Seperti barangkali pernah saya singgung, bersama beberapa penulis kami merencanakan sebuah proyek buku berjudul LA Underlover. Untuk itu saya menulis lima cerita pendek sepanjang tahun 2007 kemarin. Semuanya sudah kelar saya tulis, dan bahkan sudah semuanya dipublikasikan di koran maupun majalah. Yang terakhir, baru saja dimuat di Suara Merdeka berjudul “Pesan Moral”. Cerpen lainnya sudah tampil di Blog Kecil ini: “La Cage aux Folles”. “Pesan Moral” © 2008 oleh Eka Kurniawan.

Satu cerpen saya, La Cage aux Folles diterbitkan dalam antologi 100 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dari Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen ini pertamakali diterbitkan di Koran Tempo, 15 Juli 2007 dan akan diterbitkan pula dalam buku antologi bersama 4 penulis lain, berjudul L.A. Underlover (mudah-mudahan segera terbit).

Ini pesan dari teman saya, Ugoran Prasad dan Melbi: hi all, sekarang album pertamanya melbi, anamnesis (2005), dan demo balada joni dan susi (upcoming-2008) sudah bisa di dengar di last.fm. Di sini untuk full album Anamnesis dan di sini untuk full album joni dan susi. kalo sempet, dengerin ya. kalo senang, pls forward pesan ini. thanks. Formasi terakhir band ini: Yosi Herman Susilo, Yennu Ariendra, Ugoran Prasad, Teguh Hari, and Septian Dwirima.

Lari dari Blora: Itu judul film yang baru saya liat tadi malam. Tag-nya: harmony withaout the law. Sebenarnya gagasan ceritanya menarik: bagaimana orang-orang luar (narapidana yang kabur, guru progresif dan peneliti Amerika) datang ke kampung Samin. Ini kampung yang sejak awal abad 19 terkenal karena pembangkangannya kepada kekuasaan pemerintah. Mereka suka damai, tak pernah curiga, tak ada maling. Bisa dibuat lucu atau dramatik. Tapi aduh … dialognya payah. Pengambilan gambar apa adanya. Kayak orang bikin fragmen televisi tahun 80an, deh! Ratih membuat posting lebih panjang di ratihkumala.com.

Acara ulang tahun milis Apresiasi-Sastra di Japan Foundation 16/2/2008, salah satunya menampilkan monolog Cantik itu Luka. Sebagai sutradara, Bung Kelinci mengambil fragmen bagian depan ketika Dewi Ayu masuk ke Bloedenkamp dan kemudian dipaksa menjadi pelacur tentara Jepang. Naskah dipentaskan oleh Maya Sekartaji (sebagai Dewi Ayu), yang mainnya sangat bagus dan berhasil mengeluarkan karakter ironi Dewi Ayu. Terima kasih Bung Kelinci dan juga Maya!

Eh, ternyata Jose Saramago mengeluarkan novel baru: Death at Intervals. Semakin tua, semakin rajin ia menulis novel. Terakhir berturut-turut The Double, Seeing, semuanya masih tergeletak di rak, belum sempat kubaca. Terakhir aku baca Baltasar and Blimunda. Tapi novel Saramago yang paling aku suka adalah The Year of the Death of Richardo Reis. Barangkali karena novel tersebut bercerita mengenai penyair Fernando Pesoa (Richardo Reis merupakan salah satu nama pena Pesoa). Bagaimanapun pengin nyari Death at Intervals, meskipun nggak tahu kapan sempat baca di antara banyak antrian buku. Hik.

Cantik itu Luka