, sebagian besar buku sastra dan kajian), tapi saya menemukan dua buku berbahasa Inggris yang langsung saya beli.
Baca selengkapnya …

“Malam Seribu Bulan” di Tokyo University of Foreign Studies
(Catatan dari Tokyo (2))

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.

Seminar di Tokyo University of Foreign Studies. Foto oleh Ratih Kumala.

Hari-hari saya berada di Tokyo semakin cerah. Hanya sekali hujan turun, yakni malam ketika saya usai mengikuti seminar. Di luar yang saya kira, seminar itu bukan bagian dari seminar yang lebih luas; tapi benar-benar merupakan seminar sehari.

Ada lima orang di forum yang membicarakan novel saya. Pertama, Pak Toru Aoyama yang berlaku sebagai tuan rumah sekaligus moderator. Terus ada Shiho Sawai, peneliti Jepang yang memberikan konteks mengenai kesusastraan Indonesia. Terus ada kritikus sastra Jepang yang mengulas novel Bi wa Kizu (Cantik itu Luka). Dua lainnya adalah saya dan penerjemah untuk saya.
Baca selengkapnya …

Melihat Gadis Manga di Shibuya
(Catatan dari Tokyo (1))

Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala.

Di Taman Inokashira. Foto oleh Ratih Kumala.

Sudah tiga hari saya dan Ratih berada di Tokyo. Acara utama kami baru akan dilakukan siang ini. Saya diundang ke Tokyo University of Foreign Studies – TUFS – untuk membicarakan novel ketiga saya Malam Seribu Bulan, baru akan terbit awal tahun depan.

Pengundang saya adalah Prof. Toru Aoyama. Ia tampaknya, sebagaimana diberitahu teman saya yang bekerja di NHK, mengepalai pusat studi mengenai sastra, Islam, dan Asia Tenggara. Seminar kami pun ada hubungannya dengan pusat studi tersebut.
Baca selengkapnya …

Catatan Lebaran

Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal.

Ini salah satu sudut desa tempat sekarang ibu saya tinggal.

Lebaran ini sepertinya saya tidak pulang, dan sebagai gantinya berkali-kali harus menelepon ibu saya, menanyakan kabar mereka di rumah. Pertama, tentu karena saya malas menghadapi kemacetan di jalan. Meskipun jalur mudik ke selatan tidak semacet jalur ke timur, tetap saja pulang menjelang Lebaran bukan satu perjalanan yang mengasyikan. Lebaran-lebaran tahun sebelumnya, saya lebih suka pulang dua atau tiga hari selepas Lebaran, ketika orang-orang justru kembali ke Jakarta.

Kedua, jika tidak ada halangan, saya akan ke Jepang akhir November untuk bicara tentang novel saya yang bakal terbit, “Malam Seribu Bulan”, atas undangan Tokyo University of Foreign Studies. Masih dua bulan, tapi saya harus mengurus visa di tengah kantor-kantor (termasuk kedutaan) yang terkena dampak tanggal-tanggal merah. Juga kesibukan mengurus tahap akhir novel saya, sebab novel itulah yang akan saya bicarakan di Jepang. Saya memutuskan untuk mendesain dan menata-letak sendiri buku ini, seperti yang saya lakukan di buku-buku pertama saya. Kalaupun saya mudik, tampaknya itu setelah urusan-urusan ini selesai saja.
Baca selengkapnya …