Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’
(By Benedict R. O'G. Anderson, Journal "Indonesia", Volume 86.)
At the age of only thirty-two, the Sundanese Eka Kurniawan is without any doubt the most original, imaginative, profound, and elegant writer of fiction in Indonesia today. If anyone has a chance of filling the aerie in Indonesian literature left empty with the death of Pramoedya Ananta Toer, it is he. It is no accident that his first book, published in 1999, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, is by far the best work, admiring and critical at the same time, on the master written by an Indonesian. Traces of Pram are visible everywhere in his fiction, yet Eka, born into another culture and in another, gloomier epoch, writes in an inimitable manner, which is immediately recognizable in any paragraph. Over the last six years, he has published two outstanding novels, the enormous if unwieldy Cantik itu … Luka (Beauty is … a Wound) in 2002, and the fiercely dense Lelaki Harimau (Man-Tiger) in 2004. In 2005 he published his first collection of short stories, Cinta Tak Ada Mati (No Death for Love), and, in the same year, a second collection, Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Sad Laughter and Other Tales), from which the story translated below has been drawn.
Baca selengkapnya …
“Bercinta dengan Barbie” dalam Kacamata Feminis
Oleh: MelissaSumber: kritikfeminis2005.blogdrive.com

Foto oleh Iboy Daniel, Some rights reserved.
Cerpen “Bercinta dengan Barbie” adalah sebuah karya dari penulis bernama Eka Kurniawan yang terdapat dalam buku berjudul Gelak Sedih yang merupakan kumpulan hasil karyanya.
Judulnya yang begitu menarik, yaitu “Bercinta dengan Barbie”, begitu menggugah rasa ingin tahu ceritanya. Dari ceritanya yang sama menariknya dengan judulnya, kita bisa menemukan beberapa faktor yang mencolok mengenai hubungan antara suami dengan istri, laki-laki dan perempuan, pria dan wanita. Meskipun ide utama cerita ini kemungkinan tidak khusus mengarah pada masalah gender, tapi kita masih bisa mendapatkan gambaran tentang keresahan seorang istri, perempuan, wanita, dalam menghadapi suami, atau laki-laki dan pria, dalam melakukan hubungan sosial dengan mereka. Melalui beberapa unsur yang terdapat dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini, saya akan mencoba menganalisanya melalui sudut pandang para feminis.
Baca selengkapnya …
Siasat Membangun Cerita di Atas Cerita
Oleh: Damhuri Muhammad
Foto oleh: piccadillywilson, Some rights reserved.
Disadari atau tidak, setiap “tukang” cerita meneladani kecerdasan Syahrazad. Permaisuri pendongeng dalam kisah Seribu Satu Malam yang mesti “berjuang” menyelesaikan sepenggal kisah demi tertundanya ancaman maut satu malam lagi. Bilamana sang permaisuri itu masih ingin bertahan hidup, ia harus merangkai sepenggal kisah lagi untuk mengulur waktu kematiannya satu malam lagi.
Begitu seterusnya, hingga tak terasa ia sudah menghabiskan 1001 malam untuk merajut kisah-kisahnya. Begitu juga kesan saya setelah membaca cerpen “Dongeng Sebelum Bercinta” dalam antologi Gelak Sedih (Gramedia, Jakarta, 2005) karya Eka Kurniawan. Alamanda, perempuan yang tak berdaya menolak pernikahannya dengan lelaki sepupu sendiri, mencoba bersiasat agar suaminya tak beroleh kesempatan menjamah tubuhnya, “bercinta”layaknya hubungan suami-istri.
Baca selengkapnya …
Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih
Oleh: Sjaiful MasriSumber: Sriti.com

Foto oleh: gari.baldi, Some rights reserved.
Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel Cantik itu Luka. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, tangga nada yang harmonisnya bisa dirinci. Atau tepatnya tarot yang terkocok acak yang kemudian menyimpan risalah panjang yang asyik untuk dimainkan… Saya berbeda selera dengan Maman. Tebakan saya meleset. Air bah itu hanya berpusar pada ruang kepalanya, bukan Tsunami semesta.
Baca selengkapnya …
Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng
Oleh: Kurniawan
Foto oleh skippy13, Some rights reserved.
Kekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku Corat-coret di Toilet ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.
Misalnya, dalam “Kisah dari Seorang Kawan” yang berbentuk cerita berbingkai. Bingkainya adalah kisah percakapan beberapa aktivis mahasiswa tentang orangtua masing-masing. Inti cerpen ini adalah kisah seorang mahasiswa tentang ayahnya yang pedagang beras kecil tapi dipenjara karena membunuh seorang pedagang besar yang berhasil menguasai pasar beras dan merebut pelanggan-pelanggan para pedagang kecil itu.
Baca selengkapnya …