Lanskap “Lelaki Harimau”

Lh-lanskap

Foto di atas saya ambil belum lama ketika saya ke Pangandaran. Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel “Lelaki Harimau”, dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang.

Berminat membandingkan foto di atas dengan pembukaan novel tersebut? Sila baca paragraf pertama ini:
Baca selengkapnya …

“Cantik itu Luka” di Badan Truk

Cantikituluka-truk

Sangat umum di Indonesia, badan truk dihiasi gambar dan tulisan. Umumnya lucu dan erotis. Barangkali merupakan ungkapan perasaan sopir truk yang harus berhari-hari berada di jalanan. Biasanya berupa ungkapan rasa rindu kepada kekasih, istri, atau harapan doa keselamatan dari ibu. Seorang teman di Twitter (@alvin_depresi) menemukan hiasan di truk bertuliskan seperti judul novel saya: “Cantik itu Luka”. Senang juga melihatnya. Saya tak tahu siapa perempuan yang dilukiskan di sana. Siapa tahu itu Dewi Ayu atau Alamanda?

Tidore: Melipir ke Desa Topo

Topo

Di tempat yang baru, biasanya saya mengandalkan peta untuk orientasi ruang. Sayang sekali hingga hari kedua, saya tak juga menemukan peta kota Ternate. Lobi hotel bersih-bersih saja dari benda semacam itu. Maka andalan kedua bisa diambil, ngelayap tanpa tahu tujuan, hanya mengandalkan rasa iseng menangkap pesan-pesan di sekeliling.

Berdua dengan Hilmar Farid, kami memutuskan untuk menyelinap ke Tidore. Seperti kita tahu, Tidore merupakan pulau tetangga Ternate. Hubungan kedua pulau itu dari dulu pasang-surut. Bersaing dan bersahabat. Jika kita perhatikan gambar uang kertas seribu rupiah, gunung besar di latar belakang adalah Tidore, yang kecil di latar depan adalah Mestara, dan kemungkinan besar gambar tersebut diambil dari Ternate.
Baca selengkapnya …

Ternate: Ujung Dunia

Afototidore

Ini gara-gara percakapan saya dengan sopir taksi yang mengantar ke bandara. Ketika ia tahu jam penerbangan saya pukul setengah satu malam, komentarnya adalah: “Terbang ke ujung, ya?” Ternyata yang ia maksud sebagai “ujung” adalah kota-kota seperti Manado, Ternate, Sorong, Jayapura. Kota-kota itu terdapat di “ujung” timur dan utara Indonesia, bentangan jaraknya barangkali memang yang paling jauh dari Jakarta. Karena memang saya mau ke Ternate, saya mengiyakan.

Mungkin juga gara-gara beberapa minggu terakhir di meja saya tergeletak tiga novel yang bagian judulnya memiliki frasa “The End of the World” (karya Antonio Lobo Antunes, Haruki Murakami dan Mario Vargas Llosa), secara semena-mena saya langsung mengingat “ujung dunia”. Tapi jujur saja, meskipun pernah lama tinggal di pinggir pantai (Pangandaran), pada dasarnya saya “anak darat”. Anak yang lebih sering melakukan perjalanan darat. Maka ketika mendarat pertama kali di Ternate, yang hanya pulau kecil dengan satu gunung menjulang dan kota di kakinya, perasaan berada di “ujung dunia” itu benar-benar saya rasakan. Maksudnya, saya merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi.
Baca selengkapnya …

Twilight of the American Idols

BEBERAPA MAKSIM

1

“Amerika merupakan negara demokrasi.” Tidakkah itu merupakan kebohongan ganda?

2

“Impian Amerika”, selamanya merupakan impian.

3

Pepatah militer Amerika. Apa yang tidak membuat Osama bin Laden hancur, hanya akan membuat dia semakin kuat.

4

Di Amerika, Anda minum Coca Cola atau Pepsi. Pilihan lain sangatlah kecil, yakni: Anda tidak minum sama sekali – menjadi orang miskin.

Baca selengkapnya …

Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu

Tariqali_ekakurniawan1

Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader’s Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.

Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal “Indonesia”. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.

Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka