Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’
(By Benedict R. O'G. Anderson, Journal "Indonesia", Volume 86.)

At the age of only thirty-two, the Sundanese Eka Kurniawan is without any doubt the most original, imaginative, profound, and elegant writer of fiction in Indonesia today. If anyone has a chance of filling the aerie in Indonesian literature left empty with the death of Pramoedya Ananta Toer, it is he. It is no accident that his first book, published in 1999, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, is by far the best work, admiring and critical at the same time, on the master written by an Indonesian. Traces of Pram are visible everywhere in his fiction, yet Eka, born into another culture and in another, gloomier epoch, writes in an inimitable manner, which is immediately recognizable in any paragraph. Over the last six years, he has published two outstanding novels, the enormous if unwieldy Cantik itu … Luka (Beauty is … a Wound) in 2002, and the fiercely dense Lelaki Harimau (Man-Tiger) in 2004. In 2005 he published his first collection of short stories, Cinta Tak Ada Mati (No Death for Love), and, in the same year, a second collection, Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Sad Laughter and Other Tales), from which the story translated below has been drawn.
Baca selengkapnya …

Perlu Mengakrabi Sastra Mancanegara
(Wawancara di Jurnal Nasional, 9 Desember 2007)

Sebagai penulis muda yang karyanya telah dikenal luas sampai ke Jepang, bagaimana pendapat Anda tentang kemungkinan sastrawan Indonesia meraih Nobel?

Kalau saya sih optimistis saja. Untuk mendapatkan Nobel itu kan juga disebabkan banyak faktor. Bagi saya pribadi Nobel tidak selalu identik dengan kualitas. Kalau saya bilang optimistis itu lebih berarti kepada pemikiran kalau sastra Indonesia itu adalah bagian dari sastra dunia. Maksud saya nanti suatu saat, penulis kita bisa sejajar dengan penulis-penulis dari negara lain, bisa menjadi penulis yang enggak cuma jago kandang. Artinya kita punya potensi tapi harus diakui juga kalau pergaulan kita dengan sastra mancanegara juga belum terlalu intim. Kalau istilah petinju, kita itu kurang sparing partner. Kalau kita tidak terlalu banyak bergaul dengan sastra berkualitas dari mancanegara kita juga sulit menentukan standar estetikanya.
Baca selengkapnya …

Eka Kurniawan: An Unconventional Writer

He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.


Like many aspiring writers who need to pay the bills, Eka Kurniawan started out as a journalist. The 33-year-old native of Tasikmalaya, West Java, then submitted a few short stories to Kompas daily’s respected literary page, and they were accepted.

“People always asked me how it happened that I had my stories published in Kompas,” says the Gadjah Mada University graduate. “But there’s really no magic to it. I sent [the stories] out to the editorial department, even though I didn’t know anybody there.”

Gradually, his journalistic days of meeting deadlines came to an end.
Baca selengkapnya …

Pramoedya Ananta Toer and Socialist Realism Literature

Sumber: books.coffee-cat.net


Foto oleh gari.baldi, Some rights reserved.

Initially written a thesis for his philosophy degree in Universitas Gadjah Mada, Eka, evidently deferential to Pramoedya but at the same time also critically sensible, offers a comprehensive basic text on (as the title suggests) Pramoedya Ananta Toer and (his role in) the growth of Socialistic Realism in relation to the global movement as well as local figures/parties. Covering general as well as specific historical facts with lucid clarity, the book assumes little familiarity with Indonesian history and is accessible to general readers.

Born in Blora on February 6, 1925, he was the first child of Pak Mastoer, a political activist (in PNI) and a HIS (and later IBO) teacher. His mother, Oemi Saidah, was a daughter of a village (Rembang) chief’s mistress, who was to be the well-known inspiration for Gadis Pantai. Pram didn’t stand out in his early schooling, his writing and intellectual activities became more visible once he left for Jakarta, compiling meticulous research, documentation and translation on history, philosophy and literature (which became instrumental sources and elements for his writings).
Baca selengkapnya …

Kenangan Getir Korban Tragedi Mei 1998

Oleh: Berto Tukan
Sumber: kecoamerah.blogspot.com


Grafis oleh Derrick T, Some rights reserved.

Pembukaan

Sastra bersama ilmu filsafat merupakan mother of science. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana sastra terkesan sedikit jauh dengan masyarakat kebanyakan.

Dalam perjalanannya, sastra (baca karya sastra) mengalami banyak perubahan dan perkembangannya, sehingga kita mengenal banyak sekali aliran dan jenis karya sastra. Untuk sekadar contoh, fiksi sains, fiksi detektif, fiksi sejarah dan masih banyak lagi, mewarnai dunia sastra. Ini merupakan konsekuensi dari semakin kompleksnya kehidupan manusia dari hari ke hari. Maka, sastra yang dipercayai sebagai sebuah bentuk refleksi sastrawan terhadap kehidupan pun ikut menjadi kompleks, sekompleks kehidupan yang menjadi sumur inspirasi utamanya.
Baca selengkapnya …

Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh

Oleh: Roslan Jomel
Sumber: roslanjomel.blogspot.com


Foto oleh Mayr, Some rights reserved.

Salam Hormat.
Kebetulan sahaja, saya mula jatuh cinta kepada gaya penulisan Eka Kurniawan. Makanya, saya ingin sahaja tahu perkembangan terkininya dengan menembusi jaringan maya. Bagaimana saya boleh terserempak dengan laman sriti.com, pun juga suatu kebetulan. Tetapi, alam ini sebegitu cantik dan berseni, bukan diciptakan secara kebetulan. Tuhan telah mengatur dengan secanggih-canggihnya kehidupan di atas muka bumi buat manusia (yang berfikir). Tidak seperti yang disangka oleh saintis barat. Dunia ini bukan bola kimia yang terapung. Maka itu, mimpi pun terasa indah.
Baca selengkapnya …

Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan
(A Case Study of an Indonesian Novel Translation)

Oleh: Indah S. Pratidina
Sumber: ispdina.blogspot.com


Photo by ahisgett, Some rights reserved.

Japan’s role in globalizing Asia has been widely recognized. Ever since the 1990’s, Japan has been exporting waves of it’s cultural products such as anime or animated films, television dramas, music, manga or comics, novels, and so on. These spreads of cultural products across the borders of Asia have sprung new hope for Japan’s relationship with other Asian countries. Through the consumption of Japan’s cultural products, it can promote cultural dialogue, and hopefully Japan can overcome its unfortunate history with the rest of Asia, especially regarding to the World War II.
 
However, globalization not only demands an integration of cultural diversity in the global community. It also reflects peoples’ (nations’) needs to develop a strong self or cultural identity (ies). In this light, one can see that Japan is not only an exporter of media. Rather, Japan has also been receiving various media from other Asian countries; such as Korea with its television dramas.
Baca selengkapnya …

Cantik Itu Luka Sebuah Terobosan Literer

Oleh: Titon Rahmawan
Sumber: langitkubiru.blogspot.com


Foto oleh venkane, Some rights reserved.

Bagi saya, “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khazanah sastra Indonesia. Cukup lama saya merasa tak mendapatkan kepuasan optimum setiap kali selesai membaca sejumlah novel-novel karya penulis asli Indonesia, yaitu semenjak terakhir kali saya membaca “Olenka” karya Budi Darma. Dan baru kali ini saya memperoleh kembali kenikmatan itu, setelah saya menyelesaikan pembacaan saya yang kedua kalinya atas “Cantik Itu Luka.”
Baca selengkapnya …

Agar Pram Tak Jadi Berhala

Oleh: Damhuri Muhamad


Foto oleh ThunderChild5, Some rights reserved.

Sudah jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu. Belakangan ini, para pembaca setia itu nyaris tergelincir pada kekaguman yang berlebihan. Kecenderungan ini telah mendedahkan terminologi baru yang disebut Pramisme. Ini cukup berbahaya. Pram bisa saja berubah jadi ‘berhala’ yang selalu dipuja, tanpa cela.

Di sinilah pentingnya kajian komprehensif yang dilakukan sastrawan muda, Eka Kurniawan, lewat bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku ini dapat dianggap sebagai yang pertama membincang Pram dari sudut pandang anak muda. Eka hendak meluruskan kesimpangsiuran pemahaman terhadap realisme sosialis sebagai pijakan estetik kepengarangan Pram.
Baca selengkapnya …

Pengantar Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis

Oleh: Goenawan Mohamad


Foto oleh ThunderChild5, Some rights reserved.

Di tahun 2006 ini Pramoedya Ananta Toer meninggal dan kita mewarisi sebuah ikon dan sejumlah karya. Yang belum banyak diingat ialah bahwa ia juga meninggalkan sebuah gagasan tentang sastra yang sebenarnya kontroversial.

Di tahun 1963, ia menyusun satu risalah tentang “Realisme Sosialis”, doktrin yang bagi Pramoedya dapat dan semestinya diterapkan sebagai dasar praktek sastra dan kritiknya. Meskipun dalam wawancaranya dengan Tempo 4 Mei 1999 ia mengatakan, “Saya tak pernah membela realisme sosialis”, risalah yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia itu adalah advokasi yang bersemangat untuk doktrin itu.
Baca selengkapnya …